
Aira kembali melempar tespack ke tong sampah seraya menangis frustasi di depan cermin.
"Hiks hiks kenapa aku belum hamil juga," gumannya lirih.
Aira terus menangis ia merasa kecewa karna sudah lima bulan menanti, namun juga bisa memberi kabar baik untuk suaminya.
Aldi keluar dari kamar mandi dan heran melihat istrinya menangis.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Aldi seraya berjongkak di samping istrinya yang sedang duduk.
"Hiks Aira kecewa mas, sudah lima bulan tapi Aira belum juga hamil,.hiks hiks."
"Sudalah sayang, jangan terlalu di pikirkan sayang, itu hanya menambah beban pikiran kamu, kamu jadi stres," bujuk Aldi.
"Tapi Aira benar benar ingin hamil mas, hiks hiks."
"Mungkin belum waktunya sayang, mungkin Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk selalu berdua, karna sebelum menikah kita kan ngak sempat pacaran, apa kamu ngak senang sekarang kita bisa menghabiskan waktu bersama?"
"Lagi pula mas Aldi masih butuh kamu untuk mendampingi mas Aldi menyelesaikan masalah-masalah mas Aldi," ucap Aldi seraya berdiri dan memeluk istrinya.
"Mas Aldi masih menikmati saat -saat seperti ini sayang,.hanya kita berdua bersama-bersama, di mana ada kamu pasti ada mas Aldi, kalau kamu hamil, mas Aldi kan ngak bisa bawa kamu kemana-mana, "ujar Aldi seraya mengusap kepala sang istrinya.
"Iya mas tapi Aira juga ingin membahagia kan mas Aldi dengan berita kehamilan Aira, " ucap Aira teebata-bata.
Aldi tersenyum seraya mengguman.
"Hmm Aira sayang, mas Aldi bahagia bersama kamu, dan anggap saja saat ini kita sedang menikmati bulan madu yang panjang, okay?" Aldi.
Aira masih menangis terisak di pelukan Aldi.
"Ya sudah, kamu siap-siap, sebentar lagi sekolah kamu akan di mulai, kamu juga akan mendampingi mas Aldi dalam rapat nanti siang, kemudian ibu negara Aira mendampingi bapak presiden Aldi mengunjungi mama kerumah sakit, jadwal ibu negara dan bapak presiden masih padat sayang, jd nikmati saja ya," bujuk Aldi lagi.
"Aira mengganguk, ia pun segera menghapus air matanya.
"Ayo ibu negara Aira, bapak presiden Aldi, butuh pakaian untuk ke kantor, "ucap Aldi.
Aira mengerti ia pun bangkit kemudian menuju lemari pakaian mereka.
Satu stel busana kantor untuk Aldi di letakan Aira diatas tempat tidur.
Kemudian ia membantu suaminya tersebut mengenakan kemeja dan mengancingnya satu persatu.
Tangan Aira memasukan kancing kedalam lubangnya, namun tangan Aldi mengusap
lembut punggung Aira.
Perlahan tangan tersebut menyusupdi balik rok yang Aira kenakan.
"Mas jangan nakal ya!" ucap Aira dengan mata yang melotot.
Aldi tersenyum, ia paling tahu jika Aira tak tahan jika bagian bawah tubuhnya di gerayangi, bisa-bisa Aldi langsung di perk*sa saat itu juga, makanya Aira mewanti-wanti Aldi agar tidak nekat, supaya mereka tak terlambat berangkat ke kantor karna harus mengulang mandi pagi lagi.
__ADS_1
Mereka berdua turun menuju meja makan.
Keadaan rumah tersebut sepi, tak seperti biasanya anggota keluarga berkumpul di meja makan saat sarapan.
"Mas Heru kok sendiri saja?"tanya Aira yang melihat Heru seperti tak berselera.
"Mama sama papa lagi jogging, sedangkan Romeo dan Tari mereka menginap di rumah Om Hadi," papar Heru dengan datar.
Aira menangkap ada yang aneh dengan abang iparnya tersebut, namun ia tak ingin membahasnya, karna melihat wajah Heru yang terlihat jutek.
Setelah sarapan mereka langsung berangkat menuju kantor.
Di dalam mobil,
"Mas kok mas Heru berubah jadi juteks gitu sih?"tanya Aira kepo.
"Ngak tau, lagi PMS kali ya," sahut Aldi asal.
"Ih di tanyain serius malah bercanda." sahut Aira ketus.
"Putus cinta kali yang," cetus Aldi.
"Ehm bisa jadi, tapi sama siapa mas?" tanya Aira lagi.
"Ya sama cewek lah sayang, masak sama cowok sih," jawab Aldi ngak niat.
"Ish jawabanya ngeselin, "sahut Aira.
***
"Mas Aldi. mas Aldi ngak malu ya, kemana mana gandeng Aira?"
"Malu bagaimana , punya istri secantik kamu kok malu,"
"Nanti orang pada bilang jika mas Aldi itu seorang suami yang takut sama istri," cetus Aira.
"Biarin saja emang mas Aldi takut kok kehilangan kamu," ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Aira.
Aira tersenyum' betapa bahagianya ia merasakan perlakuan istimewa dari seorang Aldi.
