
Tangan Aldi harus rela melepas genggaman erat dari tangan dingin dan gemetar milik Aira, saat seorang pria berseragam kepolisian memintanya untuk keluar dari tempat tersebut.
"Maaf pak, waktu berkunjung sudah habis, anda boleh pergi dari sini," ucap seorang polisi yang berada di hadapan Aldi saat ini.
"Tapi pak, saya ingin tetap berada di sini menemani istri saya, pengacara saya sedang mengupayakan penangguhan hukuman bagi istri saya," papar Aldi.
"Sekarang sudah sore pak, bagian administrasi juga sudah tutup, sebaiknya besok bapak kembali lagi untuk mengurusi administrasinya."
"Tidak pak, istri saya tak boleh sendiri, ia baru saja sembuh dari traumanya, jika istri saya tak di perbolehkan untuk pulang, maka biarkanlah saya yang tinggal di sini untuk menemaninya, jikalau bisa, biar saya saja yang di penjara, tapi tolong bebaskan istri saya pak," ungkap Aldi dengan nada memohon.
"Tak bisa pak, siapa yang berbuat dialah yang akan mempertanggung jawabkan nya," terang polisi tersebut kepada Aldi.
"Ayo pak, anda keluar dari sini, " ucap polisi tersebut sambil menarik lengan Aldi.
Air mata aira kembali menggenang di pelupuk netranya, mata bening dengan iris kecoklatan tersebut sudah memereh di sekitaran pupilnya.
"Mas Aldi pulanglah, Aira ngak apa-apa kok di tinggal," ucap Aira lirih, ia berusaha menahan rasa ketakutannya dengan berpura-pura tegar di hadapan Aldi.
"Ayo pak, tinggalkan saja istri anda di sini, di sini ia akan di jaga dan diawas oleh petugas kami, " ucap polisi tersebut dengan sedikit memaksa menarik Aldi.
"Lepaskan pak, saya ingin tetap tinggal di sini, saya akan bayar berapa pun pak, asal ijinkan saya menemani istri saya," ungkap Aldi, ia hampir putus asa karna tak berhasil membujuk polisi tersebut.
"Maaf pak ini bukan hotel, demi ketertiban di sini, anda kami minta untuk pergi dari tempat ini, " ucap polisi tersebut sambil menarik Aldi dengan kasar.
"Lepaskan pak," titah Aldi.
Mendengar keributan yang berada di ruang tahanan polsek tersebut pengacara yang di utus Aldi untuk mengajukan penangguhan penahanan Aira pun menghampiri mereka, tak hanya Hilman sang pengcara, tapi Heru, Romeo dan Doni juga hadir di sana, mereka pun menyempatkan diri untuk membesuk Aira.
"Aldi sabar Di, administrasinya baru bisa di urus besok pagi, kita pulang dulu, kita pikirkan langkah selanjutnya untuk menangguhkan penahanan Aira, ayo." ucap Heru yang berusaha menenangkan Aldi.
"Ngak mas aku tak tega membiarkan Aira tidur di tempat kotor, lembab, pengap tanpa alas dan selimut, sementara di rumah aku tidur di kasur empuk dan hangat,"ucap Aldi saat itu ia menangis pilu membayangkan betapa Aira akan menderita di penjara.
__ADS_1
"Tapi itu sudah prosedurnya, besok pagi kita kembali lagi, kita urus administrasinya, " tambah Heru.
"Kamu pikir mas tega apa melihat Aira seperti itu, sekarang kita harus berusaha berpikir dan mencari solusi agar Aira bisa terbebas untuk selamanya, besok pagi kita semua beekumpul di sini, untuk memberikan jaminan kepada Aira," tambah Heru lagi.
Aldi tak begeming, sesekali air matanya luluh membasi pipinya, Aldi menyandarkan tubuhnya kedinding,ia tak sanggup jika harus meninggalkan Aira dalam keadaan seperti itu.
Heru menghampiri Aira begitu pun Doni dan Romeo.
Heru merentangkan tanganya memeluk Aira melalui celah-celah dari jeruji besi.
Aira menangis segegukan dalam rangkulan Heru.
"Kamu sabar ya Aira, mas Heru dan mas Aldi akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa bebas dari tuntutan hukum ini," ucapnya mendekap erat Aira meski jeruji besi menjadi batas di antar mereka.
