
Setelah pulang dari restoran tersebut mereka langsung membawa ikan hasil tangkapannya ke rumah Nina.
Kebetulan saat itu Edo ada di rumah sedang bersenda gurau dengan anak-anak dan istri-istrinya.
Melihat mobil Bagas memasuki halaman rumah Edo dan Nina merasa senang begitupun adik-adiknya.
"Eh tumben Mas Bagas pulang tanpa memberi tahu kita terlibih dahu"ucap Tiara.
"Ehm, sepertinya sama Lita deh, " Nina menilik-nilik kearah luar.
Benar saja tak lama berselang Bagas keluar bersama Alita.
Keduanya pun membawa sekantong plastik putih ikan Nila yang masih hidup.
Mereka pun langsung menyambut kedatangan keduanya di depan pintu.
"Assalamualikum, " ucap Alita ketika melihat keluarga suaminya menyambut Kedatangannya.
"Waalaikum sallam," secara serempak mereka menyahut.
"Apa itu Gas?" tanya Nina ketika melihat Bagas membawa sekantong ikan yang masih hidup dalam kantong plastik putih besar.
"Ini hasil Bagas mancing Bu, Alita pengen makan masakan ibu, "ucap Bagas.
Ehm, Alita tersenyum simpul sedikit tak enak hati.
"Ya sudah, Taruh di dalam Gas, biar ayah yang bersihin."
"Kok Ayah sih Bu, biar Bagas saja."
"Ehm, katanya kalau istri hamil itu di larang menyakiti binatang apa lagi sampai membunuhnya.Biar saja Ayah mu yang membersihkannya. "
Mendengar namanya di sebut sebut Edo keluar menghampiri mereka.
"Ada apa sih? " tanya Edo.
"Ini Yah, menantu kita ngidam pingin makan ikan, tapi ibu yang masak, Ayah yang bersihin Ya. " Nina.
"Yah kok Ayah, Ayah ini gubernur loh orang nomer satu di provinsi ini, masak suruh bersihin ikan, " dengus Edo.
"Eh ngak peduli status Ayah apa di luar, kalau di rumah ya Ayah kepala rumah tangga, sudah! menantu kita pingin makan, biar ibu yang siapin bumbu." Nina.
Edo menggaruk garuk kepala yang tak gatal.
Alita tersenyum simpul, "Maaf ya Yah merepotin," ucap Alita.
"Ehm Ngak apa-apa, sekali-kali, " Edo.
"Udah Gas bawa ke dapur saja!" perintah Edo.
Bagas membawa kantong ikan tersebut kedapur kemudian membuka plastik dan menuang isinya di wastafel.
Nina dan Dewi pun bersiap meracik bumbu.
"Nilanya mau di masak apa Lit?" tanya Nina.
"Ehm, di goreng saja Bu, trus di buatin sambal bajak dan sambal mata.Ehm pasti enak bu, " ucap Alita sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit.
"Sudah Yah! tuh bersihin ikannya, " seru Bagas setelah menuang ikan tersebut.
Dengan malas-malasan Edo menuju ke dapur.
Bagas tersenyum melihat Edo yang cemberut.
"Maaf ya Yah merepotin, aku mau bantu tapi ibu bilang ngak usah, " sahut Bagas.
Ehm. guman Edo.
Edo sendiri akhir akhir ini memang sering menghabiskan waktunya bersama kedua istrinya di banding dengan Aura.
Di sini ia merasa tenang dan bahagia berkumpul bersama anak dan istrinya.
Ada rasa sesal di dirinya, karna telah kehilangan banyak momen berhaga bersama keluarganya tersebut.
istri istrinya yang tak pernah menuntut kemewahan darinya, kedua istri yang memberinya tiga anak perempuan. Namun, di sanalah letak kebahagian yang ia rasakan karna bersama mereka, Edo merasaka indahnya quality time keluarga.
__ADS_1
"Aduh ini bagaimana cara mematikannya, mana pak Tono sudah ku suruh pulang lagi, " dengus Edo yang menyesali kepulangan sopir pribadinya.
