Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tunangan


__ADS_3

Alia dan Ghael sampai di depan rumah, setelah melepas seatbelt nya ia turun dari mobil dan meninggalkan Ghael begitu saja.


Aldi dan Aira ternyata sudah menonton video viral tentang duel Ghael dan Bagas.


Alia masuk dengan sisa-sisa air mata yang menetes di pipinya.


Ia berlari kecil guna menaiki anak tangga.


"Alia!" seru Aldi dengan emosi, Alia pun berhenti menunggu Aldi menghampirinya.


"Kenapa Yah?"tanya Alia ketus.


"Ayah mau bicara, Ayo kita ke kamar kamu."


Mereka pun naik dan langsung masuk ke Alia.


Alia langsung menghempaskan bokongnya di atas tempat tidur dan melepaskan tasnya.


Aldi menatap Alia, ia begitu emosi, karna mengetahui banyak ke bohongan yang Alia sembunyikan selama ini.


Alia sering ijin kepada mereka untuk lembur, hingga beberapa momen quality time mereka terlewatan olehnya.


"Bicara apa Yah?"tanya Alia dengan nada datarnya.


"Alia, Ayah sudah minta kan agar kamu memutuskan hubungan kamu dengan Bagas, tapi kenapa diam-diam kamu menemuinya?!"tanya Aldi dengan nada yang sedikit tinggi.


Alia diam, sambil menghapus air matanya,


"Sejak kapan kamu jadi pembangkang seperti ini Alia, kami besar kan kamu dengan kasih sayang, kami sebagai orang tua selalu berusaha memberi yang terbaik untuk kamu dalam hal apa pun, termasuk dalam hal pasangan hidup!" Aldi.


Alia masih menundukan kepalanya tanpa berniat menginstrupsi.


"Apa yang Ayah berikan adalah untuk kebaikan kita bersama, untuk kamu dan bunda, jujur saja Ayah juga dilema saat ini, antara menimbang perasaan kamu dan perasaan Bunda."


"Demi kebaikan bersama Ayah harus putuskan jika kamu harus menikah dengan abang, bukanya tak mengerti tentang perasaan kamu, Ayah juga pernah muda dan merasakan apa yang pernah kamu rasakan, tapi kamu harus bisa melupakan perasaan kamu ke Bagas dan belajar mencintai Abang, demi bunda dan kebaikan kita semua."


"Karna yang sudah terjadi tak mungkin bisa di putar lagi, dan yang belum terjadi masih bisa di cegah sebelum terjadi."


"Ayah harus pilih perasaan kamu atau bunda mu, kita bantu bunda melepaskan trauma yang pernah mengganggu hidupnya bukan malah mengungkit lagi kenangan lamanya!"


Alia bergeming dendengar dirinya menyimak apa yang di tuturkan oleh ayahnya.


"Kamu ngak tahu apa yang terjadi pada Bunda, karna kamu tak setiap saat bersamanya, sedangkan Ayah, setiap malam kami tidur bersama selama puluhan tahun, kadang kala rasa trauma datang menghantuinya dan menjadi mimpi buruk nya. Bunda kadang mengingau menangis dalam mimpinya, sudah puluhan tahun ayah coba untuk menghapus kenangan kelam tersebut dengan membawa bunda ke pisikiater, tapi trauma tersebut belum hilang sepenuhnya hingga saat ini bahkan bekas luka yang ia alami saja masih terlihat jelas!"


"Bunda memang terlihat kuat dari dalam tapi kamu ngak tahu jika hatinya sangat rapuh, apa kamu ngak kasihan sama bunda? dengan sikaf kamu seperti ini bunda jadi kepikiran terus Alia!"


Alia masih bergeming tertunduk lesu.


"Ayah akan percepat pernikahan kamu! maaf kali ini Ayah harus ambil keputusan sendiri, suatu saat kamu akan menyadari apa yamg kami berikan kepada kamu adalah yang terbaik."


Alia mendongkak kan kepalanya, menatap Aldi, dengan tatapan mendelik.


"Bulan depan kalian akan menikah!" pungkas Aldi kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Alia.


Jedar jedar, seketika kabut gelap menyelimuti hati Alia saat itu, matanya mengekori kemana Aldi pergi.


Hiks hiks hiks, Alia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, untuk pertama kali dalam hidupnya kedua orang tuanya memaksakan kehendak mereka terhadapnya.


