Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pernikahan Bagas dan Alita


__ADS_3

Sebuah undangan tergeletak di meja rias Alia.


"Bang undangan siapa ini?" tanya Alia seraya menunjukan undangan tersebut ke Ghael.


"Undangan Bagas dan Alita."Ghael.


Alia pun membuka cover undangan berwarta putih tersebut.


Bagas dan Alita tampak bahagia di beberapa gambar yang terpajang di undangan mereka.


Alia tersenyum simpul, 'Ternyata kita memang ngak berjodoh Gas, semoga kamu bahagia bersama Alita,' batin Alia.


Ghael menghampiri Alia yang terlihat fokus menatap undangan tersebut.


"Bagaimana kamu mau pergi ke resepsi mereka?"tanya Ghael.


Alia mengangguk lirih, "Tentu dong Bang! Alita kan sahabat aku," sahutnya sambil menutup undangan tersebut.


Ghael menatap Alia dengan tersenyum.


"Ehm kenapa Bang? Abang masih ragu tentang perasaan Alita terhadap Abang?" tanya Alia seraya duduk di pangkuan Ghael.


Ghael menatap wajah Alia seraya menyentuh wajahnya." Ngak, Abang percaya kok sama kamu, "ucap Ghael seraya mencium bahu Alia.


Keduanya pun saling melempar senyum, Alia mendekatkan wajahnya ke wajah Ghael kemudian menyatukan bibir mereka.


Keduanya saling memangangut lembut, saling menyesap dan semakin memperdalam ciumannya.


Tanggan Alia meraba mesra tubuh Ghael, begitupun Ghael yang mengerayangi, melepas satu persatu penutup tubuh istrinya.


Keduanya semakin larut hingga hasrat memuncak, Ghael pun mengangkat tubuh Alia yang setengah bugil tersebut kemudian membaringkannya di atas tempat tidur.


Pertempuran sengit pun terjadi lagi, gerakan ekstrim terjadi di bawah selimut dengan suara-suara eksotik yang terdengar lirih.


***


Malam sebelum pernikahan,


Keluarga Alita sudah di sibukan dengan berbagai ritual adat pra nikah setelah selesai mereka pun menyuruh Alita untuk beristirahat.


Karna esok harinya akan di langsungkan acara akad nikah dan resepsi, di mana Alita butuh banyak tenaga.


Alita menatap memandang sekeliling kamarnya yang sudah di dekorasi ala kamar pengantin.


Alita merasa grogi, ia tersenyum simpul membayangkan apa yang akan terjadi padanya dan Bagas, maklum saja hubungan mereka masih berjalan di tempat, di mana ia dan Bagas hanya terlihat seperti rekan kerja.


Alita merebahkan tubuhnya berbaring di atas ranjang pengantin, seraya menatap langit-langit kamarnya.


"Ehm, rasanya aku hampir tak percaya jika besok aku akan menikah," gumannya tersenyum.


"Dan secara resmi aku akan jadi Nyonya Mahardika Bagaskara, meski aku tahu Bagas tak mencintaiku, setidaknya kami akan lebih sering bersama meski belum tentu juga dia mau menyentuh ku," guman Alita.


Alita sepertinya pasrah jika Bagas tak akan menyentuhnya, melihat sikap Bagas yang terlihat dingin. Namun, setidaknya Aibnya tertutupi dan orang-orang pun tak akan pernah tahu dengan kejadian memalukan yang membuat dirinya sudah tak suci lagi.


Alita mencoba memejamkan matanya menikmati waktunya yang tersisa sebagai seorang lajang, beberapa saat kemudian ia pun merasa mengantuk.


"Selamat malam Alita semoga esok hari kau lebih bahagia." Aliata.


***


Langit malam terlihat mendung dengan gumpalan awan hitam yang pekat di sertai dengan suara kilat yang sambar menyambar memecah keheningan malam.


Bagas memaku di salah satu sisi tempat tidur.

__ADS_1


Malam ini adalah malam terakhirnya sebelum melepas masa lajangnya esok hari.


Sudah dini hari. Namun, ia belum juga terlelap, entah apa yang ada dipikirannya hingga membuatnya sulit untuk memejamkan mata.


Bahkan di detik-detik pernikahannya pun ia masih memikirkan Alia.


"Apa memang semuanya tak mungkin Alia? Kenapa Tuhan mempertemukan kita menghadirkan cinta di antara kita, tapi nyatanya hanya untuk berpisah."


"Jika memang aku bukan jodohmu kenapa kita harus bertemu, kenapa sulit sekali melupakan mu, meski aku sadar kau sudah jauh berubah, kau terlihat mencintainya, apa aku juga harus belajar membenci mu agar aku bisa mengubur perasaan ini?"


Bagas terlentang menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang menerawang jauh.


"Ya Tuhan tumbuhkanlah rasa cinta di hati ku untuk istriku, aku pun ingin merasakan bahagia dan membahagiakannya," guman Bagas.


Bagas menghela napas panjang mencoba untuk iklas, karna ia sadar ia hanya manusia biasa tak akan mampu menentang takdir yang kuasa.


Bagas membolak balikan tubuhnya. Namu,Belum juga ia terlelap, meski


malam semakin larut.


Waktu terus berlalu, setelah lelah dengan pergulatan batinnya, Bagas mencoba untuk memejamkan matanya dan akhirnya terlelap juga.


