
Mobil mewah Aldi melesat laju membelah jalan, sesekali ia menekan klakson membuat pengendara lain harus menyingkir dan membiarkanya lewat, meski mendengar cacian dan umpatan dari pengendara lain, tapi Aldi tak menggubrisnya, mobilnya tetap melaju dengan kecepatan tinggi.
Aldi terlihat kacau, ia menjambak rambutnya sendiri.
"Hua hua,Aku ngak habis pikir, kenapa mama bisa setega itu terhadap Mas Heru dan Tari, apa salah mereka? hua hua hua."
Aldi menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, berkali-kali ia memukul stir dan memukul apa saja yang ada di dalam mobil, karna panik Aldi tanpa sengaja membanting handphonenya hingga mengenai kaca mobil bagian depan.
Setelah handphone tersebut terbanting dan pecah bagian layarnya, ia baru teringat kenapa tak menghubungi keluarganya melalui handphone saja.
"Akh Sia*al! kenapa nasib gue seperti ini, gue harus secepat sampai di rumah!" ucap Aldi ketika memasuki jalanan yang semkin padat.
Aldi menghapus air matanya perasaanya begitu sakit, apalagi yang menyakitinya adalah ibu kandungnya sendiri.
"Apa mama memang setega itu, apakah yang di katakan Romeo itu benar? jika mama juga ingin memisahkan aku dan Aira! Apa maksud mama yang sebenarnya! kenapa ia juga ingin menghancurkan rumah tangga ku!" Aldi menjerit di dalam mobil dan menangis kembali.
Aldi merasa resah memikirkan nasib yang akan menimpa Tari, seandainya saja ia terlambat, ia pasti juga akan menyesali dirinya sendiri.
"Aku ngak menyangka ternyata Tari adalah saudara ku, meski sebelumnya aku merasa curiga." guman Aldi.
"Ya Tuhan berilah kemudahan untukku agar sampai tak terlambat, aku harus mencegah mereka."
Aldi pun semakin melaju kan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya.
***
Heru menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang, ia sendiri binggung apa yang akan ia lakukan di malam pertamanya ini.
Heru menekan handel pintu tapi sepertinya pintu terkunci, ia pun mengetuk pintu kamarnya.
Selain merasa lelah, Heru juga merasa gerah, ketegangan saat prosesi pernikahnya membuatnya mengeluarkan keringat berlebih hingga membuat tubuhnya lengket.
Setelah beberapa saat, terdengar derap langkah seseorang yang mendekati pintu sejurus kemudian pintu sudah terbuka.
Heru merasa heran melihat Aira berada di kamarnya.
"Aira,"
"Eh mas Heru, kaget ya?" tanya Aira dengan tersenyum.
Pandangan mata Aira menatap curiga terhadap Heru, sama seperti saat Heru menggodanya di mobil, saat mengetahui ia dan Aldi melakukan kegilaan di kantor.
"Cepet banget Mas, udah ngak sabar ya?" goda Aira sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Heru salah tingkah.
"Ah ngak kok, mas Heru mau mandi, gerah baget," jawab Heru sedikit gelagapan karna melihat senyuman dan lirikan mata Aira yang nakal seolah mengejeknya.
Aira berniat membalas perbuatan Heru yang memergoki ia dan Aldi mesum di kantor.
"Masak sih?" suara Aira mendesah.
__ADS_1
Glek, Heru menelan salivanya, tubuhnya sejenak terpaku di hadapan gadis itu.
"Mana coba Aira dengar detak jantungnya," ucap Aira sambil menempelkan telinganya di dada Heru.
Dag dig dug, suara jantung Heru terdengar berdetak dengan cepat, Aira seolah bisa mendengar detak jantung tersebut meski tanpa steteskop.
Aira menarik kepalanya menjauhi dada Heru, senyum simpul pun terlukis di bibirnya, sementara wajah Heru memerah karna malu.
"Ish udah ngak sabar ternyata, ya udah deh, istrinya juga sudah siap tuh, main yang pelan aja mas, ?" bisik Aira lagi sambil tersenyum menggoda Heru.
