Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tempat Baru


__ADS_3

Setelah sampai di stasiun kereta Igun turun untuk membeli tiket Aira.


Kereta yang menuju kota tujuan Aira satu jam lagi baru berangkat.


Igun menemaninya sambil menungggu kereta berangkat.


Netra bening Aira menatap hampa, titik demi titik perlahan jatuh menetes membasahi pipinya.


Igun melirik ke arahnya, ia pun merangkul Aira, karna sedari tadi Aira hanya diam, tak memberi tahu kepadanya kemana ia akan pergi.


"Aira, apa kau tak percaya pada Kakak?"tanya Igun.


"Kenapa kau tak bicara semua masalah mu Aira? Kakak tahu kau sudah menjadi wanita yang kuat, kau bisa mengatasi masalah mu sendiri, tapi bagaimana pun kakak sangat khawatir jika kau pergi sendiri, apalagi kakak tak tahu kemana arah tujuan mu," papar Igun.


Aira tetap diam seribu bahasa' sesekali ia menghapus titik air mata yang mengalir seraya mengelap ingus yang mengaliri keluar dari hidungnya.


"Aira tak percaya pada siapapun Kak, termasuk diri Aira sendiri, " sahutnya lirih.


"Tapi Aira setidak nya kamu beri tahu kakak, kemana kamu akan pergi,"desak Igun


Aira tetap diam, ia bersikukuh untuk tak memberitahu siapa pun kemana ia pergi.


Kereta sudah akan berangkat, Igun membantu Aira membawa kopernya kedalam kereta, setelah memastikan tempat duduk Aira, Igun pun pamit pada Aira.


"Aira, jika kamu butuh sesuatu, kamu jangan ragu telpon kakak ya," ucap Igun seraya mencengkam lembut kedua bahu Aira.


"Iya Kak, terima kasih,"ucap Aira seraya memeluk Igun.


"Kamu hati-hati Aira," balasnya memeluk Aira.


Aira membalas dengan angukkan.


Igun keluar dari kereta karna kereta sebentar lagi akan berangkat, Aira melambaikan tanganya kearah Igun yang berada di luar jendela.


Rasa sedih kembali menghampiri Aira, ketika kereta perlahan meninggalkan Stasiun, Aira menatap Igun yang perlahan menjauh dari penglihatannya.


Aira membuka aplikasi musik untuk menghiburnya.


Sebuah lagu dari sheila on7 menemaninya.


*Aku tak percaya lagi,


akan guna matahari,


yang dulu mampu terangi,


sudut gelap hati ini.


Aira menghela napas panjang.


*Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap,


sampai nanti suatu saat,


tak ada cinta ku dapat.


Mengapa ada derita,


bila bahagia tercipta,


mengapa ada sang hitam,

__ADS_1


bila putih menyenangkan.*


Tik tik tik Aira jatuh mengiringi sepanjang perjalanan nya di dalam kereta.


***


Aldi sudah kembali dari pemakaman, namun ia masih merasa kan sedih atas kepergian Rita.


Aldi menuju kamar Rita seraya membereskan semua barang-barang kenangan sang ibunda.


Aldi mendapati surat wasiat yang telah di tanda tangani Rita, dalam surat itu menyatakan bahwa ia adalah pewaris tunggal dari seluruh aset dan kekayaan miliknya


Aldi memeluk surat wasiat tersebut seraya kembali menangis.


"Jadi begini Ma rasanya kesepian?"guman Aldi.


"Jadi seperti ini rasanya kehilangan cinta dan kasih dari seseorang yang kita sayangi."


"Sekarang Aldi mengerti Ma, kenapa mama meminta Aldi untuk membawa


Kembali ke rumah ini, mama ingin pulang dan ingin meninggal di sini," ucapnya sambil menatap foto Rita


Aldi kembali menangis terisak, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur mendiang sang bunda sembari memeluk foto Rita, Aldi terus menangis hingga matanya terlelap sendiri karna lelah, ia pun tertidur.


***


Aira menatap pemandangan yang ia lewati melalui jendela kereta.


Matanya perlahan menjadi sayu hingga tertutup dengan sendirinya.


Dua jam dalam perjalanan dan tertidur cukup membuat Aira sedikit segar.


Kereta berhenti di stasiun berikutnya, kali ini Aira harus turun.


Setelah keluar dari stasiun kereta api, ia pun mencari keberadaan taksi.


Aira mendekati sebuah mobil Avanza berplat kuning.


"Permisi Pak, bisa antar saya ke alamat ini?"tanya Aira seraya memperlihatkan layar handphonenya.