Alia menangkupkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke bantal kemudian berteriak sekencang-kencangnya.


***


Aldi turun menghampiri Aira dan Ghael.


"Gimana Yah keadaan Alia?"tanya Aira.


Ghael pun duduk bersama keduanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bun, Ayah sudah bicarakan dan Alia ternyata ia setuju saja," sahut Aldi dengan sedikit bumbu-bumbu.


"Ehm syukurlah,"guman Aira.


"Bang, besok sempatkan ke KUA, urus pernikahan kalian,Ayah dan Papa kamu sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian yang jatuh pada awal bulan depan " ucap Aldi.


Aira dan Ghael syok.


"Tapi Yah apa tak terlalu cepat?"tanya Aira yang meragu.


"Bunda, ini semua demi kebaikan Alia, Ayah ngak mau Alia berbuat nekad dan melakukan hal yang tak di inginkan, lihatlah putri kita sudah pandai berbohong, sudah berani melawan perintah kita," dengus Aldi.


Ghael terdiam menyimak keluh kesah Aldi tentang Alia, tak hanya Ghael yang merasakan perubahan sikaf Alia tapi juga kedua orang tuanya.


"Tapi Yah, apa Alia setuju jika pernikahan kami di percepat?"tanya Ghael yang juga ragu.


"Ayah sudah bicarakan semua pada Alia, mau tak mau dia harus setuju,"ucap Aldi tegas.


Mereka pun menggangguk, sejak saat itu ketiganya mulai sibuk mengurusi pernikahan Alia dan Ghael.


***


Waktu terus berlalu, Alia sudah memblok nomor Bagas, seperti yang di minta oleh ayahnya, ia tak ingin terjadi sesuatu pada Bagas jika ia tak menuruti perintah ayahnya.


Malam ini adalah malam spesial bagi Aldi dan Aira, karna sebentar lagi mereka akan menerima pinangan dari calon besannya.


Meski Aldi dan Tari bersaudara, tapi acara tersebut tetap di laksanakan secara sakral mengikuti adat dan tradisi mereka.


Seluruh anggota keluarga Satria dan besan-besannya berkumpul, tak ketinggalan Doni dan keluarga juga hadir, begitu pun Heru ia membawa serta istri dan mertuanya.


Beberapa asisten rumah tangga sudah sibuk memasak untuk sajian mereka nanti malam.


Rumah yang biasanya sepi kini mendadak rame.


Alita berada di kamar Alia sedang membantunya untuk berhias diri.


"Alia kamu ngak usah bersedih terus seperti itu,"ucap Alita sambil menyisir rambut Alia.


"Aku ngak sedih Lit,hanya kecewa, mereka seperti memaksa aku untuk menikah dengan Abang, padahal aku tak mencintainya, rasanya aneh jika kami sampai menjadi suami-istri," jawab Alia lirih.


"Apanya yang aneh, kalian itu cuma sepupu, dahulu kala orang-orang juga menjodohkan anak mereka dengan keluarga terdekat, lalu dimananya yang aneh," papar Alita.


"Kamu enteng sekali ngomong seperti itu, bukankah kamu juga patah hati karna perjodohan ini ?"


"Ehm. hidup yang realitis aja Alia, jika memang di bukan jodoh ku kenapa harus memaksa, toh cinta itu bisa datang dan pergi, biarin saja semua mengalir apa adanya, kalau di turutin perasaan sampai kapan pun kita tak akan merasa bahagia, ingat loh Al, hidup cuma sekali."Alita


Alita meletakan sisirnya di atas meja, kemudian melepas beberapa rol rambut Alia dan mulai menata rambut Alia seperti sanggul.


Alita masih melihat kesedihan pada wajah Alia.


"Sudahlah Alia, Ghael pria yang baik, cobalah untuk membuka hatimu padanya dan belajarlah mencintainya mulai saat ini," nasehat Alita.


"Ehm, sepertinya ada yang sudah move on nih?"tanya Alia seraya melirik ke arah Alita.


Alita tersenyum, "Kasih tahu ngak ya?!"


"Kasih tahu dong, siapa pria yang bisa membuat kamu melupakan abang?" tanya Alia sedikit penasaran.


Ehm, aduh Alia aku ngak mau kamu syok, jika saja kamu tahu pria itu adalah Bagas.


Alita mengulum senyumnya.