Aira berlalu dari Heru," Ish tuh bocah, tau aja." guman Heru.
Heru memasuki kamarnya dengan perasaan yang tak karuan, sebagai lelaki normal tentu saja Heru mendambakan seorang wanita untuk mengisi hari-harinya, ia juga menginginkan malam pertama yang indah.
Mata Heru membulat sempurna saat melihat pesona Tari saat mengenakan pakaian mini yang terbuka pada bagian dada.
Tubuh mulus Tari terekspose sempurna pakain tersebut hanya menutupi bagian vital saja, membuatnya semakin penasaran dengan apa yang tersembunyi di balik sutra hitam tersebut.
Mata Heru tanpa sengaja melihat dua gundukan kenyal yang sangat menggiurkan ingin sekali ia mencicipinya.
Heru menelan salivanya, belum bersentuhan saja, hasrat nya sudah bergitu bergelora, apalagi melihat wajah cantik dan ayu yang ada di hadapanya kini, membuatnya memberanikan diri untuk menarik tangan Tari menuju ranjang.
Bokong mereka mendarat secara bersamaan di atas tempat tidur, mereka pun duduk bersama dengan jarak cuma beberapa centi.
Wajah Tari terus tertunduk, dengan jantung yang berdetak kencang, Tari berkali kali menelan salivanya untuk menghilangkan rasa gugupnya, saat ini ia sendiri tak berani melihat wajah Heru.
Heru meraih tangan Tari dan menggenggamnya erat, seketika aliran darahnya berdesir melesat laju, sentuhan Heru begitu hangat membuat bulu kunduknya berdiri.
Slup, bibir Heru mendarat hangat di bibirnya, sementara netra mereka saling bertentang dalam jarak yang sangat dekat.
Heru memaut bibir Tari dengan lembut, merasakan sentuhan itu, tubuh Tari seperti mengejang, Tari terpukau sejenak tak bergerak.
Merasakan tubuh Tari yang tiba-tiba memaku, Heru pun menghentikan aksinya.
Heru menarik wajahnya sedikit untuk memberi ruang pada Tari agar bisa mengatur nafasnya.
Heru tersenyum ketika melihat keteganggan di wajah Tari.
"Kenapa Tari apa kau belum siap?" tanya Heru.
Pertanyaan Heru sontak membuat Tari memalingkan wajahnya.
"Ehm E Engkak kok Mas," ucap Tari gugup, tanganya merepas gaun yang ia kenakan.
Heru tersenyum seraya menyibak rambut Tari yang tergerai, ia pun melepaskan jas yang di kenakanya.
Tari menelan salivanya saat Heru melepas kancing kemeja, ia semakin kuat meremas gaun yang di kenakanya dengan wajah yang tertunduk.
Tari merasa begitu tegang, sesekali matanya melirik sampai di mana Heru membuka pakaianya, dan saat Heru selesai membuka satu per satu kancing bajunya, ia pun menyibak kemeja tersebut dan tampaklah dada bidang yang putih mulus dan bersih.
__ADS_1
Meski rasa cinta tersebut belum tumbuh di hatinya, namun melihat pemandang indah tersebut membuat Tari merasakan debaran aneh, keindahan dari bentuk tubuh Heru membuat Tari mulai merasakan hasrat, ia kembali menelan salivanya sambil menggigit lembut bibir bagian bawahnya.
Tari mengatur nafasnya mencoba untuk rileks, Tangan Heru kembali menjangkau tangan Tari, sebuah kecupan di kening pun mendarat dengan hangat.
Tari seperti terbakar gairah saat hembusan nafas hangat Heru lembut menyentu permukaan kulit wajahnya, dengan perlahan ciuman Heru turun pada kedua pipi Tari dan kali ini geloranya semakin membakar hasrat, apalagi saat nafas Heru harum tercium di hidungnya.
Tari melihat dari dekat mata teduh Heru yang sepertinya mengingikannya,matanya terbelalak tak kala bibir empuk dan hangat tersebut kembali memaut bibirnya dan kali ini dengan gerakan yang lebih lincah.