Sesampai nya di ruangan Aldi , Aira langsung membuka laptopnya untuk masuk kedalamm aplikasi zoom class roomnya.
Hari ini ia akan mengikuti ujian semester secara on line, tak terasa kurang dari enam bulan lagi ia juga akan mendapat ijasah layaknya sekolah formal tatap muka.
Aira berkonsentrasi dengan ujiannya, begitupun Aldi yang juga berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Waktu makan siang pun tiba, Aira menutup aplikasi zoomnya karna ujian hari itu pun telah berakhir.
Sambil menunggu Aldi selesai dengan tugasnya, Aira menonton kartun kesukaanya sambil mengupas buah apel yang tersedia di meja.
Aira tertawa renyah sambil mengunyah apel melihat tingkah lucu kartun kesayangannya.
__ADS_1
Tawa Aira seketika menarik perhatian Aldi yang sedang sibuk, karna penasaran ia pun menghampiri Aira dan ikut menonton bersamanya.
Sekali lagi Aira tertawa lepas melihat hal yang menurutnya lucu tersebut, sementara Aldi tersenyum karna melihat istrinya tertawa bahagia seolah tak ada beban di pikirannya.
Aldi memeluk Aira, ia merangkul tubuh Aira agar bersandar padanya, Aira pun bersadar dengan manja, dengan mata yang tetap fokus pada layar yang ada di hadapanya.
Aldi berkali kali mencium pucuk kepala sang istri, pikiran nakalnya pun mulai menggodanya untuk menjahili Aira.
Tanganya perlahan masuk merayap menuju biji kecambah Aira, Aira yang mulanya menikmati tontonannya kini mulai menggeliat karna area sensitifnya tersebut di gelitik oleh jemari Aldi, jemari Aldi melai menyusup di balik segitiga sang istri seketika Aira mulai mengelinjang, menahan getaran hasratnya.
Aira menggigit bibir bagian bawahnya, tubuh ya ia rebahkan diatas sofa agar Aldi bisa berbuat lebih terhadapnya.
Aldi terus menguncang biji kecambah tersebut membuat Aira semakin mengelinjang bergerak tak karuan.
"Mas Aldi. Aira udah ngak kuat, "des*sahnya ketika hasratnya sudah memuncak, ia pun menarik tanggan Aldi dan meminta agar Aldi segera menggempurnya.
Namun Aldi tak bergerak, ia terus menggetarkan biji kecambah sang istri hingga membuat Aira semakin mengelinjang.
"Udah mas, Aira ngak kuat, "ucap Aira dengan napas tak beraturan.
Aldi menghentikan gerakannya, dengan wajah yang berlagak acu, ia membersihkan jarinya dengan tissu basah.
"Udah yuk sayang kita makan," ucap Aldi santai.
"Aira bangkit karna merasa kesal dengan ajakan Aldi," Apa makan? selesain dulu tugas mas Aldi!"ucap Aira dengan wajah yang terlanjur mesum akibat ulah Aldi.
"Nanti saja sayang, mas Aldi sudah lapar" sahut Aldi berlaga cuek dan pura -pura menolak.
"Apa lapar? ayo selesaikan dulu urasan mas Aldi sama Aira, kalau ngak Aira bunuh nih!", ancamnya seraya menodongkan pisau buah yang tergeletak di atas meja.
Aldi tertawa geli, "Ih serem banget kamu kalau lagi on ya, Ya sudah terpaksa mas Aldi layani kamu dulu dari pada mas Aldi mati kunyol," kelakar Aldi.
"Iya bagus," ucap Aira seraya melepas penutup tubuhnya, begitu pun Aldi, tanpa basa basi mereka pun melakukan pertempuran di saat jam makan siang tersebut.
Lima belas menit, sudah cukup waktu bagi si buyung untuk melepaskan pelurunya.
Keduanya terkulai dengan tubuh yang basah oleh keringat.
Aldi bersandar di sofa, dengan napas yang masih tak beraturan ia menarik tubuh Aira.
Aldi tersenyum saat menatap wajah sang istri, di belainya rambut basah Aira yang menempel di keningnya, kemudian ia mendaratkan kecupan beberapa kali pada kening dan bibir mungil istrinya.
Aldi begitu bahagia, baginya Aira adalah sesuatu yang bisa menghiburnya dalam keadaan apapun.
"Mas Aldi lain kali jangan nakal lagi ya, kan Aira jadi khilap," ucapnya dengan manja seraya bergelayut manja memeluk sang suami.
"Hmmmm, tapi mas Aldi suka kalau kamu khilaf, kamu jadi lebih agresif, "sahut Aldi seraya tersenyum.
"Hm modus," sahut Aira.
"Kapan lagi sayang, kita bisa seperti ini, mumpung kita bisa selalu bersama jadi nikmati saja,"ucap Aldi seraya tersenyum mencium pucuk kepala sang istri.
__ADS_1
Aira pun mengerti maksud Aldi, mereka memang butuh menghabiskan banyak waktu bersama, itulah alasannya kenapa Aldi tak menuntut Aira untuk segera hamil, Aira tersenyum, ia yakin suatu saat ia dan Aldi akan di karunia anak di saat yang tepat.
Bersambung guys.like komen votenya ya, bagi ke author dong please mumpung hari senin 😚