Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kita Yang Telah Berbeda


__ADS_3

Aira beridi di depan meja riasnya menatap Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang tampak sayu, tubuhnya terasa lemas karna selalu muntah dan tak bisa memakan apapun, kehamilan kali ia mengalami ngidam yang cukup parah dari yang sebelumnya.


Sehari-harinya hanya di habiskan untuk rebahan, kegiatan Dinasnya pun banyak yang ia kurangi.


Aldi tersenyum, menghampiri Aira yang berada di depan cermin, kemudian memeluknya dari belakang.


"Bunda sudah siap?" tanya Aldi.


"Sudah Yah!" sahut Aira lirih.


"Bunda kenapa sih kelihatannya sedih banget?" Aldi.


Aira tertunduk", Wajah bunda jelek banget Yah, ngak sesuai dengan wajah Ayah yang masih segar dan tampan," ucapnya dengan wajah yang tertunduk.


Aldi mengangkat dagu Aira sedikit hingga kedua netra mereka bertemu.


Ia pun tersenyum menatap istrinya.


"Jangan begitu Bun, sampai kapan pun Bunda akan jadi wanita yang paling cantik bagi Ayah, " ucap nya sambil mengecup kening Aira.


Aira pun tersenyum meraba wajah suaminya yang masih terlihat tampan.


"Terima kasih Ya, "ucapnya lirih.


"Ayo Bun kita pergi , Bunda harus semangat sebentar lagi kita akan punya anak lagi. Kita juga akan jadi kakek dan Nenek, kebahagian kita sudah sangat lengkap, jadi Ayah harap Bunda bisa semangat dan bangkit lagi, seperti Aira yang dulu, " ucap Aldi memberi semangat.


"Iya Yah, karna Bunda ngak semangat kakak juga ngak semangat dan ikut sakit sakitan, harusnya Bunda yang memberi semangat pada Alia," Aira.


"Maka dari itu, Ayo Bun semangat lagi ."


Hm Aira menggangguk , Aldi membuka pintu sambil menuntun Aira menuju luar ruangan.


Aira menempel pada tubuh Aldi, merebahkan kepalanya.


"Yah, Bunda malas banget Yah, capek banget rasanya," keluh Aira .


"Bun, kalau ngak sanggup kerja lagi ambil pensiun dini saja, " usul Aldi.


"Ngak maulah Yah, setelah beberapa bulan nanti juga normal lagi, " Aira.


"Ehm, terserah Bunda saja.Ayah ngak keberatan, asal jaga kesehatan saja."Aldi.


Hal yang sama terjadi pada juga terjadi pada Alia.


Alia juga mengalami ngidam yang ekstrim, hingga ia hanya bisa berbaring, hanya sesekali bangun untuk makan dan ke kamar mandi.


Hingga Aldi dan Ghael harus bergantian ke kantor.


***


Ghael tersenyum melihat istrinya yang rebahan sambil memeluk guling, padahal sudah saatnya mereka untuk pergi periksa kandungan.


"Ayo Sayang katanya mau periksa kandungan." Ghael.


"'Eh tapi aku malas banget Bang pingginnya tidur saja, " keluh Alia yang menarik selimutnya kembali.


"Ehm, mau tidur apa mau di tiduri? " tanya Ghael bercanda, sambil mencium ceruk leher Alia.


"Mau di tiduri saja," cetus nya sambil membalikan badan agar terlentang.


Ghael menindih tubuh Alia kemudian menciumnya bibinya sambil menggelitiknya.


"Ih geli Bang," ucap Alia, karna merasa di kelitiki oleh Ghael.


Alia meliuk-liukan tubuhnya sambil tertawa.


"Udah Bang, aku malas mau pergi." Alia


"Ayo bangun, kalau ngak bangun nanti Abang kelitiki lagi," ucap Ghael sambil tetap mengelitik Alia.


"Udah bang! Ampun!" serunya dengan tertawa.


Alia membolak balikan tubuhnya menghindari kelitikan Ghael.


Alia membalikan tubuhnya dengan posisi terletang kembali, matanya melirik ke arah suaminya yang terlihat sangat ganteng.


Kedua netra mereka pun bertemu.


Alia merentangkan tangganya menyentuh wajah tampan sang suami, kemudian menatapnya dengan tatapan berbinar.


'Aku pernah menyia-nyiakan dirinya, sekarang justru aku takut kehilangannya,' batin Alia menatap Ghael dengan tatapan berbinar.


Alia menatap Ghael dengan tatapan berembun.


"Kenapa Sayang? " tanya Ghael sambil menguap kening Alia.


