Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Romansa Cinta Yang Kelam


__ADS_3

Aldi mengendap ngendap mendekati Aira yang sedang makan, senyuman terlukis di wajahnya melihat istrinya yang makan dengan porsi yang berlipat ganda.


Hus, hus, Aira kepedasan ia pun meneguk satu gelas air putih sekaligus, keringat terus bercucuran di wajahnya.


Aldi tersenyum kembali kemudian menarik kursi dan duduk di samping Aira.


"Mas Aldi? kok sudah pulang jam sengini?" Aira melirik jam dinding yang ada di hadapanya.


"Mas Aldi kan bos, jadi bisa pulang kapan saja mas Aldi mau," sahutnya.


Aldi meraih tissu dan melap keringat yang membasahi kening dan mulut Aira.


"Kamu makannya lahab banget sayang."


ujar Aldi karna melihat beberapa piring dan mangkok kotor yang tak bersisa makanan.


"He he mas Aldi lihat Aira makan ya, jadi malu," ucapnya jengah.


"Kenapa harus malu, bukannya mas Aldi kerja untuk kamu dan anak kita."


"Iya Mas, Aira sekarang sulit mengendalikan naf*su makan Aira, pengennya makan terus," ujarnya.


"Loh malah bagus sayang, kamu dan bayi kamu jadi sehat, mas lihat wajah kamu lebih seger dan tambah berseri,"sanjung Aldi.


"Tapi Aira jadi lebih gemuk Mas, lihat saja pipi Aira semakin chubby."


"Biarin saja, lebih gemuk lebih empuk," sahut Aldi.


"Sayang kamu mandi ya, setelah ini kita jenguk Mama."


Aira mengganguk, karna habis makan banyak, ia pun kesulitan untuk berdiri.


"Aduh Mas ntar dulu deh, dada Aira sesak mungkin perut Aira terlalu penuh terisi." keluhnya seraya meraba perutnya.


"Ya sudah, mas siapin Air hangat buat kamu mandi ya," ucapnya sambil menepuk pundak sang istri.


Aira mengatur napasnya, kebanyakan makan malah membuatnya sulit untuk bergerak.


Setelah beberapa menit, ia pun bangkit namun tubuhnya terasa berat, Aira pun menuju dapur untuk menimbang berat badannya.


Matanya melotot ketika timbamgam digital tersebut menunjukan angka 47," Hah, naik dua kilo! baru beberapa hari," dengusnya, ia pun langsung naik menuju kamarnya.


Setibanya di anak tangga paling ujung Aira pun ngos-ngosan.


"Aduh kok jadi ngos-ngosan gini sih keluhnya." Aira mengatur napas sebentar kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


Sesampainya di kamar rasa malas kembali menghantuinya, matanya seketika mengantuk padahal baru saja ia bangun dari tidur siangnya.


Aira menata bantal agar lebih tinggi sehingga saat ia berbaring, pernapasanya tak terganggu.


Aldi keluar dengan handuk sepinggang dan rambut yang basah.


"Sayang, katanya mau pergi kok malah rebahan sih?"tanya Aldi seraya duduk di samping istrinya.


Aira membuka sedikit matanya.


"Ehm, kenapa Aira jadi malas ngapa-ngapain ya Mas, pinginnya makan dan tidur saja," sahutnya dengan mata yang sayu.


"Ngak usah terlalu di turuti sayang, ngak baik juga kalau hanya makan dan tidur, ntar lemaknya bertumpuk, dan bisa memicu gangguan kehamilan dan penyakit yang dapat menggangu kesehatan kamu dan janin kamu," papar Aldi.


"Ih. kok mas Aldi tahu sih, kayak pernah hamil saja." dengus Aira.


Aldi tersenyum seraya duduk mendekati kepala Aira, dengan lembut ia mengusap pipi istrinya.


"Sejak kamu hamil, mas Aldi sering browsing informasi tentang kehamilan, apa saja yang ngak boleh dan boleh dilakukan semasa hamil," papar Aldi.


"Ehm. mas Aldi perhatian banget deh," sahut Aira bangkit seraya melingkarkan lenganya ke leher Aldi.


"Tentu saja, kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga anak kita, mas ngak mau terjadi sesuatu pada kamu dan anak kita, paparnya.


"Lagi pula mas sengaja pulang lebih awal biar bisa pergi sama kamu, "paparnya lagi.


Aldi setuju, "Aira berdiri dan meminta agar Aldi menggendongnya ala bridal style, Aduh kamu jadi tambah berat sih, " dengus Aldi seraya berjalan membawa Aira menuju kamar Mandi.


"Iya dong, Aira naik dua kilo Mas," ucapnya seraya tersenyum.


