
Mentari belum pun muncul di pagi hari ini, namun di dapur rumah mewah tersebut sudah terjadi berbagai kesibukan, hingga hari ini Aldi dan Aira belum juga menemukan nama yang tepat untuk putra mereka.
Waktu menunjukan pukul lima pagi, saat itu Aira sudah bangun untuk mengganti popok bayinya.
Setelah tersadar dari tidurnya, Aldi segera menuju kamar mandi dan menuntaskan ritual mandi paginya.
Beberapa menit berlalu Aira kembali berbaring sembari memberi asi kepada bayinya.
"Pagi-pagi sudah mandi, mau kemana Yah?"tanya Aira.
"Ada deh," ucap Aldi sambil mengenakan pakaiannya.
Aira kembali terlelap, sementara Aldi keluar dari kamar menuju gudang.
Aldi mencari sesuatu di dalam gudang, kemudia ia tersenyum menyeringai.
Setelah menutup pintu gudang, ia pun memukul pentungan untuk membangunkan para penghuni kamar di lantai atas.
Tung tung tung, pentungan berbunyi di depan kamar Satria yang paling ujung.
Tung tung, kebetulan saat itu Maya sudah bangun, ia pun membangunkan Satria.
"Pa, Pa dengar deh Pa, sepertinya ada suara pentungan Pa, jangan-jangan terjadi sesuatu,"ucap Maya sembari mengguncang tubuh Satria.
"Ah iya Ma," Satria mendengar suara pentungan menjauh, Aldi pun melewati kamar Heru dan Tania, Tari dan Romeo.
Heru dan Tari membuka pintu kamar mereka.
"Ada apa sih Di? berisik amat, anak gue sampai bangun," dengus Tari.
"Ada deh, di tunggu ya di ruang keluarga sekarang, ngak pakai lama, kalau kalian belum datang gue pukul lagi pentungan ini, sampai semuanya berkumpul, jangan lupa bawa laki loh, dan mas Heru juga bawa istrinya." Aldi.
"Ha, mertua gue ngak sekalian Di?"sindir Tari kesal.
"Mertua loh ngak ada di rumah ini, loh bangunin saja laki loh. soalnya ini penting banget," ucap Aldi.
Aldi berhenti memukul pentungan ketika berada di depan kamarnya sendiri dan kamar Alia.
Tari membanggunkan Romeo yang masih tertidur.
"Rom, bangun Rom, " ucap Tari sambil mengoyang-goyang tongkat sakti Romeo.
Iya pun tersenyum geli dengan ke usilannya.
Romeo tersenyum karna tongkat tersebut langsung tegak berdiri, " Loh mau bangunin gue, apa adek gue sih Tar?" tanya Romeo.
"Dua-duanya,kalau gitukan dua-duanya jadi bangun" ucap Tari.
"Ada apa sih, tadi malam kan sudah dua ronde masih kurang?"dengus Romeo sambil menarik selimutnya kembali.
"Aldi tuh, nyuruh kita kumpul di ruang keluarga, katanya ada hal yang penting," ucap Tari.
"Ah ada-ada saja si Aldi,"dengus Romeo kemudian ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
***
Keluarga Satria sudah berkumpul, mereka semua di minta oleh Aldi untuk menyumbang nama dengan inisial RA.
Aldi sengaja meminta keluarganya untuk berkumpul di ruang keluarga pagi-pagi sekali, karna nanti siang aqiqah baby boy akan di selenggarakan.
Aldi duduk di atas kursi dengan palu dan beberapa carik kertas kecil serta vas bunga.
"Aduh ngapain sih loh nyuruh kita berkumpul sepagi ini, gue belum sarapan tau, "dengus Tari yang menghampiri Aldi seraya menggendong Arsel, ia pun duduk di sofa.
Di ikuti Romeo yang masih menggunakan celana boxer dan kaos dalaman, wajahnya juga terlihat sembab karna baru saja bangun tidur.
Begitu pun Heru dan Tania, yang mengira ada hal penting yang akan di bicarakan oleh Aldi.
__ADS_1
Yang paling parah adalah Satria, yang datang hanya mengggunakan kaos bolong-bolong dan celana yang sedikit sobek.
Semua mata tertuju pada pria paroh baya yang masih terlihat ganteng tersebut, mereka pun tersenyum melihat keadaan Satria saat itu.
"Ya ampun, ini papa apa gembel yang ada di pasar sih?"tanya Tari ia pun mentertawakan Satria.
"Iya nih Papa bikin malu saja, beli helikopter pribadi mampu, nah beli baju ngak mampu," cetus Aldi mengejek Satria.
"Gitu ya kelakuan presiden direktur kalau bangunnya di kagetkan?" tambah Heru mereka pun mentertawakan Satria.
Satria hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, karna ia di baru bangun tidur mendengar suara Aldi yang memukul pentungngan.
Karna semua pada kaget, Alhasil seluruh penghuni rumah tersebut keluar dengan keadaan alakadarnya.
Aldi tertawa melihat sekumpulan orang-orang yang datang dengan penampilan acak-acakan.
"Sudah berkumpul semua?"tanya Aldi seraya mengetuk palu.
Tok tok tok.
Tiba-tiba Baby Arsel menangis karna kaget.
"Anjir loh Di, ngak usaha pakai ketok palu kenapa kaya sidang aja, kaget anak gua!" omel Tari.
"Iye maaf, maaf ya Arsel uncle lupa."Aldi.
"Tau ngak kenapa kalian semua di kumpulkan di ruangan ini?"tanya Aldi.
"Kagak!" yang lain menjawab secara datar.
Tok..tok..palu kembali di ketok Aldi.
" Semangat dong!" seru Aldi.
Arsel pun kaget kembali mendengar suara ketukan palu Aldi.