Tari mulai terbawa suasana, hasratnya juga bergelora saat tangan Heru menceram lembut tubuhnya, membuat Tari tak berdaya, getaran harus pun terasa di sekujur tubuhnya meremang kan bulu romanya.
Tari berginik menikmati permainan lembut Heru, ia mulai membuka mulutnya agar Heru biasa meng eksplor lebih dalam lagi.
Ketegangan mulai mencair saat ini, Tari juga sudah pasrah apapun yang akan terjadi pada dirinya dan Heru.
Nafas keduanya semakin memburu, menandakan hasrat yang ingin menuntut sebuah pelepasan.
Setelah bermain dengan bibir dan lidah, Heru membaringkan Tari dengan perlahaan, saat itu detak jantung keduanya sama-sama berdetak dengan kencang.
Posisi Heru telah berada di samping Tari, ia menatap Tari penuh damba, sementara Tari menahan tubuh Heru agar tak menyentuh langsung tubuhnya.
Tari begitu deg-degan, jantung dan darahnya saling ber akserelasi hingga membuat debar debar indah di dalam sukmanya, tangan Heru menyapu lembut seluruh permukan tubuh Tari bagian atas, kecupan pada kening pertanda di mulainya permainan mereka.
Nafas Tari semakin memburu saat merasakan tanggan Heru menyentuh perut bagian bawahnya, begitu pun Heru rasanya ia sudah tak sabar untuk menikmati apa yang tersembunyi di balik segitiga bermuda tersebut, dengan pelan ia menarik penutup berenda tersebut dengan debaran jantung yang semakin kuat, tubuh Tari kembali mengejang saat Heru menarik perlahan segitiga bermudanya.
Heru menelan salivanya kembali, hasratnya sudah tak tertahan, saat segitiga terlepas dari tubuh bagian bawah Tari, seketika ia langsung menyambar bibir Tari dan memautnya dengan ganas, tak sampai disitu tangan Heru pun mulai menurunkan tali pengaman yang menyangkut di bahu Tari, suasana semakin tegang karna sebentar lagi penyatuan pertama mereka segera di mulai.
Tari Megambil nafas panjang dan menghembuskanya dengan melalui hidung, ia mencoba untuk rileks, tanganya mencengram sprey, saat ia merasakan sesuatu yang menegang terasa di balik celana Heru.
Kali ini Heru mulai melepaskan celana panjangnya dan menyisakan celana boxernya.
Tari berkali-kali menalan saliva saat membayakan rudal besar yang akan menerobos masuk kedalan gawang suci miliknya, tubuhnya semakin menegang saat tubuh Heru berada diatas tubuhnya dan hampir saja menindih tubuhnya.
Heru mengambil nafas panjang sebelum memulai aksinya, dengan perlahan ia mendaratkan ciuman lembut di ceruk lehar Tari dan membuat tubuh Tari mengenjang sesaat.
Akh, suara lengkuhan Tari membuat Heru semakin tak bisa menunda, ia pun berhenti sebentar untuk membuka penutup terakhir tubuhnya.
Tari menarik nafas kembali, keringat dingin bercucuran di tubuhnya, berkali kali Tari menelan salivanya melawan perasaan takut dan rasa penasaran akan nikmanya hubungan inti dengan lawan jenis.
Ketegangan semakin terasa ketika saat Heru ingin melakukan penyerangan, tiba-tiba saja terdengar suara gedoran pintu,sontak saja suara tersebut menggagetkan keduanya hingga membuat Heru harus menunda aksinya tersebut.
"Ihs siapa sih yang nenggedor pintu, ganggu aja,"dengusnya kesal, hasrat yang sudah mencapai ubun-ubun tersebut harus terhenti karna gedoran pintu.
Tari meraih segitiga pengamanya dan dengan secepat kilat ia memakainya kembali.
Heru bangkit dan memasang kembali celana panjangnya sambil mendengus kesal karna ulah seseorang yang telah menggangu malam pertamanya.
Heru mendekati pintu dan dengan memutar tuas pada handle pintu tersebut, pintu pun terbuka dan.
Bersambung dulu guys.
__ADS_1
Like dan komen yang banyak guys, biar author semangat untuk double up ya.