Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mengenang kejadian pahit.


__ADS_3

Setelah selesai fitting baju dan mengukur gaun pengantin mereka, Tari dan Romeo pun keluar dari butik tersebut hingga sore hari.


Romeo melirik jam tangganya melihat jam berapa saat ini, angka di arlojinya menunjukan pukul 15,20, "Hm, masih sore Tar, kamu capek ngak? tanya Romeo.


Hm tiga hari tiga malam jalan sama kamu aku ngak bakalan capek Rom, guman Tari dalam hatinya engan bahagia.


"Ngak Rom, " ucapnya sambil tersenyum,


"Kalau gitu, gimana kalau kita lanjutkan dengan berburu barang untuk hantaran?" tanya Romeo lagi.


"Hantaran, Hm boleh Rom," sahutnya dengan semangat.


Ya tuhan mimpi apa gue semalam, sungguh hari ini yang bahagia baget,.karna gue bisa menghabiskan waktu bersama Romeo hampir seharian.


Romeo membuka kan pintu bagi Tari dan itu semakin membuatnya tersanjung.


Meski wajah Romeo terlihat datar, tapi ia menyambut baik perubahan yang terjadi pada calon suaminya tersebut.


"Kamu mau belanja di mana Tar?"tanya Romeo.


"Bagaimana kalau di mall saja Rom,.jadi kita bisa belanja sambil cuci mata," ucap Tari dengan senyum yang sumringah.


Romeo menjawab dengan anggukan.


Mobil mereka melaju melintas cepat di jalanan beraspal menuju mall terbesar dan termegah yang ada di kota tersebut.


***


Aira dan Aldi sudah berada di kantor polisi, selain Hilman dan beberapa pengacara mereka, di sana juga sudah menunggu Edo dan Ratna.


Tatapan mata Ratna tajam kearah Aira yang berjalan sambil mengandeng tangan suaminya.


Tanpa banyak basa basi seorang yang berseragam kepolisian menuntun Aira menuju sebuah ruangan yaitu ruangan penyidik dan Aldi tidak boleh ikut masuk kedalam ruangan tersebut.


Aira di dampingi oleh lembaga sosial yang bergerak di bidang perlindungan anak dan wanita saat pemeriksaan.


Setelah para petugas tersebut memperkenalkan diri pada Aira mereka mulai mengintrogasi Aira.


Sebuah laptop dengan layar menyala dan alat perekam berada tepat di atas meja di hadapan pria sangar berseragam coklat tersebut.


Aira menatap petugas tersebut, meski merasa gugup, tapi seorang dari petugas dinas sosial tersebut menyuruhnya untuk tidak tegang, meski statusnya sebagai tersangka.


Aira mengatur nafasnya agar dirinya merasa rileks, sedangkan petugas tersebut sudah menyiapakan jarinya untuk mengetik setiap jawaban dari Aira.


Introgasi di mulai, dan saat ini ia berusaha untuk tidak takut.


Pertanyaan pertama


"Siapa nama kamu?"polisj.


"Rianty Alfaira," Aira.


"Umur?"


"Tujuh belas tahun lewat tiga bulan."


"Tahu kasus apa yang tengah kamu hadapi?" tanya polisi tersebut pada Aira.


"Tidak tahu," jawab Aira.

__ADS_1


"Kamu dituduh dan sudah di nyata kan sebagai tersangka dalam penganiayaan terhadap korban yang bernama Retno," papar Polisi tersebut.


"Tapi saya juga korban, saat itu saya hendak di perkosa oleh beliau, dan bukan hanya saat itu,.pak Retno sering mendatangi rumah saya dan meneror orang tua saya, ia mengancam akan mempidanakan ayah saya jika saya tidak menurutinya keinginannya untuk menikahi saya, " papar Aira dengan tubuh yang berguncang karna gemetar.


Sebuah kamera menyorot ke wajah gadis itu, nantinya akan ada saksi ahli yang memprediksi raut wajah Aira apakan ia sedang berbohong atau berkata jujur.


"Tahukan kamu menurut laporan saudara yang bernama Reynaldi Alfian jika Retno adalah salah satu pemimpin sindikat penjualan anak di bawah umur?" tanya polisi tersebut.


"Saya tidak tahu secara pasti, tapi saya pernah mengalami kekerasaan saat berada di lingkungan pelacuran tersebut," cecar Aira.


"Mereka menjual gadis di bawah umur untuk menjadi pemuas ***** di luar negri, dan setelah umur mereka menginjak tiga puluh tahun, para wanita itu di kembali kan di negara asalnya, karna mereka sudah tak laku di sana, " papar Aira sambil menitikan air matanya.


"Masa depan mereka hancur, sebagian besar dari mereka juga mengalami penyiksaan dan kekerasaan seksual di luar negri, mereka di paksa melanyani beberapa lelaki dalam sehari!😭" tangis Aira pecah ketika mengingat kisah yang di cerita oleh salah seorang wanita yang menjadi korban perbudakan *** di luar negri.


