
Beberapa bulan kemudian kadaan Alia sudah mendingan, diusia kandungannya yang ke lima bulan, kini ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa.
Semakin lama sifat posesifnya semakin terlihat.
Alia sedang berada di mobil menuju kantor suaminya, bermaksud untuk memberi kejutan pada suaminya.
Alia bermaksud menemui suaminya dengan membawa makan siang, akhir akhir ini ia seperti takut jika suaminya yang super ganteng tersebut diambil oleh wanita lain, karna itu setiap ada kesempatan ia selalu ikut kemana pun Ghael pergi.
Maklum saja saat ini dia merasa jika suaminya tersebut adalah pria yang paling ganten se dunia.
Ghael memang jadi idola kaum hawa di kantor tersebut, wajahnya yang tampan dengan tutur bicaranya yang Lugas, membuat banyak wanita yang menggaguminya, baik secara rahasia maupun terang-terangan.
Tak hanya di kehidupan keseharian di sosialmedianyanya pun banyak sekali yang menyatakan persaannya melalui postingan di salah satu akun Ghael,meski Ghael selalu mem posting kebersamaan ia dan Alia, tetap saja mereka terang terangan menyatakan perasaannya.
Itulah yang membuat Alia semakin posesif terhadap suaminya dan selalu takut jika Ghael membalas semua perbuatannya yang dulu saat ia menjalin cinta bersama Bagas di belakang Ghael.
Alia kini sedang menuju ruangan Ghael,
dengan membawa rantang makan siang untuk ia dan suaminya.
Melihat sekertaris suaminya tak berada di tempat ia pun langsung nyelonong masuk.
Bruk ...pintu di buka tanpa permisi dan saat itu Ghael sedang berduaan bersama sekertarisnya.
Sang sekertaris menjelaskan skedul perencanaan pengoprasian mesin termuthahir mereka.
"Jadi Pak, rencananya pemasangannya akan dilakukan oleh teknisi langsung dari Jepang," papar sekertaris tersebut yang berada di samping Ghael.
Melihat hal tersebut Alia jadi berang, Wajahnya seketika memerah.
"Abang!" seru Alia sambil menghentakan kaki.
Ghael menoleh ke arah Alia.
"Sayang! kamu datang ngak bilang-bilang?"Ghael sedikit kaget melihat kehadiran Alia yang terlihat marah.
Alia tak menjawab, matanya menatap sinis ke arah wanita yang berdiri di samping suaminya.
Ghael juga memahami perubahan sifat Alia semenjak istrinya tersebut hamil, Alia menjadi lebih temperament.
Ghael melirik ke arah sekertarisnya.
"Kamu kembali ke ruangan kamu saja, nanti saja di lanjukan," titah Ghael.
"Baik Pak," ucap sang sekertaris tersebut.
Sebenarnya sekertarisnya itu juga punya hati terhadap Ghae.Namun ia hanya bisa memendam tanpa berani mengungkapkannya. Lagi pula ia tahu jika istri Ghael adalah anak dari CEO perusahan tersebut.
Novi sang sekertaris berjalan lamban dan tertunduk karna di tatap dengan tajam oleh Alia.
Alia mengekori kemana saja wanita tersebut pergi hingga menghilang di balik pintu.
Ghael berdiri menghampiri Alia.
"Sayang, kamu kenapa datang ngak telpon dulu? " tanya Ghael yang langsung merangkul istrinya menuju sofa.
Wajah Alia masih cemberut.
"Ternyata begitu kelakukan Abang di belakang ku? " tanyanya dengan mendengus.
"Ehm, kelakuan apa sih? " tanya Ghael.
"Abang suka dekat-dekat dengan sekertaris Abang itu ya? " tanya dengan bibir yang mengkerucut.
"Ngak lah, itu karna pekerjaan saja, " sahut Ghael sambil membuka rantang makanan yang di bawa Alia.
Wajah Alia masih mengkerut.
Ghael tersenyum menghampiri istrinya kemudian mencium pipi Alia.
