
β Bab ini mengandung adegan dewasa, tidak untuk yang belum menikah. Skip aja ya, bijak dalam memilih. Nanti basah sendiri he heβπππ
Setelah dari belanja Bagas dan Alita langsung pulang, dan beristirahat sambil menunggu jam makan malamnya.
Keduanya berbaring di atas single bed yang ada di kamar Bagas.
"Nanti malam aku tidur di bawah saja Lit, biar kamu tidur di atas tempat tidur, biar ngak sempit. "
Alita memainkan kancing kemeja Bagas.
"Ngak maulah Mas, aku maunya tidur sama kamu, biarin saja sempit, kan aku bisa tidur lebih dekat dengan kamu," ucap Alita.
Bagas tersenyum, kemudian mencium pucuk kepala Alita.
Alita pun semakin mempererat pelukannya, keduanya saling bertentang mata.
Bagas mendekatkan wajahnya kearah Alita ia pun mrndaratkan kecupan pada bibir istrinya tersebut.
Alita membalas lembut pangutan bibir suaminya, keduanya pun mulai terbakar hasrat.
Bagas semakin memperdalam ciumanya, sambil melepas kancing kemeja yang Alita kenakan.
Begitu pun Alita yang membuka kacing kemeja suaminya.
Keduanya pun saling menatap penuh damba, mereka semakin terbakar gairah.
Kemeja Alita sudah terlepas tangan Bagas pun menyusuri lekut indah dari tubuh istrinya untuk melepaskan pengait dari kaca mata berendanya.
Bagas melepas kaca mata berenda istrinya kemudian langsung menikmati puncak bukit yang berwarna pink muda tersebut.
Alita memejamkan matanya merasakan sentuhan dari lidah dan remasan lembut tangan Bagas, ia pun melengkuh.
Ehm uh, hasrat keduanya sudah tak mampu menahan lagi.
Bagas langsung menarik celama kulot yang Alita kenakan.
Tiba-tiba saja suara gedoran pintu terdengar dan memaksa Bagas untuk menghentikan gerakannya.
Tok..tok tok..
"Bagas! yuhuy! Gas, Bagas , Gas Bagas," teriak Edo tanpa henti.
Keduanya pun bergegas mengenakan pakaiannya.
Dug dag dig, duk duk duk, pintu kamar Bagas di gedor seperti tabuhan gendang, dengan nada yang berirama.
"Apa sih Yah! " seru Bagas dari dalam kamarnya.
"Malam malam dulu Gas, gituanya nanti saja!" teriak Edo, dari luar kamarnya.
"Iya sebentar lagi! " teriaknya yang lansung buru-buru mengancing celananya.
Begitupun Alita.
'Ehm, kayaknya mending kita beli rumah dan tinggal berdua saja Lit, biar ngak ada yang ganggu, "dengus Bagas.
Alita tersenyum menyambut bahagia.
"Iya Mas, aku setuju."
Setelah itu mereka pun buru-buru keluar dari kamar, karna Edo terus mengetuk-ngetuk pintu.
Krek.... pintu di buka.
Bagas menyilangkan tangannya di dada.
"Bisa ngak sihYah, ngak usah gangguin aku," dengus Bagas dengan tatapan sinisnya.
"Hehe ngangguin, emang kamu lagi ngapain Gas?"
Tanpa menjawab Bagas menarik istrinya untuk keluar dari kamar tersebut.
Mereka pun duduk bersila untuk menimaknati makan malam.
"Ehm, pasti enak banget nih Bu, "ucap Alita yang melihat seekor ikan goreng yang di atasnya di taburi dengan aneka sambal pesanan Alita.
__ADS_1
"Iya itu satu ekor, ibu khususkan untuk kamu," ucap Nina seraya tersenyum.
Mereka pun makan dengan duduk di atas lantai.
Alita menikmati sendiri ikan yang tersaji khusus untuknya.
"Mas, kamu cobaan deh ikannya," ucap Alita sambil menyodorkan secuil daging ikan ke mulut Bagas.
Bagas membuka mulutnya dan menerima suapan Alita.
"Ehm, Enak Mas?"tanya Alita.
"Enak." Bagas mengganggukkan kepalanya.
"Sini aku suap lagi, aku juga ngak habis makan sebanyak ini," ucap Alita sambil kembali menyuapi Bagas.
Anggota keluarga yang lain tersenyum simpul.Bahagia melihat Bagas yang terlihat bahagia.
Setelah makan malam dan ngobrol sebentar Keduanya masuk ke kamar mereka.
Setelah mandi Alita mengenakan linggeri yang di belinya di supermarket.
Bagas baru keluar dari kamar mandi, matanya berbinar melihat sang istri yang terlihat cantik dan se*si tersebut.
Dengan masih menggunakan handuknya ia mendekat kearah Alita dan memeluknya dari belakang.
Alita menghirup napas segar yang keluar dari mulut suaminya tersebut.
Ia pun membalikkan tubuhnya mengadap pria tampan yang ada di hadapannya kini.
Bagas semakin terlihat tampan dengan rambut yang setengah basah, wajahnya pun terlihat lebih segar dengan tubuh yang harum semerbak.
Tanpa menunggu lama mereka pun melanjukan pertempuran mereka yang tertunda.
Bagas mendaratkan kecupan pada bibir Alita dan langsung di sambut ganas oleh Alita ,tangan Bagas merayap menyusuri lekuk tubuh istrinya.
Dengan satu jari ia melepas linggeri yang di kenakan pada tubuh Alita.
Bagas berlutut untuk menikmati kedua bukit kembar yang terasa manis tersebut.
