
Prosesi sungkeman berlanjut, setelah memohon restu kini keduanya memohon doa dan keridhoan kepada mertua mereka masing-masing.
Ghael kini berada di hadapan Aira dengan berlutut,"Bunda Abang mohon doa dan restu kepada Bunda, jika Abang melakukan kesalahan atau tak sengaja menyakiti Alia, Abang mohon agar bunda mengingatkan Abang, menuntun dan menasehati Abang. Dan jika ada salah dalam perbuatan dan perkataan Abang mohon agar Ayah dan Bunda membuka pintu maaf sebesar-besarnya, maklum saja Abang belum berpengalaman sama sekali dalam mengarungi bahtera rumah tangga apalagi usia kami masih sangat muda, kami butuh nasehat dan pengarahan dari orang tua agar kami tak berhenti melangkah bersama di tengah jalan hiks hiks," ucap Ghael dengan tulus, ia pun memeluk Aira.
Air mata Aira sudah tak terbendung lagi, ia pun memeluk Ghael.
"Iya Bang. Bunda juga minta maaf sekiranya ada tindakan atau ucapan Bunda yang tak berkenan di hati kamu, sekarang kamu bukan lagi keponakan Bunda tapi sudah jadi anak Bunda, jika Bunda marah atau menasehati bukan bearti Bunda benci, tapi karna Bunda begitu menyayangi kalian berdua, papar Alia.
"Bunda titip Alia Bang, jaga dan nasehati dia seperti Ayah dan Bunda menjaganya hiks, " tutur Aira dengan haru.
"In shaa Allah Bun," ucap Ghael.
Setelah sungkeman dengan kedua orang tua dan mertua mereka, mereka pun menghampiri Heru dan istrinya sebagai paman mereka yang tertua.
Alia dan Ghael langsung memeluk Heru menangis haru di pelukkannya.
Begitupun Heru yang menyambut hangat kedua keponakannya.
"Pa, kami berdua memohon restu, hiks hiks," ucap Alia seraya menangis haru.
"Iya Nak, Alhamdullilah kedua orang yang Papa sayangi bersatu dalam rumah tangga, dengan ini hubungan baik keluarga kita akan semakin erat, semoga rumah tangga kalian sakina mawardah worrohma serta di karunia keturunan yang sholeha Aamin," ucap Heru kemudian mencium kening kedua pengantin tersebut.
Suasana akad nikah tersebut terasa khitmat dan sakral.
Kebahagian tak hanya di rasa oleh kedua keluarga Romeo dan Aldi tapi juga hadirin yang hadir.
Setelah acara akad nikah dan serangkaian acara adat yang telah di lalui, sebentar lagi acara resepsi akan di mulai.
Kedua pengantin baru tersebut mandatangi satu persatu anggota keluarga mereka untuk meminta restu.
Kemudian mereka di persilahkan untuk beristirahat.
Ghael dan Alia berada di kamar mereka untuk beristirahat beberapa saat sebelum mereka kembali di rias untuk acara resepsi.
Azan zhuhur terdengar di salah satu aplikasi Ghael, ia pun berniat untuk mengajak Alia sholat berjamaah untuk pertama kalinya.
Keduanya masih sama-sama terlihat canggung, apalagi Alia, ia duduk di pojokan tempat tidur, tak tahu harus berbuat apa.
Tubuhnya terasa lelah, namun ia sungkan untuk berbaring di hadapan Ghael, akhirnya ia hanya bersandar pada headboard dengan masih mengenakan kebayanya, mengganti pakaiannya pun Alia sungkan.
"Alia kamu ngak ganti pakaian kamu?"tanya Ghael.
"Ehm iya Bang, nanti saja masih capek." jawabnya memberi alasan.
__ADS_1
Ghael meraih handuk yang sudah ia siapkan di dalam kopernya, rencananya ia akan mandi agar lebih segar dan rencananya juga ia ingin mencicil malam pertama mereka, namun melihat Alia yang terlihat sungkan sepertinya ia harus lebih bersabar.
"Alia, setelah Abang mandi kita sholat zuhur berjamaah ya,"ajaknya
"Iya Bang," jawab Alia singkat.
Setelah Ghael masuk ke kamar mandi ia pun berbegas membuka pakaiannya.
Alia keluar sebentar menuju kamar Aira untuk mengganti pakaiannya di sana.
Kebetulan Aldi dan Aira masih sibuk mengatur persiapan resepsi.
Alia juga menumpang mandi di kamar ayah dan bundanya, setelah ritual mandinya selesai, ia sudah kembali dengan piyama dan dalam keadaan berwudhu.
