
Di saat semua orang mendekatinya,Aira justru menjauh dari Aldi.
Ia duduk bersimpuh di sebuah sudut ruangan yang tersembunyi.
Tetes air mata terus membasahi pipinya.
"Di sabar ya Di, "ucap Tari yang menghampiri Aldi.
Aldi tak berkata apa-apa, ia menghambur memeluk Tari.
"Maaf kan mama ya Tar, atas kesalahan yang pernah di lakukannya, hiks hiks hiks," Ucap Aldi sambil memeluk Tari.
"Iya Di, gue ngak pernah dendam,apa yang terjadi sudah gue maafin kok, lagi pula kita kan saudara"sahut Tari.
"Kamu yang sabar ya, mungkin ini jalan yang terbaik dari Tuhan, semoga mama kamu tenang disana."Tari.
"Iya, gue coba untuk iklas meski terasa berat," ucapnya dengan Air mata berderai.
Aira menyeka air matanya, ia merasa begitu bersalah dengan apa yang terjadi,bahkan untuk mendekati mereka pun ia merasa sungkan.
"Di, satu lagi kabar duka Di, papa ngak bisa hadir di sini karna baru saja papa di larikan kerumah sakit, akibat serangan jantungnya, untung saja keadaanya tak terlalu mengkhawatirkan."papar Tari.
"Hm semoga papa sehat-sehat saja karna aku ngak punya orang tua lagi Tar, selain beliau," tutur Aldi.
"Iya Di, tapi kami saudara-saudara kamu ngak akan membiarkan kamu sendiri Di," Tari.
"Iya Tar, terima kasih," ucap Aldi.
Tak berapa lama kemudian Heru datang, ia pun langsung menghampiri Aldi dan memeluknya.
"Mas Heru..mama sudah ngak ada Mas!"tangisnya seraya memeluk Heru.
"Iya Di, kamu sabar ya, kamu harus kuat dan iklas," ucap Heru seraya mengusap punggung adiknya.
Aira melihat kearah mereka, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas Aldi maafin Aira, Aira tak berniat mendorong mama," tuturnya lirih.
Aira menangis terisak sendiri, ia langsung naik menuju kamarnya, karna tak sanggup melihat Aldi yang begitu sedih karna keteledorannya.
Aldi terus berada di samping tubuh Rita, ia membaca doa-doa seraya menghapus titik air matanya.
Aira terpaku di sudut kamar sendiri dengan tatapan mata kosong, dengan tangan gemetar ia menghapus setiap titik air mata yang terus menetes di pipinya.
Aira mengusap lembut ranjangnya, sambil merebahkan kepalanya di ranjang tersebut, baru saja ia dan Aldi berbagi cinta di ranjang ini semalam, kini semua sudah jauh berbeda.
"Hiks hiks hiks, hiks, mas Aldi hiks hiks, apa aku sanggup hindup tanpa kamu,"ucapnya sangat lirih dengan suara serak dan parau.
Hampir separuh malam Aira habiskan untuk menangis, matanya terpejam begitu saja karna jiwa dan raganya sudah begitu lelah.
__ADS_1
***
Matahari pagi terang menyinari dunia, namun tak mampu menyibak kabut duka yang terjadi di dalam rumah itu.
Jenasah Rita sudah siap untuk di kafan.
Masih dengan menggunakan pakaian hitam yang ia kenakan semalam, Aira turun menghampi tubuh Rita yang terbujur kaku.
"Ma,maafkan Aira, semoga mama bahagia di sana," ucap Aira sambil mencium kening Rita.
Itulah pertama dan terakhir kalinya ia mencium Rita.
Jauh dari lubuk hatinya, ia ingin sekali berbakti kepada Rita, namun Rita memang tak pernah menerima kehadirannya.
Aira menghapus air matanya seraya membenahi selendang hitam yang menutupi kepalanya.
Mata Aldi memicing kearah Aira, namun tatapan tersebut tak seperti tatapan tajamnya semalam.
Setelah persiapan pemakaman selesai, jenasah Rita di bawa dengan ambulan menuju peristirahatan terakhirnya.