Alita merem-melek menikmati sentuhan dari suaminya, lengkuhan terdengar lirih di telinga Bagas membuat hasrtatnya semakin membara.
Bagas masih menikmati puncak bukit tersebut, dan membuat Alita mengerang ia Pun meremas rambut Bagas.
Bagas melepaskan pangutannya dan menuntun istrinya untuk tidur di atas tempat tidur.
Dengan hanya menggunakan celana segitiga Alita berbaring terlentang, semakin membuat Bagas menggeram.
Ia pun langsung menarik segitiga pengaman tersebut hingga tampaklah lembah yang begitu ia dambakan
Bagas mencium perut Alita kemudian kembali menatap wajah istrinya.
Tangannya merayap menyentuh lembah milik kemudian memainkan biji kecambah Alita.
Tubuh Alita semakin berguncang, dengan rakus ia menyambar bibir sensual suaminya.
Beberapa menit berlalu Alita melepaskan pangutannya, kemudian menarik tubuh suaminya agar berada di atas tubuhnya.
Bagas menarik handuknya hingga belalainya yang mengembang terasa pada kulit sensitive Alita.
Dengan perlahan ia mendorong belalai tersebut hingga terbenam dalam lembah yang telah licin dan berdenyut-denyut.
Akh, ! lengkuhan keduanya. Bagas dan Alita memejamkan matanya beberapa saat untuk menikmati sensai berdenyut-denyut.
Dengan gerakan pelannya,senjatanya berkali-kali menerobos gua sempit nan licin terdebut.
Napas keduanya saling memburu, dengan ganas keduanya saling mencumbu.
Gerakan Bagas semakin cepat memompa dan menghentak di atas tubuh istrinya ,dengan telapak tangan yang menggenggam erat tangan Alita.
Akh ehm esk, suara lengkuhan dan des*ahan terdengar lirih sepanjang permainan panas mereka.
Napas Bagas semakin memburu, dengan keringat yang mengalir deras .
Alita semakin erat memeluk suaminya tersebut sambil mengusap-ngusap pelan punggung lelaki yang tengah memberikan sensai kenikmatan tersebut. Kini ia merasakan betapa bahagianya menjadi seorang istri.
__ADS_1
Bagas menurunkan wajahnya menikmati ceruk leher Alita dan memeberinya beberapa tanda kepemilikan.
Alita melengkuh-lenguh merasakan hentakan dasyat yang menghujam pada area bawah tubuhnya.
Berkali kali ia mengerang mrnggenggam erat tangan Bagas, ia pun menghisap leher su as mimua yang telah di penuhi oleh keringat.
Satu hentakan terakhirnya, membuat keduanya melengkuh panjang.
Bagas memeluk Alita kemudian memciumi setiap inci wajah istrinya seraya tersenyum puas.
Kemudian ia menumbangkan tubuhnya di samping tubuh Alita.
Keduanya mengatur napas yang terengah-engah.
Karna merasa lelah, akhirnya keduanya terlelap tanpa sempat membersihkan diri.
Alita tersadar matanya terbuka lebar dan melirik petunjuk waktu yang ada di dinding.
Ehm hampir pagi rupanya, ia melihat tubuhnya yang bugil tertutup selimut.
Karna tempat tidur itu sempit, pergerakan Alita membangun kan Bagas.
Bagas pun membuka matanya dan melihat kearah Alita yang turun dari tempat tidurnya.
"Mau kemana Lit? " tanya Bagas.
Mau mandi Mas, ucap Alita sambil menyimpul rambut panjangnya.
Bagas menarik tangan Alita menahannya.
"Nanti saja, "tahan Bagas.
"Kenapa Mas? "
Nanti kotor lagi, ucap Bagas sambil tersenyum mesum.
Melihat senyum manisnya Alita tak mampu menolak , setelah membersihkan diri Ala kadarnya, mereka pun melanjutkan pertempuran hangat di subuh hari itu.
Setengah jam berada di atas tubuh istrinya , keduanya masih asik menikmati pertarungan sengit mereka.Namun pintu kamarnya kembali di gedor.
Tok Tok Tok . ketukan pintu Edo.
Mau tak mau Bagas mempercepat gerakanya, padahal mereka masih asik bermain slow.
Satu hentakan Bagas yang terlihat kesak.
Bagas langsung turun dari tubuh Alita.
"Ada apa sih Yah!"sahutnya dengan kesal.
"Bagun Gas sudah pagi," sahut Edo dengan tawa jahilnya.
"Yaelah Yah, Bagas bukan anak kecil keles! " dengusnya.
"Yah suddah kalau kamu sudah bangun," sahut Edo lagi yang tertawa kecil karna kejahilannya.
Bagas bersandar sambil mengusap kepala istrinya.
"Kayaknya kita mesti beli rumah Lit, ngak enak tinggal ama orang tua," usulnya.
"Iya Mas, aku juga ingin memiliki rumah sendiri."
"Ehm, Ya sudah. Aku rasa tabunganku juga sudah cukup untuk beli rumah, apalagi kalau dana proyek kita cair nanti, untuk sementara kita pilih rumah yang sesuai dengan tabungan ku saja Ya. "
"Iya Mas, asal tinggal bersama kamu, aku ngak masalah kok", ucap Alita.
Bagas tersenyum, "Kalau gitu nanti kita cari rumah saja,mumpung minggi ini kegitan kita ngak terlalu padat. "
"Ehm iya Mas."
"Ayo kita siap-siap. Nanti ayah ku yang resek itu gedor-gedor pintu lagi."
Hm, keduanya pun masukke kamar mandi dan mandi bersama.
Bersambung guys, terima kasih masih tetap setia sampai di episode ini.
__ADS_1
Lope u All.