
Doni bolak balik dengan gusar di ruang UGD ia pun merogoh saku celana untuk meraih ponselnya, Doni mencari kontak Romeo dan langsung menekan tombol dial.
"Hallo Rom,"
"Ada apa Don?" tanya Romeo.
"Rom lu sekarang cepat datang kerumah sakit Kenanga, gue sekarang berada di ruangan igd karna Tari mengalami kecelakaan," ucap Doni tanpa jeda.
"Kecelakaan?" Romeo begitu kaget.
Karna khawatir dengan keadaan Tari, Romeo pun meminta Supri untuk melanjutkan kerjaanya.
Romeo bergegeas mencuci tangan dan mengganti pakaianya, ia pun bergegas menuju rumah sakit.
Sebelum kerumah sakit, ia mampir terlebih dahulu kerumah Tari, dan ternyata orang tua Tari tak berada di rumah, rumah tersebut kosong hanya ada satpam yang menjaga.
Romeo melanjutkan perjalanan nya menuju kerumah sakit.
Salah seorang perawat datang menghampiri Doni.
"Anda keluarga pasien?" tanya suster tersebut pada Doni.
"Tidak, saya hanya temannya."
"Begini, pasien harus segera di operasi untuk mengobati patah tulang pada bagian tangan, dan cedera bagian kepala."
"Bisa anda menghubungi keluarganya, karna mengalami cedera kepala, sesegera mungkin pasien harus mendapatkan penanganan, selain itu kami juga menbutuhkan donor darah golongan O, karna golongan darah O stok di rumah sakit dan PMI kosong." ucap Suster tersebut kepada Doni.
"Ia suster, saya akan usahakan secepatnya."
"Kalau begitu sekarang anda bisa mengurus bagian Administrasi nya dulu pak, tambah suster tersebut."
Doni kembali kebinggungan, ia merogoh saku celana dan melihat isi dompetnya.
"Cuma ada dua lembar uang lima puluh ribu." Doni menarik nafas panjangnya.
Mau minta tolong sama siapa untuk bayar Administrasi rumah sakit ini, Romeo ngak mungkin, dia lebih bokek dari gue, setelah memikirkan sejenak, Doni pun teringat dengan Aldi.
Aldi sedang mencumbu Aira, sudah sedari tadi ia memahan hasratnya.
Melihat putri cantik bak di negri dongeng membuat fantasy nya melayang kemana-mana.
Mereka kini saling beradu,meresap mencumbu dan memangut, baru kali ini Aldi merasa permainanya berimbang karna Aira selalu membalas setiap kecupanya.
Perlahan tangan Aldi membuka Resliting pada gaun Aira, namun bibirnya masih sibuk mencumbu dengan lincah, bahkan lidah Aira kini berada di mulut Aldi, dengan geram Aldi pun mengeksplor bagian dalam mulut Aira, suatu keadaan yang semakin panas, bahkan Aira mengerang menikmati cumbuan Aldi, ia pun meremas rambut Aldi.
Setelah melepas resliting yang lumayan panjang tersebut, Aldi menurun kan gaun tersebut agar bisa melucuti pakaian istrinya.
Namun seketika kegiatan mereka harus terhenti karna suara dering telpon yang terdengar di atas nakas.
"Halo" Aldi.
"Halo Di, lo tolong gue kerumah sakit sekarang Di, si Tari kritis, karna kecelakaan, gue sendirian di sini."
Tanpa pikir panjang Aldi pun sedetik itu Aldi pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
"Iya gue kesana sekarang Don." Aldi.
Aldi menutup telpon nya dan melihat kearah Aira," N**gak mungkin gue ninggalin Aira lagi, dia pasti marah dan kecewa lagi."
Aldi pun menghampiri Aira dengan tatapan sendunya, Aira mengira kali ini Aldi pasti akan meninggalkan dirinya sendiri lagi.
"Sayang ganti pakaian kamu, kita kerumah sakit sekarang."
"Kerumah sakit? siapa yang sakit Mas" tanya Aira.
