
Sore harinya Ghael menunggu Alia keluar.
Seikat kembang, sudah berada di genggamannya, sepertinya Ghael harus berdamai dengan keadaan untuk merebut hati Alia.
Alia keluar dari mobilnya dan menghampiri Ghael.
"Aku bawa kembang ini untuk mu," ucap Ghael seraya tersenyum manis ke arah Alia.
"Terima kasih ," jawab Alia datar, ia pun meraih buket yang di bawa Ghael.
Ghael membuka kan pintu untuk Alia ia pun masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana sayang?"tanya Ghael seraya melirik ke arah Alia.
"Jangan panggil aku seperti itu Bang," ucap Alia ketus karna merasa keberatan di panggil dengan sebutan sayang.
"Maaf," ucap Ghael.
"Kita kerumah Bagas, dia sedang sakit," ucap Alia tanpa menoleh kearah Ghael.
"Iya sayang," sahut Ghael
Alia melirik kearah Ghael yang tersenyum simpul sedang melirik ke arahnya.
Kantor Alia dan rumah Bagas memang tak terlalu jauh, selama di perjalanan keduanya hanya bungkam.
"Berhenti Bang," ucap Alia tiba-tiba ketika melihat penjual bubur ayam, ia pun bermaksud untuk singgah membelinya untuk Bagas.
Alia turun begitupun Ghael.
Setelah membungkus makanannya, keduanya kembali masuk ke dalam mobil.
Lagi-lagi keadaan tetap hening.
Beberapa saat di perjalanan mereka pun sampai di rumah Bagas.
Ghael memakir mobilnya di bahu jalan di depan rumah Bagas.
Alia, melepas seatbelt nya, "Mau ikut turun Bang?"tanyanya.
Ghael menggangguk, ia pun membuka pintu mobil untuk keluar.
Kebetulan Nina saat itu berada di halaman rumanya sedang menyapu.
Melihat kedatangan Alia, ia pun tersenyum.
Alia mendekat kearah Nina seraya tersenyum.
"Bagaimana keadaan Bagas Bu?"tanya Alia.
"Ehm, sudah mendingan, sekarang ia sedang tidur, karna kemaren malam, Bagas tak bisa tidur, katanya tangannya seperti terbakar," papar Nina sedih.
Alia ikut sedih mendengar penuturan Nina.
Ghael menyeritkan dahi menyimak obrolan mereka, sejauh ini ia belum bisa menangkap apa sebenarnya yang terjadi pada Bagas.
"Ayo masuk Nak, Bagas pasti senang dengan kedatangan kamu," ucap Nina seraya menekan handle pintu membuka pintu.
"Biar saja Bagas tidur Bu, jangan di bangunkan."Alia.
Ia pun mendarat kan bokongnya pada kursi yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Silahkan duduk, ibu buatkan minuman dulu," ucap Nina.
"Ngak usah repot Bu, kami kesini untuk menjenguk Bagas," ucap Alia.
"Tak apa duduk dan minumlah dulu sambil menunggu Bagas bangun," ucap Nina ia pun masuk menuju dapur
"Apa yang terjadi pada Bagas Alia?"tanya Ghael seraya menatap Alia.
"Bagas menghapus tattonya Bang dengan menggunakan laser, hingga lengannya terjadi peradangan dan membengkak," papar Alia.
Ghael terdiam tak tahu harus berkata apa, tapi ia yakin jika Bagas melakukan hal tersebut karna Alia.
Alia sudah tak tahan untuk menunggu lebih lama hingga Bagas terbangun.
Ia pun berdiri kemudian berjalan menghampiri Nina.
"Bu, boleh saya lihat Bagas di kamarnya?"tanya Alia dengan sedikit berbisik.
"Silahkan Nak, masuk saja, kamar Bagas ngak di kunci, tadi malam ibu tidur di sampingnya untuk menjaga Bagas, karna semalam badannya panas tapi ia malah menggigil," papar Nina.
"Bagas, " ucap Alia lirih, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Bagas.
Nina mengantar Alia menuju kamar Bagas.
Sesampainya di kamar, Alia melihat wajah Bagas yang memerah dengan mata yang tertutup rapat.
Tes tes tetes air mata Alia mulai jatuh tertahan di dagunya.
"Bagas," ucapnya sangat lirih.
Alia merebahkan bokongnya di atas tempat tidur dengan pelan, telapak tanganya menyentuh permukaan kening Bagas.
Alia mengusap rambut Bagas dengan segenap perasaannya, ia begitu iba melihat keadaan Bagas seperti itu.
Bulir bening perlahan menetes di pipinya.
Bagaimana caranya aku mengatakannya pada Bagas, melihatnya seperti ini aku semakin tak tega.
Bagas mengeliat karna merasakan sentuhan dari Alia, ia pun membuka matanya dengan perlahan.
Senyum langsung terkembang di wajah Bagas ketika melihat Alia.