"Ngak usah ngambek di depan rejeki, kita makan yuk, Abang suapin, " ucap Ghael.
__ADS_1
Ghael mengaut nasi ke dalam piring berikut denga lauk yang di bawa Alia.
Kemudian ia menyuapi Alia.
Alia menutup rapat mulutnya, ketika Ghael menyodorkan sendok yang berisi Nasi.
"Ayo sayang, ngak usah ngambek gitu dong. Seperti anak kecil saja, kan abang cuma cinta sama kamu ," ucapnya sambil mencium pucuk kepala Alia, ia pun kembali menyuapi Alia.
Kali ini Alia membuka mulutnya.
Ghael pun menyuapi Alia yang memang akhir-akhir ini manja terhadapnya.
"Bang, bisa ngak sih seketaris abang di ganti saja dengan yang laki-laki? " tanya Alia.
"Ehm., bukannya ngak bisa tapi Novi itu sudah bekerja di sini sebelum Abang bekerja di sini, lagi pula tak terjadi apa pun diantara kami, " ucap Ghael sambil menyuap Alia.
"Nanti aku bilang sama Ayah, suruh Ayah pindahin sekertaris Abang dan ganti yang baru." Alia.
Ghael tersenyum, 'Terserah kamu saja Sayang. Ngak usah pikir macam-macam gitu lah, Abang kerja harus profesional, tapi itu terserah kamu," jawab Ghael.
Kalau gitu biar aku saja jadi sekertaris Abang, dengusnya sambil melirik sinis ke arah Ghael.
Ghael mengulum senyumnya, kemudian mencium pipi Alia, Kamu ngak usah berfikir macam-macam, kalau bukan karna Abang cinta mati sama kamu, untuk apa Abang mati-matian pertahankan rumah tangga kita.I love you, ucap Ghael sambil mencium bibir Alia yang mengkerucut.
Alia tersenyum, "Aku ngak mau kehilangan Abang, "ucapnya sambil merebahkan kepalanya pada dada bidang Ghael.
" Iya Sayang, Abang ngak akan pergi meninggalkan kamu, kecuali nyawa dan raga Abang sudah berpisah karna maut yang memisahkannya, ucapnya sambil mengecup pucuk rambut Alia.
"Ehm, benar ya Bang?" Alia.
"Iya Sayang, " ucap Ghael sambil mengusap rambut istrinya.
Alia tersenyum bangga, ia pun memeluk erat tubuh suaminya yang selalu harum tersebut.
"Kalau gitu kita makan dulu ya, sini Abang suap lagi supaya kamu dan bayi kita sehat," ucap Ghael sambil melepas pelukannya.
Ehm, Alia pun bersamangat untuk makan.
Setelah menyuap Alia, Barulah Ghael makan siang.
"Abang ! Alia mau tetap di sini saja dan pulang bersama Abang! boleh? " Alia.
" Boleh, tapi apa kamu ngak capek nunggu Abang sampai selesai kerja? " Ghael
" Ngak kok, "sahut Alia.
Ghael tersenyum, "Ehm, Apa sih yang ngak untuk kamu Sayang." Ghael.
Alia tersenyum dengan kemenangannya, sebetulnya kehadirannya untuk mengawasi suaminya.
***
"Lita, hari ini ada rencana apa kita? " tanya Bagas.
"Kita akan bertemu pak Andre Mas, kali ini dia meminta kita untuk menangani proyek terbarunya." Alita.
"Jam berapa? "
" Jam sebelas siang Mas, Aku siapkan berkasnya dulu," ucap Alita. Kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Alita memasuki ruangan Bagas," Mas ayo kita pergi sudah setengah sebelas. "
Bagas pun beranjak, sementara Alita menunggu di depan pintu ruangan tersebut.
Meski dalam keadaan hamil, Alita tetap beraktifitas seperti biasanya dengan pengawasan Bagas, yang menjaga istrinya agar tak terlalu memporsir tenaganya.
