
Sepeninggalan Dinda dan Arsel, Arsyad mencoba mencari tempat untuk menyendiri.
Ia pun berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Tak tahu mau kemana dan tak juga tahu harus berbuat apa.
Arsyad hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah.
Tanpa terasa Arsyad menuju ke ujung gedung rumah sakit, saat patah hati seperti ini, seseorang lebih memilih kesepian dan kesendirian dari pada harus berkumpul dengan banyak orang.
Apalagi Arsyad type orang yang memang tak banyak bicara.
Ia pun sampai di ujung koridor yang terpisah dengan gedung lainya.
Di ujung koridor ia melihat seorang gadis yang sedang menangis tergugu bersandar pada dinding.
Gadis itu menangis meringkuk dengan wajah yang tertunduk.
Karna penasaran dengan apa yang tejadi pada gadis itu. Ia pun bersembunyi di balik dinding lorong yang menyatu dengan bangunanan yang lainya. tak jauh dari tempat gadis itu berada.
"Hiks hiks aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hiks hiks hiks.Lalu kenapa tuhan membiarkan aku tetap hidup. Kenapa aku tak ikut mati bersama kedua orang tua dan saudara ku, hiks hiks hiks."
Tangis gadis tersebut menyayat hati. Ia terlihat begitu sedih dan frustasi dengan tangan yang berperban dan beberapa luka pada bagian kaki dan tangannya.
"Hiks hiks hiks. Mama, Papa, Bawa saja aku bersama kalian. Jika seperti ini untuk apa aku hidup.Tak ada orang tua, tak ada saudara ,aku sebatang kara dan kehilangan arah. Harusnya aku juga mati dalam kecelakaan itu!"
"Akh! " gadis itu menjerit sambil menjambak-jambak rambutnya.
Arsyad mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh gadis serebut.
Ia tak berani mendekat.Namun dari apa yang ia dengar. sepertinya gadis tersebut putus asa karna kecelakaan yang menimpa keluarganya. Dilihat dari beberapa lukanya yang di perban juga terlihat masih baru.
"Mama hiks hiks hiks, Papa hiks hiks , sepertinya aku juga harus mengakhiri hidup ini, hiks hiks hiks."
Gadis tersebut bangkit, kemudian berjalan pelan menghampiri pagar pembatas.
Arsyad membelalakan matanya, ia takut jika gadis tersebut nekad bunuh diri.
Arsyad mendekat dengan pelan-pelan menghampiri gadis tersebut.
Gadis tersebut tak lagi menoleh ke arah belakang yang menandakan jika dirinya telah mantap untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Rasa putus asa dan rasa sedih membuat gadis tersebut mengambil jalan pintas untuk mengakhiri semua masalahnya.
Pelan-pelan ia pun menaiki pagar besi setinggi satu meter tersebut.
Meski sedikit kesulitan memanjat pagar pembatas tersebut dengan tangan dan kaki yang cedera. Namun, tak mengurungkan tekadnya yang sudah bulat.
Arsyad semakin dekat, saat gadis itu mencoba untuk terjun Arsyad langsung menarik tangan gadis tersebut hingga tubuhnya tertarik kebelakang dan langsung jatuh menimpa tubuh Arsyad.
__ADS_1
"Akh!" teriak Arsyad tertahan.
"Akh ! aduh sakit," ringis gadis tersebut kemudian ia sediki bergerak menjauh dari tubuh Arsyad.
Gadis itu melihak ke arah belakangnya.
"Siapa kamu?! kenapa kamu menghalangi jalan ku? " tanya gadis itu.
"Tenang dulu, jangan gegabah! Bunuh diri itu dosa besar, sama saja kamu memutus rahmat dari Tuhan. padahal Tuhan begitu menyayangi mu hingga membiarkan mu tetap hidup," nasehat Arsyad kepada gadis tersebut sambil mengangkat dan membersihkan tubuhnya.
"Tau apa kau! Jika dia sayang padaku!Dia tak akan membiarkan aku sendiri di dunia ini, hiks. Tuhan telah mengambil kedua orang tua ku dan membuat ku hidup sebatang kara, hiks hiks."
Arsyad terdiam melihat gadis yang kira-kira seumuran dengannya.
Gadis itu kembali menangis.
"Itu hanya ucapan orang yang putus asa. Yakinlah Tuhan tak akan memberi cobaan di luar kemampuan umatnya. " Arsyad coba untuk membujuk, karna tampak sekali ia merasa putus asa.
"Sudahlah! kau jangan ikut campu! pergi dari sini! .Atau aku berteriak dan memfitnah mu, jika kau telah berbuat yang tak senonoh padaku! " ancam gadis tersebut dengan derai air matanya.