"Sayang kau sudah datang?" ucap Bagas penuh semangat.
"Iya Gas, Bagaimana keadaan mu?"tanya Alia lirih.
"Aku baik-baik saja sayang," ucapnya mencoba untuk bangkit.
"Ehm, jangan bergerak sayang, kau istirahat saja."Alia menahan tubuh Bagas agar tak bangkit.
"Ehm kalau begitu mendekatlah Sayang, aku rindu sama kamu," ucap Bagas lirih.
Alia mendekat, duduk diatas tempat tidurnya.
"Sayang boleh aku nerebahkan kepala ku di pangkuanmu?"tanya Bagas lirih.
Ehm, Alia hanya mengangguk, ia berusaha menahan air matanya ketika melihat luka seperti terbakar pada lengan Bagas.
Ya Tuhan Bagas pasti menderita, tanganya melepuh tubuhnya terasa panas sekali.
Alia menghapus titik air matanya seraya mengusap lembut kepala Bagas yang berada di pangkuannya.
__ADS_1
Bagas menarik tangan Alia kemudian mencium punggung tangganya.
"Sayang suhu tubuh kamu panas sekali, kau sudah minum obat?"tanya Alia.
"Ehm,belum sayang, aku menunggu mu," jawab Bagas seraya meletakan telapak tangan Alia di pipinya.
"Kenapa kau harus menunggu aku untuk minum obat?" Alia masih mengusap kepala Bagas.
Bagas tersenyum, "Karna kalaulah penawar rasa sakit dan pahit yang aku rasakan," ucap Bagas.
Alia terenyuh bulir bening kembali menetes kan air matanya,ia hanya bisa terdiam seraya mengusap kepala dan rambut Bagas, sementara pikirannya melayang jauh.
"Sayang!"panggil Bagas namun Alia tak menjawaba.
"Sayang!" Bagas mengulanginya lagi.
Alia tersadar," Hm ada apa sayang?"tanya Alia lirih.
"Sayang, aku sudah minta pada ayahku untuk melamar mu setelah aku sembuh."
Deg, Jantung Alia berdetak kencang dengan aliran darah yang melesat cepat.
Alia terbungkam tak mampu berucap.
Bagas kembali melanjutkan pembicaraannya.
" Dia juga akan mengatas namakan sebuah perusahaan kontraktor miliknya atas nama ku , dengan demikian aku bisa meyakinkan orang tuamu jika aku mampu untuk menafkahimu secara layak, aku akan bekerja keras agar aku bisa buktikan pada mereka, jika mereka tak salah memilihku sebagai menantu," ucap Bagas seraya mencium punggung tangan Alia.
Bagas tersenyum dengan bahagia, akhirnya satatus sosial tak lagi menjadi penghalang cinta mereka untuk bersatu.
Sementara Alia merasa seperti tercabik-cabik hatinya mendengar penuturan Bagas, seketika ia pun menangis tergugu mendengar ucapan Bagas.
Hiks hiks air mata Alia meluncur jatuh dan menetes di pipi Bagas, Bagas pun langsung menoleh ke arah Alia.
"Sayang kenapa kau menangis?"tanya Bagas yang menyentuh pipi Alia dengan telapak tangannya.
Ia pun bangkit dengan susah payah untuk duduk di samping Alia.
Hiks hiks, tubuh Alia terguncang, ia semakin tak kuasa untuk mengatakan hal sebenarnya pada Bagas.
Bagas menahan sakit pada lenganya akibat gerakannya yang tiba-tiba.
Dengan segenap perasaan ia merangkul Alia," Sayang kenapa kau menangus?," tanya Bagas yang merangkulnya dari arah samping seraya mengusap rambut panjang Alia.
Hiks hiks hiks beberapa saat tak ada jawaban dari Alia, yang terdengar hanya isak tangisnya.
"Cup cup cup,.kau pasti masih menghkawatirkan ku ya?"tanya Bagas
"Sudalah sayang aku tak apa-apa," ucap Bagas sambil mengecup pucuk kepala Alia.
Alia menangis semakin jadi,ia tak tahu apa yang terjadi seandainya Bagas tahu jika ia telah di jodohkan dengan Ghael.
Bagas melepaskan pelukannya kemudian mendongkakkan sedikit kepala Alia agar ia bisa menghapus air mata Alia.
"Sudah lah sayang, bukannya kau disini datang untuk menghibur ku, kalau kau menangis aku juga ikut sedih,"papar Bagas.
"Iya sayang aku mengkhawatirkan mu,"ucap Alia lirih dengan suara serak dan parau karna menangis.
Ya Tuhan aoa yang haruskah aku lakukan?apakah aku harus memutuskan hubungan ku dengan Bagas saat ini, atau mempertahankan hubungan ini dan membujuk orang tuaku kembali?
Bersambung, aha mumpung hari senin ada yang mau menyumbang vote untuk karya receh author ini?"
__ADS_1