
Tari membuka matanya dengan perlahan, kepalanya terasa sakit, matanya memutar melihat kearah sekeliling, dan mencoba mengenali di mana ia berada saat ini.
Tari coba mengerakan tanganya, namun terasa sakit.
"Aw," suaranya meringis, kepala dan tangan kirinya terasa sangat sakit.
Romeo terlelap di samping Tari, dan merasakan ada yang menyentuh tangannya.
Romeo menegakkan tubuhnya dan melihat Tari yang meringis menyentuh keningnya.
"Kamu sudah sadar ?" tanya Romeo.
"Kenapa kepala gue sakit Rom? tangan sebelah kiri juga sakit sekali,?" tanyanya lirih.
Tari sampai meneteskan air matanya menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
"Lo sekarang berada di rumah sakit Tar, dan habis menjalani operasi."
"Operasi?" ucap Tari lirih.
"Tar, gue sudah mencoba menghubungi kedua orang tua lo, tapi telpon mereka di luar jangkauan, sebenarnya kemana sih orang tua lo Tar?" tanya Romeo.
"Nyokap dan bokap gue, udah berpisah Rom, dan sudah lebih dua tahun gue ngak pernah bertemu dengannya, sedangkan nyokap gue, ia seorang bidan di daerah terpencil, sejak mereka berpisah nyokap mengabdikan diri di daerah terpencil, dan karna gue masih kuliah, gue masih tinggal di sini untuk menyelesaikan kuliah gue.
Romeo memangut,
"Maaf Tar apa benar lo itu anak angkat?" tanya Romeo.
Tari diam sejenak, air mata kembali menetes di sudut netranya yang sedikit sipit itu.
"Iya, Rom, dan karna gue juga, mama sama papa gue berpisah, papa gue menyangka jika gue adalah anak selingkuhan nyokap gue, gue pernah terkena DBD dan harus transfusi darah Rom, karna golongan darah gue stoknya sedikit, jadi papa gue coba untuk mendonorkan darah nya ke gue, tapi mengejutkan, satupun diantara keluarga gue ngak ada yang memiliki golongan darah yang sama, bokap gue bergolongan darah A, sedang nyokap Ab, dan Adek gue Ab, mereka curiga, akhirnya kami melakukan tes DNA dan hasilnya, gue memang bukan anak mereka, sejak itu gue di kucilkan sama keluarga gue, terkecuali mama gue, mama tetap sayang sama gue, saat gue tanya kenapa semua ini bisa terjadi, dia cuma bilang mungkin gue tertukar, saat masih bayi, dan gue ngak pernah dapat alasan lebih dari itu, nyoap gue seperti menghindar saat gue menanyakan kebenaran ini semua Rom," ucap Tari lirih.
"Ya sudalah, mendingan lo istirahat saja."
Tari kembali menatap keadaan sekelilingnya dan melihat Doni dan Aldi.
"Rom, Aldi juga ada di sini?" tanya Tari.
"Iya bahkan Aira juga ada," sahutnya.
"Tapi kenapa Aldi repot-repot sampai bawa isrrinya kesini? apa cuma mau manas-manasin gue" tanya Tari .
Ngak usah sok uzon dulu Tar, Aldi udah mendonorkan darahnya untuk lo, dan dia juga sudah nembayar biaya operasi dan kamar perawatan lo yang senyaman di hotel ini, jadi jika dia cuma berniat untuk menyakiti hati lo, kayak nya dia juga ngak harus buang-buang waktu dan uangnya seperti ini."
"Hah Aldi mendonorkan darah untuk gue?" tanya Tari kaget.
"Iya kan golongan darah lo dan Aldi sama-sama-sama O negatip.
"Kok bisa?"
'Mana gue tahu, ya sudah sekarang lo tidur dan istirahat, lo sekali lagi akan menjalani operasi Tar, untuk memasang pen di tangan lo."
"Iya Rom, tapi lo nyanyikan gue lagu, biar gue cepat tidur ya, "
"Ihs, manja banget lo, ngak mau ah."
"Ya udah kalo ngak mau," ucapnya ngambek.
"Iya gue nyanyi."
"Betapa hatiku tak kan pilu, telah gugur...,"
"Kok loh nyanyi nya lagu gugur bunga sih Rom, lo nyumpahin gue cepat mati ya?" sahutnya kesal.
Romeo tertawa terkekeh, "Habis gue lagi ngak mood."
"Ya udah lo usap-usap kepala gue aja Rom sampai gue tidur, kepala gue sakit nih," titahnya.
Romeo mengkerucutkan mulutnya, "Gue ketok, bocor lagi kepala loh," gerutunya kesal.
Dengan pasrah Romeo mengusap kepala Tari, hingga ia sendiri tertidur di samping Tari.
