Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kau Aku dan Luka


__ADS_3

"Apa maksud kamu Alia?"tanya Alita.


"Aku ingin kamu menggantikan aku Lit, aku ingin kau dan Bagas_" hiks hiks.


"Alia mana bisa seperti itu, cinta itu tak bisa di paksakan."sambar Alita


"Tapi Lit_"


"Alia bukannya itu hanya menambah sakit hati pada Bagas, jika menjadi teman atau sahabatnya aku mau, tapi jika untuk menerimanya langsung sebagai pacar rasanya itu sulit, Bagas pun pasti begitu, dia pasti merasa patah hati, mengobati patah hati butuh waktu yang lama Alia," ucap Alita.


"Tapi aku ngak rela kehilangan Bagas, aku mencintainya, hua hua hua," Alia kembali menangis di pelukan Alita.


"Sabar Alia,"ucapnya seraya mengusap rambut Alia.


"Sepertinya kau lebih patah hati dari ku," ucap Alita.


"Bagaimana aku tak patah hati Alita, aku dan Bagas saling mencintai, kami sudah berencana membangun rumah tangga agar bisa bersama dan Bagas juga sudah melakukan segala cara agar hubungan kami mendapat restu, bahkan ia rela menghapus tattonya hingga kulitnya seperti terbakar, tapi nyatanya cinta kami tak di restui hanya karna di dalam tubuh Bagas mengalir darah seorang bajingan bernama Retno," Alia.


Hiks hiks hiks. Alia malepaskan pelukannya ia pun menangis terpuruk di atas tempat tidur.


Di kamar Alita ia bisa menangis sepuasnya tanpa khawatir dengan perasaan kedua orang tuanya, di rumah Alia harus bersikaf seolah ia sedang baik-baik saja karna tak ingin menyakiti perasaan sang ibunda.


"Bagas ngak salah Lit, dia juga tersiksa dengan keadaanya, hingga ia mencari pelarian dengan mengkomsumsi Narkoba."


Alia menangis tertungkup seraya memukul-mukul bantal.


Alita merasa iba pada sahabatnya tersebut, *Kasihan Alia, baru kali ini ia jatuh cinta tapi cintanya justru tak di restui oleh orang tua.


Sebenarnya Alia bukan type cewek bucin, pasti ada sesuatu yang istimewa dalam diri Bagas hingga ia tak rela kehilangan Bagas, Bahkan pria setampan dan se keren Ghael tak mampu menutup luka hatinya*.Batin Alita.


Alia terus saja menangis hingga kelelahan, Alita membiarkan Alia menangis sampai ia benar-benar puas, terkadang hanya air matalah yang mampu membasuh luka.


***


Keesokan harinya Alia meminta Alita menemaninya untuk menemui Bagas di suatu tempat.


Keduanya masuk dalam mobil taksi.


Kebetulan saat itu Ghael ingin menjemput Alia, melihat keduanya yang pergi menggunakan taksi, Ghael membuntuti mereka.


Di dalam mobil Alia tampak murung, Alita menggenggam tangan sahabatnya untuk memberinya support agar ia bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Bagas.


Bagaimana pun Bagas harus tahu secepatnya, agar ia tak semakin larut dalam mimpi-mimpinya untuk mengejar cinta Alia.


Sesekali Alia terlihat menghapus air matanya yang menetes, entah berapa banyak air mata tersebut keluar namun tak pernah kering, bahkan kelopak mata Alia membengkak karna terlalu banyak menangis.


Mereka pun tiba di sebuah dermaga yang tak lagi di gunakan, ketika mereka sampai di sana Alia sudah melihat Bagas duduk di atas motor dengan menggunakan kaca mata hitamnya untuk menghindari teriknya sinar mentari siang itu.


Alia membuka pintu mobil, melihat Bagas dari kejauhan rasa rindu itu kembali menyeruak di dirinya, senyuman Bagas untaian kata cinta darinya, masih terngiang di telinga Alia, Bagas dan sejuta pesonanya masih belum pudar di hatinya hingga membuat langkah Alia sedikit gemetar.


Bagas tersenyum dari kejauhan melihat sang pujaan hatinya telah sampai.


Ia pun turun dari motor, menyimpan helm dan berlari pelan untuk menghampiri Alia.


