Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menjemput Alia


__ADS_3

Alia dan Aldi sudah berada di kantor, untuk mengilangkan rasa bosan pada sang putri, ia pun menyalakan televisi.


Aldi terkejut ketika melihat wajah Aira berada di layar kaca, saat itu sang pujaan hati sedang menjalaskan kronoligis kejadian tauran yang terjadi di sebuah pasar tradisional.


Aldi terdiam menatap televisi, dan mendengarkan keterangan Aira di depan wartawan, ia jadi merasa khawatir terhadap mantan istrinya tersebut.


"Ayah, ada apa?"tanya Alia ketika melihat Aldi mematung di depan televisinya.


"Ah tidak sayang," Aldi mengalih chanelnya.


Setelah memutar channel film kartun, ia pun kembali duduk di kursi kebesarannya.


Sementara Alia duduk menikmati snack dan buah yang di sajikan Shinta untuknya.


Aldi terus terpikir akan Aira yang sendiri dengan tugasnya yang penuh resiko tersebut.


Karna merasa khawatir ia pun menelpon Aira dan menanyakan kabarnya.


Setelah mendapati kontak Aira ia pun menelponnya.


"Hallo ?" Sapa Aira.


"Hallo sayang kau dimana?"tanya Aldi khawatir.


"Pak Aldi berhentilah mengganggu ku, katakan saja ada apa?"tanya Aira ketus.


"Sayang kamu di mana sekarang? aku menghawatirkan mu," Aldi.


"Pak Aldi berhentilah mengkhawatirkan saya, karna saya bukan istri bapak yang perlu di khawatirkan," ucap Aira seraya menutup telponnya.


Aldi meletakann telponnya diatas meja, dengan pikiran kacau.


"Bagaimana caranya agar aku bisa melindunginya, apa aku sewa pengawal gelap untuk menjaganya dari jarak jauh," guman Aldi.


Aldi pun menelpon seseorang untuk me gawasi dan melindungi Aira.


"Maaf sayang, aku terpaksa lakukan ini karna aku terlalu menyayangimu." guman Aldi.


Seharian Aldi di landa kerisauan, bahkan ia tak berkonsentrasi untuk berkerja.


pukul dua siang Aldi mendapat pesan dari Aira jika ia ingin menjemput Alia untuk pulang bersamanya.


Dan selang beberapa menit saja, seorang wanita bertubuh tegak dan gagah masuk keruangannya.

__ADS_1


Sebelum masuk keruangan tersebut Aira sudah meminta ijin terlebih dahulu.


"Bunda!"Seru Alia yang kemudian berlari kecil memeluk Aira.


"Sayang, ayo kita pulang, Bunda sudah kangen, " ucapnya seraya mencium pipi Alia.


"Iya, ayo kita pulang, Alia ijin sama Ayah ya?" ucap Alia tapi langkahnya terhenti karna melihat lengan Aira di perban.


"Bunda, tangan Bunda kenapa?" tanya Alia khawatir.


Aldi pun menghampiri keduanya.


"Ngak apa sayang ini sudah resiko Bunda," sahut Aira.


"Kenapa kau mengambil pekerjaan yang mengandung resiko sayang?"Aldi.


Aira berdiri tegap menatap Aldi.


"Di dunia ini tak ada pekerjaan yang tak menanggung resiko pak Aldi, bahkan ketika mencintai seseorang anda harus siap dengan segala resikonya." papar Aira seraya mentap wajah Aldi.


Sejenak kedua netra bening tersebut beradu.


"Bunda, itu pasti sakit kan?" tanya Alia yang membuyarkan lamunan mereka seketika.


Alia terdiam begitu pun Aldi.


"Ayo sayang. kita pulang," ajak Alia.


Aira menuntun Aira untuk pergi.


"Aira tunggu, "Aldi menarik tangan Aira untuk menghentikan langkahnya.


Aira berhenti namun tak memandang kearah Aldi.