Arsyad melongo, mendengar ancaman gadis tersebut.Tapi ia justru melihat bola mata yang berembun dengan air mata yang masih menggenang pada wajah gadis yang ada di hadapannya membuatnya semakin iba.
"Terserah! Kau teriak saja bilang pada semua orang kalau aku telah berbuat yang tak patut padamu. Tapi aku tak akan membiarkan kau mencoba menghabisi nyawa mu," ucap Arsyad.
Gadis tersebut menatap Arsyad dengan air mata yang berlinang.
Keduanya masih sama-sama menatap dengan lekat.
"Jika kau tak memiliki orang tua atau keluarga, bagaimana jika kau ikut dengan ku saja, "tawar Arsyad.
"Hm, kenapa harus ikut dengan mu? Bagaimana jika ternyata kau orang yang jahat? "tanya gadis itu sambil membalikan tubuhnya membelakangi Arsyad.
Arsyad mendekati gadis itu ia pun bermaksud memperkenalkan dirinya.
"Aku Arsyad. Aku masih berstatus pelajar sekolah yayasan Tunas Bangsa. " Arsyad menyodorkan tangannya.
"Siapa nama mu? " tanya Arsyad lagi.
Gadis itu kembali menatap Arsyad.Dilihatnya ada ketulusan dari tatapan teduh Arsyad.
"Aku Annisa," jawabnya tanpa menjabat tangan Arsyad.
"Kalau begitu, Ayo ikut dengan ku," ucap Arsyad sambil menarik tangan gadis tersebut.
"Ih lepaskan. Apa peduli mu! Kalau urusan mu sudah selesai, silahkan saja kau pergi dari sini! tinggalkan aku sendiri!" ia mencoba menepis tangan gadis itu.
Kau tahu kalau kau bunuh diri maka kau akan masuk neraka selamanya? jika di dunia saja kau pasti tidak tahan dibakar dengan api untuk beberapa saat. Apalagi jika kau bunuh diri, kau akan kekal di neraka!" ancam Arsyad. Ia sengaja mempengaruhi pikiran gadis itu agar tak berbuat nekad dan berdasarkan emosi sesaat.
__ADS_1
Gadis itu terdiam, air mata kembali berlinang di pipinya. Ada rasa ketakutan padanya untuk mengakhiri hidupnya. Kini ia berada dalam keraguan dalam ke bimbangan.
Melihat gadis tersebut yang tampak termakan dengan ucapannya, Arsyad kembali meraih tangannya dan menariknya.
"Sudalah ayo ikut dengan ku. Orang tua ku pasti bisa menerima mu, " ucapnya sambil menarik pelan tangan Annisa.
Anisa berjalan mengikuti kemana arah Arsyad membawanya. Saat itu dirinya masih merasa ragu-ragu dengan apa yang di katakan Arsyad.
Arsyad terus menggenggam telapak tangan Annisa dan menuntunya melewati koridor.
Hingga tibalah ia di ruang perawatan Alia dan Aira.
"Assalammualaikum, "sapa Arsyad yang masih menggenggam erat tangan Annisa.
Waalaikum sallam, sahut semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Mereka heran melihat Arsyad yang tiba-tiba membawa seorang gadis dengan luka di beberapa bagian tubuh dan wajahnya. Wajah gadis tersebut terlihat sembab karna keseringan menangis.
Annisa mengedar pandanganya melihat satu per satu orang-orang yang menatapnua heran.
"Siapa gadis yang bersama mu Nak? " tanya Aira.
Dia Annisa Bunda. Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
"Kini ia hidup sebatang kara. "
Arsyad pun menjelaskan lebih detail bagaimana cara ia bertemu dengan Annisa.
Aira dan Aldi menatap iba gadis tersebut.
"Benar apa yang di katakan Arsyad itu Nisa? " tanya Aira.
Annisa mengangguk lirih kemudian menangis kembali.
"Sudahlah Nisa, Jangan sedih. Setelah Bunda keluar dari rumah sakit aku temani kau ziarah ke makan keluarga mu , "ucap Arsyad.
Annisa semakin sedih melihat keluarga Arsyad yang terlihat hangat.Ia pun kembali teringat dengan keluarganya.
Melihat gadis malang tersebut, mereka semua ikut merasa sedih.
Apalagi Aira yang perasaannya lebih sensitiv.
"Sini Nak!" ucap Aira sambil merentangkan tangannya agar Annisa memeluknya.
Annisa pun berjalan cepat ke arah Aira kemudian memeluknya.
Gadis itu pun menumpahkan kesedihannya dalam dekapan hangat seorang ibu yang begitu ia rindukan.
__ADS_1
Bersambung