Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

"Aira! hiks hiks hiks," Aldi berlutut tak kuat menahan beban tubuhnya.


"Kenapa kamu pergi Aira. mas Aldi ngak sengaja! mas Aldi panik dan emosi," tuturnya dengan menangis terisak.


Aldi menangis sambil bersujud," Aira! Aira! jangan pergi Aira! mas Aldi ngak sengaja hiks hiks"


Aldi terus menangis hingga tak sadarkan diri.


***


Romeo berada di teras rumahnya sedang menikmati malam sunyi tanpa bintang, di temani segelas kopi.


Hatinya begitu gelisah dan resah karna baru saja ia mendapat kabar kepergian Aira dari rumah.


"Kemana Aira pergi?" dengusnya.


"Aldi selalu saja begitu, apa yang selama ini aku takutkan sekarang benar-benar terjadi, gadis yang ku cintai malah di sia-siakan, dan sekarang aku bahkan tak bisa berbuat apa-apa." dengusnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oh Tuhan kenapa sekarang aku menjadi bimbang, satu sisi aku ingin pergi mencari Aira, tapi aku tak mungkin menyakiti istri yang kini telah mengandung anak ku," guman Romeo.


Matanya mulai memerah, ia begitu kesal dengan kecerobohan yang di lakukan oleh Aldi.


Bahkan tak ada satu orang pun yang mengetahui kemana Aira pergi.


Romeo termenung terdiam dalam kesunyian malam sembari menatap hampa yang ada di hadapannya.


Tari membuka mata dan meraba di sampingnya, namun ia tak mendapati Romeo.


Tari bangkit dan bersandar pada headboard tempat tidur.


Ia merasakan perubahan sikaf Romeo terhadapnya sejak mengetahui kepergian Aira, Romeo lebih sering melamun, ia bangkit dan turun dari ranjangnya kemudian ia menuju pintu keluar kamarnya.


Tari mencari keberadaan Romeo, namun tak mendapatinya di dalam rumah, ia pun berjalan menuju teras rumahnya dan melihat Romeo yang seperti sedang melamun.


Apa kamu memikirkan Aira Rom? tanya dalam hati.


Tari menekan handle pintu, suaranya membuyarkan lamunan Romeo.


Romeo menoleh ke arah Tari.


"Kamu belum tidur Tar?"tanya Romeo kepada Tari yang mendekat kearanya.


Tari tersenyum simpul, meski hatinya saat itu sedang sakit, karna suaminya memikirkan wanita lain, namun ia tak mau memperkeruh keadaan.


Selama ini, ia dan Romeo tak pernah bertengkar sekali pun, itu semua karna mereka mencoba saling mengerti dan menjaga agar tak terbawa emosi.


Tari duduk di samping Romeo seraya merebahkan kepalanya.


"Mana bisa aku tidur tanpa pelukan kamu Rom," ucap Tari lirih.


Romeo kembali terhenyak, tanganya merangkul Tari, batinya bergejolak.


Aku tak mungkin menyakiti Tari, ia begitu tulus mencintaiku, bahkan ia rela berkoban apapun untuk ku, dia juga memilih hidup sederhana bersama ku, apa yang ku pikirkan, aku tak mungkin meninggalkan keluarga ku hanya untuk mengejar cinta yang tak punya kepastian.

__ADS_1


Romeo menghempaskan napas beratnya.


"Ayo Tar kita tidur," ajaknya.


"Iya Rom, tapi sebelum tidur, kamu obok obok dulu ya," canda Tari.


Romeo tersenyum sambil mengacak-ngacak Rambut Tari.


***


Dua bulan berlalu.


Matahari belum juga muncul di ufuk tapi Tari sudah terbangun, sejak menjadi seorang istri, ia terbiasa untuk bangun pagi guna mempersiapkan kebutuhan suami sebelum berangkat kerja.


Tari berada dalam kamar mandi bermaksud melakukan ritual mandi paginya.


Saat ia akan membuka segitiga pengamannya, matanya melihat bercak darah pada kain tersebut.


Tak hanya itu, ia pun merasakan sakit pada bagian pinggangnya.


"Darah? apa aku akan melahir kan?" gumannya.


Ia buru-buru menuntaskan ritual mandi paginya, kemudian membangunkan Romeo yang masih tertidur pulas.


"Rom, bangun Rom, sepertinya aku akan melahirkan," ucap Tari seraya menepuk-nepuk pelan pipi Romeo.


"Hah, yang benar Tar?"tanya Romeo yang segera bangkit.


"Ya sudah aku telpon mama dulu," ucap Romeo.


