Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Nina vs Edo


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," suara seseorang memutus ucapan Aira.


"Wa'alaikum sallam," sahut mereka serempak.


"Nina."


"Aira?"


Aira berdiri sambil menggendong bayi lelaki tersebut dan mendekati nya, ketika hendak memeluk Nina, ia menolak dan sedikit menjauh.


"Jangan Aira, tubuh ku kotor, aku mandi dulu, tunggulah disini," ucapnya langsung berlalu meninggalkan mereka semua.


Bayi tersebut merengek mengepakkan kaki tanganya meminta di gendong oleh ibunya, namun Nina seakan tak peduli.


Aira merasa miris melihat teman sebayanya itu, Nina terlihat lebih kurus, lebih kumuh, wajahnya tak lagi berseri sedikit pun, bahkan terlihat jauh lebih tua dari umurnya.


Melihat temanya yang lebih menderita dari dirinya, Aira merasa sedih sekaligus merasa beruntung karna menikah dengan Aldi,kehidupanya bahkan jauh lebih baik meski pun perjuangan yang ia lakukan tak bisa di bilang mudah, justru sangat sulit hingga membuatnya depresi.


Mungkin saja jika ia tak lari dari rumahnya dan menerima perjodohan dengan Retno, hal yang sama seperti Nina bisa saja juga terjadi pada dirinya.


Ya Tuhan, melihat Nina seperti itu aku merasa begitu beruntung.


Edo mendongkak kan kepalanya ketika melihat bayi tersebut menangis.


Aira berusaha membujuk bayi itu.


"cup cup sayang jangan menangis sayang," ucap Aira sambil menggendongnya.


Bibik keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi 3 gelas air putih dan botol susu yang sedikit usang, botol yang harusnya di isi dengan susu formula itu, malah di isi dengan air putih yang terlihat sedikit keruh, mungkin karna ada tambah gula.


"Sini Cu', minum dulu ya, ibumu sedang mandi," ucap wanita paroh baya tersebut.


Setelah menyerahkan bayi lelaki tersebut kepada Bibik, Aira kembali duduk di antara Aldi dan Edo, sementara Bibik kembali masuk ke kamar.


"Mas! sudah lihat sendirikan keadaan Nina bagaimana?" ucap Aira dengan penekanan di akhir pertanyaanya.


Bulir bening menetes perlahan di pipi mulus tersebut, sementara Edo menelan salivanya.


Edo termangu tak bergeming, ia masih belum bisa memastikan kebenaran ucapan Aira sebelum ia sendiri mendengar langsung dari Nina.


"Mas! sudah lihat, perubahan pada gadis itu?" Aira mengulang pertanyaanya.


"Bahkan ia harus menanggung beban hidup ibu dan anaknya, karna saat melahirkan bayi itu, bang Rudi meninggalkanya dan menghilang begitu saja, ia melepas tanggung jawabnya, karna tak mampu membayar rumah sakit akibat operasi cesar saat Nina melahirkan,"tambah Aira.


Hiks, hiks Aira mulai menangis terisak, hatinya terasa pedih mengingat kejadian itu,


Kejadian tersebut terjadi beberapa hari sebelum ia kabur dari rumahnya.


Melihat istrinya yang menangis, Aldi segera menghampiri Aira.


Aldi merangkak beberapa langkah untuk mendekati Aira, ia langsung memeluk istrinya yang terlihat sedih saat menceritakan kisah Nina kepada Edo.


Aira langsung merebahkan kepalanya pada pundak Aldi, namun pandanganya masih mengarah pada Edo.


"Bukanya bertanggung jawab melihat Nina yang seperti itu, Pak Retno seolah tak peduli jika Nina telah melahirkan anak haramnya, " cecar Aira dengan suara yang terputus putus karna tak mampu menahan sedih.


Aira menjeda kata-katanya sesaat untuk mengatur nafasnya, kemudian ia melanjut kan pemaparanya.


"Sekali lagi Retno bersandiwara Mas, ia memberi santunan pada Nina, hanya karna ia ingin terlihat sebagai seorang yang dermawan, seorang yang santun, agar ia terpilih sebagai kepala daerah, sementara Nina di tekan dan diancam agar menutup mulutnya."


"Dan baru beberapa hari Nina melahirkan anaknya, pak Retno malah bertandang kerumah, menyatakan maksudnya untuk melamar Rianty Mas,"ucap Aira terbata-bata, ia pun mengatur nafasnya kembali.


"Awalnya bapak pikir kedatangan pak Retno untuk melamar Aira sebagai menantu, ternyata ia melamar untuk dirinya, bapak sempat menolak, tapi pak Retno mengancam akan melaporkan bapak atas hutang pihutangnya, ia juga menjanjikan akan membahagiakan Aira dan bapak, akan membelikan kami rumah mewah dan mobil, asalkan Aira mau menikah denganya."


