
Aira merebahkan dirinya di atas tempat tidur, sudah setengah jam ia menunggu Aldi, namun Aldi tak kunjung datang.
Aira membolak-balikan tubuhnya di atas tempat tidur, tatapan matanya mengedar melihat sekeliling kamar tersebut.
"Mas Aldi kemana ya?" Gumanya, ia pun bangkit dan bermaksud untuk mencari Aldi.
"Mas, Mas Aldi!" Seru Aira seraya turun dari lantai atas.
"Ehm mbak Meli, kamu lihat suami saya?"tanya Aira.
"Iya Bu, bapak ada di kamar nyonya Rita." Meli.
"Ehm ya sudah, terima kasih ya."
"Sama-sama Bu, saya permisi," ujarnya seraya berlalu dari Aira.
"Mas Aldi di kamar Mama, ya sudahlah aku tidur duluan saja," gumannya.
Aira kembali ke kamar nya dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur empuknya.
Beberapa kali sudah ia membolak balikan tubuhnya namun matanya enggan terpejam, ia sudah terbiasa tidur dalam dekapan Aldi, rasanya ada yang kurang dalam dirinya jika tak menghirup aroma tubuh suaminya yang memabukan itu.
Aira kembali menata bantal agar kepalanya lebih tinggi dari tubuhnya, ia coba menutup mata namun tak juga bisa, sudah dua jam ia menunggu, namun Aldi tak juga kunjung datang.
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, Aira terus saja di landa gelisah, karna meski mengantuk namun matanya tak juga mampu terlelap.
"Akh, mas Aldi ngapain sih, sudah malam gini belum juga kembali ke kamar,"dengusnya.
Ia pun menarik Teddy boneka beruangnya dan menjadikannya bantal guling pengganti Aldi.
Perlahan mata Aira semakin sayup dan tepat pukul sebelas malam ia pun terlelap dengan sendirinya.
***
Aldi merasa gelisah, karna Rita tak membiarkan nya untuk keluar dari kamar itu, tak ingin melihat Rita marah, ia pun terpaksa meladeni obrolan Rita yang terkesan ngaco tersebut.
Tak ada hal yang penting yang di bicarakan Rita kepadanya.
Hanya kisah pertemuannya dengan Satria yang sudah Aldi dengar puluhan kalinya, bahkan sejak ia masih kecil.
Rita terus mengoceh, hingga tepat pukul dua belas malam, Rita belum juga tertidur.
__ADS_1
"Ma, besok lagi ya ceritanya, Aldi ngantuk Ma,"keluh Aldi seraya mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Nanti dulu Aldi, mama belum selesai bercerita, kamu dengarkan dulu Mama sampai selesai cerita, "
"Ma, kalau nunggu mama selesai cerita, ngak bakalan selesai ceritanya, Mama tuh ngulang-ngulang ceritanya,
Aldi ngantuk Ma, Aldi mau tidur." Aldi menggerutu, ia sudah sedikit tersulut emosi.
"Sudah sekarang Mama tidur, Aldi temani Mama sampai mama tidur," bujuknya, karna melihat wajah Rita yang sedikit cemberut.
Aldi berusaha menahan rasa kantuknya, beberapa kali ia menguap dengan mata yang memerah.
Aldi melirik jam tangannya, malam semakin larut petunjuk waktu tersebut, tepat berada pukul satu dini hari.
Rita sudah terlelap, dengan sempoyongan karna menahan kantuk, Aldi menapaki tangga untuk sampai di kamar istrinya.
Krek pintu terbuka, mata Aldi seolah kembali segar saat melihat tubuh mulus sang istri terekspose karna menggunakan gaun tidur yang transparan.
"Ah kalau lihat yang begini aja mata jadi seger." gumannya.
Aldi membuka seluruh pakain yang menutupi tubuhnya, ia pun mendekati tubuh Aira yang tidur miring ke kanan.
Dengan lembut ia menyapu bagian pa*ha Aira sementara bibirnya mendaratkan kecupan di ceruk leher sang istri.
Tanpa basa-basi Aldi menarik pelan tubuh sang istri hingga membuat Aira berada dalam posisi terlentang.
