Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bulan madu yang tertunda


__ADS_3

Mentari bersinar cerah setelah semalam hujan membasahi bumi.


Sesuai rencana, sore ini Aura dan Hendro kembali merencanakan penjebakan terhadap Aldi.


Keduanya berada di sebuah kamar, di salah satu apartement milik Rita.


"Yes, terkirim," ucap Aura seraya tersenyum bahagia melihat layar handphone milik Rita tersebut.


"Ok, aku sudah mengirim pesan ke Aldi yang mengatas namakan tante Rita, sekarang kita tunggu balasan dari Aldi," ujarnya kepada Hendro.


Hendro melirik kearah Aura dengan senyum menyeringainya, entah apa yang ada di pikiran Hendro saat itu, namun ia hanya mengikuti permainan Aura.


Aira membantu Aldi memakaikan nya dasi.


"Sayang,, hari ini mas ada janji untuk menemui mama, maaf ya mas ngak bisa bawa kamu,"ucap Aldi sambil mengelus pipi mulus sang istri.


"Ehm, mama? Mama sudah kembali Mas?" tanya Aira sambil menyimpul dasi di kerah kemeja Aldi.


"Entalah sayang, mas Aldi merasa curiga saja, apa sebenarnya yang terjadi terhadap Mama, tak biasanya ia tak menghubungi mas Aldi, padahal sebelumnya, mama selalu menyempatkan diri untuk menelpon mas Aldi setiap hari, meski sesibuk apa pun dia," papar Aldi.


"Kalau begitu mas Aldi jangan pergi sendiri, Aira takut terjadi sesuatu pada mas Aldi," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca,ia pun memeluk Aldi.


"Tapi mas Aldi harus pergi sendiri," imbuh Aldi.


"Tapi mas Aira khawatir."


"Ngak usah khawatir sayang, mas Aldi akan pasang GPS, dan alat perekam yang akan mas Aldi aktifkan jika sudah sampai di tempat yang di tentukan."


"Tapi mas, tetap saja mas Aldi harus hati-hati, mas Aldi harus di kawal dalam jarak yang cukup dekat," saran Aira.


"Iya, itu sudah mas Aldi pikirkan sebelumnya, kamu ngak usah khawatir ya,"ucapnya sambil mencubit dagu Aira.


"Ayo sayang, kita turun untuk sarapan." ajak Aldi.


Merekan pun keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Tari.


"Hai, mbak Tari," sapa Aira seraya melempar senyum, Aira pun mendekati kearah Tari.


Tari hanya membalas dengan senyum sumringahnya.


"Gimana Mbak, malam pertamanya?"tanya Aira sambil berjalan beriringan dengannya.


"Sukses, loh ngak lihat rambut gue basah," sahutnya sambil menyibak rambutnya yang sedikit basah tersebut.


Aldi geleng-geleng kepala melihat kedua wanita tersebut bergosip di pagi hari.


"Wah pantesan wajah mbak Tari cerah sekali pagi ini, secerah sinar mentari pagi, udah merasa pisang raja rupanya" ucap Aira sambil tertawa terkekeh.


"Bukan pisang raja Aira, tapi pisang kapal, guede buanget, punya Aldi mah kalah," kelakar Tari, ia pun tertawa terkekeh.


"Sialan, kayak loh pernah lihat punya gue aja,"dengus Aldi yang mendengar candaan mereka.


"He he, punya mas Aldi mah standar aja mbak, tapi bekas denyutannya tiga hari belum tentu hilang," sahut Aira dengan nada bercanda.


"Masa', pantesan loh doyan banget," celetuknya lagi.


Mereka pun kembali tertawa terkekeh.


Aldi hanya bisa pasrah saat keduanya bergosip tentang ia dan Romeo.


Aldi duduk di meja makan bersama Heru dan Satria, sementara para istri, mereka sudah punya tugas untuk menyediakan sarapan untuk para suami mereka.


Tak lama kemudian Romeo juga turun dan menghampiri keluarga barunya tersebut.


"Selamat pagi, Pa," ucap Romeo sambil menarik kursi meja makanya, Romeo masih merasa sungkan, padahal saat menjadi sahabat Aldi dulu, ia tak pernah merasa sungkan berada di rumah itu dan berkumpul dengan keluarga Aldi.


"Pagi Rom,"sahut Satria.


"Bagaimana Rom, tentang tawaran papa ke kamu?"tanya Satria yang bicara dengan nada serius kepada Romeo.

__ADS_1


"Ehm, maaf Pa, bukannya aku ngak mau nerusin kepemimpinan perusahaan pada yang ada di Malaysia, tapi untuk sementara aku dan Tari ingin belajar hidup mandiri, aku juga sudah di terima di salah satu perusahaan dan besok lusa sudah mulai bekerja," jawab Romeo dengan nada bicara yang tenang.