"Maaf habisnya loh semua ngak semangat sih," cetus Aldi.
"Gimana mau semangat, matahari belum nonggol, loh sudah sibuk saja nyuruh kita kumpul," dengus Satria sambil mengaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Udah Di, to the point aja, ngak usah berbelit belit, gue mau lanjutin tidur, jarang-jarang nih gue istirahat tidur pulas sampai pagi, "dengus Romeo.
Sementara Aira dan baby boy baru saja turun karna mendengar suara ribut-ribut ia pun duduk dan ikut membaur bersama mereka, Aira sendiri tak mengetahui ide gila suaminya.
"Semalam, gue sudah suruh kalian semua untuk memikirkan nama untuk baby boy? sudah adakan?"tanya Aldi.
"Iye sudah ada, kenapa?"tanya Tari lagi.
"Sekarang, gue kasih kertas sama ballpoint, loh tulis nama yang menurut kalian bagus, kemudian di gulung dan masuk kan kedalam vas bunga ini," ucap Aldi mengarahkan.
Mereka semua pun menuruti perintah Aldi,
Dengan berbagai keadaan mereka menulis, kebanyakan tak bersemangat karna masih ngantuk.
"Bagaimana, semua sudah menuliskan namanya tanya Aldi?" yang memegang sebuah pot kecil.
"Ngak banget loh Di, untuk memberi nama anak loh aja mesti cabut undi," cetus Tari.
"Ngak apalah biar hari ini akan menjadi kenangan unik pemberian nama anak gue," sahut Aldi.
Aira juga menuliskan nama untuk anaknya kemudian memasukannya kedalam pot.
"Ayah ada-ada Ya Dek, ngasi nama kamu pakai cabut undi segala, semoga saja nama pemberian Bunda yang keluar, " ucap Aira sembari menggendong babyboy.
" Kalau gue kasih nama yang aneh loh tetap kasih nama anak itu ke anak loh Di?" Tanya Tari.
"Tergantung artinya apa dong? kalau artinya bagus ya gue maulah." Aldi.
__ADS_1
"Si Aldi kalau ngak kontroversi ngak sah kali ya?" dengus Romeo.
Aldi melirik ke arah Satria yang menguap panjang.
"Papa ! gimana sudah selesai belum?"tanya Aldi.
Ehm, guman Satria, ia pun menulis sambil kembali menguap.
Maya mendekat kearah Aldi, untuk memasuka kertas yang sudah di tulis nama bayi di dalamnya, " Semoga saja nama pemberian Oma yang keluar Ya," ucap Maya sambil mengelus baby boy.
Tak ketinggalan Mbok Jum juga ikut memberi nama untuk putra mereka.
"Ayah ngak Yah?"tanya Aira.
"Sudah Bun, nih Ayah masukin," ucap Aldi.
Aldi pun mengundi seperti mengundi Arisan.
Semua berdebar-debar menanti, begitu pun Aira, " Ya Allah semoga nama pemberian Bunda yang keluar ya Dek," ucap Aira.
Setelah mengocok semua nama, Aldi menjatuhkan sebuah gulungan kecil kertas.
"Jreng jreng," ucap Aldi seraya meraih gulungan kertas yang jatuh kemudian membukanya.
Aldi melihat nama yang tertera di gulungan tersebut.
"Reyhan Arsyad," ucap Aldi.
"Yey! akhirnya nama pemberian Bunda yang keluar dek, "ucap Aira seraya mencium baby boynya.
Bayi munggil tersebut, mengeliat sementara yang lain berguman sengan nada kecewa.
"Yah, ujung-ujungnya nama pemberian Aira juga yang keluar," dengus Satria.
Mereka hendak bubar, tapi Aldi mengetuk palu yang terbuat dari karet tersebut.
Tok tok.
Tari kembali bersungut," Nih Aldi mau getok juga kayaknya kepalanya ya, udah di bilang ngak usak pakai ketok, masih saja."
"bertenang hadirin!"seru Aldi.
Mereka pun tenang.
Setelah mengadakan cabut undi, sekarang secara resmi di tetapkan bahwa
nama Baby Boy adalah Reyhan Arsyad tok..tok..tok.. Aldi mengetok palu tiga kali.
"Alah gue kira apa? jadi gitu saja, cuma mau undi nama anak loh?" dengus Heru.
"Aldi, loh belagu banget ya, gara-gara sidang loh, anak gue belum gue kasi susu, kirain ngapa kita di suruh kumpul begini, ternyata di kerjain sama si Aldi, ada-ada saja loh Di, mending gue netekin Arsel, abis itu netekin bapaknya, he he he,"seloroh Tari ia pun beranjak seraya gendong Arsel.
"Iya nih, Aldi kurang kerjaan, kurang kreatif, cari nama anaknya saja harus pakai cabut undi," dengus yang lain.
"He he, maaf ya sudah menyusahkan kalian semua, silahkan kembali ke kamar masing-masing, jangan lupa nanti siang aqiqah Rey Arsyad," ucap Aldi.
Ehm, mereka semua bubar tanpa menghiraukan Aldi.
Aira mendekati Aldi.
"Tuh kan Yah, nama pemberian Bunda yang keluar, ngak percaya sih," ucap Aira.
"Sebenarnya bukan Ngak percaya Bun, di dalam vas ini sudah Ayah masuki nama pilihan Bunda semua, Ayah sengaja mengerjai mereka, kan kita jarang-jarang kumpul seperti ini Bun," bisik Aldi.
"Ayah, Ayah nakal sekali," ucap Aira sambil mencubit perut Aldi.
Mereka pun tertawa, karna bisa mengerjai seluruh anggota keluarga mereka.
__ADS_1
Bersambung ya guys, ada tokek di kejar kingkong, bagi votenya dong he he