"Bang, aku pernah salah sama Abang. Aku pernah berselingkuh di belakang Abang. Aku dan Bagas pernah merencanakan menikah Setelah kita berpisah.Aku juga pernah mengabaika Abang, aku takut suatu saat Abang akan membalas semuanya dengan berselingkuh dengan wanita lain, hiks hiks hiks," ucap Alia sedih ia pun menangis sambil menyentuh pipi mulus suaminya.


Alia juga merasa dirinya sudah tak cantik lagi, karna sedang ngidam berat badannya turun dengan drastis, wajahnya pun terlihat lebih tyrus dengan mata yang sayu,berbeda dengan Ghael tampak semakin ganteng.


"Hm, jangan ingatkan hal itu lagi Alia, Abang sudah terima kamu apa adanya, yang terpenting kamu tak mengulangi kesalahan kamu lagi. Abang hanya mencintai kamu, tak peduli seperti apa pun kamu nantinya." Ghael.


"Ehm, benar ya Bang, Abang ngak akan membalasnya," ucap Alia.


"Iya Sayang, kamu ngak usah khawatir tentang hal itu," ucap Ghael kemudian menyambar bibir merah Alia.


Bibir Keduanya pun saling bertaut.

__ADS_1


Beberapa saat mereka larut dalam buaian tersebut.


Tok tok tok ..


Tiba-tiba terdengar pintu yang di ketuk dari arah luar.


"Bang, sudah belum! Ayah tunggu di ruang tamu ya?! " seru Aldi dari arah luar.


"Iya Yah," sahut Ghael.


Ghael tersenyum melirik ke arah istrinya.


"Nanti malam saja kita melanjutkannya, " bisik Ghael.


Alia pun tersenyum.


"Ayo sayang kita sudah di tunggu, "ucap Ghael yang menarik pelan tangan Alia.


Keduanyanya pun keluar dengan bergandengan.


Mereka bertemu di ruang Tamu.


"Sudah siap Yah? " tanya Ghael.


"Iya Bang, Ayo kita pergi," Aldi.


mereka pun menuntun istri mereka menuju mobil.


Kedua ibu dan anak itu tampak lemah dan kurang bersemangat.


Setelah memasuki mobil, mobil tersebut langsung menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Alia merebahkan kepalanya pada bahu Ghael.


Ghael merangkul Alia serta mencium keningnya.


"Sayang, tiga bulan sudah bisa lihat jenis kelamin bayi kita belum? " tanya Ghael.


"Belum Bang, biasanya di atas enam bulan, sahut Alia.


"Kamu pingin punya anak laki-laki, atau perempuan? " tanya Ghael.


"Ehm, laki-laki saja deh, biar ganteng kayak papanya" ,ucap Alia.


"Kalau aku sih, mau nya perempuan biar cantik seperti kamu,' balas Ghael.


Aldi dan Aira saling melepas senyum, meraka juga merasakan bagaimana bahagianya punya anak pertama.


Mobil perlahan masuk ke halaman parkir.


Ketika keluar dari mobil Aldi melihat Doni dan Dasti yang juga di parkiran.


"Don! "seru Aldi.


Doni dan Dasti pun menoleh kemudian berhenti menunggu Aldi menghampiri.


"Aldi, kamu dari mana? " tanya Doni. ketika Aldi menghampirinya.


"Aku mau periksa kehamilan Aira dan Alita ." Aldi.


"Hah, Aira juga hamil?! " tanya Doni syok.


Begitupun Dasti., keduanya saling memandang dan tersenyum.


"Is biasa saja reaksinya. Kenapa sih, bini gue masih muda juga," dengus Aldi.


"Ha ha ha, Emang loh dari dulu ngak mau kalah Di, sama menantu saja ngak mau kalah." Doni.


"Ehm, biarin gue masih muda kok, masih kuat, gue berharap dapat anak laki-laki deh , biar bisa meneruskan perusahaan gue." Aldi.


"Eh loh kesini ngapain Don? " tanya Aldi.


"Gue baru saja jenguk Alita yang sedang di rawat di Karna lagi ngidam." Doni.


"Ngidam? Allamdullilah." Aldi.


" Alita dirawat di ruangan apa?" tanya Aldi lagi.


"Ruang Melati no A1." Doni.


"Iya nanti selesai pemeriksaan gue kesana," ucap Aldi.


"Yah sudah gue kalau gitu ya, Selamat buat kamu yang sebentar lagi punya cucu. " Aldi.


"Kamu juga Di, udah punya cucu mau punya anak lagi. " Doni.


***


Setelah menghampiri Doni, Aldi kembali menemui keluarganya.


"Ada apa Yah? " tanya Aira.


"Enggak ada apa-apa Bun, kata si Doni Alita juga di rawat di rumah sakit ini." Aldi.


"Ehm, Di rawat? kenapa? " tanya Aira.