"Oh ya ngak apa Rom, papa juga senang kalau kamu mau usaha terlebih dahulu, lumayan untuk menambah wawasan dan pengalaman kamu sendiri,dan papa juga setuju jika di awal pernikahan kamu dan Tari belajar hidup mandiri." Satria


"Terima kasih Pa atas pengertiannya," ucap Romeo.


"Aldi, Heru bagaimana dengan masalah limbah dari pabrik kita?"tanya Satria sambil menyerup kopi miliknya.


"Sudah teratasi, Aldi sudah melaporkan ini kepihak berwajib dan mereka sedang menyelidikinya, sepertinya ada yang sengaja membobol salurannya," sahut Aldi.


"Ehm bagus kalau begitu, papa percaya kamu pasti bisa meneruskan perusahan tersebut, karna setelah pabrik Heru berdiri, dia sudah ngak bisa bantuin kamu, dan karna kalian sudah cukup dewasa dan sudah menikah, Papa sudah membagi usaha dan perusahan untuk kalian semua, termasuk kepada Tari dan Romeo, jadi kalian harus bertanggung jawab masing-masing perusahaan yang kalian pimpin." ucap Satria sambil menatap Aldi dan Heru secara bergantian.


"Iya Pa," jawab Aldi dan Heru serempak.


Sementara di dapur, Aira dan Tari membuat sarapan untuk para suami mereka.


Tari mengaduk susu coklat, begitupun Aira yang selalu membuat dua gelas susu untuk Aldi dan Heru.


"Eh, mbak, gimana tuh tentang bulan madunya?"tanya Aira kepada Tari.


"Harusnya sih besok berangkatnya, tapi kata Romeo dia sudah mendapat panggilan dan besok sudah mulai bekerja," papar Tari.


"Loh aja yang duluan pergi,gue pending aja dulu,lagi pula di mana pun tempatnya sama saja, gue merasa bahagia selama ada bersama suami gue," imbuhnya lagi.


"Iya, mas Aldi kayak juga masih sibuk, dia masih mengkhawatirkan mamanya," ucap Aira sambil membawa nampan berisi dua gelas susu coklat.


Setelah selesai sarapan, Aira mengantar suaminya menuju pintu rumah, sementara Tari dan Romeo mereka kembali kekamar.


"Mas hati-hati ya, ucap Aira, jangan lupa beritahu Aira di mana posisi mas Aldi nanti, Aira akan pantau dari rumah," ucapnya sambil memcium kedua pipi Aldi.


"Iya doakan mas ya sayang, semoga mas Aldi bisa secepatnya bertemu mama," ucap Aldi sambil mengecup bibir istrinya.


"Selalu Mas, Doa Aira akan selalu yang terbaik untuk mas Aldi."


"Kalau terjadi sesuatu, kamu bantu mas Aldi ya, tapi apa pun yang terjadi kamu ngak boleh pergi sendiri,"tegasnya.


"Ya sudah, mas pergi ya sayang," ucapnya sambil mengecup kening sang istri.


Aldi berlalu setelah Aira mencium punggung tanganya, Aira pun melambaikan tanganya kearah Aldi yang menoleh kearahnya ketika ia sedang membuka pintu mobil.


Ada rasa khawatir di hati Aira terhadap Aldi, namun ia hanya mampu berdoa di setiap waktunya untuk keselamatan suaminya.


***


Semerawut senja berwarnah jingga menemani perjalanan Aldi menuju tempat yang sudah di tentukan oleh mamanya.


Sore harinya Aldi menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Aura, tenyata bukan di sebuah hotel tapi di sebuah villa, Aldi pun teringat jika villa ini adalah salah satu milik mamanya.


Untuk berjaga-jaga Aldi sudah membawa beberapa orang pengawalnya yang membuntutinya serta memasang alat penyadap yang di selitkan pada saku jasnya.


Satu jam kurang lebih perjalanan yang ia tempuh, akhirnya ia pun sampai di yang yang ia tuju.


Aldi mengedar pandangan di villa yang terlihat sepi tersebut, dengan perlahan Aldi mengemudikan mobilnya memasuki halaman villa dan berhenti tak jauh teras.


Aldi mengetuk pintu, ia memperhatikan garasi yang memang terparkir mobil mewah sang mama.


Aldi semakin yakin jika mamanya memang berada di villa itu.


Dengan semangat ia memencet bell dan tak berapa lama kemudian seseorang membukakan pintu.


"Aura?" Ucap Aldi heran ketika melihat Aura yang membuka pintu untuknya


"Rey! masuk Rey." Ucap Aura sembari membuka daun pintu.


"Kenapa kau ada di sini, Di mana mama ku?"tanya Aldi tak bersahabat.


