Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tunanggan


__ADS_3

Aldi kembali lagi kekamarnya, dengan maksud untuk berbicara kepada Tari dan memperingatkan nya agar ia kembali memikirkan keputusanya yang akan menerima lamaran dari keluarga Romeo.


Untuk menghindari tindakan yang tak di inginkan, kali ini Aldi mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.


Beberapa saat menunggu, ternyata yang membuka pintunya tersebut adalah Aira.


"Mas, Aldi sayang, baru pulang?"tanya Aira saat melihat Aldi di depan pintu kamarnya.


"Iya sayang," jawab Aldi singkat, sambil mengacak-acak rambut istrinya.


Aldi mendaratkan bokongnya di kasur empuk mereka, tempat tidurnya sedikit berantakan karna beberapa gaun menumpuk di sana.


Aldi melirik ke arah Tari dan Aira yang berada di meja rias, keduanya terlihat sangat bahagia, apalagi Tari, senyum terus terkembang di wajahnya.


"Aira kamu bantu mbak ya, biar mbak tampil cantik malam ini." ucap Tari kepada Aira.


"Tenang mbak! mbak Tari akan Aira dandani menjadi wanita yang paling cantik di dunia ini, tentunya setelah Aira" canda Aira sambil mengenakan foundations di pipi Tari.


"Hm, ngak segitunya juga keles," dengus Tari.


Aira berhenti sejenak, memperhatikan wajah Tari, Ehm.."Kayaknya mbak ngak perlu pakai blush on lagi mbak, pipi mbak sudah merona," ucap Aira kembali menggoda Tari.


"Ish Aira, kamu jangan bikin mbak semakin malu gitu dong, mbak terlalu senang aja, karna akhirnya mbak dan Romeo sampai pada titik juga ini Aira, " ucap nya dengan sangat bahagia.


"Ops tahan mbak,.jangan terlalu senang dulu, nanti malah bikin berantakan, ayo kita lanjutkan kembali, " ucap Aira sambil menyapu bedak tabur pada wajah Tari.


Mendengar percakapan keduanya, Aldi semakin ragu untuk mengatakannya, ia tak ingin menyakiti kedua wanita yang sedang berbahagia tersebut.


Apalagi ia melihat Aira yang begitu tulus dan antusias dalam membantu Tari, Nungkin saja Aira memang tak punya perasaan khusus terhadap Romeo, gumaanya dalam hati.


Setelah bergelut dengan batinya sendiri, akhirnya Aldi pasrah dengan keputusan yang diambil oleh Tari dan kedua orang tuanya.


Lagi pula ia tak perlu takut pada siapa pun atau apapun, selama ia yakin atas cintanya pada Aira, juga cinta Aira terhadapnya.


Malam Hari.


Kedua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu yang besar tersebut, mereka sengaja memilih duduk ala lesehan agar lebih terlihat akrab dan leluasa.


Romeo hadir dengan kemeja putih dan blazer hitam nya, warna hitam yang merupakan warna favoritenya.


Sambil menunggu anggota keluarga lainya mereka menyuguhkan brownies dengan aneka minum sirup sebagai hidangan pembuka.


Satria dan Hadi duduk bersebelahan mereka berbincang-bincang ringan sebelum acara lamaran dan pertunangan di selenggarakan.


Semrntara Aira dan Aldi turun bersama Tari, dengan perasaan gugup yang luar biasa, Tari menggait tangan Aira agar selalu berada di sisinya.


"Aira, mbak deg-degan baget nih, jantung mbak rasanya mau copot," bisik Tari di telinga Aira.


"Alah mbak bawa santai saja,.kayak ngak pernah di lamar saja," sahut Aira lirih.


"Beda dong, hari ini mbak bahagia sekaligus malu Aira." cetus Tari.


"Malu? Emang mbak Tari masih punya rasa malu?" Canda Aira ia pun terkekeh.


"Ish sudalah diam, makin deg-degan nih, please Aira gimana caranya mengatasi perasaan nervous ini?"tanya Tari, ia memang terlihat gugup, bahkan tanganya sampai mengeluarkan keringat dingin.


"Berhenti dulu mbak, atur nafasnya dulu," ucap Aira, mereka pun berhenti untuk memberi jeda bagi Tari guna menghilangkan perasaan gugupnya.