Polisi menjeda pertanyaanya ia membiarkan Aira menangis hingga ia merasa tenang, seorang wanita dari dinas sosial memeluk Aira dan mengusap punggungnya.


"Kuat kan diri mu sayang, keterangan mu akan dapat membantu dan menyelamatkan banyak korban," ucap wanita tersebut sambil mengusap punggung Aira.


"Apa kamu siap melanjutkan keterangan mu?"tanya polisi tersebut.


Aira menggangguk.


"Tak ada pilihan lain bagi mereka selain menjual diri untuk bertahan hidup, lagi pula menurut mereka tak ada lelaki yang akan mau menikahi mereka, hidup mereka di hancurkan dengan masa depan yang tanpa kepastian, mereka adalah orang-orang yang putus asa dan selalu menderita," papar Aira.


"Retno dan anak buahnya sengaja memmamfaatkan mereka kembali agar bisa menjual kehormatan dan kebebasan mereka, kami semua di perlakukan lebih kejam dari perlakuan mereka pada binatang, mereka tak berprikemanusiaan, biadap biadap...biadap !!!"cecar Aira penuh emosi sampai dirinya hampir pingsan saat itu.


Aira menangis segegukkan, tubuhnya terguncang dengan nafas yang terengah-engah, namun Ia tetap menguatkan dirinya untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.


Tubuh Aira yang lemah, kembali tegak mengeluarkan orasi dan narasi yang mengumpat dan mengecam perbuatan keji yang di terima oleh para wanita di rumah germo tersebut.


Setelah puas memberi keterangan dengan umpatan dan caciannya polisi kembali bertanya pada Aira.


"Apa kamu mengalaminya langsung, hingga kamu bisa memberikan kesaksian yang demikian, apa kamu tahu kesaksian yang bohong akan mendapat sanksi di mata hukum, "ucap penyidik.


"Baik lah, hari ini sekian untuk hari ini, kita lanjutkan besok, anda kami tahan di LPAS , untuk menjalani visum dan pemeriksaan lebih lanjut," papar petugas tersebut.


keterangan yang Aira berikan, akan di cocok kan dengan bukti dan alat bukti lainya, sebenarnya masih banyak pertanyaan dari pihak penyidik yang belum di tanya kan pada Aira, tapi melihat kondisi sikis dari gadis tersebut, pihak penyidik menunda nya demi keamanan dan kestabilan emosi Aira, apalagi rekam medis Aira yang menunjukan dirinya beberapa kali mengalami trauma.


Seorang pisikolog bicara kepada Aira sebelum ia keluar dari ruangan tersebut.


Beberapa terapi berupa sugesti yang membangun rasa kepercayaan dirinya untuk tak takut menghadapi apapun, di beri kan oleh pisikolog tersebut demi menjaga kestabilan emosi Aira yang cukup terguncang,karna mengenang kejadian pahitnya saat itu.


Setelah hampir satu jam Aira berinteraksi dengan pisikolog tersebut, akhirnya ia di perbolehkan untuk keluar dari ruangan tersebut.


Sudah berjam-jam Aldi menunggu, ia terus saja mondar mandir di depan ruangan penyidik, rasa resah dan gelisah menyelimuti perasaan nya saat itu.


Sebentar duduk sebentar berdiri, seolah ada jarum yang melekat pada pan* tatnya hingga membuat Aldi begitu gelisah dan cemas.


Setelah menanti dalam waktu yang cukup lama, akhirnya ruang penyidik itu terbuka setelah beberapa orang yang keluar dari ruangan tersebut, seseorang yang begitu ia nantikan akhirnya keluar juga.


"Sayang, "ucap Aldi yang langsung memeluk istrinya sesaat setelah Aira keluar dari ruangan tersebut.


Kecupan dan pelukan hangat menertapa sekujur tubuh dan wajah Aira, Aldi mendarat kan beberapa kecupan pada pucuk kepala sang istri setelah bebrapa saat ia melepaskan pelukanya kembali dan menatap wajah Aira yang terlihat sedih dengan mata yang sembab.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya aldi sambil menyelidiki setiap inci wajah istrinya.


"Kenapa kamu menangis sayang? apa ada yang menyakiti kamu?" tanya Aldi dengan mata yang berbinar menatap istrinya.


Aira menggelengkan kepalanya seraya menghambur memeluk Aldi.

__ADS_1


Dalam rangkulan Aldi ia melepaskan rasa gundah dan rasa ketakutanya atas peristiwa yang pernah menimpanya, rasa sakit dan penderitaan yang membuatnya menjadi hampir gila karna depresi berat yang ia alami saat itu.


"Katakan sayang ada apa?" tanya Aldi dengan suara paraunya karna ikut terbawa suasananya.


"Aira baru saja mengingat kembali kejadian saat Aira di jual oleh paman Aira mas," ucap Aira terbata-bata.


"Jika kamu takut dan tak ingin menjawabnya kamu tak perlu menjawabnya sayang," saran Aldi yang semakin erat memdekap sang istri.