"Ada deh,"guman Alita.


"Ehm kamu sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya?"cetus Alia.


Ehm

__ADS_1


Pintu kamar pun di gedor seseorang.


"Alia! sudah siap di tungguin loh,"seru Aira.


"Iya Bunda! sebentar lagi Alia siap,"seru Alita.


"Ayo Alia temui tunangan kamu,"ajak Alita seraya menggandeng tangan sahabatnya.


Alia tampak cantik dan anggun dengan setelan kebaya berwarna peach dengan sanggul sederhana hasil kreasi Alita.


Alita sendiri menggunakan dress berwarna biru tua dengan rambut yang di biarkan tergerai indah.


***


Ketiga sahabat, Aldi, Romeo dan Doni mengobrol santai begitu pun Heru dan begitupun denga para istri mereka duduk ngobrol bersama membentuk group sendiri.


Sementara Ghael duduk di antara para sepupunya dan terlihat paling tampan di antara sepupu dan saudara-saudaranya.


Dengan kemeja biru tuanya dan blazer hitam sangat kontras dengan kulit putih yang bersih dan bibirnya yang berwarna cerah, karna ia memang tak pernah merokok, belum lagi potongan rambutnya yang kekinian membuat siapa saja berdecak kagum melihat ketampanan dan wajah coolnya.


Alita dan Alia menuruni anak tangga, seketika wajah tampan Ghael mengukir senyum indah.


Alita terpana melihat pria tampan yang pernah mengisi hatinya tersebut.


"Huh, Alia lihat lah calon suami kamu guanteng banget, sayang ngak mau sama aku, "canda Alita sambil menuntun Alia menuruni anak tangga.


Mereka semua mengalihkan pandangan mereka ke arah dua gadis cantik bak saudara kembar tersebut.


Tari berdiri guna menyambut calon menantu nya.


"Aduh Alia, kamu cantik sekali, sangat serasi dengan abang yang ganteng,"ucap Tari seraya menuntun Alia untuk duduk di samping Ghael.


"Terima kasih tante,!"ucap Alia seraya tersenyum.


"Kok tante sih Nak? sebentar lagi juga jadi menantu, panggil mama saja."Tari


Alia kembali tersenyum, "Iya Ma."


"Nah gitu dong," Tari.


Alia duduk tepat bersebelahan dengan Ghael, Ghael selalu tersenyum kearahnya, sementara Alia merasa begitu kikuk, seperti tak pernah mengenal Ghael.


Setelah keduanya duduk, serangkaian acara pun di mulai hingga tibalah mereka pada acara penghujung yaitu menyematkan cincin.


Saat itu Heru yang menjadi MC.


"Alhamdullilah, karna kedua keluarga sudah sepakat dan menentukan tangal pernikahan, Ghael kamu boleh menyematan cincin pada calon istri kamu, sebagai pengikat di antara kalian sebelum akad nikah, "ucap Heru.


Semua tersenyum ke arah kedua calon pengantin tersebut, karna ikut bahagia, keluarga mereka jadi semakin akrab dan erat dengan penyatuan Alia dan Ghael.


Ghael Meraih tangan Alia, seraya tersenyum ketika menyematkan cicin ke jari manis Alia.


Tepuk tangan terdengar meriah memenuhi ruangan tersebut, dengan sorak-sorakan sebagai penyemangat untuk mereka.


"Yey!!! selamat ya untuk kalian berdua," ucap para sepupu dan saudara -saudara keduanya.


Cincin tersemat indah di jari manis Alia, kini giliran Alia yang menyematkan cincin di jari manis Ghael.


Dengan tangan gemetar, Alia menyematkan cincin tersebut ke jari manis Ghael.


Akhirnya kedua cinci tersemat sempurna di jari manis kedua pasangan muda tersebut.


Acara resmi pun selesai, namun kedua keluarga tersebut langsung memperbincangkan akad nikah yang akan berlangsung bulan depan tersebut.


Setelah pertukaran cincin, Alia justru memilih kembai naik ke kamarnya dan meninggakan Ghael yang mencoba mendekat dan berbicara kepadanya.


Ghael menatap dengan kecewa melihat Alia yang pergi begitu saja dari hadapannya.

__ADS_1


Bersambung dulu ya, bagaimana kisah selanjutnya antara Aira dan Ghael, Alita dan Bagas,terima kasih.


__ADS_2