
Secercah bias mentari pagi masuk melewati celah-celah dari jendela, setelah memoles tipis bibirnya dengan warna nute, Aira menilik kembali riasan mini malisnya.
Aira mendekati ke kamar mandi, seraya berteriak.
"Mas Aldi, Aira turun duluan ya!"teriak Aira dari luar kamar mandi.
"Iya, sayang!" sahut Aldi hangat.
Aira keluar dari kamarnya dan langsung berpapasan dengan Romeo yang juga hendak turun.
Aira melempar senyum kearah Romeo, dan di balas dengan senyuman pula.
Shut, Aira bersiul mencari perhatian Romeo.
"Bang, pagi-pagi udah cerah aja, matahari saja belum muncul, tapi udah siap aja nih, semangat banget, "ucap Aira menggoda Romeo, karna dia tahu apa yang terjadi pada mereka semalam.
"Semangat dong!,namanya juga karyawan swasta, ngak kerja ngak dapat duit," sahut Romeo.
Ehm, Aira berguman menyahut Romeo.
Mereka tak beriringan, Romeo melangkah lebih dahulu, sementara Aira menjaga jarak diantara mereka.
Sesampai nya di lantai bawah mereka menuju arah yang sama, namun tempat yang berbeda, Aira langsung menuju dapur, sementara Romeo duduk di meja makan bergabung bersama anggota keluarga yang lain.
Di dapur Tari sedang membuat sarapan untuk suaminya, plus bekal makan siang untuk sang suami.
"Pagi mbak Tari," sapa Aira.
Ehm, Tari melempar senyum cerianya.
"Wah dari senyumnya kelihatan sekali,berhasil kayaknya nih?" Aira.
Ehm, Tari membalas dengan senyum simpulnya.
"Jadi gimana mbak? siapa yang mulai duluan?" tanya Aira iseng.
"Dia duluan dong, dua kali lagi," sahut Tari tersenyum sumringah.
"Ehm, tapi sepedtinya lebih dari dua ronde?" terka Aira sambil menilik wajah Tari.
"Ah, loh tahu aja, tau dari mana?cenayang ya?" sahut Tari.
"Itu di jidatnya ada tulisan ronde ke 3,"cetus Aira sambil tertawa terkekeh.
"Iya, terakhir gue yang minta, sebelum subuh,"jawabnya jujur.
"Ampun-ampun, sama saja dengan mas Aldi, mungkin karna kalian saudara kali ya," guman Aira.
Aira mendekati Tari, "Mbak mau kemana? tanya Aira sambil mengaut bubur ke dalam manggkok.
Melihat Tari yang mengaut nasi dan meletakanya kedalam wadah tertutup, "Itu untuk bekal siapa mbak?"tanya Aira.
"Ya buat laki hue lah, gue ngak akan biarin laki gue jajan di luar" sahutnya.
"Gimana mau jajan lagi mbak, di rumah saja udah kenyang tuh bang Romeo nya, kalau sehari 3 kali, sebulan 90 puluh kali, bisa encok pinggang suami mu mbak," ucap Aira sambil berlalu membawa nampannya.
Aira keluar dari dapur kemudian menuju meja makan, di sana Aldi dan Romeo sedang berbincang," Sepertinya perseteruan mereka sudah berakhir, "guman Aira.
Aira menghampiri Heru dan Aldi yang duduk bersebelahan.
Aira meletakan bubur untuk Heru dan juga Aldi.
"Kok mas Heru di suguhin bubur juga Aira?"tanya Heru dengan nada protes.
__ADS_1
"Udah makan saja, kalau suami pertama makan bubur, suami kedua juga makan bubur ya, "canda Aira sambil tersenyum simpul.
"Jadi mas mu kau jadi kan yang kedua Aira?"tanya Satria, sambil tersenyum.
"Iya pa, kan setiap pagi Aira yang ngurus sarapannya, nunggu mas Heru bawa istrinya kemari, kelamaan, "cetus Aira, ia pun duduk di samping Aldi.
"Dengar tuh Heru, kamu itu anak sulung, adek-adek kamu saja sudah menikah, mulai sekarang kamu harus serius memikirkan jodoh untuk kamu, kalau ngak papa jodohin saja ya?" tawar Satria.
"Ehm, ngak lah Pa, biar Heru cari sendiri saja, "sahutnya.
"Iya mas, jangan pasang muka jutek dong, nanti ngak ada cewek yang mau mendekati mas Heru," sahut Aira.
"Ih, emang dari sono nya muka mas begini," dengus Heru.
"Di stel di pengaturan saja mas, biar ngak mode jutek lagi, trus pasang wallpaper dan emogi senyum, "sahut Aira.
"Ih, emang gue gadgets apa." Hehe.
"he he Hampir mirip sih mah, cuma bedanya, kalau gadgets laris manis, kalau mas Heru ngak laku-laku," seloroh Aira
Dan Heru hanya bisa pasrah di bully oleh Aira.
"Mas, untuk sementara makan bubur ya," ucap Aira sambil menyodorkan bubur ke Aldi.
"Iya sayang," ucap Aldi sambil menyendok bubur dan menyuapinya.
"Mas Aldi mau kerja?"tanya Aira karna melihat Aldi berpakaian rapi.
"Ngak mas Aldi ada urusan yang belum terselesaikan, " ucap Aldi.
"Kamu mau kemana Di?"tanya Satria.