Aldi menindih setengah dari tubuh istrinya mulai dari perut bagian atas, wajahnya langsung masuk kedalam ceruk leher sang istri sementara tanganya mere*mas pelan bukit kenyal tersebut.
Ehm, mas Aldi Aira ngantuk," gumanya seraya menepis tangan Aldi yang mere*mas bukit miliknya.
"Sayang! Mas Aldi kangen, bisiknya di telinga Aira, ia pun mendaratkan kecupan pada pipi dan bibir Aira secara terus menerus tak berhenti hingga Aira yang menyerah, kemudian membuka matanya.
Aira tersenyum saat membuka matanya, ia melihat tatapan mata Aldi yang begitu menginginkannya.
Aira menarik tubuh Aldi.di atas tubuhnya,.dengan lembut ia membalas pangutan mesra sang suami.
Bibir mereka mulai bertaut, saling memangut dan mengulum dengan pelan.
Tangan Aldi perlahan mulai merayap melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh sang istri.
Akh, es, Aira mendesah seraya menggigit bibir bagian bawahnya ketika Aldi menghisap secara rakus bukitnya sementara tanganya meremas pada bagian bukit yang lain.
__ADS_1
Aira memejamkan matanya menikmati sentuhan yang merenggangkan bulu romanya, wajah Aldi perlahan turun hingga perut bagian bawanya.
Aldi mengecup bagian tersebut beberapa kali seraya berbicara dengan sedikit berbisik pada janin mereka.
"Sayang cepat besar ya, ayah sudah tak sabar melihat kamu terlahir didunia,"ucap Aldi sambil mencium kembali perut Aira.
Aira melirik kearah bagian tubuhnya, ia merasakan sentuhan lembut Aldi yang penuh cinta terhadap calon buah hati mereka.
"Sekarang Ayah jenguk dulu ya, kamu jangan nakal nya, diam diam saja disana, ayah mau suntik vitamin buat mu dan ibu mu," Aldi bermonolog.
Aira tersenyum melihat kebahagian Aldi.
Wajah Aldi kembali mendekat kearah wajah Aira, dengan lembut ia mendaratkan kecupan di kening sang istri, sebelum memasukan si buyung dalam goa sempit tersebut.
Aldi membuka selan*kangan Aira dengan lebar, sebelum memulai pertarungan, ia memaikan biji kecambah sang istri dan menggetarkanya.
Tubuh Aira mengeliat-liat menahan rasa, beberapa kali ia men*desah merasakan sensasi nikmat yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Setelah merasakan goa tersebut sudah licin akibat ransanganya, barulah Aldi memasukan si buyung dengan perlahan.
Akh, desa*han itu lolos begitu saja dari mulut Aldi ketika merasakan kehangatan yang berdenyut-denyut seolah mencengram si buyung.
Aldi bergerak perlahan di atas tubuh istrinya, dengan gerakan pelan dan teratur.
Bibirnya melahap dengan ganas bibir sang istri.
"Sayang! Ehm nikmat sekali," ucap Aldi seraya tetap memompa pergerakan sibuyung yang keluar masuk.
"Akh, ehm, sayang mas boleh minta dua ronde ya?"tanya nya seraya menikmati permainannya sendiri.
Mata Aira merem melek menikmati gerakan sibuyung yang keluar masuk di dalam goa sempit miliknya.
"Ehm,.iya Mas," sahut Aira dengan suara yang mendes*sah,.Aldi sedikit mempercepat permainan nya, si buyung sudah tak tahan dan ingin segera menumpahkan isi pelurunya.
Aldi menghentak hentak pelan, menggoyang pertahan lawan, denga satu hentakan kuat, si buyung berhasil menembak kan pelurunya tepat sasaran,satu lengkuhan panjang terdengar serempak keluar dari mulut keduanya.
Aldi segera menumbangkan tubuhnya di sisi samping Aira, ia pun segera merangkul tubuh sang istri.
Matanya yang terasa berat kini menjadi segar, seiring peluh yang keluar membasahi sekujur tubuhnya.
Setelah mengatur napas hingga teratur,.Aldi kembali mengecup bibir sang istri,.seraya naik kembali diatas tubuh istrinya, mereka kembali melakukan pertempuran berburu pun*cak kenikmatan.
__ADS_1
He he bersambung, hari ini author crazy up loh