
Setelah pertemuan bersama Andre mereka melanjutkan makan siang, Alita menggandeng mesra tangan suaminya menuju mobil.
"Mas kenapa sih kamu tuh judes banget sama tuan Andre? dia itu klient kita Mas. Aku jadi ngak enak sama dia dengan sikap Mas ke dia." Ujar Alita dengan lemah lembut.
"Aku ngak suka orang yang kegenitan seperti Andre. Harusnya dia bisa menyesuaikan diri. Ini waktunya kerja malah godain istri orang, " dengus Bagas masih dengan wajah juteknya.
"Ehm, kamu jelous ya mas?" tanya Alita dengan nada menggoda Bagas.
"Ya cemburulah! mana ada laki laki ngak cemburu jika istrinya di godain pria lain. " Bagas.
Alita tersenyum ia semakin erat menggandeng tangan suaminya.
"Sudah kalau gitu kita makan di restoran saja. " Bagas.
"Kita makan di mana? " tanya Alita.
"Kamu maunya makan di mana? aku tergantung kamu. " Bagas.
"Ehm, kita lesehan saja Mas," ajak Alita.
"Hm, boleh. " Bagas.
Mereka pun masuk ke dalam mobil.
Usia kandungan Alita sekarang mencapai tiga bulan, dan selama trimester pertama ia sama sekali tak mengalami gangguan yang bearti dalam hal selera makan.Alita justru terlihat segar dan bugar. Mereka pun pergi menuju sebuah restoran dengan dengan mengusung tema alam.
Meski sudah empat bulan menikah, keduanya masih terlihat kaku, sangat jarang tercetus obrolan di antara mereka, terkecuali ada hal penting saja.
Keadaan di dalam mobil masih sunyi tanpa ada obrolan, keduanya masih sibuk dengan urusan
Beberapa menit kemudian keduanya sampai di restoran dengan mengusung tema alam dan pedesaan.
Bagas dan Alita mencari tempat di sebuah duduk pojokan dekat kolam ikan.
Di restoran tersebut mereka bisa memancing atau pun memberi makan ikan.
Alita melihat-lihat kearah kolam, ada seekor ikan yang membuatnya tertarik dan berselera untuk menyantapnya.
"Mas aku pingin makan ikan yang itu," pinta Alita sambil menunjuk seekor ikan nila besar berwarna orange.
Bagas menoleh ke arah ikan tersebut.
"Kamu mau? biar aku pancing." Bagas pun bersemangat.
Bagas berdiri dan menghampiri penjaga restoran, kemudian mereka memberi jaring dan pancing untuk Bagas.
"Yang mana Lit? " tanya Bagas.
"Yang itu Mas yang paling gede, ehm. pasti enak banget di masak nila rujak, ehm. " Alita menelan ludahnya, sambil menujuk ikan nila yang ada di kolam.
Kolam tersebut airmya jernih hingga ikan-ikan tampak berenang-renang, Alita terus mengamati kearah kolam dengan ukuran kolam sekitar 1kali 2 meter tersebut.
Kebetulan saat itu di dekat mereka juga ada seorang pria yang memancing dan menjala ikan.
Bagas mencoba menjala ikan yang di minta oleh Alita namun ke buru di jala sama orang lain.
"Yeyy ! dapat yang paling besar!" seru lelaki tersebut kegirangan.
"Yah, padahal aku pingin yang itu," dengus Alita.
Bagas melihat kekecewaan Alita yang begitu menginginkan ikan tersebut.
Melihat istrinya terlihat kecewa, Bagas pun menghampiri pria tersebut.
"Pak, bisa ngak ikannya aku beli saja? " tanya Bagas.
__ADS_1
"Oh ngak bisa Mas! ini aku yang dapat. ikan ini tuh yang paling besar dan paling berisi aku mau bakar, pasti enak," ucap lelaki tersebut yang langsung berlalu membawa hasil tangkapannya.
"Ehm pak! tunggu Pak! saya mau beli ikan itu, dengan harga berapa saja." Bagas mengejar pria tersebut.
"Ehm, ngak di jualah, saya juga pinginlah makan ikan segede gini, "tunjuknya pada ikan Nila yang mungkin beratnya hampir sekilo.
"Tolong lah Pak, istri saya menginginkan ikan tersebut!"Bagas memelas.
"Kalau itu sih, saya juga pinggin."
Pria itu masih ngotot tak mau menjual ikan hasil pancingannya, karna ia sepertinya juga orang berada.
Pria itu kembali berlalu meninggalkan Bagas, Tapi Bagas tak putus asa.
"Tolonglah pak, saya beli berapa saja, Istri saya sangat menginginkannya karna dia lagi hamil. Satu juta, lima juta atau sepuluh juta berapa saja. Tolonglah Pak, " ucap Bagas setengah memelas.
Melihat suaminya seperti memohon, Alita pun menghampirinya.
"Sudah Mas, kita cari ikan lain saja, Aku ngak suka kamu memohon sama orang," ucap Alita ia pun menarik tangan Bagas.
"Ehm tunggu Lita, aku coba bujuk lagi,ngak apa-apa aku memohon. Yang penting apa yang kamu mau ,bisa kamu dapatkan. Kan kasihan anak kita, jika dia pengengen ikan itu ya aku harus usaha untuk mendapatkannya. " Bagas.
"Iya Mas, aku sudah ngak pingin lagi. Ayo kita pesan ayam bakar saja. " ajak Alita sambil menarik tangan Bagas.
