
Tari dan Aira sudah sampai di klinik tempat Nova praktek, kebetulan saat itu Nova sedang tak ada pasien, melihat kedatangan putrinya, Nova merasa senang.
Nova berdiri seraya merentangkan tangannya untuk menerima pelukan hangat Tari.
"Tari, akhirnya kamu datang juga, Mama kangen," ucap Nova seraya merangkul Tari.
"Tari juga kangen Ma," balas Tari sambil mencium pipi Nova.
"Ma, Tari mau tes kehamilan,"ucapnya spontan.
"Tes kehamilan?cepat sekali sayang," ucap Nova.
"Iya Ma, Tari baru saja merasa mual dan muntah, dan kata Aira, itu bisa jadi pertanda Tari sedang hamil,"ucapnya dengan senyum merekah.
"Hm, iya sih itu biasanya tanda-tanda orang hamil, tapi ngak mesti juga kalau kamu mengalami itu, tandanya kamu hamil,"papar Nova.
"Ya sudah kita tes urine saja," ucap Nova seraya menyodorkan sebuah wadah kecil yang terbuat dari stainless steel.
-
-
Aira dan Tari berdebar menunggu hasilnya, dan dalam beberapa detik, hasil tersebut sudah keluar.
"Dua garis sayang," ucap Nova sambil tersenyum bahagia.
"Dua garis?.apa artinya Ma?"tanya Tari dengan resah karna tak sabar.
"Dua garis artinya positeve, Mbak" Aira.
"Ha benarkah Ma?"tanya Tari dengan jantung yang berdebar.
"Iya sayang kamu hamil, dan Mama sebentar lagi akan punya cucu,"tutur Nova bahagia dengan bola mata berembun.
Tari tersenyum bahagia, seraya mengucap syukur.
"Papa kamu pasti bahagia, Nak."
"Mendengar kabar tersebut,"imbuh Nova kembali.
"Iya Ma, ini kabar bahagia untuk keluarga Tari dan keluarga Romeo juga," ucap Tari dengan berbinar.
"Aira mbak hamil." Tari menghambur memeluk Aira.
"Iya mbak, Aira juga senang dengan kabar ini, "ucap Aira sambil menghapus titik air matanya.
"Tari kamu harus jaga pola makan dan istirahat kamu, jangan terlalu lelah, ini Mama resepkan vitamin dan tablet tambah darah untuk kamu, selain itu kamu bisa minum susu khusus untuk ibu hamil,"ujar Nova sambil menyerahkan secarik kertas kepada Tari.
"Iya Ma, terima kasih," ucap Tari seraya meraih secarik kertas tersebut kemudian menyimpannya di dalam tas.
"Kalau gitu Tari permisi ya Ma, dan sampaikan salam Tari untuk papa,"ucap Tari seraya mencium pipi Nova.
"Iya sayang, sampaikan juga salan Mama untuk suami dan keluarga kamu ya," ucap Nova.
__ADS_1
"Kapan-kapan Mama akan ngundang keluarga kamu, untuk makan malam bersama, untuk merayakan kebahagian ini," ucap Nova.
"Iya Ma, kami pasti datang," ucap Tari.
Mereka pun berlalu pergi dengan perasaan ya g bahagia dari klinik tersebut.
Di dalam mobil,
"Mang ujang singgah di apotek ya, " Tari.
"Iya Non, "sahut mang ujang.
"Aira, mbak merasa bahagia sekali, rasanya sudah tak sabar menunggu Romeo pulang, mbak ingin tahu reaksinya seperti apa saat mengetahui mbak tengah mengandung anak darinya."Tari.
"Pastinya bang Romeo senang sekali mbak, bang Romeo kan suka dengan anak kecil," sahut Aira.
Melihat Tari yang begitu bahagia dengan kehamilanya, membuat Aira juga ingin hamil, ia ingin memberi kabar baik tersebut kepada Aldi.
Aira menyentuh perut Tari kemudian menyentuh perutnya.
"Kenapa Aira?"tanya Tari.
"Aira juga ingin hamil, Aira ingin membahagiakan mas Aldi, kemaren mas Aldi meminta Aira untuk segera hamil, tapi Aira menolak, karna Aira pikir Aira akan bersekolah secara formal, tapi setelah Aira pikir-pikir, Aira ingin hamil lagi, biar mas Aldi tak bersedih lagi," ucap lirih.
"Iya Aira, kau turuti saja suamimu, kau lihat Aldi, ia begitu sedih dengan apa yang terjadi dengan mamanya, jika bukan kau, lalu siapa lagi yang akan membuatnya bahagia," papa Tari.