Sementara Aldi ia terus menuju tempat keluarganya berkumpul, Aldi terus masih berfikir bagaimana caranya agar pertunangan tersebut bisa di batalkan, namun sampai sekarang ia belum menemukan cara bagaimana untuk membatalkan pertunangan ini, akhirnya ia juga ikut duduk di samping Heru.


Aldi dan Romeo saling menatap tajam, keduanya seperti musuh yang bertemu di medan perang.


Setelah lelah saling menatap dalam beberapa saat , Aldi pun menyerah, ia membuang wajahnya menghindari tatapan Romeo yang seperti mengintimidasi dirinya.

__ADS_1


Begitupun Romeo ia lebih memilih diam serta menundukan kepalanya, ia ingin menghindari pandanganya agar tak menatap Aira langsung.


Setelah merasa cukup tenang, Tari dan Aira pun kembali menemui hadirin yang hadir dan telah menunggu mereka di sana.


Aldi duduk di sebelah Heru, meski tak merestui hubungan Romeo dan Tari, namun Heru tak punya alasan untuk menolak Romeo, apalagi ia melihat Tari yang ternyata sangat mencintai Romeo.


"Aldi, dimana Aira dan Tari?" Tanya Maya karna melihat Aldi yang tiba hanya seorang diri.


"Oh mereka di belakang Bunda," ucap Aldi sambil menunjuk jempolnya ke arah belakang.


Tak berapa lama Aira dan Tari pun tiba di hadapan mereka, dan pandangan pertama Tari tertuju pada sang Arjuna, Romeo.


Entah kenapa hatinya begitu senang saat melihat pria tersebut, senyum manis terus terukir di bibir merahnya.


Dengan menggunakan mini dress berwarna purple dengan rambut yang di kuncir pada kedua sisinya, kemudian di sanggul sederhana, Tari terlihat begitu cantik dan anggun, di dampingi Aira yang menggunakan gaun dengan warna senada dengan kemeja Aldi, berwarna beige.


Tari duduk di samping Maya dengan duduk bersimpuh di atas lantai.


Setelah mengetahui anggota keluarga nya sudah lengkap, Satria pun membuka acara sederhana tersebut.


Diawali dengan mengucap sukur dan memanjadkan doa, dan beberapa patah kata sambutan penerimaan mereka terhadap keluarga Hadi, ia kemudian menanyakan secara resmi maksud dari kedatangan keluarga Hadi pada kediaman mereka saat itu.


Meski telah mengetahui maksudnya, pertanyaan tersebut hanya sebagai sekedar basa-basi untuk memulai acara lamaran tersebut.


"Dengan keadatangan anda yang kami terima dengan baik, saya secara langsung ingin menanyakan maksud dari kedatangan saudara kerumah saya?" tanya Satria yang kini berhadapan langsung dengan Hadi.


Hadi selaku orang tua Romeo pun menyatakan maksudnya.


"Dengan rahmat Tuhan yang maha esa, serta mengikuti sunah dari yang mulia Nabi, kedatangan kami kemari untuk menikahkan putra-putri kita, namun sebelum itu, kami menyadari masih ada beberapa ritual yang akan di lalui sebelum sampai pada ijab qabul itu sendiri dan menurut adat yang kami ketahui, salah satunya adalah adanya lamaran dari keluarga calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita," Ucap Hadi dengan tenang.


"Dari itu kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri anda agar bisa di persunting oleh putra kami," ucap Hadi secara gamblang.


"Untuk itu kedatangan kami disini juga ingin menanyakan secara langsung syarat dan menyatakan ke ingin kami untuk berbesan dengan Anda," tambah Hadi lagi.


Satria menarik nafas sejenak seraya mengatur kata-katanya untuk membalas pernyataan dari Hadi.


"Kami tidak meminta syarat khusus untuk meminang putri kami, selain hal-hal yang telah di bicarakan sebelumnya, hanya saja..,kami selaku orang tua meminta, setelah menikah, mereka berdua akan tinggal bersama kami di rumah ini, mengingat kami dan Tari baru saja bersama setelah 22 tahun berpisah," ujar Satria.


Aldi bereaksi ketika mendengar Satria mengatakan hal itu, matanya pun melotot kearah Satria, namun Satria tak menyadarinya.


Apa? bagaimana mungkin Romeo akan tinggal di rumah ini setelah mereka menikah.


Hadi tersenyum, "Jika hanya itu syaratnya kami juga sangat mengerti, dan sama sekali tidak merasa keberatan jika setelah menikah, putra kami akan tinggal di rumah ini," sahut Hadi.


