
Aira terbangun karna mendengar notipikasi pesannya, matanya menerjab-nerja meraba handphone yang berada di atas nakas.
Seribu pesan dari Aldi.
Dengan mata yang masih mengantuk ia membuka pesan yang berjumlah ribuan tersebut.
✉Aku mencintaimu,
✉Aku sayang kamu,
✉Maukah menikahi ku,
✉Maafkan aku sayang,
✉Aku tak bisa hidup tanpa,
✉Aku mencintai mu,
✉Aku merindukanmu,
dan sebagainya hingga genap seribu pesan.
Mata Aira membelalak saat melihat seribu pesan masuk yang hanya bertuliskan pernyataan cinta.
Setelah membaca pesan tersebut Aira kembali menutup handphonenya karna merasa ngantuk.
Aira kembali berbaring, dan menarik selimutnya matanya melirik kearah pentujuk waktu yang berada di atas nakas.
"Ehm. masih pukul dua pagi," gumannya, ia menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
Namun suara dering handphone terdengar beberapa kali, meski di-silent namun getaran handphonenya bergetar di atas nakas hingga membuat matanya kembali membuka lebar.
Aira meraih kembali handphone tersebut dan melihat siapa yang menelpon.
Melihat kontak yang tertera adalah nama Aldi dengan malas ia menggangkatnya, karna ia tahu Aldi tak akan berhenti sebelum ia menggangkatnya.
Aira menekan tombol hijau namun meletakan nya di samping dirinya, dan membiarkan Aldi bicara sendiri sementara ia kembali tidur.
***
Aldi berada di atas tempat tidurnya, matanya tak mau terpejam sedikit pun, rasa rindu itu semakin menggebu saat melihat Aira untuk pertama kalinya setelah enam tahun tak bertemu.
Setelah puas membolak-balikan tubuhnya tapi matanya juga tak mau terlelep.
Akhirnya ia menemukan ide untuk mengirim 1000 pesan pernyataan cintanya pada Aira.
Jari-jarinya terasa kaku karna menulis seribu pesan ungkapan cintanya, namun tak membuatnya berhenti.
Akhir pesanya ia tulis sebagai berikut.
✉Jika Bandung Bondowoso membuat seribu candi untuk melamar Roro jongrang, maka aku hanya mampu menulis seribu pesan ungkapan cinta ku kepada mu, aku berharap kau dapat menerima ku kembali.
"Send" guman Aldi setelah berhasil mengirim pesan tersebut kepada Aira.
Aldi memeriksa kembali pesan yang ia kirim, dan ternyata langsung di baca oleh Aira, ia berinisiatip untuk menelponnya.
Aldi merasa senang saat panggilan telponnya langsung di sambut oleh Aira.
"Hallo sayang kenapa belum tidur,lagi mikirin mas Aldi ya?"Aldi senyum senyum sendiri menunggu sahutan dari seberang telpon, namun setelah beberapa saat tak juga ada jawaban.
__ADS_1
"Kamu malu ya, kamu rindu juga kan sama mas Aldi?"tanya Aldi kembali.
Beberapa saat menunggu masih tak ada jawaban.
"Sayang kamu masih marah ya?"tanya Aldi.
Masih bergeming setelah beberapa saat Aldi baru menyadari jika Aira tertidur karna terdengar suara denguran lirih dari seberang telpon.
Aldi tersenyum, "Aku begitu rindu mendengar dengkuran ini di telinga ku sayang, rasanya aku ingin memelukmu seraya menikmati dengkuran itu dalam dekapan ku lagi," guman Aldi.
"Ya Tuhan kapan semua bisa kembali seperti semula." Aldi.
Setelah menutup panggilan terlponya ia kembali mencoba menutup mata, tapi masih tak bisa terlelap, Aldi benar-benar tak bisa melupakan wajah Aira dalam ingatannya.
Hingga membuatnya tetap terjaga hingga pagi hari.
***
Matahari merangkak naik, perlahan sinarnya masuk ke cela-cela jendela.
Aldi menyibak gorden berwarna kuning kentang tersebut, agar sinar matahari dan udara pagi yang segar masuk melalui jendela.
Di atas ranjang terbaring putri kecilnya yang tengah tertidur lelap, Aldi menghampiri Alia kemudian menciumnya.
Setelah melakukan ritual pagi, Aldi turun untuk menyiapkan sarapan untuk sang putri.
***
Hari ini hari pertama Aira memulainya tugasnya di salah satu polres yang ada di kotanya.
Setiap pagi mereka akan melakukan apel pagi dan Aira sedang bersiap bergegas untuk berangkat.
Aira mengenakan motor trail menuju pos, karna tugas yang ia beban mengharuskannya menggunakan kendaran yang dapat di gunakan di segala medan.
Bentuk tubuhnya semakin terlihat indah dengan seragam yang ia kenakan, di tambah make-up yang minimalis semakin menambah Aura kecantikannya.
Tak heran jika ia menjadi primadona di antara anggota lainya, apalagi dengan prestasi menembaknya yang akurat 99,9 % membuat ia menjadi pemimpin dalam tugasnya kali ini.
