
Aldi menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, sembari memijit pilipisnya.
Aira berjalan mendekati suaminya.
"Mas ada apa?"tanya Aira seraya duduk di samping Aldi.
"Mas Aldi binggung sayang, baru saja satu hari di rumah ini mama sudah membuat kekacauan dan melukai Meli."
"Sekarang mas Aldi binggung,mas Aldi harus mencari perawat untuk mama secepatnya, jika tidak siapa yang akan merawat Mama," ujarnya seraya merangkul Aira agar jatuh di pelukannya.
"Biar Aira saja yang merawat Mama selama mas Aldi kerja," usul Aira.
"Tidak sayang, kamu jangan dekat-dekat Mama, Mas Aldi ngak mau mama menyakiti kamu dan calon anak kita," cegah Aldi.
"Harusnya mas Aldi tidak membawa pulang mama terlebih dahulu, sekarang mama mengancam akan bunuh diri jika mas Aldi mengembalikannya kerumah sakit jiwa."
Aldi melepaskan rangkulanya ia menyandarkan kepala pada belakang sofa dengan mendengus kasar.
Tatapan Aldi menerawang menatap langit-langit, kebimbangan kini melanda hatinya.
Sekarang ia benar-benar sendiri, ia harus mengurus Rita dan perusahaanya sekaligus.
Aldi bangkit dari sofa,
"Sayang ayo kita istirahat di kamar, hari ini mas Aldi ngak jadi kekantor, karna tak ada yang akan menjaga kamu dan mama," ujarnya lagi.
***
Waktu terus berlalu, sudah tiga hari Aldi tak kekantor, ia pun sudah menghubungi agensi jasa merawat orang sakit.
Namun tak ada yang bersedia merawat orang dengan gangguan jiwa, mereka merasa sangat berisiko dengan pekerjaan tersebut.
Lain Aldi lain pula mbok Jum, mbok Jum buru-buru menghampiri Aldi.
"Den Aldi, mohon maaf sebelumnya, si mbok harus pulang kampung saat ini juga, mertua si mbok meninggal," tutur si mbok dengan mata yang memerah.
Aldi terperanjat dari duduknya, "Innalilahi wa innalilahi rojiun, iya Mbok, mbok boleh pulang, bawa saja mobil Aldi," usulnya.
"Maaf beribu ribu maaf Den, tapi si Mbok harus pulang untuk mengurus sawah yang di tinggalkan mendiang," ucap simbok.
Aldi menghela napas panjang, "Satu persatu orang meninggalkan rumah ini,"dengusnya.
"Tapi Den Aldi tenang saja, mbok akan minta mbok Yun untuk menggantikan simbok."
__ADS_1
Aira mendekati mendekati si mbok, "Mbok mau kemana?" tanya Aira seraya berjalan mendekati siMbok.
"Non Aira, si mbok harus pulang kampung, mertua Simbok meninggal," ucapnya sambil menangis.
Aira memeluk Simbok, "Hiks hiks Aira turut berduka cita ya Mbok,.tapi Aira sedih karna saat Aira melahirkan tak ada Simbok yang membantu Aira,.hiks hiks hiks."
"Tenang Non, Mbok Yun adik Simbok yang akan menggantikan Simbok, kalau Non kangen, Non bisa bertandang ke kampung SiMbok,"ucap Mbok Jum.
Mereka pun melepaskan pelukanya, "Simbok pamit ya, kirim salam sama Mbak Tari dan mas Heru ya hiks hiks hiks."
Mata Aldi memerah, dua puluh tiga tahun tinggal bersama Simbok membuat ikatan batin yang kuat antara ia dan Simbok, si mbok sudah seperti ibunya sendiri.
Aldi memeluk Simbok,"Mbok meski Mbok jauh, jangan lupa Aldi ya Mbok, doakan Aldi dan keluarga ya Mbok, ujar Aldi seraya menangis.
"Pasti Den,Den Aldi kan anak Simbok juga," ucapnya sambil mencium kedua pipi Aldi.
Setelah melepaskan pelukannya, Aldi mengikuti Simbok kekamar, membantu Simbok mengeluarkan koper-koper, Mbok dan mang ujang.
Aira tak henti-hentinya menangis karna di tinggal orang yang sangat dekat dan menyayanginya dengan tulus.