"Oh, aku juga di undang oleh tante Rita Rey, katanya ada masalah yang ingin dibicarakanya," ucap Aura sambil duduk.


Aldi langsung mendaratkan bokongnya ke sofa," Kalau begitu di mana Mama ku?"tanya Aldi.

__ADS_1


"Tante Rita sedang keluar bersama om hendro, katanya ia ingin berbelanja untuk makan malam kita," ujar Aira memberi alasan.


"Aku tak bisa terlalu lama di sini, istriku sudah menunggu ku," dengus Aldi.


"Sabarlah Rey, mama mu sengaja bersusah payah melakukan hal ini, tapi kau tak menghargainya malah mengkhawatirkan istrimu itu." dengus Aura.


Aldi semakin gelisah, sesekali ia melirik petunjuk waktu yang ada di pergelangan tanganya, sementara Aura tersenyum mesum melihat pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Aldi, aku merasa beruntung sekali jika bisa memiliki mu, kau sangat tampan dan kaya pula, hm seperti mendapatkan jackpot.


"Oh iya Rey, tante Rita menyuruh mu minum ini, ini di buat khusus untuk mu, aku juga sudah meminumnya sampai habis," cetus Aura sambil menunjukan gelasnya yang kosong.


Aldi melirik kearah gelas tersebut kemudian membuang wajahnya.


"Hai! ini buatan mamamu, apa kau takut jika aku menambahkan racun dalam minumanmu?"tanya Aura.


Aura meraih gelas yang berisi minuman tersebut dan menuangnya kedalam gelas kosongnya.


Aura pun meminum minuman tersebut, "Kalau ini beracun tentu aku tak kan mau meminumnya," ujar Aura sambil meletakan kembali gelas kosongnya.


Aldi meragukan, tapi ia juga tak ingin mengecewakan sang mama, karna minuman tersebut memang minuman favorite yang selalu di sajikan Rita untuknya.


Dengan sedikit keraguan namun ia meyakinkan dirinya, jika sirup yang terbuat dari rempah-rempah tersebut memang buatan sang mama.


Aldi meneguk habis minuman tersebut dan seketika kepalanya terasa pusing.


"Akh, kenapa kepala ku terasa pusing?"guman Aldi, sambil memijit lembut kepalanya.


Mh, akhirnya kau bisa menjadi milik ku saat ini Aldi.


Aura tersenyum smirk, ia merasa senang melihat reaksi obat yang di minum Aldi.


Aura menghampiri Aldi dan duduk persis di sampingnya.


"Rey, kau tak apa-apa?" tanya Aura dengan senyum menyeringainya."Akh kepala ku sakit Aura?dadaku terasa sesak," guman Aldi lirih.


Aira menyentuh paha Aldi dan berusaha menggodanya, "Rey, apa kau menginginkannya?"tanya Aura langsung.


"Akh, menjaulah Laura! "teriak Aldi menepis tangan Aura.


"Rey, ayolah Rey, aku pasti bisa memuaskan mu, " ucap Aira yang tengah di landa syahwat, karna ia meminum minuman yang sama yang di berikan untuk Aldi.


Akh, Aldi menahan rasanya, hasrat yang begitu besar namun tak ingin ia lampiaskan pada Aura.


"Aira tolong mas Aldi Aira, "ucapnya lirih.


"Rey, ayolah Rey, aku bisa memuaskan mu," Aura menarik tangan Aldi.


Namun lagi-lagi di tepiskan oleh Aldi.


Aldi bangkit untuk pergi dari tempat itu,


tapi tubuhnya terhuyung dan seketika ia tumbang dan tergeletak di atas lantai.


Aura yang sudah begitu berhasrat, ia coba menggangkat dan membopong tubuh Aldi menuju kamar di bantu oleh orang-orang suruhanya.


Sesampainya di kamar, ia pun meletakan tubuh Aldu di atas tempat tidur.


Aldi tergeletak tak berdaya, Aura yang sudah di bawah pengaruh obat tersebut merasa tak sabar untuk menikmati tubuh dari pria tampan yang ada di hadapannya.


Ia pun melucuti satu persatu kain yang menutupi tubuh Aldi sambil mencumbui bibirnya.


Baru saja akan melancarkan aksinya, tiba-tiba Aura juga merasa sakit kepala yang luar biasa, dadanya terasa sesak seketika, Aura mencoba bangkit seraya menarik nafas panjangnya, namun ia pun tak berdaya hingga tubuhnya juga tumbang di samping Aldi.


Wah apa yang terjadi selanjutnya ya.


Bersambung, tetap dukung dengan like, kasih saran dan komentar, Vote juga boleh sedekah sama author mumpung hari senin dari pada mubazir he he


Seketika

__ADS_1


__ADS_2