Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kabar Bahagia


__ADS_3

Setelah memuntahkan isi perutnya Alia merasa lemas, Ghael yang tak mengerti dengan situasi tersebut pun menjadi panik.


"Sayang kamu ngak apa-apa ?" tanya Ghael.


"Ngak apa Bang! tenang saja," sahut Aira yang melihat Ghael terlihat panik.


"Ngak apa gimana Bunda? wajahnya Alia pucat seperti itu?"


"Ehm, Ya sudah Bang kita bawa kakak ke klinik saja," usul Aira.


"Iya Bunda," jawab Ghael.


"Ayo sayang," ucap Ghael sambil merangkul sang istri.


***


Di dalam mobil


Alia merebahkan kepalanya ke dada bidang sang suami, sementara Ghael membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, sesekali ia mengecup pucuk kepala sang istri.


"Masih mual Sayang?"tanya Ghael.


Ehm,Alia mengangguk.


Alia mengulum permen agar tak merasa mual, sementara kedua pasutri yang duduk di depan saling melempar senyum.


Sebenarnya mereka sudah tahu tetang keadaan Alia, kepergian mereka ke klinik hanya untuk memastikan saja, jika dugaan mereka tersebut emang benar.


Mereka pun sampai di depan klinik.


Ghael menuntun sang istri yang terlihat lemah menuju ruang tunggu, sementara Aira dan Aldi melakukan pendaftaran.


Ghael kaget ketika melihat Aira yang mendaftarkan Alia pada poli kebidanan.


"Bunda apa Alia hamil?"tanya Ghael yang begitu terlihat bahagia.


Aira tersenyum, "Semoga positif saja Bang, Bunda juga ngak sabar untuk menimang cucuk."


"Iya kan Yah?"tanyanya pada Aldi dengan senyum bahagia.


"Iya Dong, sudah lama sekali di rumah tak terdengar suara tangis bayi," sahut Aldi yang juga bahagia.


"Aamin semoga saja. mama sama papa pasti bahagia mendengar kabar ini," ucap Ghael sambil memeluk mesra sang istri.


Ghael semakin protetive menjaga istrinya.


"Sayang semoga saja kamu positive hamil, ujarnya seraya menarik tangan Alia kemudian mencium punggung tangannya.


"Ehm, kalau Alia hamil, Abang mau kasih Alia apa?" tanya Alia sambil mendongkak kan kepalanya karna saat itu ia tengah bersandar pada dada bidang Ghael.


"Apa saja Abang berikan, semampu Abang," ucapnya dengan menatap Alia berbinar.


Keduanya pun semakin erat memeluk seraya tersenyum bahagia.


Kebetulan saat itu masih pagi dan tak ada antrian yang terjadi di rumah klinik tersenut.


Mereka berempat pun masuk menemui bidan untuk periksa.


"Siapa yang mau periksa?"tanya bidan seraya melirik Alia dan Aira bergantian.


Meski umur Aira sudah empat puluh tahun tapi ia masih terlihat cantik dan segar, tak ada yang menyangka jika Alia adalah putrinya, kedua pasangan tersebut memang terlihat awet muda dan selalu mesra.


Ghael menuntun sang istri untuk duduk di hadapan bidan.


"Ada keluhan?"tanya Bidan pada Alia.


"Mual dan muntah saja Bu," jawab Alia.


"Kapan haid terakhirnya?"tanya Bidan.


"Enam minggu yang lalu,"jawab Alia.


"Ok kita tes urine saja. Silahkan masuk ke dalam ruangan" Bidan.


Alia pun ikut.


Aldi dan Aira saling melempar senyum mereka merasa deg-degan.

__ADS_1


Begitu pun Ghael, besar harapanya sang istri segera hamil, seperti harapan keluarga besarnya.


Beberapa saat kemudian Alia keluar, dengan senyum manis terukir di bibirnya.


Begitupun bidan yang memeriksanya.


"Alhamdullilah, istri anda positive mengandung, sekitar empat minggu," ucap Bidan tersebut.


"Alhamdullilah!" seru mereka semua bahagia menyambut berita baik tersebut.


