Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Penghargaan


__ADS_3

Mentari pagi menyapa dengan ramah kedua insan yang saling mendekap dalam kehangatan dan perasaan cinta tersebut.


Aira terbangun saat tubuh sang suami mendekapnya erat membuat nafasnya terasa sesak.


Senyum terbit di bibir Aira, setelah pergulatan panjang dan masalah yang menimpa bahterah rumah tangganya, kini ia merasa bahagia berada di sisi orang yang begitu ia cintai dan sayangi.


Meski keributan kecil sering terjadi di antara mereka, namun baginya itu hanyalah bumbu-bumbu dalam rumah tangga, seperti rasa cemburu yang merasuki hatinya saat melihat sang suami bersama wanita lain.


Namun dengan ketenangan dan kesabaran tak akan membuat bumbu tersebut menjadi racun dalam mahligai rumah tangga yang baru seumur jagung itu, menyatukan dua perbedaan itu memang tak mudah, tapi bukan bearti tak mungkin, kuncinya hanya saling percaya dan saling menjaga, karna menikah di usia yang masih belia bukan lah hal yang mudah, karna di usia seperti mereka perasaan ego dan emosi sangat tinggi menguasi diri mereka masing-masing.


Aira turun dari ranjang dan memulai rutinitasnya, sebagai seorang istri ia harus selalu tampil cantik menyambut Aldi, sebelum suaminya tersebut membuka mata dan melihat dunia.


Setelah tampil cantik dan rapi Aira pun membangunkan Aldi...


"Mas bangun." Aira mengguncang tubuh Aldi.


Setelah beberapa kali mengguncang tubuh suaminya, Aldi mulai bereaksi menggeliatkan tubuhnya, matanya menerjab nerjab melihat sekeliling, senyum seketika mengembang di bibirnya saat menyadari ada sosok bidadari yang berada di sampingnya.


Aldi mengeliatkan tubuhnya menarik tubuh Aira agar kembali dalam dekapanya.


Tubuh Aira terkukung oleh tubuh Aldi."Mas Aldi bangun dong hari ini kita ada undangan," ucap Aira.


"Nanti dulu sayang masih dingin, pingin di dekap aja," ucap Aldi sambil mempererat pelukanya.


Seolah tak punya pilihan lain, Aira pun mengikuti titah sang suami.


Selama beberapa lama mereka bercerita dan bersenda gurau di atas ranjang.


"Ayo Mas, kita ngak boleh terlambat," bujuk Aira.


"Iya," dengan perasaan malasnya Aldi pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi.


Pagi hari ini Aira dan Aldi akan memenuhi undangan dari dinas sosial dan kepolisian.


Mobil mereka bergerak keluar dari halaman rumah, Aira menyandarkan tubuhnya pada lengan Aldi yang sedang menyetir.


"Bagaimana sayang, kamu deg-degan ngak?"tanya Aldi sambil melirik istrinya yang sedang mengelayut manja di sisinya.


"Biasa saja Mas," cetusnya.


"Iya dong mas yakin kamu berani tampil di depan banyak orang, " ucap Aldi sambil membelai rambut istrinya yang terurai.


Dalam kesempatan kali ini Aira akan mendapatkan penghargaan atas keberaniannya mengungkap kasus besar yang menjadi topik utama di berbagai berita di media cetak maupun on line.

__ADS_1


Aira dan Aldi sudah berada di kursi tamu, mendengar kata sambutan dari kepala kepolisian.


Seorang pria gagah berseragam naik keatas panggung yang di sediakan.


Setelah mengucap salam dan menyapa undangan yang hadir, pria tersebut memulai kata pembukanya.


Dengan suara lantangnya, kata sambutan pun di mulai.


"Kita di sini hadir untuk memberi anugrah berupa penghargaan untuk ananda, adik kita yang bernama Ryanti Alfaira atas keberanian dan dedikasinya dalam membantu pihak kami mengungkap kasus-kasus sosial dan kriminal yang sering kali tak kita sadari ada dan sangat dekat di lingkungan kita," Kepala polisi.