"Iya mbak, Aira sudah putuskan untuk sekolah online saja, dengan demikia Aira bisa bersekolah juga bisa menjaga rumah tangga Aira."
Hm,
Mentari perlahan meredup, pertanda hari menjelang senja, Tari baru keluar dari kamar mandinya, ia melirik jam di dinding yang menunjukan pukul setengah lima.
"Hm, sebentar lagi suami ku pulang," guman Tari.
"Aku sudah tak sabar untuk memberi tahu berita yang membahagiakan ini kepadanya."gumannya lagi.
Tok..tok..'
Tari bergegas berdiri, ketika mendengar suara ketukan pintu tersebut.
Senyum manis terbit di wajahnya ketika membuka pintu, wajah pria tampan yang selalu dinantikan kepulangannya, kini berada tepat di depannya.
"Rom, kau sudah pulang?"tanya Tari berbasa basi, ia pun menutup pintu kamarnya kembali.
Tari menghampiri Romeo dan langsung melepaskan dasinya.
Netra Tari tak beranjak dari wajah suaminya, dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Kamu kenapa Tar? senang banget sepertinya?"tanya Romeo.
"Tentu saja Rom, karna aku punya kabar baik untuk mu," ucapnya dengan mata yang berbinar.
Romeo menyeritkan dahinya, "Kabar apa?"tanya Romeo penasaran.
__ADS_1
Tari menarik senyum simpulnya, ia meminta Romeo untuk sedikit menunduk, Romeo pun mengikuti perintah Tari.
"Rom, aku sedang hamil," bisik Tari mesra, kemudian mencium pipi Romeo.
"Hamil? benarkah?"tanya Romeo sedikit ragu.
Tari menjauhi Romeo menuju nakasnya mengambil sesuatu, kemudian ia kembali lagi seraya menyodorkan sesuatu kepadanya.
"Apa ini Tar?"tanya Romeo.
"Ini tespack, garis dua ini, artinya aku hamil Rom," ucap Tari bahagia.
"Benarkah?"tanya Romeo dengan senang, ia pun langsung memeluk Tari.
"Terima kasih Tar, aku bahagia sekali," ucap Romeo.
"Aku juga bahagia Rom, sangat bahagia," balas Tari.
"Kau minta apa pada ku Tar? sebagai hadiah atas kabar baik dan membahagiakan ini, " tanya Romeo haru.
"Aku tak minta apa-apa Rom, bagiku saat bersama mu itu sudah membuat ku serba cukup, tak kekurangan sesuatu apa pun," ucap Tari dengan haru.
Romeo semakin erat memeluk Tari, berkali-kali ia mencium pucuk kepalanya, dan itu membuat air mata Tari kembali berlinang, ia begitu bahagia atas kehangatan yang Romeo berikan.
Beberapa saat lamanya mereka saling memeluk kemudian saling melepaskan.
Tari kembali melanjutkan tugasnya, membuka kancing kemeja Romeo satu persatu.
Tari tersenyum dengan tatapan yang mendambakan suaminya.
Mengerti dengan maksud sang istri, Romeo langsung merangkul dan menggendong Tari ala bridal style menuju tempat tidur.
Puluhan kecupan mendarat di kening Tari, sementara jemari Romeo melepas penutup tubuh sang istri satu persatu.
Begitu pun Tari, tangganya melepaskan resliting pada celana yang menutupi tubuh bagian bawah suaminya.
Ketika keduanya dalam keadaan buglil, Romeo segera memposisikan dirinya.
Dengan pelan ia memasukan senjatanya hingga membelah bagian bawah tubuh Tari.
"Akh ehm, pelan-pelan Rom,"ucapTari saat senjata tersebut mulai menancap di area sensitifnya.
Suara lengkuhan dan des*ahan, saling sahut menyahut, seiring tubuh Romeo yang bergerak lambat di atas tubuh istrinya.
Setengah jam berlalu, keduanya sudah merasakan puncak klimaksnya, dengan satu hentakan yang tak begitu kuat, Romeo kembali menabur benih kedalam rahim sang istri.
"Akh!" lengkuhan terakhir Romeo, kemudian ia menumbangkan tubuhnya di samping tubuh Tari.
Keduanya tersenyum seraya menarik napas, rona bahagia terpancar dari senyum mereka.
Romeo menarik tubuh Tari kedalam pelukannya, kemudian ia kembali menghujani Tari dengan kecupan mesranya.
Romeo benar-benar merasa bahagia, kebahagian yang tak terlukiskan saat ia mengetahui sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Bersambung, di tunggu selalu dukungan untuk author