Tari memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, tapi kepalanya masih terasa sakit.
Ia pun memutar kepalanya, kini wajah Romeo begitu dekat sekali denganya.
Tari tersenyum, baru kali ini wajahnya begitu dekat dengan wajah Romeo.
__ADS_1
Kesok harinya.
Aira terbangun dan menerjab-nerjabkan matanya, dan dalam beberapa saat ia pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi.
"Mumpung semua pada tidur, mendingan aku mandi duluan," ucap Aira sambil membuka tas ranselnya.
Aira membawa handuk dan baju gantinya di kamar mandi.
Suster datang untuk memeriksa Tari.
Karna kehadiran suster tersebut, Romeo pun tersadar, ia menuju kamar mandi, tapi seperti ada seseorang yang sedang mandi, akhirnya Romeo pun mencuci wajahnya di washtafle.
"Bagai mana Suster ?" Romeo.
"Tekanan darah nya stabil pak, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa."ucap suster tersebut kemudian berlalu.
Romeo bermaksud melanjutkan tidur nya, ia kembali duduk di samping Tari, tiba-tiba netranya menangkap seseorang yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah.
Seketika senyumnya mengembang, ia pun menegakkan kepala nya sambil melempar senyum kearah netra yang kini tengah memandang kearahnya.
Saat keduanya saling memandang, mereka hanya tersenyum dan tersipu malu, Aira terus berlalu.
Aira merapikan pakaian kotornya, setelah menyisir rambutnya, Aira menyeduh dua mie instan cup, dan menyeduh dua cangkir susu coklat.
Aira menghampi Romeo dan menyodorkan nampan dengan dua mie instan cup, dan susu coklat.
"Sarapan dulu bang," ucap Aira sambil menyodorkan nampan nya.
Romeo mengambil secangkir susu coklat dan menyerupnya," Manis," ucapnya sambil tersenyum manis kearah Aira.
"Manis dong, kan di tambahin senyum Aira sedikit, " sahut Aira sambil tersenyum malu.
"Pantesan manis, ngak bikin diabetes lagi," cetus Romeo.
"Ih, abang bisa aja," ucap Aira tersipu.
"Bisa dong, masak bisa ular," sahut Romeo sambil tersenyum.
Aira semakin tersipu, saat pandangan mata Romeo tak beranjak darinya.
"Habis mau diapain, mau di sentuh bukan muhrim," cetusnya.
Ya sudalah, mie nya di makan ya bang, ntar kembang, Aira mau siap-siap dulu, ucapnya sambil beranjak.
"Mau kemana?"
"Mau dandan yang cantik sebelum mas Aldi bangun," sahutnya lagi.
Romeo hanya tersenyum.
Aira pun duduk di sofa dan memakai make-up tipisnya.
Romeo menatap layar handphone yang bergetar.
"Orang tuanya Tari, nih."
Ia pun menyambut telpon dengan segera.
"Halo,"Romeo.
"Halo, Tari di rawat ruangan yang mana dek?" tanya seseorang dengan nada cemas.
"Vip lantai dua tante," sahut Romeo.
Wanita tersebut menutup panggilannya, sementara Romeo membanggunkan Doni.
Romeo menghampiri Doni.
"Don, bangun Don," ucapnya sambil nenggoyangkan tubuh Doni.
Doni mengeliat, matanya menerjab-nerjab.
"Ngapain sih Rom, gue masih ngantuk," ucapnya sambil menguap.
"Nyokapnya Tari sebentar lagi tiba Don, ngak enak, kalau lo sama Aldi masih tidur, lagi pula sebentar lagi dokter datang memeriksa Tari."
Doni pun meregangkan otot-ototnya dan melihat Aldi masih terlelap di sampingnya.
__ADS_1
"Al, bangun Al, sudah siang," ucap Doni sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aldi.
Bukanya membuka matanya, Aldi langsung memeluk Doni, dan mencium pipinya karna mengingira Aira yang berada di sampingnya," Uhm kok beda bau nya," ucap Aldi kaget dan langsung tersadar ketika merasa pipi nya di tampar dengan keras oleh Doni.
Plak,
"Lo Don, ngapain lo tidur dekat-dekat gue, bini gue mana?" tanya Aldi sambil mengelus pipinya yanh
Enak aja lo, lo mau melecehkan gue ya, dengus nya.
"Ihs najis, gue kira lo bini gue, kenapa lo nampar gue, kenceng lagi, langsung terkumpul semua nyawa gue yang tercecer."
"Habisnya lo main nyosor aja," gerutu Doni, ia pun bangkit.
"Aira mana?" tanya Aldi, yang mencari keberadaan Aira.
