Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bertemu mantan kekasih


__ADS_3

Kedatangan seorang wanita di ruangannya mengangetkan Heru yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkasnya.


Mata Heru melihat dari atas sampai bawah dari wanita yang ada di hadapannya tersebut.


"Bisa bicara sebentar?"tanya wanita tersebut kepada Heru.


"Silahkan," ujar Heru seraya menunjuk sofa yang ada di ruangannya.


Heru bangkit kemudian menuju sopa yang ada di ruangannya tersebut.


Wanita tersebut duduk dengan anggun meski perutnya sedikit buncit.


Heru mengambil posisi duduk di samping wanita tersebut namun dengan jarak yang cukup jauh.


Miranda melilirik kearah Heru yang tertunduk, keduanya terlihat sungkan setelah tiga tahun tak bertemu.


Heru menarik napas panjang dan menghempaskanya dengan berat, beberapa saat mereka habiskan dengan diam seribu bahasa.


"Ada apa menemui ku?"tanya Heru datar, wajahnya menunduk  dengan posisi tubuh membungkuk kedepan.


"Aku datang hanya untuk minta maaf seraya menjelaskan keadaan ku saat ini,"ucap Miranda dengan vibra yang terdengar sedih dan lirih.


"Ku rasa tak perlu di jelaskan lagi, aku pun tak menaruh dendam ataupun sakit hati pada mu, hanya saja aku merasa kecewa," ucap Heru masih  tertunduk dengan tangan yang menyapu rahangnya.


"Aku..aku tak sanggup mengatakannya padamu Her, makanya aku memilih untuk tak memberitahu mu," ucap Miranda terbata-bata.


Heru menarik napas panjang dan menghempaskanya perlahan.


"Yah sudalah Clara, aku rasa mungkin kita memang tak berjodoh," ucap Heru seraya mendengus.


Jantungnya berdetak dengan kencang, enam tahun menjalin percintaan dan tiga tahun tak bertemu, ada rasa rindu yang menyelit di hati Heru.


"Her, aku terpaksa menikahi Ghani, untuk menyelamatkan usaha ayah ku dari kebangkrutan, ayahku berhutang padanya, ayah ku sakit- sakitan hingga tak mampu membayar hutangnya, demi membayar dan membangkitkan usaha ayah ku kembali, aku rela di jadikan istri kedua oleh ghani," papar Miranda seraya menitikan air matanya.


Heru terperangah, matanya yang sedari awal berusaha menghindari pandangan terhadap Miranda, kini malah tak berhenti menatap wanita yang sedang menangis di sampingnya tersebut.


Heru merasa gelisah, ia tak tahu bagaimana harus bersikap.


Sementara Miranda hanya menangis seraya menghapus air matanya.


Heru menegakkan tubuhnya seraya mengendorkan dasinya," Iya aku mengerti Clarisa, aku pun pernah mengalami hal yang sama," ucap Heru tenang.


"Hiks..hiks.., tapi aku masih mencintai mu Heru,"ucapnya seraya menangis terisak.


Deg..deg..deg..jantung Heru berdetak kencang, ia semakin binggung untuk menyikapi hal tersebut.


Heru menarik napas panjang seraya menghempaskanya.

__ADS_1


"Cinta tak harus memiliki Clarisa, belajar lah mencintai suamimu,"ucap Heru lirih seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.


Heru tak ingin karna merasa iba, ia sampai melakukan tindakan yang tak pantas terhadap Clarisa.


"Tapi aku tak bahagia bersamanya Heru," sahutnya.


Clarisa membuka blusnya dan menunjukkan luka lebam karna di pukul dengan benda tumpul, ada juga bekas cekikan di lehernya.


Heru terdiam sesaat, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak jatuh menetes.


Mata Heru memerah, karna tak sanggup, ia pun membuang wajahnya kembali


"Apa yang bisa kulakukan untuk mu?"


tanya Heru seraya menarik air yang hampir meleleh di hidungnya, Heru pun meneteskan air matanya.


Heru memang tak bisa tahan jika melihat seorang wanita menderita dan mendapatkan kekerasan, ia memiliki sifat yang lembut di balik sikaf dinggin dan diamnya.


"Aku hanya ingin terbebas darinya Heru, tapi tidak bisa, aku sudah memohon untuk bercerai dengannya, tapi dia tak mau menceraikan ku, terkecuali aku membayar hutang ayahku sebanyak 2 miliar," papar Clarisa.


Heru terperangah, bagi Heru dua miliar jumlah yang cukup besar, karna perusahan yang ia pimpin saat ini bukanlah miliknya, tapi milik Aldi dan Rita.


"Aku tak punya uang cash sebanyak itu, aku baru saja membangun pabrik baru, dan usaha ku juga baru merintis di sana." Heru.


"Aku tahu itu Heru,aku juga tak ingin merepotkan mu, aku hanya ingin kau tahu alasan ku di balik semua ini," ungkap Clarisa.


"Aku permisi Heru, " ucap Miranda seraya mengait kan tasnya di bahu.


