
Bagas tiba di kantornya, melihat kedatangan Bagas, Alita segera berdiri dan mengucapkan salam.
"Selamat pagi," Pak, ucap Alita.
Selamat pagi," jawab Bagas masih dengan nada datar.
"Thalita mana berkas yang harus saya tanda tangani, tolong bawa keruangan saya!" titah Bagas.
"Baik pak," Alita.
Bagas masuk kedalam ruangannya kemudian langsung mendaratkan bolongnya pada kurusi empuk kebesarannya.
Thalita melangkah dengan anggun seperti hari-hari biasanya, pakaian yang ia kenakan selalu menggambarkan kepribadianya yang smart dan energik.
"Ini Pak, proposal yang sudah saya buat, anda bisa periksa terlebih dahulu sebelum di tanda tangani, ucap Alita.
"Ehm, letakan saja."
"Ada yang lain?"tanya Bagas.
Alita diam sejenak, ia merasa ragu untuk menyampaikan undangan pernikahan Alia secara langsung.
Beberapa detik hening, Bagas mengulangi pertanyaannya, karna Alita tak juga menjawab tapi tak juga beranjak, seperti ada sesuatu yang menahannya.
"Ada yang lain?"Bagas mengulangi pertanyaannya dengan nada yang sedikit tinggi, mungkin ia pikir Alita tak mendengar pertanyaaanya.
Alita tercekak karna pertanyaan Bagas bernada sedikit emosi, padahal Bagas tak emosi, emang perangainya seperti itu.
"Ada Pak, tapi bukan urusan pekerjaan," ucap Alita lirih.
Keduanya pun saling bertentang mata.
Ser, aliran darah kedua insan tersebut tersa berbeda mengalir dengan deras ketika tanpa sengaja menatap lawan jenis nya.
"Maksudnya ?" tanya Bagas singkat.
Ehm,
Alita menyerahkan sebuah undangan eklusif berwarna merah muda yang indah, undangan tersebut menyerupai buku dengan logo dua hati yang menyatu dan di tengah logo tersebut terdapat dua inisial.
G&A dengan tinta emas dan dua cincin yang menyatu pada bingkai atasnya dengan tulisan Walimatul 'Ursy
Bagas melirik kearah undangan yang di sodorkan Alita.
Seketika dadahnya bergemuruh, belum membuka undangan tersebut saja, dia sudah tahu siapa yang menikah.
Seketika mood Bagas menjadi buruk.
"Maaf pak Alia sendiri yang meminta saya untuk menyampaikan undangan ini, dan ia minta agar Bapak hadir untuk memberinya selamat," papar Alita.
Bagas menyimak ucapan Alita kemudian ia mengangguk lirih.
Hatinya terasa masih belum terbiasa menerima kenyataan pahit tersebut.
"Tinggalkan saya sendiri," ucap Bagas yanpa menoleh ke arah Alita.
"Baik pak!" ucap Alita yabg langsung keluar dari ruangan Bagas.
Bagas meletak kedua telpak tangannya yan tertup rapat di atas meja, mata nya kembali melirik undangan indah tersebut tanpa berani menyentuhnya.
Bagas kemudian menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi yang empuk kemudian memutar kursi tersebut seraya menjepit ballpoint diantara jari telunjuk dan jari tengah dan memutar nya.
__ADS_1
Binggung, resah dan kecewa, seperti itulah perasaan Bagas saat itu.
"Aku harus bagaimana, menghadirinya atau ...," guman Bagas meragu.
Akhirnya Bagas memberani kan dirinya meraih undangan tersebut.
Benar seperti dugaanya undangan tersebut memang milik Alia dan Ghael.
Meski berat ia coba untuk membuka bagian dalam undangan tersebut, seketika bulir bening menetes di pipinya, melihat foto Alia dan Ghael yang tampak serasi dengan menggunakan pakaian serba couple.
"Semoga kamu bahagia Alia, sekarang aku sadar jika cinta memang tak harus memiliki, terima kasih atas hadirmu yang mampu merubahku," ucap Bagas kemudian ia mencium foto Alia.
Bagaimana pun juga ia harus merelakan kekasih hati untuk menikah dengan orang lain, demi kebaikan bersama, bukanya cinta yang tulus itu adalah cinta yang rela dan iklas berkorban, termasuk merela kan orang yang kita sayang untuk orang lain, demi bakti Alia pada orang tuanya.
Bagas kembali menitikan air mata.
"Iya Alia aku akan penuhi undangan kamu," guman Bagas
***
Pak Yanto datang dan hendak masuk ke ruangan Bagas, tapi di tahan oleh Alita.
"Stop Pak!"tahan Alita.