Lelaki itu mendengar dan melihat perdebatan keduanya.
Alita menarik tangan Bagas.
"Tunggu Lita!" Bagas melepaskan tangan Alita.
Ia kembali menghampiri pria tersebut.
"Pak, saya akan bayar berapa saja untuk ikan ini, Ini kehamilan pertama istri saya, saya mohon Pak," ucap Bagas memohon pada pria tersebut.
Karna merasa iba, lelaki tersebut pun menyerahkan ikan tersebut kepada Bagas.
Bagas tersenyum bahagia."Terima kasih Pak," ucap Bagas sambil menyambar tangan orang tua tesebut.
"Iya sama-sama, "ucap lelaki tersebut.
Alita tersenyum bangga melihat usaha yang di lakukan oleh suaminya.
'Mungkin cara orang mengungkapkan perasaanya berbeda-beda, Aku tahu suami ku mencintai ku, meski ia tak pernah mengungkapkannya secara lisan kepada ku' batin Alita ia pun tersenyum.
Bagas menghampiri Alita. Tuh kan asal mau berusaha pasti dapat. Ayo kita minta chef restoran ini untuk memasknya. " Bagas. Ia pun merangkul pundak Alita.
"Kamu kok sampai segitu-gitunya sih Mas, pakai mohon segala." dengus Alita.
"Iya dong demi anak aku, aku akan lakukam apa pun, "ucap Bagas sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Alita menoleh ke arah Bagas,
"Ehm, anak kita pasti bangga punya ayah seperti kamu," ucap Alita sambil melingkari tangannya ke perut Bagas.
Mereka pun berjalan saling merangkul mesra, seperti pasangan yang tengah di mabuk cinta.
Bagas dan Alita menghampiri petugas restoran untuk menimbang ikan dan membayar sesuai berat ikan.
Petugas restoran menuntun mereka menuju dapur.
Mereka pun menuju dapur meminta chef restoran memasak sesuai ke inginan istrinya
Memang butuh waktu lama untuk menunggu hidangan tersebut tersaji, sambil menunggu Bagas dan Alita kembali memancing serta memberi makan ikan di kolam.
Alita ikut memancing di kolam tersebut.
__ADS_1
Ia berkali melempar mata pancingnya namun satu pun umpannyanya yang termakan oleh ikan.
Alita jadi kesal," Mas ini gimana sih kok ngak mau makan sih ikannya," dengusnya sambil melempar jorang ke sisi kanannya.
"Ehm, mancing ikan itu butuh kesabaran dan ketenangan, kalau ngak sabar mana bisa dapat." ucap Bagas sambil tetap pokus.
"Ada tuh Mas mancing yang ngak butuh kesabaran. "cetus Alita.
" Hm, mancing apa? " tanya Bagas.
"Mancing kemarahan orang! " Alita.
"Ehm, itu sih pekerjaan paling Gampang." Bagas.
Alita mendekat ke arah Bagas dan memeluknya dari belakang.
"Kalau dapat ikannya lagi, aku mau bawa pulang Mas."
Untuk apa? tanya Bagas masih kondentrasi.
"Ehm Aku pingin di masakin sama ibu Nila kuah kuning, Mas. Nanti pulang kita singgah ke rumah ibu ya Mas." bujuk Alita.
"Iya ibu pasti senang kalau kamu yang minta di masakin sama beliau, ini kan cucu pertama Mereka." Bagas.
Ehm, aku juga merasa senang, bisa di manja sama ibu kamu, sama ayah, mama dan papa aku juga. Tapi yang paling penting bisa di manja sama kamu, " ucap Alita tanpa basa-basi.
Ehm, Bagas tersenyum." Bisa saja. sini kamu peluk aku saja, kali aja pancingannya langsung di sambar ikan kalau kamu dekat aku. " Bagas.
Ehm,
Alita pun semakin erat memeluk suaminya.
Bagas kembali melemparkan jorangnya, dan beberapa saat kemudian umpannya pun di makan oleh ikan.
"Lita mana jalanya?! " teriak Bagas ketika melihat tangkapanya bergerak-gerak ketika di tarik olehnya.
Dengan semangat Alita menyodorkan jala untuk menjerat ikan tersebut.
"Ah dapat kan? !" seru Bagas.
"Emang rejeki anak Ayah," ucapnya sambil mengusap perut Alita.
"Pancing lagi Mas, aku mau ikannya yang banyak, biar kita bisa makan untuk sekeluarga, " pinta Alita.
"Ehm, semoga saja! " Bagas kembali melemparkan jorangnya.
Beberapa saat kemudian seeokor ikan kembali terpancing, bukan main senangnya Alita saat itu.
Saking Asiknya, Mereka lupa untuk balik ke kantor.
Hidangan pun tersaji di atas meja lesehan mereka.
Bagas berhenti memancing, ia pun mengajak istrinya untuk makan.
Alita sangat bersemangat, melihat hal tersebut Bagas merasa bangga sebagai seorang suami dan calon ayah untuk anaknya.
Setelah makan, kegiatan pancing memancing di lanjutkan kembali, sampai sore hari.
Sepuluh ekor ikan Nila berhasil di pancing Bagas, mereka pun pulang dengan perasaan bahagia dan rasa puasnya.
Bersambun. hari episode bagas dan Alita dulu ya, besok mungkin giliran Alia dan Ghael.
Terima kasih telah membaca karya ini.
Aku ada rekomendasi novel keren untuk kalian.
__ADS_1