
Ghael dan Alia turun untuk sarapan.
"Selamat pagi Ayah-Bunda," ucap Ghael.
"Selamat pagi juga,"sahut keduanya dengan ramah.
"Abang masih ke kantor Bang hari ini?"tanya Aldi seraya menyerup minumannya.
Masih Yah, ada yang harus Abang selesaikan, karna Abang pergi ngak tahu seberapa lama, sebaiknya Ayah menunjuk seseorang untuk menggantikan posisi Abang Yah, karna jabatan sebagai direktur operasional sangat penting mengingat berhubungan langsung dengan hasil produksi,"usul Ghael.
"Ehm iya Bang, "nanti Ayah pertimbangkan.
Setelah selesai sarapan, Ghael langsung mengantar Alia.
Keduanya tetap diam tak ada obrolan apapun yang terjadi di antara mereka.
Alia menyalami tangan Ghael, tanpa bicara apapun, ia pun merasa memang sebaiknya mereka berpisah secepatnya.
Setelah mengantar Alia, Ghael langsung menuju pabrik, melihat hasil kerja dari mesin produksi mereka yang baru.
Alia masih kesal dan kecewa dengan Bagas, selama di kantor pikirannya hanya tertuju pada Bagas, hingga ia tak mampu membendung perasaannya lagi.
Akhirnya Alia memesan taksi online untuk menuju kantor Bagas.
Setengah jam waktu tempuh yang di butuhkan olehnya.
Alia berjalan menuju lobi, setibanya di sana ia di hampiri oleh seorang satpam.
"Ada perlu apa Mbak?"tanya satpam tersebut kepada Alia.
"Saya mau bertemu dengan Bagas,"ucap Alia dingin tak ada lagi wajah manisnya yang ada hanya wajah dinginnya yang sinis.
"Maksudnya Bagas mana?"tanya Satpan.
"Mahardika Bagaskara!"Alia sudah terlalu emosi.
"Maaf Mbak, pak Ceo tak bisa di temui oleh sembarang orang, jika bukan hal yang penting, " papar satpam tersebut.
"Hm, sudah jadi orang penting rupanya, katakan saja Alia yang ingin menemuinya!" dengus Alia sambil menyilang kedua lengannya di dada.
"Ba-baik Mbak," Satpam tersebut menghubungi Bagas langsung, karna Alita sang sekertaris masih trauma dan belum masuk kerja.
Setelah menelpon Bagas, Alia pun di persilahkan untuk menemui Bagas secara langsung ke ruangannya.
"Ehm Mbak, silahkan temui beliau di ruanganya di lantai tiga, " papar Satpam tersebut.
Tanpa menunggu Alia langsung menuju lift.
menekan angka tiga pada tombol panel yang ada di lift.
Entah apa yang membuatnya tergesa-gesa ia pun berlari menuju ruangan Bagas.
Pak Yanto yang duduk di meja sekertaris heran melihat Alia yang masuk tiba-tiba tanpa permisi kepadanya.
Bruk...
Pintu di buka dengan keras.
__ADS_1
Melihat kedatangan Alia Bagas pun berdiri, "Alia!"
Alia setengah berlari menghampiri Bagas.
Plak plak, dua tamparan langsung mendarat di pipi Bagas tanpa permisi.
"Bajingan kamu Gas!"cecar Alia dengan nada geram.
Bagas terhuyung karna ia tak menyangka Alia akan melakukan hal itu.
"Alia, tunggu kamu salah paham," ucap Bagas coba menenangkan Alia.
"Salah paham! kamu sudah menodai sahabat ku sendiri!"hardik Alia.
Buk, sekali lagi wajah Bagas kena bogem mental Alia.
Bagas tak menangkis atau pun mengelelak apa lagi membalas dengan pasrah ia menerimanya.
"Alia tunggu dengar kan aku dulu."Bagas coba menenangkan Alia yang terlihat emosi.
Tapi Alia malah menarik bagian depan kemeja Bagas.
"Kamu bajingan Gas! mana janji kamu yang akan menunggu aku?! sekarang saat aku dan suami ku akan berpisah kau malah menodai Alita! aku benci kamu Gas! kamu bajingan! sama seperti ayah biologis kamu! aku menyesal berharap banyak pada kamu Gas!" cecar Alia seraya mendorong tubuh Bagas dengan penuh emosi, Bagas pun jatuh ke lantai.
Alia menangis sejadi-jadinya setelah meluapkan emosinya ia pun keluar dari kantor Bagas.
Bagas termangu ia juga binggung, bagaimana cara menjelaskan kepada Alia.
"Alia tunggu!"seru Bagas yang mencoba bangkit dan mengejar Alia.
Namun Alia sudah masuk kedalam lift, Bagas coba mengejarnya melalui tangga.