"Bahkan tak banyak mereka yang menutup matanya meski mereka melihat dan menyaksikan langsung ketidak adilan, kejahatan atau pun kesenjangan sosial yang menyebabkan masalah dan komplik di masarakat, banyak dari mereka yang mengerti akan keadailan, tapi tak mampu berlaku adil, banyak yang tahu perbedaan baik dan buruk, tapi mereka membiarkan kezaliman berada di antara mereka, hanya karena takut dengan Tirani yang mencengram mereka, sehingga mereka hanya diam dan terus akan diam, tanpa berniat membuka suara meski korban terus berjatuhan," imbuhnya lagi.


"Tapi melihat saudari kita yang bernama Aira dengan berani dan lantangnya ia memaparkan kebenaran, membantu petugas menguak semua fakta, bahkan ia rela terpisah dari keluarganya demi memberikan kesaksian dan pembuktian untuk mengungkap kasus ini, kami sebagai pihak terkait berkerja sama dengan kemenkumham dan dinas sosial bermaksud memberi penghargaan kepada Ananda Ryanti Alfaira, Akhir kata saya sampaikan penghargaa untuk saudari Aira, selain pernghargaan berupa piagam, kami juga memberi bea siswa untuk melanjutkan pendidikanya ke perguruan tinggi dan kami juga menyambutnya dengan baik untuk bergabung dalam akademi kepolisian, sebagai penghargaan atas dedikasi Ananda," ucap kepala kepolisian tersebut.


Suara tepuk tangan pun memenuhi ruangan aula tersebut di mana lampu flash dari kamera mengabadikan momen berharga bagi Aira tersebut.


Aira menitikan air matanya, ia tak menyangka akan mendapat penghargsan seperti ini.


Mc naik keatas panggung dan kembali mengambil alih acara , "Untuk mempersingkat waktu, kami meminta ananda, saudari kami bernama Ryanti Alfaira untuk naik di atas panggung untuk mendapatkan penghargaan dan beasiswa yang akan di serahkan secara simbolis oleh kepala dinas terkait,"ucap Mc.


Tepuk tangan pun terdengar kembali memenuhi aula tersebut.


Tubuh Aira bergetar karna menahan tangis harunya, dengan senyum bahagia sang suami memeluk menguatkanya untuk berdiri tegak.


Aira menyapu air matanya, sambil menatap sayu sang suami.


"Aira bukan siapa-siapa tanpa mas Aldi," ucapnya yang langsung menghambur memeluk sang suami.


Setelah beberapa saat mereka pun melepas pelukan karna kehadiran Aira sudah di tunggu, langkah Aira longkai, tubuhnya gemetar saat kakinya mulai naik di atas panggung, ia merasa gugup karna tak pernah berdiri di hadapan tamu-tamu yang banyak dan terdiri dari orang-orang penting serta wartawan yang meliput tersebut.


"Sini Ananda," ucap Mc melambaikan tanganya kepada Aira.


Aira merasa gugup, ia terpaku dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya saat


penyerahan piagam dan bea siswa secara simbolis oleh kepala dinas sosial dan kemenkumham.


"Silah kan bapak-bapak menyerahkan penghargaan tersebut langsung kepada ananda kita, kepada bapak-bapak waktu dan tempat saya persilahkan. " ucap Mc


Mereka pun menyerahkan piagam tersebut kepada Aira, seraya mengucapkan selamat kepadanya.


Tepuk tangan meriah menyambut Aira, saat tangan kecilnya menyambut penghargaan tersebut, di iringi dengan tetesan air mata harunya, sorot kamera pun siap siaga untuk merekam dan mengambil gambar dirinya.


"Mc kembali menguasai panggung..

__ADS_1


Ananda silahkan menyampaikan pesan dan kesan nya," ucap MC wanita yang berusia sekitar 40tahun tersebut.


Aira berdiri di mimbar dan di depan mikropon dengan derai air mata haru mengiri langkah kakinya.


Aira mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya serta mengontrol emosinya, saat itu suasana hening sesaat yang terdengar hanya isak tangis gadis tersebut yang tertangkap audio mikropon.


Aira menarik nafas sambil membersihkan lelehan air yang mengalir melalui mata dan hidungnya.


