
Mentari senja perlahan beranjak meninggalkan singgahsana, hiruk pikuk dan keramain orang terdengar hingga di kamar Tari, mereka sedang mempersiapkan tenda dan pelaminan untuk acara akad nikah yang akan di gelar esok hari.
Mentari senja duduk di atas peraduan menanti sang waktu yang berganti, saat siang berganti malam.
Taburan bintang di angkasa, seperti untaian gemerlap berlian menghiasi langit yang gelap, redup nya sinar sang ratu malam seloah tersenyum ke arah Tari yang begitu bahagia.
Esok hari ia akan resmi di persunting oleh pujaan hatinya.
Senyum tak lepas dari bibir munggil namun sensual tersebut.
Berkali-kali Tari merilik petunjuk waktu, berharap semua akan berlalu dengan cepat.
Ingin rasanya ku putar waktu, agar aku tak lagi menunggu, menanti mu adalah sesuatu yang indah bagiku, di mana setiap saat nya aku hanya memikirkan tentangmu dan hanya tentang mu, semakin dekat,kenapa waktu semakin terasa lambat, oh bulan bantu aku membagi rasa ini pada dunia, aku sedang gulana menanti malam berganti pagi.
Oh malam cepat lah kau beranjak dari tahtamu, berikan aku sinar mentari yang hangat di pagi hari yang cerah, pada mu langit dongengkan untuk ku kisah cinta termanis yang pernah terjadi di muka bumi ini, bukan kisah cinta Siti Nurbaya atau kisah Romeo dan Juliet.
Pada Mu anggin nyanyikan pada ku syair lagu cinta, buat lah aku terbuai hingga ku terlelap, saat ini aku merasa begitu bahagia, hingga aku tak bisa memejam mata.
Tari tersenyum seraya melangkah mengintip ke bawah dari balkon kamar persiapan acara akad nikahnya.
Tak ada kebahagiaan yang lebih indah selain menikah dengan seseorang yang begitu ia damba.
Tari melihat ukiran mahendi di telapak tanganya, ukiran yang begitu indah," Semoga ini pernikahan yang pertama dan terakhir untuk ku." ucap Tari sambil mencium cincin tunanganya.
Tari berjalan mengitari kamarnya, melihat untaian dan rangkaian bunga sebagai hiasan di kamarnya.
Suasana kamar Tari, terasa berbeda karna di kamar ini lah ia akan menghabiskan malam pertamanya sebagai seorang istri, setelah pernikahanya Esok hari.
dua bulan telah berlalu di mana suka dan duka dalam menanti waktu,.akhirnya dalam hitungan jam lagi ia dan Romeo mengikat janji suci dalam ikrar ijab qabul.
Tari baru saja menjalan kan ritual pra nikahnya,.setelah mandi kembang, luluran dan maskeran, juga beberapa ritual lainya, kini ia hanya tinggal menunggu waktu saja, Tari berbaring sambil membayangkan sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Tari tersenyum sendiri, merasakan kebahagiaan yang tiada taranya.
Saat keheningan dan kesendirianya tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang.
Seketika lamunan Tari buyar,ia segera beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya untuk membuka pintu.
"Tara! Mbak Tari jangan lupa makan malamnya," ucap Aira sambil menyodorkan sebuah manpan berisi makan malam untuk Tari.
"Oh ya udah taruh di atas nakas gih," titah Tari sambil menutup pintu kamarnya.
Aira pun masuk kedalam kamar Tari, ia berjalan menuju nakas kemudian meletakan makan tersebut di atas meja.
Tari duduk di atas tempat tidur melihat apa yang di bawa oleh Aira untuk nya.
"Hah, kok cuma nasi sama bening bayam sih?"Tari protes, melihat apa yang ada di hadapanya.
"Iya, Mbak kata bunda, calon penganten wanita ngak boleh makan yang amis dan berminyak, ntar itunya berbau tidak sedap," ledek Aira, ia pun tertawa terkekeh.
"Apaan?" dengus Tari,
"Ogaah ngak naf*su gue kalau cuma sayur bening gini,"tolaknya sambil menyodorkan nampan tersebut.
"Eh ngak boleh gitu, nurut aja,"
" Mbak Tari ngak mau dong pas bang Romeo buka segitiga nya, langsung tercium bau acem," ledek Aira lagi, sambil tertawa terkekeh.
"Hah,kok bisa gitu?"tanyanya polos.
"Ya mana Aira tahu, itukan petuahnya orang dulu-dulu." he he terkekeh kembali.