"Minum vitamin E dan vitamin penambah darah ya, perbanyak istirahat dan dengan pola makan seimbang." ucap bidan tersebut sambil menyodorkan beberapa vitamin untuk Alia.


"Iya Bu, terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama."


Mereka pun keluar dengan perasaan bahagianya.


Sebelum masuk mobil, Alia kembali merasa mual, ia pun mencari tempat yang sedikit jauh dan tersembunyi untuk memuntahkan isi perutnya.


Uek, Uek.


Ketiga orang tersebut pun berlari menghampiri Alia.


Seketika tubuhnya terasa lemas.


Alia terkulai dalam rangkulan Ghael.


Mereka pun merasa iba melihat keadaan Alia.


"Bunda bagaimana ini? apa kita bawa Alia ke klinik saja? kalau begini ia bisa dehidrasi Bunda," usul Ghael yang terlihat panik.


Alia dan Aldi pun saling memandang.


"Tapi memang prosesnya seperti ituBang! di rumah sakit paling di infus," sahut Aira.


"Tapi setidaknya ia ngak lemas Bun, Abang ngak tega lihat Alia seperti ini,"Ghael.


"Ehm, ya sudahlah Bang, tanya Kakak mau ngak di rawat di rumah sakit." Aira.


"Sayang kamu mau ya di rawat di rumah sakit?"tanya Ghael.


"Ehm Ya sudahlah."Ghael pasrah.


Mereka pun masuk ke dalam mobil.


Alia bersandar pada pundak Ghael.


"Bang hari ini Abang ngak usah ke kantor ya? pinta Alia dengan manja.


Ghael tersenyum seraya melirik Aldi.


"Tergantung sama Ayah bos, di beri ijin ngak? " sindir Ghael pada Aldi.


Aira dan Aldi pun tersenyum.


"Iya, untuk anak Ayah apa sih yang ngak, Abang jaga Alia saja Bang, Anak dan calon cucu Ayah lebih penting dari apa pun," sahut Aldi.


"Ehm, enaknya jadi orang hamil, di manja sama suami, ayah dan bunda," cetus Alua setaya tersenyum.


"Ehm, dari dulu kamu juga selalu kami manja Alia, asal kamu nurut apapun akan ayah lakukan untuk kamu," ucap Aldi.


Alia semakin mengelayut manja pada suaminya.


***


Seminggu sudah sejak berita kehamilan Alia.


Ghael sebagai seorang suami selalu berhati-hati menjaga istrinya, hingga saking takutnya terjadi sesuatu pada kandungan Alia dalam seminggu ini, ia rela puasa dan tak menyentuh Alia.


Alia terbaring menggenakan lingeri, sudah seminggu ia tak di sentuh oleh sang suami, rasa rindunya untuk melakukan penyatuan pun mengusik pikirannya, apalagi ketika memnayangkan kehangatan dan keperkasaan sang suami di atas ranjang, membuatnya menjadi candu, namun Alia tak mau jika meminta terlebih dahlu pada Ghael.


Akhirnya ia pun menggunakan kode-kode untuk memancing Ghael agar menyentuhnya, Alia berdandan tipis sebelum tidur namun membuatnya terlihat tetap cantik, begitu pun pakaian yang ia kenakan begitu mini dan hampir transparant.


Saat ini Ghael tengah berada di kamar mandi, karna kesibukannya mengurus pabrik, Ghael terkadang pulang setelah matahari terbenam.


Alia berbaring di atas tempat tidur dengan posisi menantang, tak lama setelah itu Ghael keluar hanya dengan menggunakan handuk yang di lilit ke pinggangnya.

__ADS_1


Dada bidang dengan kulit putih mulus dan perut yang berbentuk kotak-kotak semakin membuat Alia semakin resah.


Hasratnya terbakar seketika, melihat sang suami terlihat lebih macho dengan rambut basahnya.


Berkali-kali ia menelan salivanya karna teringat bagaimana sang suami menunjukan keperkasaannya saat berada di atas ranjang.