Seorang pengusaha property yang akan menggunakan jasa perusahaan mereka bernama Andre. Pengusaha yang masih lajang berusia dua puluh tujuh tahun tersebut merupakan putra dari pengusaha property terbesar.
Keduanya kini bertemu dengan pengusaha muda bernama Andre tersebut.
"Selamat siang Pak, Andre." ucap Alita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Selamat siang Nona Alita, anda terlihat makin cantik saja , "puji tuan Andre tersebut sambil menyodorkan tangannya ke arah Alita.
Bagas langsung menyambar tangan Andre.
"Selamat siang pak, bagaimana jika kita mulai saja rapatnya tanpa berbasa basi," ucap Bagas.
"Ehm, anda siapa? " tanya Andre yang tak mengenali Bagas, karna sudah lama perusahaannya tak menggunakan jasa kontruksi mereka.
"Saya Bagas, CEO Nusantara tracktor."
"Dan ini istri saya, "ucap Bagas memperkenalkan Alita.
Gleak ..
Andre menelan ludahnya, melihat tatapan dingin Bagas.
Ia tak mengira jika Alita sudah menikah, karna beberapa bulan status Alita masih single seperti dirinya.
"Oh, maaf atas kelancangan saya, saya tak menyangka jika nona Alita sudah bersuami,"
Bagas menaruh kedua telapak tangannya kedalam kedua saku celananya, tatapannya masih tampak dingin hingga membuat Andre merasa tidak enak.
"Ehm kalau begitu silahkan duduk, " ucap Andre.
Bagas dan Alita pun duduk.
"Jadi Bagaimana dengan proposal yang kami ajukan Pak? " tanya Alita dengan senyum ramahnya.
Bagas menyenggol lengan Alita, kemudian meliriknya sinis.
Alita tersenyum, menyadari suaminya yang cemburu.
"Saya sangat terkesan! Anda memang luar biasa Nona Thalita, setiap propasal yang ada sodorkan kepada kami begitu detail dengan taksiran harga yang begitu akurat." Andre.
Alita tersenyum tersanjung dengan pujian Andre.
"Jika memang anda menyetujui rancangan bangunan dan proposal yang kami buat, bagaimana jika kita langsung saja pada point selanjutnya," sahut Bagas dengan wajah dinginnya.
Andre tersenyum simpul, ia menjadi insecure terhadap sikap CEO tersebut. Namun Ia tak mengambil hati dan tetap melanjutkan kontrak kerja sama mereka.
Kontrak kerja sama selesai di tanda tanggani.
"Baik lah Pak Andre, senang bekerja sama dengan anda," ucap Alita.
"'Sama-sama Nyonya, senang berbisnis dengan anda," ucap Andre sambil menyodorkan tangannya ke arah Alita.
Bagas langsung menyodorkan tangannya ke arah Andre.
"Terima kasih Pak, jika begitu kami permisi, " Bagas.
"Ehm, Iya silahkan." Andre.
Alita tersenyum simpul dengan sikap Bagas tersebut.
"Ayo Lita, kita pulang." Bagas.
"Iya, Mas." Alita.
"Permisi Pak! " Alita.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut, Alita merasa bahagia sekali melihat sikap posesif dari suaminya tersebut.
Alita dan Bagas berjalan beriringan, kini dengan berani ia menggandeng mesra suaminya di hadapan umum.
Dan Bagas seperti menyabut baik hal tersebut, Meski pun suaminya tersebut terlihat dingin, tetapi ia sangat yakin jika ada cinta yang mulai tumbuh di hati Bagas untuknya.
Bersambung. hai reader yang baik, terima kasih tetap setia sampai di episode ini, maaf ya author jarang up, karna kesehatan sedikit terganggu, semoga tetap setia sampai akhir kisah. semoga kita dan orang yang kita sayangi selalu di karunia kesehatan Aamiin.
Assalamualikum.
Author punya rekomendasi novel untuk kamu, cus mampir siapa tahu suka.
__ADS_1