Tari menelan salivanya, bola mata hitamnya keatas, ia sedang membayangkan betapa malunya ia jika itu sampai terjadi.
Aira tersenyum simpul,sengaja mengerjai Tari , karna setelah Tari menikah tentu saja mereka akan jarang bersama.
"Masa'sih Aira?"tanyanya dengan wajah polos karna terlihat Aira seperti mengerjainya.
__ADS_1
"Iya Mbak, tapi kalau ngak percaya juga ngak apa-apa, Mbak Tari juga yang mengalaminya, bukan Aira," ujarnya membuat Tari semakin ragu.
Aira kembali mengulum senyumnya, melihat Tari yang terlihat bimbang.
"Iya deh, demi Romeo," ucapnya sambil menyuap nasi putih dan sayur bening tersebut.
"Nah gitu donk, Mbak, malam pertama itu hanya terjadi seumur hidup sekali, jadi jangan sampai_"
"Ah udah, jangan banyak bacot loh ini gue udah makan," selanya sambil menyuap nasi kedalam mulutnya.
Aira mengedar pemandangannya pada setiap sudut kamar yang sudah di rias menjadi kamar pengantin tersebut.
Senyum tipis tersungging dibibir Aira, ia pun kembali teringat saat ia dan Aldi melakukan ritual malam pertamanya.
Pandangan Aira terfokus pada sebuah gaun yang di gantungan di etalase kamar tersebut.
Aira mendekati walk in closed nya Tari, ia melihat gaun pengantin yang indah yang di rancang dengan paduan bahan sutra dan tile.
"Mbak ini gaun pengantinnya?"tanya Aira sambil memperhatikan gaun indah berwarna putih tersebut.
He'em, Tari menggangguk,ia melanjutkan makanya.
"Wah indah sekali Mbak, jadi pingin pakai gaun pengantin seindah ini,"ujarnya sambil meraba gaun indah tersebut.
"Ya kalau kamu mau, tinggal beli dong, orang kamu banyak duit juga," sahut Tari enteng.
"Beli? tapi untuk apa juga, dan mau pergi kemana pakai gaun sebagus dan semewah itu," sahut Aira.
"Ya untuk pernikahan kamu sama Aldi dong, kalian kan cuma menikah siri, lo minta dong sama Aldi biar dia menikahi loh secara sah Aira, biar loh itu resmi di mata hukum sebagai istrinya Aldi."
"Kalau status kamu masih istri siri, Aldi tuh akan gampang meninggalkan kamu, tinggal ucap kata talak saja, kalian sudah bisa bercerai, tapi jika kalin resmi di mata hukum, Aldi ngak bisa seenaknya meninggalkan dan menceraikan kamu Aira," imbuhnya lagi.
Aira tertegun, ia mendekati Tari.
"Memangnya kenapa Mbak kalau jadi istri siri?"tanya Aira.
Ehm Aira mengangkat Alisnya, berpikir sejenak.
"Iya sih Mbak, Tapi Aira lebih ingin sekolah dari pada meresmikan pernikahan Aira."
"Pernikahan itu bisa kapan saja, tapi sekolah, Aira cuma punya waktu ngejar tahun ini," papar Aira.
"Lagi pula pernikahan dan sekolah itu sama sama cita-cita Aira,jadi Aira harus dahului apa yang harus di dahui,"terangnya lagi.
"Terserah loh deh Aira, meski sibuk mengejar cita-cita, loh jangan lupa jaga laki loh, secara Aldi itu banyak yang mendambakannya, termasuk gue he he tapi itu dulu," ujarnya sambil cengengesan.
"Uuh, udah tahu ngak usah di bahas lagi,"sahut Aira sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Eh tapi gimana perasaan mbak Tari? Besok kan Mbak mau nikah," tanya Aira.
"Ya senang lah Aira, rasanya pingin jungkir balik," sahut Tari.
He he.
"Loh disini saja ya Aira, kita lembur semalaman, saking senangnya mbak sampai ngak bisa tidur." Tari.
"ehm, tapi mas Aldi?"Aira ragu.
Ah cuma malam ini kok," sambung Tari.
Saat sedang asik ngobrol, mereka mendengar pintu kamar yang di ketuk oleh seseorang.
Aira beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Sosok Aldi pun muncul di depan pintu, "Mas Aldi?"
"Di sini rupanya kamu,"ucap Aldi yang langsung masuk menyelonong.
__ADS_1
Aira menutup pintu kembali dan membuntuti langkah Aldi.
