
Sore hari nya Bagas sudah mandi dan bersiap, semprotan minyak wangi menghambur memenuhi ruang kamarnya.
Bagas melihat penampilanya di depan cermin, mengkoreksi sesuatu yang kurang dari penampilanya untuk saat itu.
Berkali-kali ia menyisir rambutnya dan menggantinya dengan model yang berbeda.
Nina tersenyum-senyum melihat tingkah Bagas saat itu, dibalik pintu kamar Bagas ia mengintip dan memperhatikan kelakuan putranya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Setelah selesai berdandan Bagas mengenakan Blazer hitam-nya agar terlihat lebih modis.
Setelah selesai dan yakin dengan penampilannya, Bagas keluar dari kamar, Nina yang tadinya mengintip menjauh agar putranya tersebut tak mengetahui jika dirinya menguntip.
Bagas keluar membawa helmnya.
" Bagas, kamu mau kemana? bukannya kamu lagi sakit?"tanya Nina.
"Biasa Bu, ini juga mau ketemu obatnya," sahutnya.
"Tapi kamu ngak macam-macam lagi kan Nak?"Nina.
"Ngak Bu, Bagas cuma ketemu Alia," ucap Bagas.
"Oh jadi namanya Alia? Ehm."
"Sudah Bu, Bagas pergi dulu, nanti Alia keburu pulang," ucap Bagas memohon ijin.
"Iya, Bagas kamu hati-hati jangan keluyuran lagi!"
"Iya Bu!" Bagas menuju motornya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Bagas merogoh saku celananya dan menarik selembar uang.
"Yah, cuma lima puluh ribu, mau beli setangkai bunga juga ngak cukup, beli apaan yah? minta sama Ayah pasti di tanya lagi untuk apa," gumannya.
"Beliin dia coklat saja lah, dari pada tangan kosong."
Bagas menuju supermarket di depan tempat Alia bekerja, ia pun membeli coklat dengan merek ratu silver, "Masih sisa belasan ribu nih, ngak cukup juga buat beli sebungkus rokok,"
"Sepertinya jatah rokok akan berkurang kalau sudah punya pacar, pantesan temen gue jatuh miskin sejak punya pacar."
Bagas pun kembali ke motornya, dan menuju seberang untuk menemui Alia..
***
Waktu berlalu sudah beberapa hari Alia tak mendapat kabar Bagas, ingin menelpon namun ia sungkan.
Ada rasa khawatir di hatinya karna biasanya setiap ia pulang kerja Bagas selalu menghampirinya.
Alia rindu akan senyum menawannya, mungkin itu juga Alia seperti tak bersemangat di tempat kerjanya.
"Kenapa Bagas tak menelpon ku? Tak juga menghampiri Ku, Apa Bagas sudah melupakan ku? Atau dia sudah bosan?" guman Alia.
Ia pun mengemasi barang-barangnya karna sebentar lagi ia akan pulang.
Alia masih berharap jika Bagas menemuinya seperti hari hari sebelumnya.
Setelah selesai, Alia keluar dari kantornya dan mendapati Ghael yang menjemputnya.
__ADS_1
Saat yang bersamaan Bagas yang baru saja pulih juga menghampiri Alia.
Alia mendekat ke arah Ghael.
"Bang kenapa Abang yang jemput?"tanya Alia.
"Loh kamu ngak senang ya Abang yang jemput? Abang mau ngajak kamu ke suatu tempat," Ghael pun membuka pintu mobil untuk Alia.
Brum motor Bagas berhenti tak jauh dari keduanya Berdiri.
"Bagas!"ucap Alia senang.
Alia mendekat kearah Bagas.
Bagas membuka helmnya dan terliat wajahnya yang masih pucat.
Ghael melihat ke arah Bagas.
"Bagas," ucap Ghael lirih.
Bagas pun melihat ke arah Ghael dan kaget, ternyata Ghael rivalnya sekolah dulu.
Mereka pun saling menatap tajam.
"Bagas kamu sakit?"tanya Alia yang langsung mengalih kan pandangan Bagas dari menatap Ghael kembali menatap Alia.
" Iya tiga hari ini aku sakit," jawab Bagas dengan insecure karna di tatap dengan tajam oleh Ghael.
"Kenapa kamu ngak telpon aku sih, aku kan bisa jenguk kamu," ucap Alia.
"Aku ngak mau merepotkan kan kamu," ucap Bagas seraya tersenyum.
Ghael terlihat tak senang ketika melihat Alia yang terlihat malu di tatap oleh Bagas.