"Pantes saja," keluh nya.


Sesampainya di kamar mandi Aira langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar lebih segar.


Sementara Aldi, menyiapkan pakaian untuk istrinya, dunia seakan terbalik saat Aira hamil, jika biasanya Aira yang menyiapkan segala sesuatu untuknya, kini ia yang menyiapkan segala kebutuhan untuk sang istri, semua sebagai ungkapan kasih sayang yang tak terhingga karna sang istri mengandung benih cinta mereka, Aldi tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali.


***


Hari sudah sore ketika Heru pulang dari kantornya, rasa khawatir muncul di hatinya dan membuatnya resah karna meninggalkan Clarisa sendiri di apartmen nya.


Heru singgah di sebuah restoran favorite ia dan Clarisa untuk membeli makanan favorite mereka, Clarisa sangat suka makan roti cane, ia pun bermaksud untuk mengantar makanan tersebut ke apartmentnya.


Sesampainya di sana Heru langsung menuju apartmentnya, ia mengetuk pintu apartment namun tak ada yang membuka pintu, ia pun mengulanginya lagi, seraya memanggil-manggil nama Clarisa, setelah cukup lama menunggu namun pintu tak kunjung di buka.


Ia pun merasa khawatir, Heru turun kelantai dasar menggunakan lift, ia meminta pengelola apartment untuk membuka pintu kamarnya secara paksa.

__ADS_1


Setelah menunjukan bukti kepemilikan dan menjelaskan duduk permasalahanya, pihak pengelola pun membatu Heru untuk membobol pintu apartmen secara paksa.


Beberapa alat di gunakan petugas untuk membobol pintu tersebut, sementara detak jantung Heru berdetak tak karuan.


Ia merasa gelisah sekali, keringat pun mengucur di sekujur tubuhnya.


Dalam waktu belasan menit, petugas berhasil membobol pintu, mereka pun langsung mendobrak pintu apartement.


Heru kaget ketika menyaksikan tubuh Clarisa tergeletak di lantai, jantungnya semakin berdegup kencang.


"Clarisa!"teriaknya kemudian langsung berlari mendekati tubuh Clarisa yang tergeletak.


Petugas tersebut ikut masuk untuk menyaksikan apa yang sesungguhnya telah terjadi.


"Clarisa!"


Heru merasa denyut nadi Clarisa yang teraba lemah, di sekitar tubuh bagian bawahnya pun mengalir cairan merah.


"Clarisa!" jerit Heru seraya menangis.


Ia menepuk-nepuk pelan pipi Clarisa untuk membuatnya sadar, tak cukup sampai di situ Heru membuka mulut Clarisa dan memberinya nafas buatan, Heru menekan nekan dada Clarisa agar ia sadar.


Tangan Clarisa bergerak lemah secara perlahan ia membuka matanya.


Menyadari Clarisa telah sadar, Heru menghentikan gerakanya, sementara petugas yang menyaksikan peristiwa tersebut melapor kepada pengelolah dan menelpon ambulan.


"Heru," ucap Clarissa lirih tanganya coba meraih wajah Heru.


"Iya Clarisa, hiks hiks siapa yang membuat kamu seperti ini?"tanya Heru seraya menyambar tangan Clarisa yang berusaha menggapai wajahnya.


Heru mencium tangan Clarisa yang gemetar tersebut.


"Heru terima kasih atas bantuanmu, maaf ak..ku.. tel..ah meng hianaati cin..ta kita," ucap nya terbata-bata, karna napasnya hampir mencapai kerongkongan.


"Tidak Clarisa, siapa yang telah melakukan ini terhadap mu?" tanya Heru sambil menangis.


Clarisa tersenyum, "Aku..menci..ntai..mu He..ru, hanya..saja, Takdir..tak berpihak..pada cin..ta kita, "tuturnya dengan suara semakin lirih dan tersendat-sendat


"Iya Clarisa aku juga mencintaimu, bertahan lah Clarisa, aku yakin kau kuat," ucap Heru dengan terisak, ia pun mengecup kening Heru.


"Hiks...hiks..bertahanlah Claris," ucap Heru seraya mengusap rambut di kening Clarisa.


"Aku harus pergi Heru, semoga tak...dir mem...pertemu...kan kita di kehi...dupan yang ab....adi, huh," Clarisa menutup matanya saat hempasan napas terakhirnya.


"Tidak!! Clarisa!" teriak Heru memecah kesunyian tempat tersebut.

__ADS_1


Bersambung guys, meski kisahnya sedih tetap tinggalkan dukungan untuk author, apalah author tanpa dukung kalian 😭😭😭😭😭


__ADS_2