Aldi langsung naik keatas ranjang Tari, sementara Tari sedang bersandar pada headboard sambil memegang cermin rias.
Dengan santainya ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur Tari, bahkan tanpa sungkan Aldi meletakan kepalanya di atas pa*ha Tari.
Sementara Aira juga ikut bersandar pada tubuh Tari.
"Mas Aldi kita main Ml yuk! Ajak mbak Tari juga,"ajak Aira sambil mengeluarkan handphonenya.
"Main Ml ngak bisa bertiga sayang, Mas Aldi ngak mau lah digilir," ucapnya spontan.
"Ih, ngeres aja loh," ucap Tari sambil menjitak kepala Aldi.
"Abisnya ngajak Ml? Yah ngak bisa bertiga," sahut nya lagi.
"Mobile legend begok, otak loh kotor banget Di." Cetus Tari.
"Ini lagi ngapain kepala loh di pangkuan gue? Sana loh udah punya bini juga," dengus Tari sambil menepis kepala Aldi dari pangkuanya.
"Ya elah, sebentar lagi loh kan mau nikah, ngak apa juga kali, gue kan adik loh, ntar kalau loh udah punya laki kan, gak mungkin gue manja-manjaan sama eloh, lagi " sahutnya sambil menaik turunkan alisnya.
Sementara Aira sudah sibuk dengan game onlinenya, tak lagi peduli dengan keduanya.
Suara pintu di ketuk kembali, dan dengan segera Aira meletakan handphonenya tersebut di atas nakas, kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu.
Krek ... pintu di buka dan di sana sudah ada Maya dan Satria.
"Bunda, Papa?"sambut Aira dengan membuka daun pintu lebih lebar.
"Kalian di sini rupanya," ucap Satria langsung masuk ke kamar Tari.
Satria menghampiri Tari, melihat kedatangan kedua orang tuanya, Tari dan Aldi yang sedang bercanda tersebut pun berhenti bercanda.
"Kamu di sini juga Di, kebetulan ada yang ingin papa sampaikan," ucap Satria sambil mendaratkan bokongnya ke kursi meja rias.
Aldi yang tengah berbaring pun bangkit dan duduk di sisi tempat tidur.
"Ada apa Pa?"tanya Aldi serius.
"Ah ngak, papa ingin menghadiah kan sesuatu untuk kalian," ucap Satri sambil menunjukan beberapa lembar tiket pesawat.
"Apa ini Pa?"tanya Tari binggung.
"Ini tiket bulan madu kalian ke bali, untuk kamu dan Romeo serta Aldi dan Aira," paparnya.
Mereka sedikit kaget mendengarnya.
"Tapi Pa! Kenapa Aldi dan Aira juga di beri tiket itu?"tanya Aldi dengan nada keberatannya.
"Karna Papa tahu, kalian belum sempat berbulan madu, jadi Papa sekalian menghadiah kan tiket dan travel untuk mu dan Aira, kalian juga butuh refreshing setelah melalui hal yang berat, siapa tahu dengan pergi bersama-sama, pulangnya Aira dan Tari bisa langsung hamil," ucap Satria.
"Iya sih Pa, tapi ngak perlu pergi bersama Tari dan Romeo juga kali?"ucap Aldi ketus.
Sementara Tari terdiam, ia juga tak setuju jika mereka pergi liburan bersama, itu bisa mendekatkan Aira dan Romeo kembali.
"Ya sudah Di kalau kamu ngak mau, papa tahu kamu banyak duit, tapi tiket itu sudah terlanjur papa beli, hotel dan travel juga, mubazir tau," ujar Satri yang sedikit tersinggung.
Ehm, Aldi menjadi tak enak,.maksud papanya memang baik, karna ia tak pernah tahu seperti apa hubungan Aira dan Romeo sebelum ini.
"Iya deh Pa, Aldi setuju kok,"sahutnya sambil meraih dua tiket di tangan Satria.
"Ya sudah, Mama sama Papa mau istirahat, kalian juga, jangan begadang, ntar saat resepsi kecapeaan, "ujar Satria memberi nasehat.
"Iya Pa!"serentak.
Punggung Satria dan Maya perlahan menghilang di balik pintu, mendadak mereka semua hening, melihat tiket yang ada di tangan mereka.
__ADS_1
Bersambung guys, jangan lupa dukungnya, like, komen, vote dan hadiah nya ya, tetap baca novel ini sampai akhir, akan ada keseruan dan kejadian tak terduga, lope u reader.