"Ketuk saja kepalanya Yah, setelah itu bersihkan sisiknya dan cuci bersih!" sahut Dewi.
Edo sendiri merasa geli menyentuh ikan yang masih hidup.
Iya memikirkan cara lain agar ikan tersebut mati yakni dengan menabur garam yang banyak pada ikan tersebut.
Benar saja ikan tersebut mati beberapa saat kemudian, setelah itu barulah ia membesihkannya.
Alita duduk bersama Dewi dan Nina begitupun Bagas.
"Ada yang bisa Lita bantu Bu? " tanya Alita.
"Ngak ada, kamu istirahat saja, orang hamil perlu banyak istirahat, apalagi kamu sudah seharian bekerja, " Nina.
"Gas suruh istrimu istirahat saja di kamar kalian! Ibu sama Ibu Dewi bisa mengerjakan semuanya." Nina.
"Iya Lit, Kamu berbaring dulu di kamar. " Bagas.
"Ehm, kalau Alita berbaring jangan kamu tindih ya Gas, nanti bukannya istirahat justru istrikamu kamu suruh melayani kamu, masih sore loh ini, " sahut Edo yang langsung konek.
"Ih Ayah suka-suka aku dong, istri-istri aku. Kok Ayah yang sewot? " dengus Bagas.
Nina dan Dewi tersenyum mendengar keduanya yang tak pernah akur, Edo yang selalu resek dan Bagas yang selalu jutek terhadapnya.
"Bilang saja Ayah sirik! sudah bersihin saja ikannya.Aku juga mau istirahat." Bagas.
"Ayo Lita."
Mereka pun masuk ke kamar Bagas. selama ini Alita tak pernah masuk ke kamar suaminya tersebut. Ia dan Bagas hanya berkunjung sebentar sebentar saja.
Kamar Bagas tak terlalu besar dengan ukuran tempat tidur single bed.
Alita pun langsung duduk di atas tempat tidur dengan sprey bermotif salah satu club sepak bola negara Italia.
"Lita malam ini kita nginap di sini saja Ya? " tanya Bagas yang langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Alita.
"Ehm Iya Mas. Hanya saja aku tak punya baju ganti untuk tidur," sahut Alita sambil membelai kepala dan rambut suaminya.
"Itu gampang. Kita beli saja di super market dekat sini, sekalian belanja untuk perlengkapan mandi kita." Bagas.
"Iya. Ayo sekarang saja, biar lebih leluasa belanjanya." Bagas.
Hm.
Mereka pun segera bangkit dan keluar dari kamar.
Di dapur tak hanya kedua ibu mertua nya tapi juga ketiga saudara Bagas ikut membantu menyiapkan makan malam mereka.
"Bu, aku sama Lita mau ke supermarket, ada yang mau nitip ngak? " tanya Bagas.
"Aku nitip coklat Mas," sahut Tiara adik bungsunya.
"Aku kacang kulit dan kwaci Mas, " sahut Lidya anak dari Dewi.
"Kamu Rinda?" tanya Bagas lagi pada adiknya nomer dua.
"Aku minuman soda saja sama coklat."
"Ehm, kalau ibu dan Bu Dewi ada ngak? "
"Ngak ada Gas! " sahut keduanya secara serempak.
"Ehm, Bagas pergi dulu Bu. "
"Eh Gas kamu ngak mau nanyak Ayah nitip apa gitu? " sahut Edo.
"Ayah nitip saja belum tentu aku beliin kok, " sahut Bagas. ia pun berlalu dengan santai.
"Dasar anak ngak punya akhlak, ngomong sama orang tua seperti itu. "dengus Edo. ia pun melanjutkan pekerjaannya
Alita dan Bagas menuju garasi, di mana motornya terparkir di rapi di dalam garasi tersebut.
Setelah mengeluarkan motor tersebut beberapa saat Bagas memanaskan mesin motornya yang sudah lama tak ia gunakan.
__ADS_1
"Ayo Lita, hati hati menaikinya. " Bagas.