Ketika kembali ke kamarnya, Ghael sudah menggenakan baju koko dan sarung, jujur saja wajah Ghael terlihat begitu tampan saat itu.
"Kamu mandi di mana Alia?"tanya Ghael yang melihat rambut Alia tertutupi oleh lilitan handuk di rambutnya.
"Ehm Mandi di kamar Bunda Bang, karna nungguin abang mandi, lama banget," ujar Alia memberi alasan.
"Kenapa ngak mandi sama-sama saja sih kan sudah halal," ucap Ghael sambil tersenyum, hingga membuat Alia tersipu dan tertunduk.
Ya sudah, pakai mukena kamu, kita sholat berjamaanh," ucap Ghael seraya menghampar dua sajadah untuk mereka berdua.
Keduanya pun memulai sholat berjamaah mereka untuk pertama kalinya.
Suara Ghael terdengar merdu mengalun melantunkan ayat suci, Alia dengan tenang dan konsentrasi mengikuti setiap gerakan imamnya.
Empat rakat sholat mereka lakukan dengan khusuk.
Dan di sujut terakhir Ghael sujud dalam waktu yang sedikit lama ia pun berdoa dengan hati yang khusuk.
Ya Allah ya Tuhan hamba, tuntunanlah hamba selalu agar bisa menjadi imam yang baik, bisa mendidik istri hamba dan dapat menunaikan kewajiban hamba sebagai suami, selamat kan dan lindungi rumah tangga kami dari segala fitnah agar tak terjadi perpecahan dan perpisahaan di antara kami, Aamiin.
Ghael pun bangkit dari sujudnya dan menyelesaikan rukun berikutnya.
"Assalam mualaikum warohmatullah wabarakatu, salam terakhir mereka setelah menoleh kanan kiri.
Setelah itu keduanya membaca zikir sebelum berdoa.
Kata Aamiin menutup doa-doa mereka.
Setelah sholat Alia mendekat kearah Ghael kemudian menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
__ADS_1
Dengan senang hati Ghael menyambut uluran tangan Alia, kemudian Alia mencium punggung tangan suaminya.
Alia hendak undur diri, tapi di tahan oleh Ghael.
Ghael meyentuh wajah Alia dengan telapak tangannya kemudian tersenyum dan langsung mengecup kening dan pipi Alia.
Serrrt... aliran darah Alia mengalir deras ketika itu, untuk pertama kalinya Ghael mencium kening dan kedua pipinya, seketika wajah Alia memerah.
Setelah sehabis sholat dan merapikan perlengkapan sholat mereka, Alia kembali duduk di atas tempat tidur, dan bersandar pada headboard.
Kakinya berselunjur di atas tempat tidur seraya melamun dengan tatapan mata yang kosong.
Tiba-tiba saja lamunannya tersentak karna merasa kaget ketika Ghael merebahkan kepalanya di atas pangkuan Alia.
"Ehm." Alia kaget apalagi tangan Ghael merangkul pingga dan perutnya yang ramping.
Alia jadi semakin salah tingkah karna gerakan Ghael yang tiba-tiba.
Alia kembali memaku tak tahu harus berbuat apa.
Ghael membalikkan tubuhnya menatap wajah Alia yang terlihat binggung, tangannya merentang menyentuh pipi Alia yang mulus tersebut.
Ia pun meraih tangan Alia dan mencium punggung tangannya dengan lekat, membuat Alia semakin salah tingkah.
"Alia kamu kenapa? "tanya Ghael.
"Ehm ngak Bang aku belum terbiasa saja," ucap Alia.
Ghael bangkit dan duduk di samping Alia mengenngam tangan Alia, ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Alia dan mencium pipi Alia.
Sreet ...Aliran darah Alia melesat ketika mencium hembusan nafas Ghael yang tercium segar di hidungnya, dengan perlahan Ghael menyentuh bibir mungil Alia dengan bibirnya dengan sementara tangannya menggenggam erat tangan Alia.
Sreet bagai tersetrum tubuh Alia memaku tak tahu apa yang harus ia lakukan seketika telapak tanganya menjadi dingin
Ghael mencoba memperdalam ciumannya dengan membuka sedikit mulut Alia, namun suara gedoran pintu berhasil mengagetkan keduanya.
Ghael menghentikan aksinya menarik diri seraya melilik wajah Alia yang terlihat merona, Alia pun meremas ujung piyamanya.
Tok ..tok...
Pintu kembali di gedor dan Ghael segera turun dari tempat tidurnya untuk menutup pintu.
Bersambung, Up lagi ngak ya?! tampol dong biar author semangat he he ada maunya.
__ADS_1