Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Setelah Operasi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Alia pun tersadar dan ia kini berada di salah satu ruang perawatan dengan infus di tanganya, di sampingnya ada sang Bunda yang sedang mengusap rambutnya.


Alia pun menerjab-nerjabkan matanya sembari mengingat-ngingat apa yang terjadi.


"Kamu sudah sadar Kak?"tanya Aira lembut masih mengusap kepala Alia.


"Hiks hiks Bunda... !"teriaknya lagi.


"Tenang Nak! tenang," bujuk Aira.


"Hiks hiks, Bunda bagaimana keadaan Abang? hiks hiks hiks," tanyanya sambil menangis.


"Abang sedang operasi, sekarang kamu istirahat dulu, karna kamu juga syok," bujuk Aira.


"Ngak Bunda! ini semua salah Alia Bunda, Bagaimana jika ternyata terjadi sesuatu pada abang Bunda! hiks hiks Alia semakin tak sanggup membayangkannya.


Ia merasa akan menyesal seandainya saja Ghael pergi untuk selamanya, ia belum sempat meminta maaf dan ia pun belum pernah melayani Ghael sebagai seorang istri.


Ia hanya mengejar cinta semu dan menuruti hawa nafsunya saja, padahal selama ini Ghael begitu sabar dalam menghadapinya.


Hiks hiks Alia bangkit dari rebahnya ia pun menangis sembari menundukan wajahnya.


"Abang !"hiks hiks, Tangisnya dengan lirih karna ia sendiri dalam keadaan lemah.


Aira duduk di samping Alia mengusap rambut sang putri tercinta.


"Kita doa kan saja Abang selamat," tutur Aira dengan sedih.


Keduanya pun saling memeluk menangis dalam haru.


"Abang hiks hiks hiks, tangis Alia dengan kesedihan yang amat mendalam disertai air mata yang tak berhenti menggenang.


"Bunda, Ayo kita lihat Abang hiks hiks hiks, "pintanya dengan tubuh yang terguncang.


"Tunggu sebentar lagi sayang, Ayah dan papa Heru ada di sana, Oma dan Opa juga berada di sana menunggu Abang."Aira.


"Ngak Bunda Alia mau sekarang Bunda! hiks hiks hiks, " pintanya bersikeras.


Aira pun menyanggupi, ia membawa Alia menuju ruang operasi sambil membawa standar infus.


Di sana para keluarga sudah berkumpul, wajah mereka terlihat begitu sedih, anak dan istri Heru juga ada mereka semua berdoa untuk keselamatan Ghael.


Melihat putrinya yang masih terlihat lemah, Aldi pun menghampirinya dan mendudukan Alia di salah satu kursi tunggu.


"Ayah bagaimana dengan Abang?"tanyanya lirih. ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu Aldi.


Aldi memeluk putrinya tercinta yang terus menangis menyesali kesalahannya.


Untungnya Suci dan Hadi tak menyalahkan Alia, karna memang bukan Alia salah, Alia juga korban dan sepatutnya Ghael sang suami yang melindunginya.


Mereka semua berada dalam keadaan yang begitu hening karna berdoa dengan hati yang khusyuk, sesekali hanya terdengar suara isak tangis Alia yang lirih memanggil suaminya.


Dua jam berikutnya, detik-demi detik berlalu terasa mencekam, perlahan dari arah belakan pintu operasi terdengar suara brankar yang di dorong.

__ADS_1


Mereka semua pun berdiri dengang tegang.


Krek.. pintu kamar operasi terbuka lebar, semua mata pun tertuju pada sosok pucat yang terbaring tak berdaya.


Tubuh Alia bergetar melihat suaminya yang terlihat begitu pucat.


"Abang! Abang! Abang! "semua mengikuti brankar yang membawa Ghael.


"Ada apa Suster?"tanya Aldi yang terlihat panik.


"Pasien kritis setelah operasi karna kehilangan banyak darah karna itu langsung di bawa menuju ruang ICU."


Mendadak semua langkah terhenti.


Begitu pun Alia tubuhnya semakin lemah memeluk ayahanda tercinta.


"Abang!" Seru Alia lirih...


Bruk ia pun kembali tumbang.


"Alia!"


Kembali rombongan tersebut berhenti melihat kondisi Alia, yang tak kuat menahan beban tubuh dan pikiran serta penyesalannya yang amat dalam.


Hiks hiks hiks, Alia roboh terlulai lemas tapi ia masih sadarkan diri.


"Alia kamu tenang Nak, sabar kita berdoa saja semoga Abang selamat, kamu bangkit ya, kalau kamu sakit siapa yang akan merawat suami mu?"Aira


Alia mencoba untuk bangkit.


Brankar yang membawa Ghael sudah masuk kedalam ruang ICU.


"Maaf, hanya satu orang yang bisa mendampingi pasien," ucap seorang suster.


