
Matahari belum pun tampak di ufuk timur, Tari menerjab-nerjabkan matanya karna merasakan sesuatu yang membanggunkannya.
Tari merasakan sedikit mulas pada bagian perutnya," Akw perutku sakit," ucapnya seraya merintih.
Mendengar suara Tari yang kesakitan Romeo pun bangkit, "Kamu kenapa Tar?" Tanya Romeo.
"Perut ku sakit Rom, mungkin sudah waktunya untuk melahirkan, "ucap Tari sambil meringis.
"Iya, aku siap-siap dulu kita kerumah sakit sekarang " Romeo.
Romeo turun dari ranjang kemudian menghampiri lemari dan memasukan beberapa pakaian Tari kedalam tas.
Kemudian ia membangunkan Ghael dan Farel, karna tak ada yang menjaga mereka.
Tari dan Romeo memang hidup sederhana, meski begitu mereka tak pernah bertengkar sekali pun, karna mereka menghadapi semua dengan santai dan no baperan.
Mereka saling mengerti dan mengalah jadi tak ada masalah yang berlarut-larut selama mereka menjalani hidup berumah tangga.
Sebagai ibu rumah tangga, ia sengaja mengurusi suami dan anak-anaknya sendiri, setiap anggota keluarga punya tugas masing-masing untuk membantu Mama mereka, begitu pun Romeo, seringkali ia membantu Tari mencuci pakaian keluarganya serta melakukan kerjaan yang lebih berat.
Menjalani kehidupan yang sederhana justru membuat mereka bahagia dan harmonis.
Romeo tiba di kamar anak-anaknya, dengan sedikit guncangan ia membanggunkan Ghael dan Farel.
"Ghael, Farel bangun Nak, Ayo mama sama Papa akan pergi kerumah sakit".
Kedua putranya tersebut bangkit dan langsung menuju kamar mandi.
"Mama kenapa Pa?"tanya Farel.
"Mama sepertinya akan melahirkan, kamu ikut papa ya?ayo segera bersiap."Romeo.
Romeo kembali masuk ke kamarnya.
" Ayo Tar,"ucap Romeo seraya menarik pelan tangan Tari.
Dengan hati-hati ia menuntun Tari masuk kedalam mobil mereka, begitu pun kedua anak mereka.
Di dalam mobil Tari masih meringis ke sakitan.
"Aw sakit banget," keluhnya kepalanya pun ia sandarkan pada sadaran jok mobil.
"Semakin sakit Tar?"tanya Romeo sedikit panik.
"Iya Rom, Aw," ringisnya kembali dengan bulir keringat sebesar biji jagung.
Melihat sang istri begitu menderita Romeo menjadi tak tega.
"Tar, setelah melahirkan kita program KB saja, ngak tega gue melihat loh seperti ini," usul Romeo.
"Ngak Rom, gue ngak mau berhenti sebelum punya anak perempuan," sahutnya sambil meringis.
" Ya terserah eloh lah Tar, sahut Romeo.
Romeo fokus menyetir sesekali ia mengusap perut sang istri.
"Aduh Rom semakin sakit,"keluh Tari ia pun kembali meringis.
Romeo menambah laju kendaraannya, namun tetap berhati-hati.
"Akh,"Tari kembali meringis.
Tiga kali sudah ia melihat bagaimana Tari berjuang melahirkan anak mereka.
Itu juga yang membuat rasa cinta perlahan tumbuh di hatinya.
__ADS_1
Romeo menjadi sosok yang menyayangi keluarganya.
Mereka pun tiba di rumah sakit, Tari langsung di bawa ke ruang prenatal, setelah melakukan pemeriksaan, dokter menyaran kan untuk mengambil tindakan operasi.
"Karna posisi kaki bayi berada di bawah, kami menyarankan mengambil tindakan operasi," ucap dokter tersebut setelah melakukan pemeriksaan.
"Operasi dok?"tanya Romeo ragu.
"Iya saran saya seperti itu." dokter.
Romeo menelan salivanya, jantungnya berdebar dengan kencang, beberapa saat ia terdiam.
"Baik lah dokter, lakukan apa saja yang terbaik untuk anak dan istri saya,"ucap Romeo.
"Baiklah, operasi akan segera di lakukan, silahkan tanda tangani surat persetujuan operasi," ucap dokter tersebut
Romeo menghampiri Tari yang masih meringis di tempat tidur.
"Tar, loh harus menjalani operasi karna posisi bayinya sungsang," ucap Romeo lembut.
"Apa Rom, operasi? ngak Rom gue takut, ucap Tari dengan panik.
Romeo memeluknya, "Ngak usah takut, gue akan selalu berada di samping loh selama operasi, "ucap Romeo membujuk Tari.
"Tapi Rom, gue dengarnya saja takut, apalagi menjalaninya, hiks hiks " papar Tari seraya menangis memeluk Romeo.
"Ngak Tar, kamu wanita yang kuat, kamu sudah melahirkan dua putra kita dengan selamat, dan aku yakin sekali, kali ini kamu mampu melewatinya lagi," paparRomeo, ia pun mencium lekat kening sang istri dengan air mata yang perlahan menetes di pipinya.
"Iya tapi gue takut, "ucap Tari seraya menggenggam erat tangan Romeo, ia pun menangis.
"Ngak usah di bayangin, bukannya kamu sendiri yang bilang pingin punya anak yang banyak? ayo di mana semangat kamu Tati, aku tahu kamu wanita yang kuat,"ucap Romeo seraya mencium pipinya.