"Iya mas," sahut Aira lihir, hanya kata itu yang mampu untuk ia ucapkan.
Heru mengusap lembut punggung Aira untuk memberinya kekuatan dan ketabahan, setelah beberapa Heru pun melepaskan pelukanya, ia pun menyapu air mata yang membasahi pipi gadis malang tersebut, sebagai kakak ipar Heru merasa bersalah karna tak bisa melindungi adik iparnya.
Setelah Heru, kini giliran Doni dan Romeo, keduanya menarik telapak tangan Aira pada masing-masing sisinya.
Hanya kata tersebut yang mampu ia ucapkan.
Sementara Romeo tak sedikit pun ia bersuara.
Mereka pun harus menarik diri, karna sudah mendapat teguran dari penjaga penjara tersebut.
Aldi masih enggan beranjak,namun Heru menarik tangannya hingga tubuh Aldi yang juga lemas tersebut mengikuti kemana arah Heru membawanya, Aldi begitu sedih dan hancur saat melihat titik air mata aira kembali jatuh' saat melihat mereka semua pergi dan perlahan menjauh darinya.
Cahaya remang menemani Aira yang sedang meringkuk di ruang sempit nan sunyi, ada beberapa narapidana wanita yang juga bernasib sama dengannya, penjara tersebut hanya di sekat jeruji besi sebagai pembatas antara sel pria dan sel tahanan wanita, namun di sel wanita ada kamar khusus dengan ukuran 2x3 meter untuk mereka istirahat.
Aira enggan masuk ke ruangan tersebut, ia masih merinkuk di depan pintu sel penjara yang di gembok rapat.
__ADS_1
Mata lelahnya berkali-kali menerjab membuatnya tetap terjaga, di ruangan sunyi dan sepi.
Aira mendengar seseorang di masukan dalam sel tahanan pria, tapi sedikit pun tak membuatnya tergerak untuk menoleh, matanya masih menerjab-nerjab karna menahan kantuk, jiwa dan raganya sudah sangat lelah, tapi tak mampu membuatnya terlena dalam lelapnya.
"Berapa lama aku harus berada di sini?" gumanyanya sambil menyandarkan kepalanya pada jeruji yang terbuat dari besi.
Beberapa detik setelah menyandarkan kepalanya, Aira merasa ada yang menutup kelopak matanya dengan telapak tangan seseorang.
Aira kaget dan melepaskan sesuatu yang menutup matanya tersebut, kemudian secepat kilat ia menoleh.
"Hah, Abang, kenapa abang ada di sini?"Tanya Aira sambil mengucek-ngucek matanya.
"Hai Aira," sapa Pria tersebut.
"Bang, kenapa abang bisa berada di sel ini?"Tanya Aira heran.
Pria tersebut menyunggingkan senyum tipisnya," Pepatah mengatakan banyak jalan menuju penjara, dengan sedikit trik, abang bisa berada di sini untuk menemani kamu di sini, sahut Pria tersebut yang tak lain adalah Romeo.
Aira menghapus air maranya, "Maksud abang?"Tanyanya Haru.
"Abang menyuruh orang melaporkan abang sebagai pelaku pencopetan, agar abang bisa di masukan kedalam sel untuk menemani kamu, " papar Romeo.
Aira terisak, "Tapi kenapa harus berbuat nekad seperti itu bang, abang ngak perlu masuk penjara hanya untuk menemani Aira,"ucap Aira dengan terisak.
"Abang ngak tega membiarkan kamu sendiri Aira, setidaknya meski sehari, dua hari, kamu ngak akan kesepian sendiri di sini Aira," papar Romeo.
"Terima kasih bang," ucap Aira, sambil meraih telapak tangan Romeo dan menggenggamnya.
"Sekarang kamu ngak usah sedih ya, kita bisa ngobrol semalaman jadi kamu ngak kesepian lagi, " ujar Romeo.
"Iya makasih bang," ucap Aira, mereka pun duduk besila saling berhadapan.
__ADS_1
Aira mencurahkan kesedihanya dengan mengobrol bersama Romeo,dengan tralis besi menjadi pembatas antara mereka, hingga keduanya terlelap dan tertidur dengan saling bersandar di dinding jeruji besi tersebut.
bersambung, dulu ya guys, terima kasih karna masih setia membaca karya remahan author ini.