Alia pun maju Aira mengikutinya seraya mendorong standaran infus.


"Saya istrinya Suster, biar saya yang menjaga suami saya," ucap Alia bersemangat.


"Maaf tapi anda terlihat kurang sehat, yang lain saja." suster.


"Tidak suster! saya sehat saya sakit karna merasa syok atas apa yang menimpa suami saya!" papar Alia.


Ia pun menarik selang infusnya.


"Alia!"


teriak Aldi dan Aira karna melihat beberapa tetes darah mengalir pada lengan Alia akibat infus yang di tarik paksa.


"Alia, kamu tunggu kesehatan kamu pulih dulu baru kamu bisa jaga abang", nasehat Aira.


"Ngak Bunda Abang pasti butuh Alia di sana, Alia ngak tenang, biar Alia yang menjaga Abang," ucapnya begitu sedih dengan air mata yang mengaliri semakin deras.


Aira melihat kesungguhan di mata putrinya tersebut.

__ADS_1


"Iya Nak pergilah beri semangat pada suami mu, Bunda yakin dengan kasih sayang yang kamu berikan, Abang pasti bisa pulih," ucap Aira seraya mengecup kening putrinya.


"Alia, jaga suami kamu, doakan dia, kamu juga jangan lupa jaga kesehatan kamu ya, Ayah dan Bunda senantiasa berada di sini," ucap Aldi.


"Iya Yah." Alia.


Alia menjadi semangat tiba-tiba ia pun menghampiri Ghael.


Dua orang suster tengah melakukan tindakan transfusi darah pada Ghael.


Alia sedia menanti duduk di samping suaminya.


Suster pun selesai memasang selang untuk transfusi darah Ghael.


"Mbak jika pasien bergerak atau ada perubahan segera panggil kami,"suster.


"Iya Suster."


Alia pun duduk semakin dekat dengan Ghael, ia pun mendekat kan wajahnya pada wajah Ghael.


"Abang! bangun Bang, Alia di sini, hiks, hiks Alia janji akan ikut kemana pun Abang pergi hiks hiks," bisiknya dengan lirih seraya meneteskan air matanya. kemudian ia mencium kening Ghael dengan lekat.


Alia pun mencium-cium pipi Ghael, seluruh wajahnya hingga bibir Ghael dengan segenap perasaannya.


"Bang! bangun Bang, Alia rindu dengan pelukan Abang, dengan belaian lembut Abang," bisiknya lirih di telinga Ghael namun belum juga ada perubahan.


Alia memeluk tubuh Ghael sambil mengusap lembut permukaan kulit Ghael.


Tak bosan-bosan nya ia memanggil-manggil Ghael memintanya untuk bangun.


Waktu terus berlalu, jam dinding menunjukan pukul tujuh lewat dan sudah saatnya ia menunaikan sholat isyanya.


Sementara di rumah keluarga Aldi sudah mengadakan acara doa bersama mengharap kesembuhan Ghael.


Tari dan Romeo terlihat begitu sedih mereka baru saja tiba di rumah Aldi, setelah mengantar Satria dan Maya rencananya Romeo dan Tari akan langsung bertolak menuju rumah sakit.


Di sujud terakhirnya, Alia berdoa dengan khusuk, 'Ya Allah hamba yang berdosa ini mengharap belas kasihan dan pertolongan dari engkau, berilah kesempatan bagi hamba untuk berbakti pada suami yang habna sia-siakan, berilah kesehatan dan keselamatan padanya Ya Tuhan,ku hiks hiks hiks, "


"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu, ucap Alia di salam terakhirnya.


Setelah berdoa ia pun kembali menghampiri Ghael yang terlihat tenang tidur dengan pulas.


"Bang bangun dong, apa Abang ngak rindu sama Alia?" bisiknya seraya mengusap kening Ghael.


"Alia janji akan beri malam pertama terindah untuk Abang, Abang bangun Bang, peluk Alia," bisiknya sambil menitikan air matanya.


Alia mencium pipi Ghael berkali-kali kemudian ia mencium bibir sang suami dengan lembut.


"Alia cinta Abang, ucapnya, ia pun kembali mencium lembut bibir suaminya, namun gerakannya terhenti ketika ia merasa ada yang menyentuh tangannya.


Alia menarik wajahnya menatap wajah Ghael lekat.


Perlahan Ghael membuka matanya, " Alia" ucapnya lirih seraya tersenyum.

__ADS_1


Hiks hiks,seketika Alia tersenyum dengan tatapan berbinar menatap sang suami, "Alhamdullilah Abang sadar," ucap Alia ia pun memeluk Ghael haru.


Bersambung !!! up lagi ngak nih?!!!! wh akan malam pertama di lakukan di ruang ICU( oh my god jangan gila thor!!!)😅😅😅


__ADS_2