
Mr, Jack resedivis pengedar narkoba yang kini menjadi pincang akibat tembakan peluru dari Aira. lima belas tahun yang lalu.
Kini ia kembali menjalani bisnis haramnya setelah keluar dari penjara.
Rasa dendamnya pada polisi wanita yang telah membuatnya cacat masih bergelora, hingga ia mengutus seseorang untuk mencari tahu informasi keberadaanya.
Seorang pria bertubuh tegap datang menghampiri Mr Jack.
"Bagaimana sudah dapat informasi tentang polisi wanita tersebut?" tanya Mr Jack seraya menghembuskan gumpalan asap rokok ke udara.
"Sudah, kini wanita tersebut menjabat sebagai inspektur polisi."ucap Pria yang bernama Bram itu.
Hm, Jack tersenyum menyeringai.
"Aku tak peduli siapa pun dia, karna dia aku mendekam selama 15 tahun penjara dalam keadaan cacat, wanita tersebut harus membayarnya!" teriak mr Jack dengan penuh kemarahan.
***
Bagas sedang kebut-kebutan bersama geng motornya.
Memang sudah kebiasaan mereka untuk kebut-kebutan di jalan raya yang padat.
Karna selalu meresahkan pengguna jalan lain, akhirnya tindakan remaja labil tersebut di laporkan ke pihak berwajib.
Setelah balap liar mereka yang meresahkan tersebut, sekumpulan remaja geng motor itu menuju markas mereka.
Beberapa di antara mereka mengkomsumsi Alkohol dan obat-obat terlarang.
Bagas dan Ponco duduk di pojokan karna mereka tak mengkomsumsi barang haram tersebut.
"Gas, jadi kita beli bahan hari ini?" tanya Ponco salah satu teman Bagas.
"Gue ngak di kasih duit sama bapak gue," ucap Bagas seraya menyesap asap rokoknya.
"Kenapa? bokap loh kan banyak duitnya, pejabat lagi?" tanya Ponco sembari meneguk minumanya ia pun menyodorkan minuman tersebut ke Bagas.
"Ngak Gue ngak mau minum."
"Kenapa? tanya Ponco
Gue kasihan lihat emak gue, kalau gue pulang dengan bau minum-minuman keras, emak gua bisa menangis dua hari dua malam menyesali tindakan gue, jadi ngak tega gue," papar Bagas.
"Ya elah segitunya, Nyokap loh Gas, Orang tua gue mah ngak peduli, mereka sibuk ngak memperhatikan gue," papar Ponco.
"Kemaren saja, waktu melihat gue di tatto, mak gue langsung pingsan," imbuh Bagas lagi.
"Gue sebenarnya kasihan lihat Nyokap gue, sepertinya beban hidupnya berat banget, dia punya laki tapi seperti tak punya laki, Ayah gue jarang tuh datang kerumah paling juga sebulan sekali," keluh Bagas.
__ADS_1
"Ya yang terpentingkan bokap loh tanggung jawab, semua keperluan keluarga loh terpenuhi," sahut Ponco.
"Ngak seperti itu juga, gue sendiri rasa aneh, di saat orang-orang kumpul dengan anggota keluarganya ibu-bapak kita mah ngak pernah, gue ngerasa emak gue kesepian, ngak ada teman yang di ajak bicara?"papar Bagas.
"Trus kenapa loh ngak temani aja nyokap loh, jadi anak baik-baik?" Ponco.
Bagas terdiam sejenak.
"Hm, gue merasa hidup ini ngak adil saja Bro, ada yang salah pada diri gue, tapi gue ngak tahu apa, gue frustasi, gue tertekan banyak orang yang menggunjingkan gue Bro, sampai saat ini gue ngak tahu siapa bapak kandung gue? kenapa gue dan Ayah begitu mirip, tapi di akte kelahiran gue, bapak gue bernana Rudi."
Bagas mendengus seraya menghisap dan dan menghembuskan asap rokok tersebut ke udara.
"Gue pingin tahu saja jati diri gue sebenarnya, sebenarnya apa yang terjadi hingga emak gue selalu menangis saat gue tanya siapa bapak gue."Bagas
Bagas memaparkan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh iya Gas, kalau loh butuh kerja, biar loh ngak minta duit terus sama bokap loh, gue punya bos namanya mr Jack, kebetulan dia lagi mencari anak buah, untuk mengedarkan barangnya, lumayan bro hasilnya, loh bisa dapat upat dari hasil kerja loh dan dapat menikmati barang tersebut dengan harga miring," papar Ponco.
"Ehm, berisiko ngak?"tanya Bagas ragu.
"Ah loh takut banget dengan resiko, di dunia ini ngak ada yang ngak beresiko bro, jatuh cinta saja penuh resiko,"papar Ponco.