"Bisa Neng, tapi ini masuk kedalam perkampungan, jadi ada biaya tambahan," ujar sopir taksi tersebut.


"Iya pak saya mengerti, "ucap Aira.


"Baik neng kalau begitu, Alhamdullilah akhirnya dapat orderan juga," ucapnya seraya benadahkan tangannya keatas.


Aira tersenyum melihat sopir taksi tersebut.


"Ayo Neng masuk mobil, ujar pria yang berumur sekitar 40 tahun tersebut, "ia pun membuka kan pintu mobil


"Iya Pak," jawab Aira seraya masuk kedalam mobil.


Mereka pun langsung keluar dari stasiun tersebut.


"Neng, Neng pendatang ya?"tanya sopir tersebut pada Aira.


"Iya Pak," jawab Aira singkat.


"kira-kira berapa lama perjalanannya lagi Pak?" tanya Aira.


"Oh sekitar satu setengah jam Neng," sahut bapak tersebut.

__ADS_1


"Lama juga ya Pak," gumannya.


Krek, krek perut Aira berbunyi, ia baru merasa lapar setelah seharian tak makan.


Aira meraba perutnya," Kasihan kamu Nak, bunda lupa untuk memberi kamu makan," tuturnya sedih.


"Pak jika ada restoran atau rumah makan terdekat singgah ya Pak, saya mau makan dulu," usul Aira.


"Iya Neng di depan ada rumah makan padang." ujar si bapak.


Mobil taksi tersebut pun berhenti, Aira turun dari mobil.


"Pak ayok kita makan," ajak Aira.


"Ngak usah Neng, makan saja," tolaknya halus.


"Ngak apa pak, biar saya yang bayarin," bujuk Aira.


"Ngak usah Neng bapak ngak bisa makan enak sementara anak bapak belum makan," tiba-tiba saja mata Pria itu memerah.


Aira merasa sedih.


"Bapak makan saja dulu Pak, nanti kita bungkus untuk anak Bapak," tawar Aira.


Aira merasa iba dengan bapak tersebut.


Mereka pun makan di tempat kemudian Aira membungkus nasi padang untuk anak bapak tersebut.


"Pak, anak Bapak ada berapa orang?"tanya Aira.


"Anak bapak enam Neng," ucapnya.


"Selain anak dan istri, ada siapa lagi pak?"tanya Aira.


Sopir tersebut tertunduk, "Ada ibu mertua dan dua adek ipar Neng, mereka tinggal di rumah bapak, karna tak punya tempat tinggal, sebenarnya bapak juga bukan orang yang mampu, tapi karna mereka tak punya tempat untuk bernaung, bapak menampung mereka Neng, gaji sopir taksi seperti bapak tidaklah besar, " ucapnya dengan sedih.


Aira merasa iba, mendengar penuturan bapak tersebut, ia pun kembali terinhat dengan bapaknya yang berada di penjara saat ini.


"Ya, sudah Pak, saya pesan sepuluh ya nasi bungkusnya," ujar Aira.


"Terima kasih Neng," ucapnya bersyukur.


Aira menenteng bungkusan nasi tersebut, setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, mereka pun memasuki sebuah gang dan berhenti di sebuah rumah sederhana.


Anak-anak Pak sopir tersebut berlari menghampiri Ayah mereka.


"Ayah, ayah sudah pulang!"teriak mereka yang menghambur memeluk Pak Adi.


"Ini bapak bawa nasi padang, di bagi ya," ucap Pak Adi kepada anak-anaknya.


Anak-anak pak Adi merasa senang. meski sebagian besar mereka berusia remaja, namun mereka tak sungkan memeluk ayah mereka.


Suatu keluarga yang hangat, meski dalam keadaan yang sederhana, mereka mampu menciptakan kebahagian mereka sendiri.


Aira tersenyum bahagia, sesuatu yang menurutnya kecil, ternyata mampu membahagiakan orang lain.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah kurang lebih dua jam, mereka pun sampai di suatu gang di daerah pedesaan.


Suasana asri karna sepajang jalan tampak sawah-sawah yang menghampar.


Aira menghirup aroma segar dari udara pedesaan. yang selama ini tak pernah tercium olehnya, dengan lembut ia mengusap perut datarnya.

__ADS_1


"Sepertinya kita akan memulai hidup baru kita di sini sayang,"ucapnya seraya tersenyum.


Bersambung, mohon dukunganya, like komen rate 5 dan favorite ya.


__ADS_2