"Ada urusan Pa," jawab Aldi datar.
"Aira ikut ya Mas."
"Ngak mau lah, terakhir kali mas Aldi pergi sendiri, mas Aldi celaka, Aira ngak mau lah jauh-jauh dari mas Aldi, bahkan Aira sudah putuskan untuk bersekolah secara daring, biar Aira bisa ikut mas Aldi kemana saja," jawab Aira.
"Hah serius kamu?"tanya Aldi.
"Iya mas, Aira juga bisa ikut mas Aldi kekantor sambil sekolah secara daring, sekolahnya resmi dan dapat ijasah juga, jamnya juga sama dengan sekolah tatap muka,jadi Aira bisa belajar sambil mengawasi mas Aldi, " paparnya dengan santai.
Aldi tersenyum, "Gitu dong jadi mas ngak perlu mengkhawatirkan kamu setiap hari," ucap Aldi sambil menarik kepala Aira sedikit ,kemudian mencium pucuk kepalanya.
Setelah sarapan Tari mengantar suaminya hingga kemuka pintu.
"Tar, aku pergi dulu," ucapnya seraya mengecup kening sang istri.
"Iya Rom, aku sudah siapkan makan siang untuk kamu, semuanya aku masak sendiri dan semuanya makanan favorite kamu," ujar Tari seraya menyerahkan tas kecil tempat menyimpan bekal Romeo.
Romeo tersenyum," Terima kasih karna sudah repot," ucapnya.
"Ngak repot kok, aku malah senang di repotin sama kamu,"ucap Tari sambil tersenyum menghadap Romeo.
"Iya sudah aku pergi dulu."Romeo.
"Iya, hati-hati, jangan pulang terlambat aku nungguin kamu loh," ucap Tari sambil tersipu.
"Terlambat dikit saja kok, palingan singgah ke apotik, "sahutnya.
"Apotek, untuk apa?"tanya Tari.
"Untuk beli obat sakit pinggang," balas Romeo seraya menjauh dari Tari.
__ADS_1
"Ah loh Rom, bisa saja,"guman Tari.
Aira dan Aldi sudah berada di dalam mobil.
"Mas kita mau kemana?"tanya Aira, karna jalan yang mereka lalui adalah jalan yang tak biasa.
"Kesuatu tempat sayang,"sahut Aldi singkat.
Setelah menghabiskan waktu lebih kurang setengah jam mereka pun sampai di sebuah rumah yang lumayan besar.
Aldi memakirkan mobilnya di luar pagar, setelah membuka pintu mobilnya ia pun menemui satpam penjaga rumah tersebut.
"Maaf Mas cari siapa?"tanya Satpam tersebut kepada Aldi.
"Saya mau cari Laura," sahut Aldi tegas.
"Maaf, mbak Lauranya ngak ada,"jawab satpam tersebut.
"Jangan bohong, tolong beri tahu pada Laura aku ingin bicara baik-baik terhadapnya, dan jika ia menolak, maka saat ini juga aku akan melaporkanya ke polisi!"ucap Aldi tegas.
"Baik pak, saya konfirmasi dulu."
Satpam tersebut kembali ke posnya dan menelpon seseorang, tak lama berlalu, pria tersebut kembali seraya membuka kan pintu gerbang.
"Silahkan masuk tuan," ucapnya seraya membuka pintu.
Aldi dan Aira kembali ke mobil mereka, mereka pun membawa mobilnya masuk ke halaman parkir rumah Laura.
Saat menuju pintu Aldi langsung di sambut isak tangis Laura, tanpa sungkan ia langsung menghambur memeluk Aldi.
"Rey, maafin aku ya Rey, sungguh bukan aku yang melakukan semua ini hiks hiks."Aura berakting.
"Lepas kan Aura!"Aldi mendorong pelan tubuh Aura.
"Sebenarnya aku ingin menyeret mu ke dalam penjara saat ini juga, tapi aku tawarkan satu pilihan untuk mu."
"Aku akan melepaskan mu dari tuntutan ini, asala kau beri tahu dimana mamaku berada!"timpal Aldi.
"Aku ngak tahu tante Rita di mana Rey, sungguh aku ngak tahu," ucap Laura.
"Kalau begitu, maaf Laura aku terpaksa melaporkan mu juga." Aldi merogoh handphone nya dan mencoba menghubungi seseorang.
Sementara Aira, ia terus memperhatikan gerak gerik dari Aura.
"Tunggu Rey, " tahan Aura, wajah nya pun memucat.
Aldi menahan gerakannya.
"Iya Rey, aku tahu dimana tante Rita, tapi berjanjilah kau tidak melaporkan ku ke pihak berwajib." Aura.
"Kalau aku mau, mungkin kau sudah masuk penjara Aura."Aldi.
"Tapi karna aku masih ada urusan dengan mu aku mengurungkan niat ku." Aldi.
"Iya Rey, aku percaya pada mu," ucap Aura merendah.
"Dimana mama ku?!"
"Ehm, Ehm, mama kamu ada di, ehm,"Aura gelalapan.
"Cepat katakan Aura! " bentak Aldi.
"Mama kamu, ehm mama kamu ada di rumah sakit jiwa Rey, "jawab Aura dengan gelalapan.
__ADS_1
"Apa?!" Aldi dan Aira syok, mata mereka membulat sempurna.
Bersambung, mohon dukungan nya like komen, vote dan hadiah, serta saran-saran yang membangun.