" Dari situ bapak mulai tertarik, ia pun memaksa Aira untuk menikah dengan pak Retno, padahal Aira masih ingin sekolah dan sebentar lagi ujian kenaikan kelas."


hiks, hisk Aira menangis terisak.

__ADS_1


"Aira lebih memilih lari dari rumah itu, dan meninggalkan sekolah, Aira ngak mau nasib Aira berakhir seperti teman-teman Aira.


" Sarah, Nina, Dewi adalah teman sepermainan Aira, mereka jadi korban kebejatan Retno, bahkan Sarah harus meregang nyawa akibat pendarahan karna aborsi." pungkas Aira.


Aira menelan saliva, rasa takut yang pernah melanda hatinya kini seolah terungkit kembali.


Hiks, hiks, untuk beberapa saat Aira menangis, sebelum melanjut kan kata-katanya.


"Sudah cukup Rianty, sudah cukup kau menuduh bapak ku, ku rasa ini semua sandiwara mu,.agar aku mencabut tuntutan hukuman mu bukan?"


"Kau memfitnah bapak ku yang sudah tiada!"


Aldi dan Aira kaget melihat reaksi Edo yang sepertinya tak menerima kenyataan yang sesungguhnya, namun mereka biarkan saja Edo meluapkan Emosinya, mungkin karna Aira tak cukup banyak bukti.


"Aku tak percaya pada mu Rianty, jika kau menuduh bapak ku lagi, aku akan menambah tuntun bagi kau dan suami mu dengan tuduhan pencemaran nama baik!" sangkal Edo.


"Bapak ku, dia orang yang baik dan penyayang, dia menyayangiku dan menyanyangi keluarganya mana mungkin ia bisa tega melakukan itu semua, itu semua hanya fitnah, kau dan suami mu sengaja melakukanya kan?!" cecer Edo dengan suara yang meninggi.


Keributan kecil pun terdengar oleh sang pemilik rumah.


"Apa yang Aira katakan itu benar semua, aku melaknat bapakmu,.semoga saja Tuhan membakarnya di neraka,!!" sahut Nina yang keluar dari kamarnya.


Nina menggunakan daster usang yang di tampal beberapa bagian, ia langsung bergegas untuk membela Aira, meski penambilanya masih berantakkan dan dengan rambut yang belum tersisir rapi.


Pandangan Edo lurus kearah seseorang yang telah menyahutnya tersebut.


Wanita itu semakin mendekat kearah mereka, Edo berdiri menunggu Nina mendekatinya.


Nina dan Edo saling menatap untuk beberapa saat.


"Kenapa kau bisa bicara seperti itu? apa kau tidak tahu kau berhadapan dengan siapa?" tanya Edo dengan tatapan tajamnya kearah Nina.


"Aku punya buktinya." Nina melempar selembar amplok ke wajah Edo.


Dengan amarah Edo membuka amplok tersebut, meski ia merasa tindakan Nina kurang ajar, tapi Edo tak menggubrisnya.


Ini uang sepuluh juta untuk membayar operasi dan biaya rumah sakit, jangan bilang pada siapa pun tentang ini, jika kau menutup mulut mu, maka kau akan aman, tapi jika kau berani membuka mulut mu dan menceritakan semua ini, maka aku akan membuatmu tak melihat ibu dan anak mu keesokan harinya.


Edo menelan salivanya , dengan geram ia meremas kertas tersebut.


"Kau boleh ambil adik mu itu, bapak biologisnya saja sudah banyak menyusahkan ku, dan sekarang aku harus mengurus bayi itu sendirian."


"Memberinya makan, mengurusnya, belum lagi menanggung Aib dari perbuatan terkutuk bapak mu itu!" cecar Nina.


"Dia tak hanya menghancurkan masa depan ku,.tapi juga hidupku, aku merasa seperti hidup di neraka!" ucapnya sambil meremas tangganya.


Edo melihat kemarahan, kebencian dan rasa putus asa di mata Nina.


"Lalu apa ini salah ku? hingga aku harus menanggung perbuatan terkutuk bapakmu,.dia memperkosa ku berkali-kali saat aku menjual kue di rumahnya."


"Dia tetap menyalurkan hasratnya, meski aku berteriak sekeras-kerasnya, meski aku telah pingsan, ia tetap menggauli ku secara paksa hingga berjam-jam, saat sadar aku merasakan sakit dan pedih, aku pun menangis sejadi-jadinya!"


Nina menelan salivanya untuk membasahi kerongkonganya yang terasa kering, mengatur nafas kemudian melanjutkan penuturanya kembali.


"Tapi ia membujuk ku, dia bilang, jika ia akan bertanggung jawab dengan menikahi ku dan akan menopang kehidupan ku, serta mengobati ayahku yang sedang sakit!"


"Tapi apa! sampai aku hamil, si bang*sat itu hanya memberi ku uang lima juta untuk menggugurkan kandungan ku, dan dia mengancamku jika aku berani membeberkan kebejatanya, maka ia akan menyakiti keluarga ku!"