Tanpa menunggu Alia pun menyeru untuk memancing suaminya.


"Abang!" seru Alia lirih dengan suara manja menggoda.


Saat itu Ghael berdiri di depan lemari pakaian, ia pun menoleh kearah Alia yang memanggilnya.


"Ada apa sayang ?"tanya Ghael ia pun menghampiri Alia.


"Abang duduk sini," ucap Alia menepak tempat tidur.


Ghael duduk di atas tempat tidurnya, Alia pun merebah kan kepalanya pada pangkuan Ghael.


Seperti kucing bunting, Alia meliuk liukan tubuhnya berharap sang suami mengerti tanpa harus ia mengaatakannya.


Ghael mengelus kepala dan rambut Alia.


"Abang! Apa abang sudah bosan ya sama aku?"tanyanya dengan nada manja.


Ghael tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Mana mungkin Abang bosan Sayang, justru Abang makin sayang dan cinta sama kamu, " ucap Ghael seraya membelai rambut panjang Alia.


"Ehm, kalau gitu kenapa Abang ngak pernah nyentuh Alia lagi?"tanyanya sambil mengkerucutkan bibirnya.


Ghael tersenyum," Abang hanya takut terjadi sesuatu pada kamu Alia dan kandungan kamu Sayang," sahut Ghael.


Mendengar jawaban tersebut, Alia menarik kepalanya kemudia ia tidur di sisi lain tempat tidur, dengan gerakan cepat ia pun berbaring membelakangi sang suami.


Ghael tahu jika istrinya itu tengah ngambek.


Dengan perlahan ia pun berbaring di samping Alia untuk membujuknya.


"Tapi Abang kangen, bisiknya seraya menyapu lembut permukaan tubuh Alia.


Napas Ghael berhembus harum masuk ke rongga penciuman Alia.


Membuatnya semakin terbakar gairah,


Ghael membalikan tubuh Alia, kemudian mencium ceruk lehernya.


Alia merasa senang, ia pun mencium dan menyesap leher Ghael memberinya tanda.


Keduanya pun saling menatap penuh damba.


Ghael menyentuh lembut bibir Alia, namun di sambar ganas olehnya, bibir mereka saling bertaut hingga terdengar decapan-decapan silih berganti.


Alia merem melek saat Ghael menggesek-gesekan tongkat Saktinya pada selangkan*gan pahanya.


Keadaan makin panas ketika Ghael melucuti gaun yang menutupi tubuh sang istri, kemudian menyesap salah satu bukit kembarnya dan memainkan lidahnya.


Tubuh Alia seperti tersetrum meliuk-liuk manja.


"Akh! lengkuhnya.


"Bang ,Alia tak tahan, " gumannya seraya menarik handuk yang menutupi tongkat sakti milik Ghael.


Keduanya sudah sama-sama terbuai, pertempuran sengit pun terjadi tanpa bisa di hindarkan.


Gerakan Ghael yang cepat membuat tubuh Alia berguncang, seraya menjerit-jerit tertahan.


Akh ehm esh.


Ranjang yang mereka gunakan berguncang seperti terjadi gempa lokal.


Keringat perlahan mengucur di detik-detik akhir pertempuran, setengah jam memacu kuda liar di dalam goa sempit yang dangkal milik sang istri, akhirnya satu hentakan terakhir membuat keduanya melengkuh panjang.


Akh!


Tubuh Ghael ambruk di atas tubuh.sang istri, beberapa menit mengatur napas Ghael menatap wajahnya kearah Alia.


"Terima kasih sayang," ucapnya sambil menatap dengan tatapan berembun


Iya abang, Alia bahagia melayani Abang," ucap Alia, ia pun memeluk Ghael seraya menyapu sisa-sisa keringat di tubuh suaminya.

__ADS_1


Keduanya pun tersenyum saling menatap bahagia, kemudian saling memeluk hingga keduanya terlelap di buai mimpi.


Bersambung, maaf ya author belum bisa up banyak, jaga kesehatan ya reader tersayang semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa, saksikan terus kisah ini sampai tamat, terima kasih


__ADS_2