***


Suara Azan subuh berkumandang terdengar sayup-sayup di telinga Bagas, rasanya baru saja beberasaat yang lalu ia terlelap. Namun, suara gedoran pintu memaksanya untuk bangun.


Tok tok tok..


"Bagas! Bagas!" Seru Nina.


Bagas masih menerjab-nerjabkan matanya mengedar pandangannya di liriknya petunjuk waktu yang berdetak.


Waktu menunjukan setengah lima, Bagas bangkit dengan malas untuk membuk-an pintu.


Pintu di buka tampaklah seorang wanita cantik mengenakan mukena.


"Bagas kamu sudah sholat subuh?"tanya Nina.


"Ehm belum Bu,"sahutnya dengan mata yang sayu.


"Aduh Bagas ibu bilang juga apa?! Jangan tidur larut malam terus, jadi ngantuk kan?"


"Hari ini kamu akan menikah Gas, jadi setelah sholat subuh sebaiknya kamu bersiap!"


Bagas mengaruk-garukan kepalanya yang tak gatal matanya masih mengantuk tapi langsung terbuka menyaksikan  ceramah langsung dari mulut ibunya.


Ia pun langsung menunaikan sholatnya, kemudian langsung bersiap, karna tepak pukul delapan pagi nanti ia akan melangsungkan prosesi akad nikah.


***


Di kamarnya saat ini Alita sedang di rias oleh salah satu MUA profesional.


Dengan menggunakan kebaya brokat yang elegan dan rambut yang di sanggul, Alita tampak semakin cantik dan ayu bak putri keraton.


Dasti menghampiri putrinya, air mata haru menetes begitu saja melihat sang putri yang sebentar lagi akan membuka lembaran baru di hidupnya.


Setelah selesai di dandan Dasti menghampiri Alita.


"Alita, kamu sudah siap Nak? calon suami kamu sudah hadir dan sebentar lagi akad nikah akan berlangsung," tutur Dasti dengan sedih.


"Iya Ma, Lita harus siap, doakan rumah tangga Lita langgeng ya Ma,"pinta Alita.


"Ehm ia Nak, mama doain agar pernikahan kamu langgeng dan di karuniai anak-anak yang sholeha," ucap Dasti.

__ADS_1


Aamiin, sahut Alita dengan bulir bening menetes di pipinya.


Dasti menyapu air mata tersebut," Sudah Mama turun dulu. Akad nikah segera di mulai,"ucap Dasti ia pun meninggalkan Alita sendiri di kamarnya.


Alita duduk sendiri, di luar sudah terdengar ikrar ijab qabul yang di ucapkan oleh Bagas.


Setelah beberapa saat bulir bening pun menetes di pipi Alita.


***


Pagi hari ini Edo beserta rombongan pengantin menuju rumah pengantin wanita.


Karna Edo seorang pejabat tinggi, banyak sekali arak-arakan yang mengiringi mobil pengantin.


Para pejabat daerah beserta staf ikut hadir dalam arak-arakan pengantin tersebut.


Saat itu Bagas terlihat tampan dengan stelan jas berwarna creamnya, ia duduk di sampinga sang ibunda yang memeluknya.


Rasa haru menghinggapi Nina, melihat putra satu-satunya yang akan menikah.


"Gas, Ibu harap ini pernikahan pertama dan terakhir untuk kamu Gas, kamu sekarang tak sendiri, ingat Gas tanggung jawab kamu terhadap istri kamu itu dunia dan akhirat, kamu harus bisa nenafkahi istri kamu dengan sebaik-baiknya," nasehat Nina.


"Iya Bu," jawab Bagas singkat, sementara Edo hanya menoleh ke belakang melirik ke arah Bagas.


Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah mempelai wanita.


Musik arak-arakan pengantin pun terdengar mengiringi langkah Bagas.


Sosok pengantin pria kita menjadi sorotan, bukan hanya status sosial-nya tapi juga ketampanan wajahnya, yang menjadi buah bibir bagi tamu yang hadir.


Kedua keluarga pun bertemu dalam upacara penyambutan mempelai pria.


Setelah serangkaian acara kini tibalah saat-saat mendebarkan bagi mereka berdua.


Bagas kini berhadapan dengan Doni untuk melangsungkan prosesi akad nikah.


Bagas merasa gugup, untung saja ia sudah menghapal ikrar ijab qabulnya.


"Sudah siap semua?"tanya penghulu.


"Siap," ucap Doni.


Sementara Bagas hanya mengangguk.


"Sekarang pak Doni kita mulai saja," penghulu.


Doni pun menjabat tangan Bagas, seketika di sambut oleh Bagas.


Bismillah ucap keduanya.


"Saudara Mahardika Bagaskara, Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Thalita Iswara dengan mas kawin sebentuk cincin emas di bayar tunai."


Bagas langsung menyambut.


"Saya terima nikah dan kawinya Thalalitha iswara binti Doni mahesa dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Sejenak hening.


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah!"sahut para saksi.


Alhamdullilah.

__ADS_1


Bersambung dulu ya reader, maaf kalau sekarang jarang up, karna kesehatan saya yang sedang terganggu, ada yang penasaran dengan malam pertama Bagas dan Alita he he. di usahakan up lagi ya jika keadaan memungkin kan.


__ADS_2