"Tari mengalami kecelakaan dan keadaanya kritis, sementara orang tuanya berada di luar kota."
__ADS_1
Aira diam sejenak, " Apa mungkin mas Aldi masih mencintai mbak Tari?" tanya Aira dalam hati.
"Ayo Aira."Aldi membantu Aira melepaskan gaun nya.
Setelah itu Aira pun mengganti pakainya dengan kemeja putih tanpa lengan di padankan dengan rok mini berwarna pink cerah.
Dengan menggunakan kaus kaki sebatas mata kaki, dan sepatu kets Aira lebih mirip seperti personil girlband dari pada seorang nyonya.
Aldi juga mengganti pakaianya dengan lebih santai, hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos.
Mereka berdua turun dari tangga.
"Loh kalian mau kemana? katanya mau meeting." tanya Satria.
"Ntar aja meeting nya ada urusan yang lebih penting," ucap Aldi sambil menarik lembut tangan Aira.
Aira sebenarnya enggan untuk ikut, ada perasaan cemburu pada dirinya karna melihat Aldi yang terlihat gusar.
Aldi memang terlihat gusar, sepanjang perjalanan ia hanya diam, pada saat lampu merah dan mobil mereka terpaksa harus berhenti, Aldi malah memaki.
"Anjir, lampu merah lagi, sialan," umpat Aldi, ia pun terlihat semakin gelisah.
Melihat Aldi seperti itu timbul keraguan dalam hati Aira, tentang cinta dan kisah bahagia yang Aldi janjikan Aldi untuknya.
Apa mas Aldi hanya menginginkan tubuh ku saja, batin Aira
Karna selama menikah, Aldi tak pernah Absen dalam sehari pun, untuk tidak menyentuhnya.
Aira membuang mukanya dan hanya menatap keluar jendela, seraya menahan air mata yang perlahan menetes.
Aira mengambil nafas panjang dan coba mengaturnya, ia berusaha untuk berfikir positive.
Mereka pun sampai, Aldi berjalan sedikit laju hingga meninggalkan Aira sendiri.
Dengan langkah gontai Aira pun mengikutinya dari belakang.
Aldi langsung menuju ruang UGD, di sana ia melihat Doni dan Romeo seperti sedang memperbincangkan masaalah yang sangat serius.
Aldi terlalu galau, hingga ia lupa jika ia membawa Aira.
"Bagaimana dengan keadaan Tari Don?" tanya Aldi yang terlihat panik.
"Lo tolong gue bayar admistrasi rumah sakit dulu Di, lo tunggu di sini, gue dan Romeo mau ke bank darah." Doni.
"Ke bank darah PMI maksud loh?"
"Iya kemana saja, pihak rumah sakit sudah menghubungi PMI dan stok golongan darah O kosong, mau menunggu orang tua Tari kelamaan, mereka saja belum bisa di hubungi."
"Golongan darah O, golongan darah gue O negatif, bro," papar Aldi.
"Kok lo dan Tari bisa sama sih? padahalkan O negatif itu kan langkah," sahut Doni.
"Ya sudah lo selesai Administrasinya saja, setelah itu lo ke lab lakukan tes darah kembali." mereka pun langsung menuju kasir.
Aira berjalan lambat, langkahnya terasa semakin berat, ia pun menuju ruang IGD untuk mencari keberadaan Aldi yang meninggalanya.
Aira melewati koridor untuk sampai ke ruang Ugd, karna mereka tak masuk melalui pintu utama, sesampainya di sana ia malah bertemu dengan Romeo.
Senyum mengembang di wajah Aira ketika melihat Romeo sedang duduk di depan pintu ruang ugd, sambil mengkutak katik handphonenya.
Aira mempercepat langkahnya.
"Bang," sapa Aira ketika berada di hadapan Romeo.
Romeo langsung mendongkak kan kepalanya ketika melihat sosok yang ada di hadapanya.
"Aira!" ucap Romeo, seketika wajahnya menjadi sumringah.
__ADS_1
Romeo menarik tangan Aira agar duduk di samping nya.
