Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pangeran tampan berdasi


__ADS_3

Bintang-bintang bertahta diangkasa pada langit yang kelam, semilir angin masuk ke celah-celah jendela mobil mewah yang sedang melaju membelah jalanan yang sunyi, karna waktu telah pun menunjukan pukul sebelas malam.


Aldi memarkirkan mobil di sebuah basement pada apartment mewah, setelah keluar dari lift ia pun menuju apartement Rita, dengan menekan kombinasi beberapa nomor, pintu tersebut pun terbuka, dan tanpa sungkan ia pun masuk.


"Maa, mama!! teriak Aldi, namun tak ada suara yang menjawab hanya terdengar langkah kaki wanita paroh baya yang menjadi assiten rumah tangganya tersebut menghampiri nya.


"Eh Tuan Aldi, nyonya besar sudah pulang ke Singapura."


Aldi menyeritkan dahinya, "kapan Bik?" tanya Aldi curiga, mamanya tak mungkin pulang ke Singapura karna ia dan suami barunya juga sedang bersengketa.


"Dua hari yang lalu tuan, nyonya membawa semua pakaiannya, katanya ia akan pindah dan tak akan tinggal di sini lagi," papar Bibik kembali.


"Hah! tapi itu tak mungkin Bik, mama pasti sengaja menghilang, dan aku yakin semua itu karna ia takut dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya," guman Aldi.


"Yah sudah tutup kembali pintunya, Bik," titah Aldi ia pun berlalu.


Kedatangan Aldi hanya ingin mengkonfirmasi semua kekacau yang di timbulkan oleh mamanya secara langsung, tapi sepertinya Rita sudah tahu jika Satria berniat untuk memperkara kan kasusnya tersebut.


***


Matahari mulai menilik di balik ufuk timur, dering jam beker membuyarkan pemiliknya dari alam mimpi.


Aira bangun dengan keadaan bugil, karna begitu lelahnya, ia langsung terlelap sesaat setelah memberikan servis harianya kepada sang suami.


Aira turun dari tempat tidur dalam keadaan bugil, ia pun menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Setelah beberapa waktu berlalu, kini ia sudah berpakaian lengkap dan sedang berada di meja rias untuk mempercantik tampilanya.


Mempunyai suami tampan muda dan kaya, membuat ia selalu berusaha menjaga penampilannya, sebelum sang pangeran bangun, ia harus tampil lebih cantik, walau pun sebenarnya terkadang usaha tersebut justru membuat nya lelah karna tak jarang Aldi selalu meminta service tambahan ketika melihat sang istri terlihat cantik.


waktu menunjukan pukul setengah tujuh, Aira turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan Aldi.


Saat melewati ruang tengah ia mendengar Maya dan Satria berbincang bersama Tari, mereka menanyakan kesediaan Tari untuk menerima lamaran dari keluarga Romeo.


Rasa keponya membuat ia ikut nimbrung dan duduk manis di samping Tari.


"Jadi kamu mau terima lamaran keluarga Hadi atau kamu akan mama perkenalkan dengan pengusaha muda di negri jiran Tari?" tanya Maya.


Tari melirik kearah Aira yang baru saja mendaratkan bokong di samping nya.


Kehadiran Aira ternyata membuatnya lega pasalnya ia masih ragu untuk memilih.


Tari menunduk, sesungguhnya ia menginginkan perjodohan tersebut, tapi jujur saja ia ragu jika Romeo mau menerimanya sebagai calon istri.


Melihat Tari yang terdiam, Aira mencoba untuk membantunya, dengan memberi masukan kepada Tari.


"Mbak Tari mau kok di jodohin sama bang Romeo Pa, bahkan seblumnya mereka sempat pacaran, " cetus Aira.


Tari mencubit pelan paha Aira.


Kedua suami istri pun menatap kearahnya, sesaat kemudian kembali melirik kearah Tari.


"Kenapa kamu ngak bilang Tari, jika kalian pernah pacaran?" tanya Maya.


Aira tersenyum, "Mbak Tari cuma malu aja Bunda," tukas Aira sambil nyengir.


Satria mengguman seraya mengangguk- anggukan kepalanya," Baik lah papa akan segera mengkomfirmasi kepada keluarga Hadi, mereka sudah mendesak menunggu Tari untuk memberikan jawaban."


Tari tersenyum simpul, ia merasa bahagia sekali dengan perjodohan tersebut, meski ia sendiri tahu jika Romeo tak punya perasaan apa pun terhadapnya.


Saat Aira sedang asik ngobrol tiba-tiba saja terdengar suara Aldi yang memanggilnya.