"Aira bisakah kau memberi ku kesempatan lagi? dan kita mulai semuanya dari awal kembali, ini hanya sebuah kesalah pahaman yang terjadi di antara kita," ujar Aldi.


"Hm kesalah pahaman, maaf Anda bisa saja menganggap itu kesalah pahaman, tapi bagi saya itu adalah luka yang paling dalam yang telah anda torehkan dalam hidup saya, dan luka itu telah membeku kan hati saya, saya harap anda tak berharap apa pun terhadap saya, karna saya tak pernah mengharapkan anda kembali, mungkin memang benar jika mencintai tak mesti harus memiliki."


"Biarkan saya bahagia dengan jalan hidup yang saya pilih," ucap Aira kali ini ia tak mampu menahan titik air matanya, ia pun berlalu dari hadapan Aldi.


Aira berjalan seraya menahan guncangan jiwa, memang benar masih ada cinta di hatinya, tapi ia sudah tak pernah berharap akan kembali bersama Aldi, rasa sakit itu membuatnya menjadi jera untuk memulai suatu hubungan bahkan untuk pria lain.


Titik air mata jatuh menetes di pipinya mengiringi langkah tegapnya, kenapa rasa itu masih saja menyiksanya padahal ia sudah berusaha melupakan dan mengubur dalam cintanya.

__ADS_1


Melihat wajah Aldi membuatnya kembali mengingat masa indah yang pernah mereka lewati bersama, air mata pun tak mampu lagi di tahan hingga mengucur begitu saja.


Aira berhenti sebentar untuk menenangkan pikirannya dan meredakan emosinya, ia pun menangis di sebuah sudut ruangan sepi yang ia lewati.


"Bunda, bunda kenapa?" tanya Alia ketika melihat Aira yang tak mampu menahan air matanya.


Aira segegukan, seraya menyapu Air matanya, ia pun tak mampu menjawab pertanyaan Alia.


"Bunda, apa tangan Bunda terasa sakit, hingga Bunda menangis?"tanya Alia polos ia pun menangis.


"Kalau gitu Bunda ngak usah kerja saja, Alia takut Bunda kembali terluka, Alia sayang sama Bunda hiks hiks hiks," ucap Alia sambil menangis.


Melihat Alia yang ikut bersedih, Aira berjongkok kemudian menghapus air mata Alia.


"Ngak kok sayang, kamu tenang saja, Bunda memang merasa sakit, tapi itu ngak lama kok, sebentar lagi juga hilang," ucap Aira menenangkan Alia.


"Alia sayang Bunda," ucap Alia seraya memeluk Alia.


"Bunda juga sayang sama kamu sayang, ayo sekarang kita pulang, Bunda sudah kangen sama kamu, "ucapnya seraya kembali berdiri.


Dari kejauhan Aldi memperhatika kedua oranya yang ia cintai tersebut, bulir bening kembali menetes di pipinya.


"Aku memang pernah membuat mu luka Aira, tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyembuhkannya, berilah aku waktu sedikit saja untuk membuktikannya padamu," guman Aldi, seraya menatap bayangan keduanya yang perlahan menghilang.


Aira memasuki lift, "Sayang kamu mau makan apa malam ini?"tanya Aira pada Alia.


"Kita makan di luar saja Bunda,"cetus Alia.


"Kamu mau makan apa?"tanya Alia.


"Ayam goreng AFC aja Bunda," sahutnya senang.


"Ok, kita ke restoran AFC sekarang!" Seru Aira.


Setibanya di halaman parkir, Aira mengenakan helm untuk putrinya, karna mereka akan pulang dengan motor.


Setelah mendudukan Alia di belakang, Aira pun naik di atas motornya, tak lupa menggunakan helm standarnya.


"Asik jalan-jalan naik motor!" teriak Alia senang.


"Pegangan yang kuat ya sayang!" seru Aira.


Alia pun menuruti nya, motor mereka perlahan keluar dari kawasan perkantoran, sementara Aldi menuju mobilnya bermaksud untuk menyusul keduanya.

__ADS_1


Bersambung, masih di tunggu dukungannya.


__ADS_2