Aira pun duduk di samping Romeo
Aira menyunggingkan senyum manis nya, begitu pun Romeo membalas senyum manis dari Aira.
Sejenak kemudian mereka pun sama-sana tertunduk, mereka pun menjadi canggung.
Aira dan Romeo pun hanya bisa saling melempar senyum, mereka tak tahu harus berbicara apa.
Melihat Aira saja, Romeo sudah merasa senang, rasa rindunya kini perlahan terobati.
Begitu pun Aira, mood nya yang tadi buruk, seketika berubah jadi lebih baik bahkan sangat baik.
Apalagi melihat ginsul yang tampak saat Romeo tersenyum.
Jantung nya berdetak penuh irama, sangat berbeda saat ia bersama Aldi.
"Apa kabar kamu Aira?" tanya Romeo
"Baik bang, abang sendiri bagaimana?" tanya Aira.
Romeo tersenyum, "Kalau sudah bertemu dengan kamu pasti baik lah," ucap Romeo.
Mendengar penuturan Romeo Aira pun tersipu malu.
Setelah obrolan singkat itu mereka pun kembali diam, karna tak tahu harus bertanya apalagi.
Akhirnya mereka hanya saling melempar senyuman kemudian tertunduk malu lagi.
Aduh mau ngomong apa lagi gue ya, kemaren gue rindu banget pingin ketemu dan mendengarkan suaranya, kini gilaran ada orangnya justru ngak tahu mau ngomong apa, mau bilang sayang udah jadi milik orang, mau bilang kangen sudah terlarang , masak gue mau bilang wow gitu, batin Romeo.
Aira juga tak tahu harus berkata dan bertanya apa pada Romeo, yang jelas saat itu ia merasa senang bertemu dengan Romeo.
Aldi dan Doni selesai dengan transaksi di kasir, Aldi membayar lunas biaya operasi plus biaya perawatan Tari selama di rumah sakit, nantinya setelah operasi Tari akan di pindahkan keruangan VIP, se istimewa itu kah Tari bagi seorang Aldi.
"Udah Di, kita langsung ke lab, " mereka pun menuju laboratorium untuk mengambilan sample darah.
"Eh Don, Aira mana ya?" tanya Aldi yang baru menyadari Aira tak berada bersamanya.
"Aira, dari tadi gue ngak melihat Aira."
"Tadi gue kesini bersama Aira Don, ya ampun gue sampai lupa sama istri sendiri".
"Loh gimana sih Di, palingan Aira bersama Romeo di ruang Ugd."
"Hah, sama Romeo, ngak boleh jadi, ntar bini gue diapa-apain sama dia," ucap Aldi, ia pun hendak beranjak.
"Ngak mungkin di apa-apain, ini tuh rumah sakit, ramai orang lagi, dah nama lo sudah di panggil, biar gue yang nyusul Aira." Doni pun menyusul Aira.
Benar saja, Doni melihat Aira dan Romeo sedang bercanda di depan ruang UGD.
Rasa canggung di antara Aira dan Romeo perlahan mencair, mereka pun kini bersenda gurau, dan terdengar tawa kecil keduanya.
Doni menghampiri mereka.
"Aira kamu di sini? suami mu sedang mencari kamu, malah ngobrol di sini sama Romeo."
"Lo juga Rom, di suruh jagain Tari malah ngobrol sama istri orang." ucapnya sedikit ketus.
"Habis mas Aldi yang meninggalkan Aira," sahut Aira.
"Sudah Ayo Aira ikut bang Doni," ucap Doni sambil menarik tangan Aira, agar ia bangkit.
"Aira pun bangkit, " Dah bang Romeo nanti kita sambung lagi ya ceritanya," ucap Aira.
Mendengar ucapan Aira Doni hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
*Bikin ulah apalagi nih si Romeo, udah gue bilang jangan ganggu Aira lagi, batin Doni.
Selamat membaca para reader di tunggu like, komen, vote dah hadiahnya ya, dukungan kamu sangat bearti bagi author*