"Eh Alia aku punya sesuatu untuk kamu,"
ucap Bagas sambil menyodorkan dua batang coklat kepada Alia.
Alia terlihat senang, ia pun meraih coklat tersebut.
"Terima kasih ya, Bagas," ucap Alia.
"Semoga kamu ngak menilai dari harganya," ucap Bagas.
"Ngak kok, terima kasih ya," ucap Alia kembali.
Ghael langsung menghampiri Alia dan menarik tangannya.
"Alia ayo kita pulang."Ghael.
"Tapi Bang_" Alia keberatan, namun ia tak bisa menolak Ghael.
"Sudah, kita pulang sekarang," ucap Ghael dengan sedikit memaksa.
"Iya Bang, Alia bisa jalan sendiri, " ucap Alia melepaskan genggaman Ghael.
"Bagas! aku pulang dulu ya, nanti kita ngobrol lagi." Alia.
Bagas menggangguk, ia merasa kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Alia mengikuti Ghael yang kembali menarik tangannya, tapi matanya terus menatap ke arah Bagas.
Alia tak tega meninggalkan Bagas begitu saja, apalagi sepertinya Bagas bela-belain menemuinya meski ia baru saja sembuh dari sakit.
Ghael membuka pintu mobil dan menyuruh Alia untuk masuk.
Setelah membuka pintu mobil sisi yang lainya Ghael kembali masuk mobil dan segera pergi dari sana.
Bagas terdiam melihat kepergian keduanya.
Jadi Alia itu sepupunya Ghael, gadis kecil yang dulu sering aku gangguin, pantas saja aku merasa tak asing dengan wajahnya.
"Jika Alia memang sepupunya Ghael,itu bearti Alia itu anak seorang pengusaha sukses yang merupakan teman ayahku."
Bagas coba mengingat-ngingat sesuatu tentang Alia yang ia ketahui.
Didalam mobil Alia terlihat cemberut sesekali ia melirik ke arah Ghael yang fokus menyetir.
"Alia, kamu jangan dekat-dekat dengan Bagas! Dia itu anak brengsek Alia. Abang kenal betul siapa dia, dia itu anak lelaki yang sering mengganggu kamu dulu," ucap Ghael menyakinkan Alia, ia pun melirik kearah Alia yang masih tampak cemberut.
"Tapi Bang itukan waktu kita masih kecil dan aku yakin dia sudah berubah kok,." dengus Alia, ia pun menyilangkan tangannya ke arah dada.
"Alia sebelum kamu terlalu larut dalam perasaan kamu sebaiknya kamu jauhin dia!"
"Bagas itu sering bikin onar, Abang ngak mau kamu di manfaatin oleh dia, lagi pula kamu bisa dapat lelaki yang lebih baik dari dia, kamu terlalu polos Alia! kamu ngak tahu seperti apa dia! pokoknya Abang ngak setuju kamu dekat-dekat dengan dia!" pungkas Ghael.
Ghael terlihat kesal begitu pun Alia.
Matanya melirik ke arah Ghael dengan sinis.
Melihat Alia yang terlihat ngambek, Ghael pun menjangkau kepalanya.
"Alia abang itu sayang sama kamu dan ngak mau kamu bergaul dengan anak-anak yang tidak benar, nanti kamu bisa ikut-ikutan lagi."
Alia tetap ngambek, bibirnya mengkerucut ia pun membuang wajahnya ke arah lain.
Melihat hal itu, Ghael kembali membujuknya.
"Sudahlah kita nonton yuk," ajak Ghael yang coba membujuk Alia.
Alia awalnya menolak, namun Ghael terus membujuk dan menggodanya.
"Ayolah Alia, kita baru bertemu setelah lima tahun, apa kamu ngak mau menemani abang?" bujuk Ghael.
"Iya baiklah, tapi ajak Alita ya Bang," usul Alia.
Karna meski mereka saudara sepupu ia tak ingin berduan saja bersama Ghael demi menjaga perasaan sahabatnya tersebut.
Sebaliknya Ghael justru ingin berduaan saja dengannya.
Ghael diam sejenak,"Ya sudah kita jemput Alita.
" Ok Aku telpon dia dulu Bang," Alia merogoh tasnya mencari keberadaan hand phonenya.
Alia menelpon untuk memberi tahu Alita jika mereka sedang di perjalanan untuk menjemputnya.
Wajah Ghael menjadi cemberut, entah perasaan apa yang ada di hatinya saat itu.
Bersambung.
__ADS_1