Ehm, dengan memegang pundak suaminya Alita naik di atas motor kesanyangan suaminya tersebut.
"Pegang yang erat ya, " ucap Bagas sambil menarik kopling dan gasnya secara bergantian.
Brum...
Alita memeluk erat suaminya.
Dengan perlahan motor meninggalkan halaman rumah mereka.
"Mas jangan ngebut ya," Alita.
Ehm.
Bagas membawa motornya dengan kecepatan sedang.
Alita begitu menikmati pemandangan senja sambil jalan jalan menggunakan motor.
Dengan erat ia memeluk suaminya merasakan bahagia berada bersama dengan pria yang ia cintai.
Beberapa menit perjalanan mereka pun sampai di supermarket.
Setelah memarkirkan motor keduanya langsung menuju lantai untuk mencari gaun tidur untuk Alita.
Dengan mesra keduanya berjalan menaiki anak tangga menuju tempat yang mereka cari.
Alita menunjuk sebuah lingerie berwarna hitam yang terpajang pada sebuah manaken.
"Mas aku mau yang ini, " tunjuknya.
Bagas tersenyum, "Boleh. Kamu mau godain aku ya pakai gaun yang seperti itu? "tanya Bagas sambil melirik ke arah Alita.
"Hm, emangnya ngak boleh apa? akukan pinginnya selalu di sayang sama kamu, " ucapnya dengan wajah yang tertunduk merona.
Sebenarnya ia malu untuk mengatakannya, tapi Bagas memang type pria yang harus di pancing terlebih dahulu. Karna ia bukan type pria yang tergila gila dengan hubungan di atas ranjang.
"Eh siapa bilang aku ngak sayang sama kamu, emannya setiap perasaan harus di ungkapkan dengan kata-kata."
" Tapi ungkapkan itu perlu loh Mas, setiap istri pasti ingin di manja sama suaminya, apalagi pasangan baru.
Mendengar ucapan Istrinya, Bagas langsung mencium pipi Alita sambil berujar " I love you." sambil tersenyum kearah Alita.
Bukan main senangnya Alita bahkan di hadapan umum suaminya yang super dingin itu bisa bersikap romantis terhadapnya.
"I love you too Mas, "ucap Alita langsung menggendeng mesra suaminya.
Keduanya pun berjalan sambil bergandeng mesra mencari semua keperluan yang mereka butuhkan.
"Ehm Mas, aku boleh ngelunjak ngak? " tanya Alita sambil menuntun Bagas menuju Stand cosmetik.
"Ehm maksudnya? "tanya Bagas sambil menyeritkan dahinya.
"Aku cuman pingin kamu panggil aku dengan panggilan' sayang, 'atau baby 'atau apalah gitu yang terdengar romantis, biar seluruh dunia tahu kalau aku itu milik kamu," pinta Alita dengan nada manjanya.
Bagas tersenyum simpul sambil merangkul Alita. " Iya Sayang, untuk kamu apa sih yang enggak, " ucap Bagas seraya melempar senyum termanisnya.
Wah bahagianya Alita saat itu.
"Ih aku senang deh Mas, kamu turutin semua permintaan aku."Alita memukul-mukul pelan dada Bagas.
"Cuma itu mintanya, ngak ada yang lain? "
"Iya Mas itu saja, tapi kamu panggil sayangnya harus di hadapan semua orang ya Mas.Termasuk di hadapan keluarga dan orang-orang kantor ," pinta Alita makin melunjak.
"Iya, Sayang."
"Ah senengnya, "ucapnya begitu Bahagia.
Bagas tersenyum, ia pun mengusap lembut rambut panjang Alita.
Bersambung. Terima kasih atas dukungannya. semoga kita semua selalu di limpahkan kesehatan dan kebahagian, dan rumah tangga kita terhindar dari fitnah Aamiin. Wasalammualaikum.
Author punya rekomendasi novel keren nih.Buat kalian yang suka dengan ceruta ringan dan penuh ke bucinan. silahkan mampir ya.
__ADS_1