Netra Heru kembali melihat kearah Clarisa yang hendak pergi tersebut, ia pun segera bangkit kemudian menarik tangan Clarusa.


"Tunggu Clarisa, tinggalkan saja nomor yang bisa aku hubungi, jika sudah ada uangnya aku transfer," ucap Heru.


Clasisa tersenyum seraya membalikan tubuhnya, "Ngak perlu Heru, terima kasih atas bantuanmu, mungkin memang sudah nasib aku harus menjadi istri Ghani selamanya," ucap Clarisa seraya melanjutkan langkahnya.


Heru menarik tangan Clasrisa kembali untuk menahan langkahnya, "Aku serius ingin membantu mu, tinggalkan saja nomer yang bisa ku hubungi," ucap Heru.


Clarisa menggangguk," Aku masih menyimpan nomor mu Heru, nanti kuhubungi, "ucap Clarisa seraya berlalu.


Heru menatap punggung wanita tersebut, perasaan sedih dan kecewa menghampirinya, namun ia juga tak sampai hati membiarkan Clarisa menderita.


Setelah kepergian Clarisa, Heru kembali mendaratkan bokongnya ke sofa, seraya mendengus, keragun mulai melanda hatinya saat ini.


***


Aira dan Aldi sedang berada di loby rumah sakit, Aldi menenteng bungkusan makanan dari restoran favorite.


"Sayang, nanti kamu tunggu di luar saja ya, mas takut jika mama kembali menyakiti kamu," ucap Aldi seraya merangkul Aira untuk berjalan beriringan denganya.

__ADS_1


"Iya mas Aldi sayang, tenang saja istrimu ini, paling pengertian sedunia," ucap Aira seraya merentangkan tanganya pada pinggang Aldi.


"Makasih Aira, sayang," ucap Aldi seraya mengacak rambut Aira.


Setelah melewati beberapa lorong, mereka pun sampai pada ruang perawatan Rita.


Sejak kedatangan Satria yang membawa gaun pengantin untuknya, keadaan Rita mulai menunjukan peningkatan.


Ia sudah mengenal Aldi dan Satria, dan hanya dua orang itu yang ia ingat.


Rita duduk di bawah pohon rindang, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya, ia menyanyikan lagu-lagu kenangan yang biasa di nyanyikan ketika ia dan Satria tengah menjalin cinta.


"Terpaksa aku datang ke kotamu, na na nan,hm hm, berjalan jalan bagai nana na na."


"Sepanjang jalan kenangan kita slalu bergandeng tangan, sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra, hujan yang rintik rintik di awal bulan itu menambah nikmanya malam sahdu, hm hm hm." Rita bernyanyi sesekali ia tersenyum karna mengingat kenangan indahnya bersama Satria.


Aldi datang menghampiri Rita, sementara Aira ia menunggu di bangku tunggu tak jauh dari ruang perawatan Rita.


Aldi tersenyum mendengar nyanyian mamanya, dulu mereka bertiga sering karoke menyanyikan lagu tersebut, hingga membuat Aldi hapal betul lagu tersebut.


"Mama," sapa Aldi seraya duduk di samping Rita.


"Aldi" Rita tersenyum dan langsung memeluk Aldi.


"Aldi, sini ." Rita merebahkan Aldi di pangkuanya, tatapannya masih kosong, namun jemarinya lembut membelai wajah putranya.


Perlahan titik air mata Rita jatuh menetes di pipinya hingga jatuh di kening Aldi.


"Mama, mama kenapa?" tanya Aldi sambil menatap bola mata Rita yang memerah.


"Mama kangen Aldi, mama rindu saat-saat kita bersama dahulu, bertiga kita merasa bahagia, kamu papa kamu dan mama, kita sangat bahagia saat itu," ucap Rita.


Titik air mata kembali menetes di pipinya, Aldi bangkit dari rebahannya.


"Ma, cepat sembuh ya Ma, jika mama sembuh Mama akan tinggal bersama Aldi, Aldi berjanji akan merawat mama dan menemani Mama, papa juga, meski papa jarang bersama kita, tapi kita berkumpul lagi bersama jadi satu keluarga yang mama dan Aldi impikan," papar Aldi.


Rita menatap Aldi dengan mata yang berembun.


"Benarkah Aldi, lalu kenapa kamu tak membawa mama keluar dari rumah sakit ini, mama sudah sembuh Aldi," ucap Rita seraya menahan tangisnya.


"Disini mama kesepian Aldi, mereka memperlakukan mama seperti orang gila," papar.


"Ma, saat ini kondisi mama masih belum stabil, Aldi janji, setelah keadaan mama membaik dan sudah menadapatkan surat keterangan yang menyatakan kesembuhan mama, maka hari itu juga,Aldi akan membawa mama pergi dari sini, semua ada prosedurnya ma," papar Aldi.


Rita kembali bersedih, " Kamu juga menganggap mama gila Aldi?" Rita pun menangis segegukan, ia pun masuk kedalam kamarnya seraya menghempaskan pintu kamarnya dengan keras.


Sekarang semua itu kini menjadi dilema baginya.

__ADS_1


Bersambung tinggalkan like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2