"Ngak Mas, Aira bukanya takut, Aira hanya kasihan melihat para wanita yang menjadi korban, semoga dengan sedikit keterangan dari Aira, polisi bisa menggebrek dan menetap kan para tersangkanya," ucap Aira dengan bibir yang gemetar karna merasa geram.


"Sudah sayang, tanpa sepengetahuan kamu tempat tersebut sudah di gerbek dan puluhan orang sudah menjadi tersangka termasuk bapak dan paman kamu sendiri," papar Aldi.


"Bapak? apa kah bapak terlibat Mas ?" tanya Aira yang mendongkak kan kepalanya menatap Aldi.


Aldi menggangguk, "Maaf sayang, mas tak bisa melindungi bapak kamu, ia memang tak terlibat langsung dengan organisasi tersebut, tapi ia mengetahui dan ia juga yang menjadi mucikari lepas dari tempat pela*curan tersebut," papar Aldi.


Aira menghapus air matanya, ia kembali menatap wajah Aldi.


"Aira tahu sekarang Mas, kenapa Aira di biarkan tetap perawan, meski Aira berada di sana, padahal mereka bisa saja menjual Aira dalam keadaan tidak sadar," ucap Aira terbata-bata.


Aldi syok mendengar penuturan Aira.


"Karna apa sayang?" tanya Aldi.


"Semua karna Retno mas, selama di sana Aira hanya di suruh melayani seorang pria, dan tak ada yang boleh menyentuh Aira selain pria tersebut, dan pria itu adalah Retno, mungkin ia merasa tak berhasil dengan cara halus, hingga harus menggunakan cara keji untuk mendapatkan Aira, tapi Aira terus saja menolak meski Aira di siksa sampai hampir mati," papar Aira lagi


Aldi pun menangis segegukan ia merasa terharu terhadap perjuangan istrinya dalam mempertahan kan kehormatanya, dari mereka menikah hingga sekarang kesucian Aira hanya miliknya, dan itu yang membuat Aldi merasa beruntung sekaligus terharu terhadap penggorbanan sang istri.


Aldi mendekap tubuh Aira semakin erat, tangis haru sekaligus pilu mendera mereka saat itu.


Seolah tak ingin di pisahkan lagi, Aldi semakin mempererat pelukannya terhadap Aira, namun apa daya, deheman seseorang merenggangkan pelukan mereka.


"Maaf kami harus membawa saudari Aira menuju Lembaga Penitipan Anak Sementara."


"Apa?" Aldi syok.


Tidak!! istri saya tidak boleh kemana pun! dia harus pulang bersama saya!" tolak Aldi, ia menahan tubuh Aira agar tak di bawa.


"Maaf pak, saudari Aira kami tahan ia akan di bina dan di mintai keterangan, setelah kasusnya beres kami akan mengembalikannya kepada anda, anda tak perlu khawatir, istri anda dalam pengawasan ketat petugas kami selama dua puluh empat jam non stop, dan di intai dengan kamera cctv, jadi anda tak perlu menghawatirkan keamanan istri anda," ucap petugas tersebut yang kemudian menarik Aira dan menjauhi Aldi.


"Tidak saya tidak mengijinkan, " tolak Aldi secara tegas ia mendorong tubuh petugas tersebut.


Tidak bisa pak, ini prosedur, atau anda mau saudari Aira akan mendekam selama tujuh tahun karna kasus pembunuhanya, jika anda tidak bisa bekerja sama, kami juga tak kan bisa membantu istri anda untuk membuktikan jika ia tak bersalah, percayalah pada kami, karna semua harus melalui prosedur yang berlaku,"papar polisi tersebut.


Aldi tergaman ia seolah tak punya pilihan lain selain merelakan istrinya tersebut untuk di tempatkan di LPAS.


Air mata Aldi membanjiri pipinya, kali ini ia marasa kembali tak berguna sebagai seorang suami.


Melihat suaminya yang bersedih, Aira berjalan perlahan mendekatinya.


"Mas Aldi sayang, kadang kita harus terpisah untuk sementara waktu, untuk mempererat hubungan kita, Mas Aldi ngak usah sedih, karna setelah kasus ini selesai, kita akan kembali bersama dan tak akan kan terpisahkan lagi," ucap Aira sambil menyapu tetesan air mata Aldi.


Aldi meraih tangan Aira dan mencium punggung tangganya," Kamu benar sayang, pergilah untuk sementara waktu dan kembali lah kepada mas Aldi untuk selamanya, " ucap Aldi sambil memeluk istrinya tersebut.


Setelah puas memeluk Aira, Aldi pun mendaratkan beberapa kecupan di sebagian wajah istrinya.


"Sudah Mas, Aira pergi dulu," ucap Aira.


Aldi tak mampu menjawab, ia hanya menggangguk, mengizinkan Aira untuk pergi.

__ADS_1


Aira dan pengawalnya perlahan berlalu meninggalkan Aldi yang meratap menangisi kepergian istrinya.


Bersambung, like komen, vote dan hadianya ya. salam sayan dari auhor


__ADS_2