
Aldi, Romeo dan Doni sudah sampai, di sebuah rumah sederhana, rumah yang sangat sempit menurut mereka, karna hanya berukuran 8 x 9 meter persegi.
Dihalamanya terdapat pohon mangga yang rindang, lengkap dengan buah yang menjuntai kebawah, tanpa sungkan Romeo dan Doni berhenti, mereka pun memetik buah mangga yang di bungkus plastik kresek.
Aldi sudah di depan mereka, dan sudah sampai di teras rumah, namun ketika menyadari kedua temanya tak ada, ia pun kebingungan dan mencari kedua sohibnya itu.
Aldi kaget bukan kepalang ketika buah mangga setengah masak yang berukuran sekepal tanggan, menimpuk di kepalanya.
"Aww!!!"pekiknya kaget, sakit nya tak seberapa, tapi ia merasa kaget luar biasa ia mengira ada hantu yang melemparnya dengan buah mangga.
Aldi pun mencari-cari sosok yang telah melempar buah mangga itu, hingga mengenai kepalanya.
Seketika ia melihat pohon mangga bergoyang dan di lihatnya dua sosok mahluk kasat mata, bergelantungan di sana sedang memetik dan mengupas buah mangga, dengan geram Aldi menghampiri mereka.
"Woiii, ngapain kalian di situ?" tanya nya.
"Nih Di, buah mangga buat lo," jawab Doni sambil melempar buah mangga yang masak.
Aldi langsung menyambut buah itu, "Woii, turun woi, bikin malu aku saja kalian, "
"Ntar Di, tanggung, "sahut Romeo yang mengupas buah mangga di atas pohon, entah dari mana mereka mendapatkan pisau.
"Ih, bikin malu, kalau mau mangga, ntar gue beli in 10 kilo, lo habisin deh tuh, sampe mencret juga gue ngak peduli!" teriak Aldi.
"Ngak ah, gue ngak suka yang halal, kalau ginikan haram, lebih enak," sahut Romeo santai.
"Romeo, plisss Rom, jangan bikin malu gue Rom, ini tuh rumah calon mertua gue, lo semua kayak ngak pernah makan aja," gerutunya.
Mendengar keributan di luar sang empunya rumah pun keluar.
"Mereka sudah datang, melihat mobil yang mereka gunakan, dan gaya mereka bertiga, memang sepertinya mereka orang kaya, tapi melihat gelagat mereka yang makan buah mangga dengan rakus dan langsung di pohon nya, mereka seperti gelandangan yang ngak makan selama seminggu," pikir Pak Tarman.
Pak Tarman pun geleng-geleng kepala melihat ketiga anak muda macho itu.
Melihat Pak Tarno, Aldi pun menghampirinya, begitu pun Romeo dan Doni, mereka akhirnya turun dari pohon dan menyisakan sampah kulit mangga.
"Maaf atas kelakuan teman saya, Pak," ucap Aldi, karna merasa tak enak, di lihat Pak Tarman.
"Ah tak apa, " jawabnya.
"Mari silahkan masuk," ujarnya
__ADS_1
Mereka pun masuk.
Pertama-tama ketiga trio rusuh itu memperkenalkan diri.
"Saya Aldi," sambil menjabat tangan.
"Saya Doni," berjabat tangan.
"Saya Romeo, pak, lelaki paling gagah dan perkasa di seluruh Indonesia Raya," tuturnya dengan lebay, ia pun menjabat tangan Pak Tarman.
Pak Tarman hanya tersenyum, melihat tingkah dari trio rusuh itu.
"Kedatanga kami kesini ingin melamar Aira Pak, ujar Aldi, " tanpa basa-basi.
"Boleh saja, asal kamu memberi mahar senilai lima puluh juta," jawab Pak Tarman santai, tanpa banyak pertanyaan.
"Lima puluh juta...," kata-kata Aldi terhenti langsung di sambar Romeo.
"Wah, jangan kan lima puluh juta, seratus juta, dua ratus juta, itu gampang Pak, teman saya ini anak orang kaya, calon pewaris perusahaan Ayahnya," tutur Romeo.
Aldi melirik kearah Romeo.
Sialan Romeo, bapaknya cuma minta lima puluh juta, eh dia malah nambahin segala dasar resek, batin Aldi.
Bukan Aldi yang menjabat tangan Pak Tarma tapi Romeo.
"Deal, 100 juta," ucap Romeo, ia tersenyum kearah Aldi.
*Aduh sialan Romeo, gue yang mau nikahin anaknya, eh di yang jabat tangan bapaknya.