Pak Yanto berhenti, "Ada apa?!"tanya pak Yanto.
"Jangan masuk dulu Pak, Pak Bagas sedang Gegana." Alita
"Ha, pasukan anti teror itu?"tanya pak Yanto bercanda.
"Is, gelisah galau merana Pak, " jawab Alita mendengus.
"Buka cita-citaku Pak! tapi cita-citata," dengus Alita dengan dongkol.
Pak Yanto nyengir kembali.
"Emang kenapa sih?"tanya pak Yanto mendekat ngajak bergibha.
"Hus, pak Bagas lagi merana di tinggal kawin sama mantan pacarnya, karna itu jangan masuk dulu," saran Alita.
"Hm, pak Bagas ada-ada saja, di tinggal kawin aja ribet, ya kita kawin juga, susah amat, muka ganteng, dompet tebal, jabatan tinggi,pasti banyak yang mau kan, termasuk kamu Lit?"pak Yanto.
"Sembarang aja Bapak ya, sok cakep boleh pak, sok tahu jangan, mana mau saya sama dia," cetus Alita.
Ehem, ehm, tiba-tiba dari arah belakang Bagas berdehem.
Alita dan pak Yanto serta merta jadi salah tingkah.
Mereka pun membetulkan sikaf duduk mereka, sambil menggaruk kan kepala yang tak gatal.
"Ghibahin saya Ya?"tanya Bagas dengan tatapan tajam ke arah keduanya.
"Ehm ngak kok Pak, kami berdebat tentang pedangdud yang menyayikan lagu Gegana, masa' iya kata pak Yanto namanya cita-cita ku padahalkan cita-citata ya kan Pak?"tanya Alita ke Bagas bermaksud meminta bela.
"Mana saya tau!"dengus Bagas.
Keduanya kembali salah tingkah, ternyata banyolan murah tak bereaksi pada orang seperti Bagas.
Bagas menatap tajam kearah keduanya secara bergantian.
"Thalita ke tuangan saya sekarang!"titah Bagas singkat.
__ADS_1
Bagas langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Aduh kok jadi gue yang kena? "dengus Alita.
"Huh, ini semua gara-gara pak Yanto nih, pasti saya di semprot sama pak Bagas," keluh Alita.
"Huh, salah kamu sendiri, siapa suruh cari agar-agar," ucap pak Yanto kocak.
"Gara-gara kali Pak, agar-agar mah makanan olahan dari rumput laut, heran dek ngomong suka kebalik-balik, emang sekolahnya di mana sih?" dengus Alita.
He he, Pak Yanto cuma nyengir.
Alita pun masuk keruangan Bagas, rasanya ia begitu tegang, karna ketahuan bergosip dengan pak Yanto.
Alita melangkah melenggang dengan anggun mendekat kearah Bagas.
Dari kejauhan jantungnya sudah berdetak kencang.
Karna melihat tatapan Bagas yang seolah mengintimidasi dirinya
"Ehm Ada apa Pak ? "tanya Alita.
Ia sudah merasa sedikit was-was.
"Alita kamu sudah punya pasangan?" tanya Bagas serius.
"Ha?!" Alita syok.
"Ehm maaf saya koreksi pertanyaan saya," ucap Bagas yang ternyata juga gugup.
"Ehm maksud saya, kamu sudah punya partner untuk ke undangan pernikahan Alia?" tanya Bagas dengan jengah, ia pun tertunduk.
Alita syok namun tersenyum.
Sepertinya aku mulai paham dengan pembicaraan ini arahnya kemana, ehm jual mahal ngak Ya? he he.
"Ehm saya belum punya pacar pak," ucap Alita seolah mendeklarasi kan dirinya jomblo.
He he Bagas ngerti ngak Ya?
"Ehm kamu bisa temani aku ke resepsi pernikahannya Alia?" tanya Bagas datar.
Yes
"Ehm boleh sih Pak, asal Bapak tak sungkan saja membawa saya "gunan Alita lirih namun masih terdengar oleh Bagaz.
"Ya sudah nanti saya jemput kamu pada hari H,"ucap Bagas dengan tegas.
"Ehm iya Pak,"
"Ya sudah kamu kembali bekerja,"titah Bagas.
Ehm iya Pak permisi, ucap Alia seraya beranjak dari tempat Bagas.
Yes akhirnya gue pergi undangan ngak sama bokap dan nyokap gue lagi.
Alita pun keluar dari ruangan tersebut dan tersenyum.
Akhirnya pucuk di cinta ulam pun tiba.
bersambung, maaf ya author cuma bisa up dikit, mohon dukungannya terus ya biar makin semangat
__ADS_1