"Bagus, aku sengaja melakukan ini semua, agar Alia bisa menjauhi Bagas, jika salah seorang dari mereka ada yang membenci maka mereka akan dengan mudah di pisahkan, dengan begitu skandal cinta mereka dengan mudah berakhir, dan mereka bisa kembali pada pasangan mereka," ucap Edo di sambungan telponnya.
***
Bagas menuruni anak tangga setengah berlari namun secepat apa pun ia tak akan mampu mengejar lift, Alia sudah tiba di lantai dasar ia pun berjalan cepat menuju lobi.
"Alia!" Seru Bagas sambil terus berlari menuruni anak tangga, seketika suara Bagas yang menggema tersebut menjadi pusat perhatian.
" Alia!" teriak Bagas kembali yang mencoba mengejar Alia yang sudah meninggalkan lobi, meski mendengar teriakkan Bagas namun Alia tak berhenti malah berlari semakin cepat menuju mobil.
Alia pun menghampiri taksi yang sudah menunggunya dan membuka pintu mobil.
"Alia!"teriakan Bagas coba menghalangi Alia, namun sia-sia, taksi tersebut dengan perlahan meninggalkan halaman parkirnya.
Bagas tetap mengejar mobil tersebut namun kembali sia-sia karna mobilnya perlahan menghilang di keramaian jalanan.
"Alia!" teriak Bagas sekeras-kerasnya, para karyawan berhamburan menyaksikan apa yang membuat CEO dingin tersebut sampai berteriak memanggil seorang wanita.
"Alia!" teriak Bagas frustasi, ia pun bersadar pada pagar depan kantornya.
"Alia! maafkan aku ini semua tak di sengaja, aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi."
Akh! teriak Bagas kembali menggema, ia pun memukul dan menendang pagar besi kantornya.
Bagas berlutut sambil menjambak rambutnya dan menangis.
__ADS_1
***
Sementara itu Alia balik ke kantor.
Sesampai di sana ia merasa kacau, namun Alia tak kekantor nya, karna tak ingin rekannya melihat ia yang terlihat kacau
Setelah menelpon salah satu rekannya Alia menuju sebuah taman, di sana ia
menangis sejadi-jadinya.
***
Sementara Ghael, setelah selesai pulang dari kantor ia pun mandi dan bersiap untuk ke bandara.
Ghael menatap sekeliling kamarnya.
"Ya Allah berat rasanya aku meninggalkan semua ini,ya Allah selamat kan lah rumah tangga ku meski nyawa ku harus menjadi taruhannya, hiks hiks hiks."
Ghael mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, untuk beberapa saat ia menangis.
Hiks hiks hiks.
"Astifullahhal Azim, Astafirullahal Azim, Astafirullahhal azim," ucapnya sambil mengusap wajahnya.
"Ya Allah yang maha membolak-balikan hati, pada mu aku berserah, jika ini jalan yang kau pilihkan, aku yakin pasti ini yang terbaik, Lahaula walakuata illabillah."
Ghael melangkah perlahan membuka pintu kamarnya.
"Bismillah," ucapnya ketika melangkah melewati pintu.
***
Puas menangis, Alia pun dapat berpikir jernih, ia baru teringat jika hari ini, hari terakhir Ghael memberinya kesempatan.
Ia pun menelpon Ghael.
Beberapa saat sambungan telpon terhubung.
"Hallo Assalamualaikum, " Ghael.
"Hiks Waalaikum sallam Bang, Bang Alia ada di taman kota," ucap Alita.
"Kenapa kamu ada di sana sih !bahaya tahu! sudah kamu tunggu Abang di tempat yang ramai orang, sebentar lagi Abang sampai," ucap Ghael.
Iya pun langsung menutup telponnya dan langsung menambah kecepatan mobilnya, Alia tak pernah pergi ke tempat umum seorang diri, itulah yang membuat Ghael khawatir.
***
Alia menunggu di pagar taman kota, di sana memang cukup ramai anak-anak remaja yang bersantai.
Ia berdiri bersandar pada lampu taman namun tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di hadapanya, tak sedikit pun Alia menaruh curiga.
Dua orang pria datang menghampirinya, Alia sempat mendongkak kan kepalanya namun belum sempat ia berteriak salah seorang pria membekapnya, Alia sempat meronta namun obat bius tersebut langsung bereaksi.
Kedua penjahat tersebut langsung membawa Alia yang tak sadarkan diri masuk ke dalam mobil, dan langsung tancap gas pergi dari tempat tersebut, saking cepatnya kejadian tak ada yang menyadari jika Alia di culik.
Ghael baru saja tiba dan melihat laki-laki yang menculik Alia membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Alia!"teriaknya, Ghael pun berusaha mengejar mobil tersebut.
Bersambung, seru ngak! mau up lagi! mana semangat untuk author, siapa ya yang menculik Alia? ada yg bisa menebak he he