***


"Pembukaan dua Mbak, ucap bidan tersebut ketika selesai melakukan VT, "Kemungkinan persalinan nya akan berlangsung malam hari," imbuhnya kembali.


Tari tersenyum, ia bahagia sekaligus gugup, "Rom, masih ada waktu untuk menghubungi kedua orang tua ku, " ucap Tari mata yang berbinar.


"Iya Tar, sebentar aku hubungi mereka."


Waktu terus berjalan, Tari dan Romeo mulai merasa gelisah menunggu persalinan.


Jam dinding menunjukan pukul tujuh malam


Tari yang berbaring di ruang persalinan mulai merasakan sakit pada bagia pinggang dan perutnya.


"Akh Aw eks, sakit." ucapnya sambil mengejan.


Wajah Tari sedikit memucat dengan keringat dingin yang mengucur pada seleruh bagian tubuhnya.


"Akh Akh!" Tari berteriak tertahan.


Romeo yang baru masuk ke kamar persalinan panik melihat Tari yang meringis kesakitan, ia pun berlari memghampirinya.


"Kenapa Tar?"tanya Romeo panik.

__ADS_1


"Akw sakit Rom, " ucapnya dengan bibir yang gemetar.


Romeo menggenggam tangan Tari," Kamu sabar ya Tar," ucapnya seraya mengusap kening hingga ubun-ubun Tari, Romeo juga mendaratkan ciumannya berkali-kali pada kening sang istri.


Tari menggangguk, rasa sakit tersebut perlahan menghilang, sejenak kemudian rasa sakit itu datang kembali dengan tiba-tiba.


"Akh aw!" ucap Tari ketika ia kembali merasakan sakit.


Romeo semakin menggenggam erat tangan istrinya.


"Akh,"Tari merasakan sakit kembali, perutnya seperti di peras.


"Akh Hiks hiks sakit Rom," ucap Tari dengan bibir yang gemetar, keringat dingin semakin membanjiri wajah dan tubuhnya.


"Iya Tar, kamu sabar ya," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Romeo.


Ia pun mengusp dan membelai rambut Tari sambil menciumnya sesekali.


"Rom aku ngak kuat, sakit sekali Akh," tubuh Tari mengelinjang gemetar menahan rasa sakit.


"Akh Akh.."teriaknya tak tertahan.


"Tari sabar ya, lakukan ini demi anak kita," ucap Romeo bernisik di telinga Tari.


"Akh akh sakit Rom aku ngak tahan, Akh!" napas Tari terengah-engah, mimik wajahnya menggambarkan bahwa saat itu ia menahan rasa sakit yang luar biasa.


Romeo perlahan menitikan air matanya melihat Tari yang begitu menderita, ia pun berkali kali mencium kening sang istri.


Tari menggenggam erat tangan Romeo seraya meringis sesekali, "Rom jika gue meninggal dalam persalinan ini, kamu jaga baik-baik anak kita ya Rom, Akh, " ucapnya sambil meringis.


"Ngak Tar, kamu ngak boleh pergi, kamu wanita yang kuat, " ucap Romeo sambil menitikan air matanya.


"Akh Akh, tapi aku ngak tahan Rom, ini sakit banget nyawa ku seperti tercabut, gumanya," tanganya kembali menggenggam erat tangan Romeo.


"Kamu harus kuat Tar, demi anak kita,.jangan tinggalkan aku," ucap Romeo haru, titik air mata pun perlahan menetes.


Tari menatap wajah Romeo, ada kebahagian di hatinya ketika melihat sang suami menangisinya.


"Rom, kenapa kamu menangis?"tanya Tari sambil meringis menahan sakit.


Romeo memeluk tubuh Tari,"Karna aku takut kehilangan kamu, Tar, "ucap Romeo terbata-bata karna menahan isak tangisnya.


"Aku mencintaimu Tar, dan tak ingin kehilangan kamu,jadi kamu harus kuat,"ucap Romeo dalam pelukan Tari.


Tari tersenyum kearah Romeo seraya membelai wajah suaminya.


"Aku terharu Rom, sudah lama sekali aku ingin mendengar kata cinta dari bibir kamu!" ucap Tari gemetar karna menahan sakitnya.


"Iya Tar, aku mencintai kamu," ulangnya kembali.


"Kamu harus kuat ya, demi cinta kita," imbuhnya kembali.


Tari tersenyum ia seperti mendapatkan kekuatan yang luar biasa.

__ADS_1


Bersambung, dukung terus novel remahan author ya


__ADS_2