Aldi pun langsung bangkit dan mencari Aira, hingga keluar ruangan, Aldi melihat Aira yang sedang bicara pada Mamanya.
Terlihat sekali Aira di intimidasi oleh mamanya.
Aldi pun menghampiri Rita.
"Eh Aira, ngapain kamu ikut-ikutan Aldi nginap di rumah sakit segala, kamu takut ya, jika Aldi macam-macam, harus nya kamu sadar Aira, kamu itu seperti mainan bagi Aldi, nanti juga kalau dia bosan, kamu bakalan di campakan, lihat saja nanti, kau juga ngak sadar diri, mau saja di permainkan Aldi, sebaiknya kamu tinggalkan Aldi, sebelum Aldi membuat kamu seperti barang bekas yang tak beeguna, dan asal kamu tahu saja Ya, Aldi sudah ku jodohkan dengan perempuan yang lebih pantas dengannya dari pada kamu," cecarnya dengan ketus.
Aira hanya tertunduk diam, tangannya mengepal sendiri, sudah sering ia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari ibu mertuanya, tapi kali ini Rita sudah kelewatan iya mencaci maki Aira di depan kamar perawatan Tari dan tak hanya Aldi, Doni dan Romeo pun mendengar kata-kata penghinaan yang terlontar dari mulut Rita.
"Ma, ada apa ini?" tanya Aldi yang langsung menghampiri Aira.
Rita menatap Aldi,
"Aldi kamu..., "kata-katanya terhenti karna melihat seorang wanita yang mendekat kearah nya.
"Nova?" ucap Rita ketika melihat wanita yang melintas masuk kedalam kamar perawatan Tari.
"Tunggu Nova," ucap Rita yang kemudian menahan pergerakan wanita tersebut.
Nova pun berhenti dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Mbak Rita? kenapa bisa ada di sini?" tanya Nova heran.
"Jadi anak yang mengalami kecelakaan itu anak kamu?" tanya Rita.
"Iya dia yang bernama Mentari," sahut Nova.
Sudah ku duga, ternyata dia memang putrinya Nova, menarik, biar ku buat cerita yang lebih menarik lagi, batin Rita.
Rita tersenyum,
"Ayo kita lihat putrimu," ujarnya sambil berjalan di depan, mendahului Nova.
Aldi menghampiri Aira yang menangis, Aira jangan masukin ke hati ya, ucapan mama, kita pulang saja," bujuk Aldi.
Aira hanya terisak menangis, kali ini Rita kembali menghinanya, dan merendahkannya, Aira pun menatap wajah tampan Aldi, dan sepertinya apa yang dikatakan ibu mertuanya tersebut memang benar adanya, dirinya tak pantas mendampingi Aldi.
Aldi menghapus air mata Aira, dan memeluknya, "Kita pulang sekarang ya sayang," ucapnya sambil mengecup kening Aira.
Aldi masuk kedalam kamar untuk membereskan barang-barang mereka, setelah itu, ia langsung keluar dari kamar tersebut, tanpa pamit dengan mamanya.
"Aldi mau kemana kamu?" tanya Rita sambil berjalan menghampiri Aldi.
"Mau pulang Ma, lagi pula kalau mama mau bikin keributan di sini, silahkan saja," ucap Aldi datar, ia pun langsung keluar.
Rita menatap kearah Aldi dengan sinis.
Sudah berani Aldi sekarang, semenjak ada perempuan itu, Aldi malah lebih sering membela gadis itu, dan membangkang, lihat saja, aku akan membuat Aldi mencampak kan gadis itu, batinnya.
Mata Rita menyiratkan dendam yang begitu dalam, sesuatu yang terjadi di masa lalu, membuatnya hatinya begitu keras, hanya ada dendam yang tersisa kini, dan hanya sedikit saja kasih sayang di hatinya.
Wah apa yang terjadi sesungguh nya di masa depan dan di masa akan datang ya?
Berikan like, komen, vote dan hadiah yang banyak.
🌷perhatian jangan di skip 🌷
Eh autor punya sekilas info nih, buat Referansi bacaan kalian, lumayan sambil nunggu author up, salah satu novel favorite author nih, ini dia novel yang bikin author baper parah, kisah cinta yang penuh perjuangan antara Babang Ivan dan teteh Elsa, hingga menuju puncak cinta sesungguhnya, kisah cinta yang mengharukan, dimana cinta tersebut sudah terjadi sejak mereka di bangku SMA, hingga menuju pernikahan yang terhalang restu orang tua, sanggup kah babang ivan dan teteh elsa melaluinya berbagai ujian dan cobaan demi menuju puncak cinta mereka, cerita nya ringan namun berkelas, penasaran dong,
__ADS_1