"Aira sayang!" suara Aldi terdengar hingga ke ruang keluarga dan membuatnya malu.

__ADS_1


Hehe, Aira tertawa kecil untuk menghilangkan rasa malunya.


"Tuh Aira, bayi besar loh manggil, buruan temui dia, mungkin diapers nya udah penuh kali, jadi minta di gantiin," kelakar Tari mengejek Aira.


Mereka pun tertawa mendengar kelakar tersebut.


"Iya Aira jangan lupa bayi besarmu kamu taburi minyak telon di ubun-ubunya biar ngak cekukkan," timpal Satria.


Mereka pun kembali tertawa.


"Ah Papa, bikin Aira malu saja," sahut Aira, ia pun beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


Baru beberapa langkah, terdengar lagi suara Aldi yang kembali memanggilnya.


"Aira sayang!! kamu di mana?" tanya Aldi yang masih berada di tempat tidurnya, dengan mata yang masih terpejam.


Aira membuka pintu kamarnya," Ish mas Aldi sayang kenapa sih manggil-manggil Aira, Aira lagi ngobrol sama Papa dan Bunda juga."


"Kenapa sih?"tanya Aira kesel.


"Sini dong sayang, temani mas Aldi sebentar lagi kan mas Aldi pergi kerja, mumpung masih ada waktu pingin manja-manja sama kamu," ucap Aldi menepuk tanganya di samping dengan mata yang masih tertutup.


Aira duduk di tepi tempat tidur, dengan segera Aldi memindahkan kepalanya dari atas bantal ke pangkuan Aira, dengan lembut Aira mengusap rambut Aldi.


"Mas Aldi, Aira boleh ngak pergi ke mall dengan mbak Tari nanti siang?" tanya Aira dengan nada merayu.


"Ke Mall? kenapa ngak tunggu mas Aldi pulang saja, kita pergi bersama," sanggah Aldi.


"Ish mas Aldi gimana sih, Aira butuh menghabiskan waktu bersama juga dong sama mbak Tari, kita cuma mau jalan-jalan dan shoping aja kok, kami mau belanja untuk persiapan menyambut lamaran dari keluarga bang Romeo," ucap Aira dengan bahagia.


Mendengar penuturan Aira, mata Aldi yang awalnya terpejam kini membelalak," Jadi papa sudah menerima lamaran dari om Hadi?" tanya Aldi membelalak kaget.


"Jadi dong mas, emang kenapa?" tanya Aira.


"Mas Aldi ngak setuju kalau Romeo sampai jadi kakak ipar mas Aldi, Aira."


"Tapi kenapa mas? mbak Tari sangat mencintai bang Romeo mas, apa mas ngak ingin melihat mbak Tari bahagia, setelah apa yang di laluinya akhir-akhir ini, harusnya kita membantunya agar ia mendapatkan kebahagiaannya," bujuk Aira.


Aldi mengambil nafas panjang lalu menghempaskanya.


"Terserah lah," ucapnya sambil berlalau menuju kamar mandi.


Aira memperhatikan langkah suaminya dan bangkit kemudian langsung membereskan tempat tidurnya, setelah itu ia menyiapkan pakaian kerja Aldi.


Aira membuka lemari yang berjejer dengan dasi-dasi koleksi milik Aldi, setelah menilik beberapa dasi, pilihanya jatuh pada dasi berwarna biru tua.


Aira tersenyum seraya mengamati dasi tersebut, "Ini pasti cocok untuk pangeran tampan ku," ucapnya sambil mencium dasi tersebut, seraya meletakanya di atas stekan kemeja Aldi.


Beberapa saat kemudian Aldi keluar hanya dengan menggunakan handuk sepinggang, melihat wajah Aldi yang terlihat segar, Aira merasa jika suaminya itu semakin tampan saja, atau karna cintanya yang semakin besar terhadap sang pangeran berdasi tersebut, membuat ia semakin menggagumi indahnya pahatan sang kuasa pada wajah seorang pria yang telah resmi menjadi miliknya tersebut.


Setelah mengenakan dasi suaminya, Aira kembali membujuk Aldi agar mengijinkanya untuk pergi bersama Tari.


"Mas Aldi sayang, jadi boleh ya, Aira pergi bersama mbak Tari?" tanya nya sambil mengelayut manja duduk di pangkuan Aldi.


Tangan Aira melingkar di leher Aldi dengan mata yang berkedip-kedip, dan suara yang mendesah manja, ia pun berhasil membujuk Aldi untuk memberinya ijin.


Karna tak kuasa mendengar rengekkan istrinya, ia pun terpaksa menyetujuinya.