Satria mengganggukan kepalanya kepada Maya, sebagai isyarat jika calon besan nya tersebut menyetujui permintaan mereka, dengan senyum yang terukir di bibir Maya, ia pun memberi isyarat jika lamaran tersebut di terima, dan di lanjutkan pada tahap berikutnya.


" Baik lah setelah melihat dan mempertimbangkan maksud anda, dan anda telah menyetujui syarat yang kami ajukan, dengan ini kami menerima lamaran putra anda," ucap Satria dengan penekanan di akhir kalimat.


"Alhamdullilah,"sahut Hadi.


"Jika begitu, mari kita lanjut dengan mengikat mereka saja dengan bertunangan, setelah itu kita tinggal menentukan hari pernikahanya saja." Hadi.


"Oh tentu saja, semakin cepat justru semakin baik, " sahut Satria.


Hadi mengeluarkan kotak cincin dan menyerahkan nya pada Romeo, "Romeo ayo katakan pada calon mertua mu, apa yang papa ajarkan padamu dirumah, " bisik Hadi sambil menyerah kan kotak cincin tersebut kepada Romeo.


Romeo menerimanya dengan wajah yang datar.


Romeo berjalan merangkak mendekati Satria, kemudian ia menjabat tangannya seraya bersimpuh mencium punggung tangan Satria.


"Saya bermaksud meminang Tari dan berniat untuk mengikatnya dengan cincin ini, saya harap Om bisa menerima niat baik saya tersebut," ucap Romeo dengan nada datar.


Mendengar ucapan Romeo yang terkesan datar dan kurang mengena di hatinya tersebut , Hadi menepak jidatnya sendiri. "Aduh Romeo sudah di ajari masih saja salah, " guman Hadi.

__ADS_1


"Ya sudalah Pa, biarkan saja," bisik Suci.


Keheninggan terjadi sesaat setelah Romeo menyatakan maksudnya, mata Tari tak beranjak dari pandangannya yang melihat Romeo yang membungkukkan tubuhnya meminta restu terhadap ayah kandungnya sendiri.


Bulir bening menetes di wajah cantik yang tengah merona tersebut, tubuhnya terpaku tak bergerak.


Aira menyenggol lengan Tari untuk menyadarkanya dari lamunannya tersebut, saking bahagianya Tari, ia sampai menitikan air mata dengan tubuh yang sedikit terguncang karna menahan tangis bahagianya.


"Shut..mbak, tenangkan diri mu, bersikaf lah biasa saja," bisik Aira.


Tari menggangguk pelan, ia pun menarik nafas secara teratur dan membuangnya perlahan dan di ulangi beberapa kali, setelah cukup tenang, kemudian menghapus air matanya.


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Romeo menegak kan tubuhnya menunggu jawaban dari sang calon mertuanya.


"Iya Nak, karna engkau berniat baik pada putri kami, kami ijin kan kamu menyematkan cincin tersebut sebagai ikatan pertunangan untuk kalian," sambut Satria sambil tersenyum seraya menepuk pundak Romeo.


Suasana hening seketika, perasaan haru dan bahagia menyelimut semua yang hadir, terkecuali Aldi, ia masih sulit untuk menerima kehadiran Romeo sebagai calon kakak iparnya.


"Jika begitu silahkan Nak, sematkan cincin itu pada calon istrimu," ucap Satria pada Romeo.


Romeo menggangguk, "Terima kasih Om," ucapnya dengan wajah yang masih tertunduk.


Romeo menghela nafas panjang, meski berusaha di tutupinya, nyatanya ia memang terlihat gugup, ia merasa belum siap untuk menghampiri Tari dan menyematkan cincin tunangan tersebut kepadanya, apalagi Romeo melihat Aira yang berada persis di samping Tari.


Romeo mengedar pandanganya menatap wajah kedua orang tuanya yang terlihat bahagia dan begitu berharap padanya, kemudian ia juga menatap wajah kedua orang tua Tari yang juga terlihat bahagia dan berharap penuh terhadapnya, keraguan sedikit memudar, ia kembali berjalan beberapa langkah untuk mendekati Tari dan melihat Aira yang terlihat bahagia, Romeo kembali menguatkan langkahnya kakinya hingga kini beberapa langkah lagi berhadapan langsung dengan Tari.