Taksi yang mereka pesan sudah berada di depan rumah, dengan berat hati Simbok dan mang ujang meninggalkan rumah yang mereka huni selama dua puluh lima tahun tersebut.
Begitu banyak suka duka yang mereka rasakan saat bersama keluarga Satria yang selalu bersikaf baik terhadap ia dan suami .
Aira tak henti-hentinya menangis, tubuhnya bergetar, rasanya ia ingin menghalangi kepergian Simbok.
"Hiks hiks hiks Mbok!" Serunya langsung memeluk Simbok.
Hiks hiks, tangis keduanya pecah seolah tak ingin di pisahkan.
"Mbok, hiks hiks hiks." Aira menangis ia tak sangup mengatakan selamat jalan kepada Simbok, Akhirnya ia hanya memeluk Simbok tanpa berucap, Aira menangus tersedu-sedu di pelukan Simbok.
"Sudah Non jangan sedih lagi, setiap pertemuan pasti ada perpisahan," papar simbok melepaskan pelukanya dan menghapus air mata Aira.
Simbok mendekati Aldi yang juga ikut menangis,.Aldi langsung menghambur memeluk ibu keduanya tersebut.
"Mbok!" Hati-hati di jalan ya, sering-sering hubungin Aldi," ucap Aldi menangis dalam rangkulan Mbok Jum.
"Iya Den, jaga diri dan istrinya ya Den, Mbok titip Non Aira, " ucapnya seraya melepaskan pelukan mereka.
"Iya Mbok, mbok juga jaga diri,beri tahu Aldi jika sudah sampai tujuannya mbok." Ujar Aldi.
"Iya Den, mbok berangkat ya," ucap Simbok seraya melambambaikan tanganya sebelum masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Aldi menghampiri Aira dan memeluknya, keduanya merasakan kesedihan yang sama.
Hiks hiks Aira mata Aira tak berhenti menetes, dengan lembut Aldi menghapus titik mata sang istri.
"Sudah sayang, jangan sedih lagi, kan ada mas Aldi yang selalu menemani dan menyayangi kamu," ucap Aldi seraya mencium lekat kening istrinya.
Keduanya kembali menatap sedih mobil taksi yang membawa mbok Jum.
Setelah mobil tersebut tak lagi terlihat mereka kembali masuk kedalam rumah mereka.
Aira mendaratkan bokongnya di sofa begitupun Aldi yang duduk di sampingnya.
Rumah yang biasanya rame kini terasa sepi dan sunyi, hanya tinggal mereka bertiga dan para asisten rumah tangga.
"Mas sekarang rumah kita terasa sepi ya," guman Aira seraya merebahkan kepalanya bersandar pada dada Aldi.
Dengan lembut ia membelai rambut panjang sang istri yang tergerai.
"Sebentar lagi rumah ini juga rame lagi sayang, rame dengan suara tangis dan tawa anak-anak kita," sahutnya.
"Mas Aldi ingin punya anak yang banyak, biar kita ngak merasa sepi" ucap Aldi.
"Modus ya?"tanya Aira.
"Modus maksudnya?" Aldi balik bertanya.
"Pingin punya anak banyak apa pingin punya istri yang banyak?"tanya Aira.
"Pingin punya anak banyak, istri cukup satu, satu aja mas Aldi keteteran dalam mencukupi nafkah batinya, apalagi sampai banyak," ledek Aldi seraya menggigit pelan daun telinga istrinya.
"Ngak juga kalau ngak di pancing," kilahlanya seraya mengkerucutkan bibinya.
"Ngak juga apanya? alasanya khilaf melulu," canda Aldi lagi seraya merangkul tubuh Aira kembali.
"Ih mas Aldi jahat," ucapnya sambil memukul-mulul dada Aldi pelan.
Ha ha ha, Aldi tertawa, sejenak mereka melupakan kesedihanya.
"Aduh sayang sakit," keluh Aldi.
"Biarin Aira pukul." Aira.
"Tapi ngak apa-apa juga kali, mas Aldi kan milik Aira sepenuhnya," ucap Aldi sambil memeluk Aira dan mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1
Rita mengintip kemestraan mereka, entah mengapa ia merasa cemburu, jika ada yang lebih dekat dengan Aldi.
Bersambung, please dukung author terus ya , like, komen ,vote hadiah juga boleh