"Iya tapi ngak boleh lama-lama ya, sebelum mas Aldi pulang, kamu udah harus sampai di rumah terlebih dahulu."


"Oke mas Aldi sayang," ucap Aira yang kemudian mencium kedua pipi suaminya.


"Sama-sama Aira sayang," keduanya pun saling melempar senyum bahagia.

__ADS_1


Setelah mengenakan kaos kaki dan sepatu pada Aldi, mereka pun keluar, Aira merasa begitu bahagia karna memiliki suami seperti Aldi, persis seperti pangeran tampan impiannya, dan ia sendiri merasa seperti Cinderella, dari seorang babu sekarang menjadi Ratu di rumah ini, dan tentunya juga jadi penguasa hati dari pangeran bernama Aldi.


Mereka pun menuruni anak tangga bergandengan tangan dengan mesra,, ternyata Tari berada di belakang mereka, mengetahui hal itu, Aldi tersenyum menyeringai, ia berniat memanasi Tari.dan drama pun kembalindi mulai.


"Istriku sayang, selama suami mu berkerja jaga dirimu baik-baikya," ucap Aldi memulai dramanya.


"Iya suami ku sayang, aku akan selalu setia menanti mu di rumah ini sampai kau kembali," sahut Aira meladeni.


Tari memutar bola matanya kesegala arah, "Ah drama lagi,"dengusnya.


"Istriku aku sangat mencintaimu," ucap Aldi yang semakin memanasi Tari.


"Aku juga suami ku, sangat mencintai mu," sahut Aira.


Tari mengkerucutkan bibirnya, ingin rasanya ia lari ke lantai bawah, tapi langkahnya terhalang kedua orang yang sedang bucin tersebut, dengan malas Tati menapaki anak tangganya.


"Oh Istri ku, cinta ku, belahan jiwa ku," Aldi.


"Oh Suami ku, dambaan ku, kesayangan ku, pujaan ha_" sahut Aira.


"Woi !!!!bisa ngak sih satu hari saja gue ngak lihat drama kalian, bikin muak aja," potong Tari ia pun berlalu dengan perasaan kesalnya, Tari menyadari jika dirinya di bully secara tak langsung oleh keduanya.


Sementara Aldi dan Aira tertawa melihat Tari yang terlihat kesal karna keberhasilan mereka mengerjai Tari.


Setelah mengantar sang suami di depan pintu, Aira pun menghampiri Tari.


"Mbak Tari!"


"Kenapa ? lo mau manasin gue lagi?" sungut Tari.


"Ish ngak usah ngambek gitu dong, Aira sudah berhasil untuk membujuk Mas Aldi agar dia memberi ijin kita untuk keluar."


"Trus?"


"Aduh gimana sih, ya kita lanjut rencana nya."


"Ehm.. tapi gue ngak yakin Aira, masak iya demi sebuah perasaan, gue harus melakukan hal ini sih?" ucap Tari sedikit ragu.


"Memangnya kenapa mbak Tari? kita coba saja, siapa tahu kali ini kita berhasil."


"Tapi Aira, aku jadi malu, bagaimana anggapanya tentang mbak nanti?"


"Ngak lah mbak, Aira ngak akan membawa nama mbak Tari dalam hal ini."


"Tapi bagaimana kalau sampai ketahuan Aldi?" tanya Tari kembali.


"Aman selama kita sama-sama menjaga mulut kita," papar Aira meyakinkan Tari.


"Ayo mbak, ngak usah ragu, mbak Tari cuma menemani dan menunggu Aira di mobil, kalau perlu Aira akan merekam percakapan kami, jadi mbak bisa mengetahui apa yang akan kami bicarakan."


Ehm, Tari menaikan sedikit bola matanya keatas untuk mempertimbangkan usul Aira.


"Ehm iya deh Aira, demi Romeo gue akan lakukan apa pun," cetus Tari.


"Nah gitu dong mbak, sekarang kita bersiap, Aira telpon dia dulu, kita janjian di taman saja."


Aira pun menghubungi seseorang, kemudian setelah beberapa saat mereka pergi dengan diantar oleh supir pribadi.


Ternyata tanpa di sadari oleh Aira, Aldi telah menyuruh dua orang untuk selalu mengawasi dirinya.


Kedua pengawal tersebut membuntuti mobil Aira, dan siap melaporkan kemana dan apa saja yang di perbuat oleh istrinya.


Bersambung

__ADS_1


Aduh kira-kira mereka mau ngapain ya?


Tetap dukung karya receh author ya, agar author semangat untuk terus melanjutkan cerita ini sampai tamat, karna akan ada keseruan di episode berikutnya.


__ADS_2