Romeo merasa apa yang di lakukanya saat ini adalah demi membahagiakan orang-orang yang menyayanginya dan untuk dirinya sendiri, ia berharap dengan kehadiran Tari sebagai pendamping hidupnya, ia bisa menghapus perasaan cinta dan keinginannya untuk memiliki Aira.


Bagai tersiram bunga-bunga se isi taman, betapa bahagianya perasaan Tari saat itu, jantungnya berdetak semakin kencang saat Romeo berjalan perlahan mendekatinya.


Karna tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, seketika itu Tari kembali menangis, kali ini air matanya jatuh berguguran tanpa bisa di tahan.


Melihat sang kakak ipar terlarut dalam emosi, Aira merangkulnya dan kembali mengingatkannya untuk tetap tenang dan kembali menguasi emosinya.


Aira menarik tisu yang ada di hadapanya, dengan perasaan tulusnya ia menyapu titik air mata yang membasahi pipi Tari.


Setelah menyeka air mata Tari, kini justru Aira yang tak bisa membendung emosinya yang bahagia dan haru melihat Tari yang tengah berbahagia menanti pujaan hatinya menyematkan cincin.


Meski ini hanya acara pertunangan, namun kebahagian ini terasa sampai pada puncaknya, mengingat perjuangan untuk mendapatkan cintanya yang sempat terlahang karna perjodohan dirinya dengan Heru.


Kini mereka berdua telah saling berhadapan, setelah mengatur nafasnya,Tari merasa cukup tenang, meski ia tak mampu mendongkakkan kepala untuk menatap wajah Romeo.


Romeo duduk bersimpuh di hadapan Tari, ia membuka kotak cincin tersebut tepat saat dirinya berada di hadapan Tari.


" Tari, mau kah kau menerima cincin ini sebagai pengikat hubungan sementara kita?" tanya Romeo gugup dengan wajah yang tertunduk.


Senyum terbit dari wajah masing-masung kedua orang tua mereka saat menyaksikan langsung putra putri mereka yang mengikat hubungannya dengan simbol berbentuk cincin tersebut.


Tari menggigit bibirnya menahan jantungnya agar tak meledak saat itu juga, karna dashatnya degupan yang berdetak di dadanya kini.


Dengan wajah yang tertunduk menutupi rona pipinya karna tersipu, Tari menyahut dengan kata-kata yang telah ia pikirkan sebelumnya.


"Iya, atas restu orang tua ku, aku menerimanya," ucap Tari gelalapan.


Mereka berdua terlihat canggung, kata kata yang keluar dari mulut mereka terdengar datar dan seperti sudah di rekayasa sebelumnya, karna memang apa yang di ucapkan Romeo adalah skenario yang di buat oleh Hadi dan Suci sebelum mereka tiba di rumah ini.


Romeo menarik tangan kanan Tari kemudian menyematkan cincin di jari manisnya, perasaan bahagia terus menyelimuti Tari saat itu, senyum terus mekar pada wajah cantik nan merona miliknya, debaran jantungnya berirama manja saat cincin tersebut berhasil melingkar di jari manisnya.


Rasa bahagia tersebut tak dapat di tutupi, mereka berdua saling melempar senyum, saat kedua netra indah mereka bertentang sesaat, kini gantian bagi Tari yang menyematkan cincin di jari Romeo, perasan bahagia tersebut kembali terulang, dengan bunga-bunga cinta yang kini terus bermekaran di hatinya.


Kini mereka telah saling mengingat meski belum syah menjadi miliknya, Tari dan Romeo merasa begitu bahagia, bagi Romeo beban berat seperti sudah terlepas di pundaknya, detik-detik meneganggakan telah pun ia lalui.


Kedua keluarga berseru mengucap syukur, mereka menggelar doa bersama yang di pimpin oleh ketua Rt setempat untuk mendoakan, kelancaran persiapan pernikahan mereka yang akan di selenggarakan dua bulan mendatang.

__ADS_1


Ops episode yang panjang, bahkan untuk menyelesaikan tulisan ini, authornya harus menunda mandi paginya di rapel jadi mandi sore, ( hehe derita loh keles 😆)


Terus simak kisah ini sampai tamat ya reader, in sya Allah akan ada hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini, so dukung author terus ya, jangan bosan-bosan, like, komen, vote dan hadiah juga boleh, apalagi kalau bingkisan atau parsel ( ngarep😆)


__ADS_2