Pihak kepolisian mendapat laporan tentang aksi premanisme yang terjadi di sebuah pasar, hingga menimbukan bentrokan dan ketegangan di sebuah kawasan pasar tradisional.
Aira menugaskan sepuluh anggotanya untuk mengamankan TKP, setelah prepare target dan stadegi yang ia paparkan, tim yang ia pimpin segera menuju tkp.
Benar saja, keadaan semakin kacau, bentrok pun terjadi di kawasan pasar tersebut.
Beberapa toko bahkan ada yang menjadi sasaran amuk masa.
Keadaan semakin tegang ketika perusakan dan tindakan kekerasan terjadi saat itu.
Beberapa orang pun sudah ada yang menjadi korban.
Sebagai komandan dalam timnya saat ini, Aira turun dari motornya dan berlari menuju TKP seraya menembakan tembakan peringatan ke udara, di ikuti oleh anggota yang lain.
"Berheti!" Dor ...
Seketika massa kocar kacir mendengar suara tembakan peringatan, anggota yang lain pun mengejar beberapa orang untuk di mintai keterangan.
Tapi aksi brutal terjadi ketika seorang anggota di tusuk seorang preman yang kemudian melarikan diri di antara kekacauan yang terjadi, Aira berusaha mengejar preman tersebut hingga ke gang-gang sempit di sekitar wilayah tersebut.
Karna massa cukup besar ,tim kewalahan apalagi beberapa wartawan ikut meliput.
__ADS_1
Pelaku penusukan tersebut kemudian melarikan diri dari keramaian. dan tanpa takut sedikit pun Aira mengejarnya sampai ke jalan-jalan setapak seorang diri.
Sementara yang lain, mengevakuasi korban.
"Berheti!" dor... teriak Aira memberi tembakan peringatan pertama sambil mengejar penjahat tersebut.
Tapi preman itu masih berlari dan membuatnya harus memberi tembakan peringatan kedua di udara, tetapi tetap tak di gubris. malah si penjahat tersebut berhenti sebentar sembari melenpar batu dan kayu kearahnya, untuk menghadang jalan Aira, tanpa menunggu lagi dengan terpaksa ia melayangkan satu tembakan ke betis tersangka untuk melumpuhkannya.
Lelaki tersebut tersungkur namun ia masih bisa berlari dengan menyeret kakinya yang terlena peluru.
"Akh akh,!"
Aira masih mengejarnya dan akhirnya ia mendapatinya, si penjahat tak terima begitu saja saat di bekuk, dengan senjata yang masih di tanganya ia mencoba berduel dengan senjatanya dan berusaha melukai Aira.
Aira berhenti ketika penjahat tersebut mulai menyerangnya.
Ia pun berusaha menangkis senjata yang mengujam kearahnya, dengan kemampuan bela diri yang ia miliki Aira coba berduel, tanpa sengaja pergelangan tanganya terkena luka sobek yang cukup dalam ketika menangkis pisau yang tersangka gunakan sebagai senjata.
tak ingin terdesak, Aira langsung menendang kearah betis pria yang terkena peluru tersebut.
"Akhh!!!! " preman tersebut berteriak dan langsung jatuh tersungkur.
" Akkkk" teriaknya lagi merasa kesakitan.
ia pun memegang kakinya namun tanganya di injak oleh Aira dan membuatnya kembali memekik.
"Akhhh," setelah mengunci tangan penjahat tersebut, Aira mengeluarkan brogolnya dan membrogol pria tersebut.
Darah terus mengalir pada lengan Aira yang terkena sabetan senjata tajam tersebut, namun dengan tangan yang lainya ia berusaha menarik tersangka menuju TKP
Setelah bantuan dari tim anggota kepolisian yang lain, keadaan pun menjadi kondusip karna mereka bisa meringkus tersangka utama dan beberapa profokator.
Aira tiba di TKP dengan menyeret salah satu otak pelaku aksi pemukulan terhadap seorang pedagang yang tak membayar pungli hingga membuat bentrokan kembali terjadi.
Pria tersebut juga telah menusuk salah satu anggotanya.
"Masukan ia ke dalam mobil !"tital
Aira seraya mendoring tersangka.
Ia melepaskan penjahat tersebut untuk di bawa anggota lainya ke dalam mobil berserta tersangka lainya.
Aira meringis, kemudian ia mencuci lukanya dengan air mineral.
Seorang polisi berpankat Bripka mendekatinya.
"Komadann, tangan Anda terluka," ucap salah satu anggotanya kepada Aira.
"Tidak apa, kalian evakuasi saja korban dan tersangka, selidiki dan kumpulkan beberapa orang untuk di mintai keterangan laksanakan! "titahnya.
"Siap komandan!"ucap Bripka Angga tersebut.
Seorang anggota lainya datang membawa perban untuk Aira.
Ia pun membalut sendiri luka tersebut.
Saat sedang membambalut tangganya beberapa orang wartawan pun menghampirinya.
Bersambung,
__ADS_1