Aldi ditemani Heru dan Doni ikut dalam mobil ambulan, sementara Romeo dan Tari mengikuti dari belakang, kedua orang tua Romeo dan Igun pun hadir dan mengantar ke pemakaman.
Aira kembali naik ke menuju kamarnya setelah menatap kepergian ambulan yang perlahan meninggalkan rumah duka.
Aira membuka pintu kamarnya dan merapikan tempat tidurnya, ia duduk di atas meja riasnya untuk menulis surat kecil untuk Aldi dengan secarik kertas.
✉Untuk mas Aldi tersayang, dengan surat ini. Aira mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada mas Aldi dan keluarga atas insiden yang terjadi pada mama Rita.
Semoga mas Aldi berbahagia tanpa Aira dan semoga mas Aldi dapat jodoh yang lebih baik dari Aira.
Salam,.
Aira.
Aira menulis dan melipat surat tersebut dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Dengan tangan lemahnya yang mulai gemetar, Aira menghapus Air matanya.
Aira meletakan surat tersebut di atas meja riasnya, dan di tindih dengan botol parfum milik Aldi.
Ia mengedar pandanganya kesekeliling ruangan tersebut untuk yang terakhir kalinya.
Aira berjalan mendekati tempat tidurnya, Teddy ini adalah perpisahan kita untuk selamanya, ucapnya sedih, ia pun memeluk dan mencium boneka beruang tersebut.
Dengan langkah gontai ia pun melangkah menuruni tangga sambil menarik kopernya.
Setelah berada di lantai bawah, ia menuju dapur untuk berpamitan dengan asisten rumah tangganya.
Aira menghampiri Mbok Yun," Mbok Aira pamit dulu," ucap Aira lirih.
__ADS_1
"Non, Non Aira mau kemana ?"tanya mbok Yun.
"Aira harus pegi mbok Aira sudah tak ada tempat lagi disini, " ucapnya lirih.
"Tapi Non, apa sebaiknya Non Aira pergi menunggu keadaan lebih tenang?"tanya mbok Yun.
"Biar saja mbok, mas Aldi pasti ngerti kok," ucapnya seraya kembali menghapus air matanya.
"Ya sudah kalau gitu, hati-hati Non,"ucap mbok Yun seraya memeluk Aira.
"Iya mbok, terima kasih,".ucapnya seraya tersenyum simpul.
Aira menyeret kopernya keluar dari rumah yang kembali sepi tersebut.
Setelah keluar dari gerbang rumah Aldi, ia melihat ke kanan dan ke kiri, karna ia pun tak tahu harus kemana.
Matahari semakin terik, saat itu jauh sudah Aira berjalan, namun belum satu tempat pun yang terpikir olehnya untuk menjadi tujuan saat itu.
Tut tut tut...
Suara klakson mobil yang mendekat kearahnya.
"Aira?"tanya Igun.
Igun turun dari mobil dan menghampiri Aira.
"Aira, kamu mau kemana?"tanya Igun.
Aira tertunduk, ia tak menjawab, melihat dari raut wajahnya, Igun tahu jika Aira punya masalah.
"Ayo, kakak antar kamu, "ucap Igun sambil menarik pelan tangan Aira, Aira pun masuk kedalam mobil Igun.
"Kamu mau kemana?"tanya Igun.
Aira tak menjawab, "Kak bisa antar Aira di stasiun kereta?" ujarnya
"Stasiun kereta? Kamu mau kemana?tanya Igun sambil menyeritkan dahi.
Aira menatap lurus kedepan dengan tatapan kehampaan.
"Aira." Panggil Igun.
"Aira," ulangnya seraya menepuk pundak Aira pelan.
Aira terperangah, "Eh ada apa Kak?" tanya Aira.
"Kamu kenapa sih? kalau punya masalah, kamu cerita sama Kakak,"saran Igun.
Aira tersenyum simpul, beberapa saat kemudian ia pun kembali menarik senyumnya.
__ADS_1
Mau kemana Aira ya, saksikan episode selanjutnya akan semakin seru