Awas saja, gue yang ijab qabulnya, dia yang nikmatin malam pertamanya.batin Aldi*.
"Ok, Pak jadi di mana Aira sekarang?" tanya Aldi.
"Ada di kamarnya, awalnya petugas di sana ngak memberi Aira untuk keluar dari sana, tapi karna bapak memaksa, akhirnya mereka menyerah kan Aira."
Flashback
Pak Tarman mengurus, surat menyurat untuk mengeluarkan Aira, awalnya ia berniat menikah kan Aira dengan seorang pejabat di daerahnya, dan menjadi kan Aira istri siri dari pejabat itu.
Pak Tarman yang gelap mata dengan uang pun langsung menyetujui, tapi Aira menolak, dan kabur dari rumah itu.
__ADS_1
Aira lari dari rumah Ayah kandungnya dan pergi ke rumah pamanya, seperti lari dari kandang singa, dan kembali masuk ke kandang macan, tinggal di tempat pamanya, Aira malah di jual dengan Pria hidung belang, Aira pun di masukan pamanya ke rumah germo, dan di titipkan disana.
Karna selalu menolak pelanggannya, Aira selalu di pukuli, hingga salah seorang wanita yang bekerja di sana membantu Aira melarikan diri.
Aira lari dan saat sudah jauh dari tempat itu, ia bersembunyi dari kejaran para penjahat yang mencarinya, akhirnya ia di temukan Igun, dengan keadaan mengenaskan, dengan luka di sekujur tubuhnya.
Aira masih berusia tujuh belas tahun, saat itu ia masih duduk di kelas dua SMA.
Aira sebenarnya mengenal Aldi, karna saat SMP, ia bersekolah satu yayasan dengan Aldi, dari dulu ia memang menyukai Aldi, namun tentu saja Aldi tak mengenalnya.
Aira tahu Aldi orang yang baik, saat Aira di bully oleh teman-temanya, dan di kunci di dalam toilet, Aldi yang menolong dan membelanya.
Kehidupan Aira sungguh keras, sejak kecil ia sudah di tinggal sang Bunda, ia tak tahu di mana ibunya kini, sejak berpisah dengan Ayahnya, Aira tak pernah lagi bertemu dengan ibu nya.
Begitupun di sekolah, ia selalu mendapat bully, dari teman-temanya, karna ia salah satu dari orang miskin yang bersekolah di sana, Aira bisa bersekolah di sana, karna ia mendapat bea siswa, dan saat pertama melihat Aldi di rumah sakit, Aira tersenyum, ia selalu ingat dengan wajah Aldi yang sering menolongnya, tapi Aldi tak pernah ingat pada Aira, karna terlalu banyak wanita yang hadir dalam hidupnya.
***
"Begini Pak, saya ingin membawa Aira tinggal di rumah saya, di sana ia akan di ajari banyak hal, terutama dalam berpakaian dan bertutur kata, sebelum saya memperkenal kan ia kepada kedua orang tua saya, saya berjanji tak kan menyentuh Aira, " tutur Aldi.
"Baik lah, tapi..., "kata-kata Pak tarman terhenti.
"Saya mengerti Pak, ini saya beri sepuluh juta, untuk bapak, untuk mengurus pernikahan saya, tapi saya hanya bisa menikahi Aira secara sirih, karna saya juga masih kuliah dan Aira juga belum cukup umur, Kan?" papar Aldi.
Setelah melihat uang sepuluh juta, mata Pak Tarman terbelalak, karna silau dengan uang itu, ia pun membiarkan putrinya untuk ikut dengan ketiga pria, yang bahkan ia sendiri tak mengenalnya.
Aira keluar dari kamarnya, kali ini ia kembali di jual, meski ia menyukai Aldi, tapi cara mereka salah, Aira juga tahu, Aldi menikahinya bukan karna cinta atau pun suka, tapi ia tak punya pilihan lain, jika ia menolak di nikahkan dengan Aldi, itu berarti ia harus mau di nikahkan dengan Pak Retno, kepala desa kampung sebelah, yang umurnya hampir sama dengan Ayahnya.
Aira mengemaskan pakaianya dengan hati yang hancur, satu persatu ia masukan pakaiannya ke dalam tas, ia tak tahu kemana ia akan di bawa, dan seperti apa kehidupanya nanti.
Aira masuk kedalam mobil itu, tak ada kata-kata yang terucap dari Ayahnya, hanya tetesan air matanya yang mengiringi langkahnya.
Please
🍎Like
🍎komen
🍎vote dan hadiahnya,
sambil nunggu author up, mampir di novel author yang lain dengan cerita dan kisah yg lebih seru
__ADS_1