"Aku tak punya pilihan selain mengikuti perintahnya, aku coba menggugurkan kandungan ku dengan minum jamu dan obat-obatan, tapi nasib ku malang, anak itu tetap tumbuh dalam rahim ku!" seru Nina dengan gemetar.


Edo semakin terperangah matanya tak berkedip menatap Nina.


"Karna syok, mendengar kehamilanku yang di luar nikah, bapak terkena serangan jantung dan meninggal."


"Aku semakin menderita karna tak ada lagi tulang punggung yang menopang kehidupan kami."


"Saat aku merasa putus asa, tiba-tiba seorang pria datang melamarku, dia menyangupi dan menerima ku yang dalam keadaan hamil."

__ADS_1


"Aku menerimanya karna ku pikir aku memang membutuhkan seorang suami, tapi ternyata Rudi sama bejatnya dengan Retno."


"Ia menikahi ku, tapi ia membiarkan Retno menikmati tubuhku, bahkan terkadang mereka menggilirku dalam waktu yang bersamaan," ucap Nina dengan tangisan pilunya, tubuhnya pun bersimpuh dan berlutut .


Nina berada dalam keadaan bersujud,.tubuhnya gemetar menahan tangis.


Begitupun Edo, tubuh Edo yang gagah seketika ambruk dan berlutut.


Detai air mata mengalir pada pipi Edo.


Aldi dan Aira pun saling memeluk mendegar cerita nestapa dari Nina.


Bahkan bibik pun menjerit,.ia tak pernah tahu jika Retno lah yang menyebab kan ke hancuran putrinya.


Tangisan pilu terdengar dari wanita yang menggendong bayi tersebut.


Wanita tersebut bersimpuh, menarik tubuh Nina yang tengah berguncang akibat tangisan pilunya, hatinya begitu sakit.


Begitu pun sang ibu yang hatinya hancur berkeping-keping mengetahui penderitaan Nina yang selama ini berusaha di tutupi oleh putrinya itu.


Nina dan ibunya saling memeluk mencoba membagi rasa luka dan nestapa.


Edo semakin gemetar, ia pun meringkuk dan menangis pilun


Aira menarik nafas panjang dan membersihkan cairan yang menutup dan hampir meleleh di hidung nya.


Dengan penuh keyakinan ia menonggakan kepala menatap tajam kearah Edo.


"Andai saja Aku punya keberanian seperti saat ini Mas, mungkin sudah dari dulu Aku sendiri yang akan membunuh Retno," ucapnya dengan tatapan mata yang tajam dan dengan emosi yang berapi-api.


"Sekarang aku merasa yakin mas! bahwa Retno memang pantas mati,!!agar tak ada lagi wanita muda yang menjadi korban kebiadapanya!" cecar Aira dengan suara lantang.


Edo diam, bibirnya gemetar melihat orang-orang yang terlihat menghakiminya.


Aira berdiri tegak di depan Aldi sementara Aldi bersiaga untuk melindungi istrinya.


"Sekarang aku tanya pada mu Mas, apa yang terjadi jika saat itu aku tak menusuknya?"


"Apa yang akan terjadi jika Bapak mu itu masih hidup sampai saat ini ?! berapa banyak gadis tak berdosa yang akan menjadi korban selanjutnya!!"


"Aku tak menyesal membunuhnya, bahkan harusnya aku sudah melakukanya sejak dulu!!!"


"Jawab Mas, apa aku salah jika semua itu ku lakukan untuk menyelamatkan hidup ku dan rumah tangga ku?!"


Edo gemetar melihat Aira yang terlihat marah, tapi yang membuatnya sakit adalah, pria yang dianggapnya malaikat justru sebenarnya adalah iblis yang kejam.


"Ini baru beberapa orang,.ini kisah ku, kisah Sarah dan Nina,belum lagi Dewi dan yang lainnya."


"Bapak mu memang pantas mati, dan aku tak menyesal sedikit pun karna membunuhnya! tak meyesal Mas! tak menyesal!" teriak Aira dengan luapan emosi, tubuhnya sampai gemetar.


Aldi pun langsung merangkul tubuh Aira dalam pelukkanya, ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya karna Aira telihat emosi.


"Sudah sayang, sudah"


Cup..cup..Aldi mencium kedua pipi dan kening Aira untuk meredam emosinya, sejurus kemudian ia kembali mendekap istrinya seraya mengusap pundak Aira dengan penuh kasih sayang.


Edo yang berlutut langsung bersujud mencium kaki ibunda Nina.


"Ampun kan bapak saya Bu, saya berjanji akan bertanggung jawab," ucap Edo dengan bersimpuh.


Bersambung guys.


Terima kasih telah membaca karya ini,


Like dan komen selalu author tunggu apalagi vote dan hadiahnya hehe.


salam sayang selalu dari author.

__ADS_1


Edo memandang Aira dengan tatapan sendu, sepertinya ia juga terluka mendengar kenyataan pahit tersebut.


__ADS_2