"Terima kasih dan rasa syukur yang sebesar besarnya saya ucapkan atas kehadiran Tuhan yang maha esa, yang dengan kuasanya lah dapat menghantarkan saya dan kita semua untuk hadir di sini,"


" Terima kasih untuk anda semua yang hadir, bapak dan ibu yang saya hormati, terima kasih untuk orang terdekat saya yang selalu mendukung dan tak henti hentinya memberi semangat dan mendoakan saya, mereka jua lah membuat saya selalu tegak dan berdiri di atas ketidak seimbangan emosi dan tindakan diri saya sendiri, saya bukan lah manusia yang terlahir istimewa, tapi karna mereka semua, membuat saya merasa istimewa dan menjadi seseorang yang bearti, untuk itu saya ingin menjadi sesuatu yang bearti untuk orang lain, orang-orang terdekat saya lah yang mengajari saya arti cinta dan bagaimana caranya mencintai, hingga membuat saya mengerti jika hidup akan sangat bearti bagi kita, jika bearti bagi orang lain, saya tak menyangka jika perbuatan kecil saya akan mendapat penghargaan sebesar ini, jujur apa yang saya lakukan tak pernah sekali pun menginginkan imbalan atau pun penghargaan, saya hanya ingin menjadi yang bermamfaat bagi orang lain," ucap Aira dengan titik air matanya.


Aira menjedah kata-katanya, seraya mengambil nafas panjang untuk mengatur emosi.


Suasana tetap tenang dan hening.


"Saya pernah mendengar sebuah filosofi yang menyatakan, jika kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, dan kekeatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman, untuk itu saya menerima beasiswa tersebut, karna saya ingin memiliki kekuatan agar rasa kasih sayang yang saya miliki tidak menjadi lemah, saya ingin melindungi kaum yang tertindas, karna saya pernah merasakan penindasan, saya ingin menjadi penegak keadilan karna saya sangat sering melihat ketidak adilan terjadi di hadapan saya, namun saya tak berdaya karna saya tak punya kekuatan, saya tak pernah bermimpi menjadi matahari yang punya cahaya sejati, saya hanya ingin menjadi bulan yang meski hanya mendapat pantulan cahaya, namun bisa menerangi seisi dunia dari kegelapan," tambah Aira, ia pun kembali menjeda kata-katanya.


" Terima kasih untuk orang orang yang telah berjasa dalam hidup saya, untuk kedua orang tua yang telah membuat saya terlahir di dunia, untuk orang yang selalu melindungi dan mendukung saya, untuk orang-orang yang telah berlaku baik dan buruk , dari merekalah saya belajar untuk tegar meski harus jatuh bangun, terima kasih juga untuk orang yang telah menghargai apa yang saya berikan, untuk keluarga, sahabat dan orang orang sekitar, serta untuk kalian semua yang telah menyempatkan diri untuk hadir di sini, Akhir kata saya ucapkan terima kasih untuk semuanya," ucap Aira sambil menjauhkan mikrofon dari mulut nya.


Tepuk tangan meriah dan stading applause. mengiringi langkah Aira, ada pula yang ikut terharu mendengar kata-kata yang di sampaikan olehnya.


Aira tertunduk menangis tersedu sedu di atas panggung, Aldi menghampiri istrinya dan merangkulnya, mereka pun berjalan turun dan menjauhi panggung di iringi tepuk tangan meriah.


Bu Dina seorang polwan berpangkat AKP menghampiri Aira dan Aldi.


"Aira, bisa bicara sebentar," ucap wanita yang bertubuh gagah tersebut kepada aira.


Aira mengangguk, perempuan tersebut pun duduk di sampingnya.


"Aira, Karna bea siswa tersebut adalah bea siswa untuk masuk ke perguruan tinggi, kami dari dinas sosial akan membantu ku dan memberi dispensasi untuk melanjutkan pendidikan terakhir kamu pada sekolah menengah atas yang sudah kami tunjuk, kamu bisa kembali melajutkan sekolah kamu di bangku kelas dua belas, "papar Bu Dina sambil menyerah sebuah map yang berisi berkas.


Aira tersenyum lebar menyambut map tersebut, cita-citanya untuk kembali ke sekolah kini sudah berada di depan matanya.


"Terima kasih Bu,"ucap Aira dengan perasaan bahagianya.


Berbeda dengan Aira, Aldi justru tak setuju jika istrinya tersebut kembali ke sekolah formal.


Bersambung.


Lalu bagaimana ya, apakah Aira tetap memilih kembali ke sekolah formal meski Aldi merasa keberatan? ....


like, komen, vote dan dukungan yang lainya.

__ADS_1


__ADS_2