Bagas tersenyum, "Eh ngomong-ngomong jatuh cinta, tadi siang gue nabrak mobil cewek, ceweknya cantik banget, entah kenapa gue selalu teringat dengan wajahnya,"papar Bagas seraya tersenyum.bahagia.
"Nah loh sudah jatuh cinta tuh, eh kalau mau pacarin cewek, kudu punya modal, apalagi dia anak orang kaya, ngapelnya aja harus pergi ke restoran mahal, nah kalau loh ngak punya duit, mana mungkin loh bisa dekatin dia." Ponco.
Bagas tersenyum, " Bener juga Yah, sepertinya dia memang anak konglomerat bro, cantik, baik, suaranya halus banget, baru kali ini gue suka sama cewek," ucap Bagas dengan senyum sumringahnya.
Ponco tersenyum kecut kemudian menepak punggung Bagas.
"Loh kalau jatuh cinta ngak usah ke tinggian Gas, ntar seperti punuk yang merindukan bulan, Ya emang sih cinta itu buta, ngak mengenal tempat dan waktu, tapi sebelum terlanjur, mending loh buang jauh-jauh perasaan loh," ucap Ponco menasehati sahabatnya.
Bagas berguman, "Iya loh bener Pon, gue mana pantes dapatin cewek seperti dia, lagi pula mana mungkin dia mau sama begajulan kayak gue," ucap Bagas menatap hampa.
"Apa lagi, gue sendiri ngak tahu asal usul gue," pungkasnya sambil tertunduk sedih.
Ponco merangkul sahabatnya," Sabar aja Bro, nasib kalau ngak loh rubah ya ngak akan berubah," ucap Ponco.
Bagas tertawa kecil," Loh kalau nasebatin orang bijaksana sekali ya, Bro."
"Lah Iya, pada dasarnya semua orang juga tahu mana baik dan mana yang buruk, tapi kadangkala kelakuan sama hatinurani bertentangan Bro," sahut Ponco.
"Ihs gila loh Man, beguru di mana loh bijaksana banget," Bagas.
"Tinggal ngomong bro, lidah tak bertulang," sahut Ponco lagi.
"Udah Ah, gue mau pulang, mak gue pasti nyariin gue," ucap Bagas seraya berdiri dan meraih jaket kulitnya.
__ADS_1
"Ya loh mau jadi begajulan tapi masih mikir emak loh," dengus Ponco.
"Yah kalau ngak gue siapa lagi yang mikirin emak gue,"ucap Bagas.
"Eh gimana? jadi ngak loh ikut mr Jack?" Ponco.
"Nanti deh gue pikirkan lagi," Bagas.
***
Aira dan Alita telah selesai mengikuti seminar, tiba-tiba saja ada dua orang cowok ganteng menghampiri mereka ketika mereka keluar dari aula tempat berlangsungya seminar.
" Alia, gue antar ya," ucap Reza yang berjalan beriringan dengan keduanya.
Reza adalah teman Alita, sudah lama ia naksir pada Alia dan meminta Alita menyampaikan salamnya.
Tapi Alia sepertinya masih enggan untuk dekat apalagi menjalin hubungan serius dengan seorang pria.
"Ngak usah terima kasih, saya sudah ada yang menunggu," tolak Alia dengan halus.
"Ehm kalau gitu lain kali saja ya?"ucap Reza.
Alia tersenyum.
Reza dan temannya menuju parkiran mobil mereka, begitu pun Alia dan Alita yang juga menuju mobil mereka.
"Alia, kenapa sih kamu ngak mau sama Reza? padahal diakan anak-nya baik dan sopan, ganteng lagi," tanya Alita.
"Ganteng? menurut gue gantengan cowok yang nabrak kita tadi siang,"ucap Alia malu- malu ia pun menggigit bibir bagian bawahnya.
"Oh, jadi kamu suka ya sama cowok itu? pantesan dari tadi senyum-senyum sendiri, emang se ganteng apa sih dia?" tanya Alita penasaran karna baru ini ia merasa Alia menyukai seorang laki-laki.
"Ehm, wajahnya sih biasa saja, senyumnya itu loh mengalihkan dunia ku," ucap Alia tersenyum malu-malu.
"Ih Alia, pipi kamu merona," ucap Alita yang melihat wajah tersipu Alia.
"Yey, Alia jatuh cinta,"ejek Alita.
"Ih, apaan sih, orang kita ngak kenal sama dia kok," ucap Alia malu.
"Tak kenal maka tak sayang," ucap Alita seraya mencolet pipi Alia.
Bersambung dulu ya, hm maaf ya, author blm bisa up banyak-banyak baru sembuh juga.
Nih author kasi rekomendasi novel bagus, lanjutan anak sultan milik Ceo.
__ADS_1