"Katanya lagi ngidam juga. Lagi musim bunting kali ya Bun. Ibu ibu ngak boleh di sentuh dikit, udah bunting saja." Aldi.

__ADS_1


"Ih, nyalahin musim. Salahin suaminya aja. Istrinya sudah berumur masih saja di pakai tiap hari," sunggut Aira.


Ghael dan Alia saling melepas senyum.


"Iyalah di pakai terus , mumpung belum turun mesin," sahut Aldi santai.


"Enak saja, emangnya mesih motor Yah," protes Aira.


Sambil berdebat mereka pun masuk menuju tempat pendaftaran praktek obgin.


Meski ngidam mereka yang cukup ekstrim, tetapi kesehatan jabang bayi mereka cukup baik.


Alia menggandeng tangan Ghael.Alia tersenyum melihat wajah Ghael yang terlihat cemberut.


"Bang, kenapa sih mukanya di tekuk gitu? " Tanya Alia.


Ghael tak menjawab hanya tertunduk lesu.


Alia tersenyum." Kenapa Abang khawatir kalau Alia bertemu Bagas?, trus kami macam-macam.


Ghael melirik sekilas.


"Ya ngak lah Bang, sejak aku serahin diri aku sama Abang aku sudah berjanji akan selalu setia terhadap Abang."Alia.


"Mungkin perasaan itu memang sulit untuk langsung hilang, tapi sedikit demi sedikit rasa itu sudah memudar. Aku ngak pernah berharap tentang Bagas lagi, tak sedikit pun memikirkan dia," papar Alia.


Ghael tetap Diam.


"Abang ngak percaya ya sama aku? " tanya Alia.


"Kalau ngak percaya ya sudah kita pulang saja ." Alia.


Ghael diam beberapa saat sementara Alia terus menanti reaksinya.


"Ehm, iya sayang Abang percaya , "ucap Ghael seraya merangkul Alia dalam dekapannya.


***


Setelah menemukan ruang perawatan Alita, Mereka semua pun mengetuk pintu sebelum masuk.


Kebetulan saat itu keluarga Bagas masih berkumpul.


"Assalamualikum", sapa Aldi ketika memasuki ruang perawatan Alita.


"Waalaikum sallam," sahut mereka yang ada di dalam ruangan tersebut.


Perhatian tertuju pada tamu yang baru datang.


Alita tersenyum melihat Alia yang datang menghampirinya.


Begitu pun Edo yang langsun berjalan menyambut sahabat sekaligus koleganya tersebut.


"Eh, pak gubernur ada di sini," cetus Aldi sambil menyodorkan tangannya pada Edo.


"Eh pak Aldi, apa kabarnya Nih?" Edo.


Nina dan Aira pun saling menghamprinya dan saling memeluk, begitupun dengan Dewi.


"Aira kamu apa kabarnya?" tanya Nina mereka pun cupika cupiki.


"Baik Nina," ucap Aira.


"Hai Dewi," sapa Aira.


"Hai juga Aira, lama sekali kita tak bertemu," ujar Dewi.


Keduanya pun saling memeluk dan mencium, kemudian mereka larut dalam obrolannya.


Begitu pun dengan Nina , mereka membaur bertiga saling mengobrol dengan


Alia langsung menghampiri Alita, Alita tersenyum sambil merentangkan tangannya.


Mereka pun meghambur saling memeluk.


"Alita aku kangen!" Alia.


"Aku juga kangen , sudah lama kita ngak bertemu, Alia." Alita.


"Hm, maklumlah kita sekarang sama-sama sibuk, lagi pula sudah punya suami jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama suami, "ujar Alia.


Alia menghindari pandangannya ke Bagas, ia sengaja tak menyapanya malah seperti menganggapnya tak ada.


Begitu pun Bagas, Ia mencoba untuk melupakan perasaannya terhadap Alia meski tatapannya mencuri pandang, sesekali ia melirik ke arah Alia.


Ghael menghampiri Bagas dan menjabat tangannya, ia berusaha melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka.


"Selamat ya Gas, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah," ucap Ghael tulus.


Bagas membalas senyuman Ghael. "Selamat juga untuk kamu sebentar lagi kamu akan jadi ayah. "


Mereka pun ngobrol banyak.Bahkan ngobrol tentang bisnis dan proyek, selagi istri mereka, sibuk bercanda dan gobrol.


Ghael dan Bagas terlihat nyambung saat ngobrol,meski kenyataanyan dari kecil mereka selalu menjadi rival.


Kini mereka mencoba untuk bersikap dewasa, demi menjaga rumah tangga mereka sendiri, apalagi kini kedua pasangan itu sebentar lagi akan di karuniai anak.


Bersambung, terima kasih telah membaca karya ini.

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan, semoga kita semua selalu di beri kesehatan. Aamiin.


__ADS_2