"Aku akan selalu ada menunggu kamu, harusnya kita bahagia, anak ke tiga kita sebentar lagi lahir ke dunia, "ucap Romeo seraya menghapus air mata Tari.
Tari tersenyum seraya menyentuh pipi Romeo dengan telapak tangannya.
"Iya, sekarang kamu siap kan?"tanya Romeo lagi.
Tari mengangguk meski, ia masih merasa takut.
Perawat datang untuk membawa Tari menuju ruang operasi.
Ghael dan Farel menangis melihat ibu mereka yang di bawa menuju ruang operasi.
"Mama!" tangis keduanya pecah.
Suci dan Hadi, merangkul kedua cucu mereka.
"Ghael, Farel, ngak usah nangis, mama ngak apa-apa kok," ucap Suci yang juga ikut haru, ia pun memeluk kedua cucunya.
"Mama, Oma! Ghael takut mama kenapa-napa," ucap Ghael dengan isak tangisnya.
"Farel juga hiks hiks hiks."Farel.
"Ghael, Farel, kalau sayang sama mama, berdoa untuk mama, bukan menangis, ayo sekarang ajak Opa ke mesjid untuk sholat setalah itu doain mama kalian," nasehat Suci.
"Iya Oma," ucap keduanya.
Mereka pun menarik tangan Hadi, "Ayo Opa kita ke mesjid berdoa untuk mana hiks hiks," ucap Ghael.
Ayo cu, sambut Hadi semangat ia pun membawa cucunya menuju masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit tersebut.
***
Suster mendorong tempat tidur Tari menuju ruang operasi, Tari yang merasa takut terus menggenggam erat tangan Romeo.
__ADS_1
Romeo mengikuti suster yang membawa istrinya tersebut, menuju ruang operasi.
Mereka pun tiba di ruangan tersebut, melihat ruangan saja Tari sudah merasa takut, di mana ia melihat peralatan operasi, belum-belum perutnya sudah terasa ngeru.
"Tari kembali menangis, Kenapa Tar?" tanya Romeo.
Tari tak menjawab.
"Kamu masih takut?"tanyanya lagi.
Tari menggangguk.
"Aku akan selalu ada mendampingi kamu, aku sudah ijin pada susternya untuk mendampingi kamu selama operasi, "ucap Romeo seraya mengecup kening Tari lekat.
Tari kembali tersenyum, ia seperti mendapat kekuatan dari sang suami.
"Rom, doain gue ya," pinta Tari.
Romeo tersenyum tipis, "Tentu saja Tar, kamu itu sangat bearti untuk aku dan anak-anak kita, kamu harus tetap semangat ya!"ucap Romeo seraya meraih tangan Tati dan mencium punggung tangannya.
Tari merasa bahagia, ada Romeo yang selalu menemaninya.
Seorang suster datang menghampiri Romeo.
"Pak, pakai pakaianya." ucap suster tersebut seraya memberi Romeo jubah, penutup kepala dan masker seperti yang di gunakan oleh tenaga medis.
Romeo melepaskan genggaman tangannya untuk menggunakan atribut tersebut, setelah selesai ia pun kembali menggenggam tangan Tari.
Perawat mengganti pakaian Tari dan menggantinya dengan pakaian khusus operasi.
Operasi segera di mulai.
Tari masih terlihat tegang, wajahnya terus menatap wajah suaminya yang tertutup masker, Romeo merasakan betapa takutnya Tari saat itu, ia mencoba untuk mengusap dada sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang, air mata pun tanpa sadar menetes melihat perjuangan Tari yang seperti berada di antara hidup dan mati.
Genggaman Tari perlahan melemah ketika suster selesai menyuntikan anastesinya.
Perlahan kelopak mata Tari menutup sedengan sendirinya, pertanda ia sudah berada pada pengaruh obat bius.
Ruangan seketika gelap, hanya ada lampu operasi yang menerangi satu titik yaitu tempat mereka melakukan bedah.
Romeo berusaha menahan hatinya, saat para medis menyayat pagian perut sang istri.
Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tak pecah, rasanya ia tak sanggup untuk berada di ruangan tersebut lebih lama lagi, tapi ia sudah berjanji tak akan meninggalkan istrinya seorang diri.
Romeo berusaha Fokus untuk tak melihat ke arah lain, pandangannya hanya tertuju pada sang istri yang tak sadarkan diri.
Melihat pemandangan ini, dirinya semakin menyadari, betapa berartinya istrinya tersebut.
Dengan lembut ia mengecup kening Tari, sebagai ungkapan kasih sayang yang dalam, karna sesungguhnya cinta tak meski selalu di ungkapkan dengan kata-kata.
Detik-detik menegangkan terlewatkan kesunyian di ruang operasi tersebut pecah, ketika terdengar suara jeritan bayi.
Oek oek oek.
"Alhamdullilah," ucap Romeo dalam hati.
Ia melirik ke arah bayi yang sedang menangis menjerit tersebut.
"Laki-laki," gumannya tersenyum.
Apapun yang Tuhan berikan adalah Anugrah, meski anak mereka kembali berjenis kelamin laki-laki.
Lagi-lagi pria tangguh sepertinya kembali menitikan air mata haru dan bahagia.
Operasi berhasil kini tinggal menunggu kesadaran Tari sepenuhnya.
__ADS_1
Bersambung reader, terus dukung author hingga tamat ya see you