Rindu sudah menyeruak di hati Bagas baru sehari semalam mereka tak bertemu dan berbincang.


"Alia!" panggil Bagas mesra.


Alia menundukan kepalanya berlari kecil menghampiri Bagas.


Bruk..


Tanpa di duga Bagas, Alia langsung memeluknya erat.


"Bagas,"ucap Alia lirih.

__ADS_1


"Alia, sayang," Bagas menyambut Alia dengan memeluknya erat ia pun berkali kali mengecup pucuk kepala Alia mengungkapkan perasaannya yang terdalam, karna lafas cinta tak cukup untuk mengungkapkan perasaanya saat itu terhadap Alia.


Alia memeluk Bagas dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria tampan tersebut.


Terasa hangat dan nyaman berada dalam dekapan orang yang kita sayang.


Untuk pertama kalinya mereka berpelukan seperti ini, dan mungkin saja ini untuk yang terakhir kalinya.


Tubuh Alia terguncang dalam pelukan Bagas karna menahan tangisannya.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang Bagas mengusap punggung Alia.


"Sayang, kenapa kau menangis?"tanya Bagas dengan suara yang lembut.


Bukannya menjawab Alia malah semakin menangis terisak di pelukannya.


Bagas membiarkan air mata Alia tumpah hingga membasahi baju yang ia kenakan saat itu.


Ada apa ini? kenapa Alia akhir-akhir ini begitu sedih.


Bagas mulai menerka-nerka, namun berkali-kali ia menepis dugaan tersebut.


Keduanya larut dalam kesibukan masing-masing, Alia yang menangis sementara Bagas masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Alia ada apa sebernarnya?" tanya Bagas.


Hiks hiks hiks, bukannya menjawab Alia semakin menangis tersedu-sedu.


Deg


Dada Bagas seketika bergemuruh


Apakah?


Kalimat pertanyaan menggantung di hatinya.


"Alia berhentilah menangis, katakan apa yang membuat mu begitu sedih?"tanya Bagas yang juga ikut menangis.


Hiks hiks hiks, Alia mencoba menahan isak tangisnya.


"Gas, berjanjilah pada ku, apa pun yang terjadi, kau kau tak akan kembali ke jalan yang salah," ucap Alia seraya menahan isak tangisnya.


Ha ha Alia muncoba mencari napas karna cairan kental memenuhi hidungnya saat itu.


Deg


Ahkhirnya Bagas dapat menyimpulkan maksud dari Alia.


Seketika Bagas juga menangis, seraya mempererat pelukannya pada Alia.


"Katakan saja Alia, aku pasti baik-baik saja," ucap Bagas seraya menangis, keduanya semakin mempererat pelukannya.


Bagas menutup kelopak matanya, air mata seketika luruh membasahi pipinya.


"Gas aku ngak bisa melanjutkan hubungan ini dengan mu_" hiks hiks Alia menjeda kata-katanya.


Bagai di tusuk sembilu hati Bagas saat itu, seketika dadanya terasa sesak.


"Gas, aku mencintai mu,"ucap Alia terpotong.


"Aku juga mencintai mu Alia," balas Bagas.


"Tapi Gas, aku tak bisa memilihmu, orang tuaku menjodohkan ku dengan Ghael."


Kreak kreak jedar.

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang bolong Bagas saat itu.


Nafasnya terhenti seketika dengan air mata yang menetes tanpa diminta.


Bagas mematung beberapa saat, Inikah akhirnya?


"Gas maafkan aku, aku harus menuruti ke inginan orang tua ku hiks hiks hiks,"


Alia mendongkakkan wajahnya melihat Bagas yang sedang manangis, kedua belah telapak tanganya ia takupkan pada pipi Bagas.


"Gas berjanji lah, kau tetap akan jadi orang baik setelah ini," pinta Alia seraya menghapus air mata Bagas.


Bagas tak menjawab ia hanya tertunduk menangis beberapa saat.


Alita juga ikut menangis menyaksikan perpisahan keduanya.


Sementara itu Ghael pun tiba dan melihat Alia dan Bagas.


Bagas masih terdiam namun tubuhnya berguncang menahan isak tangis.


"Gas, kau baik-baik saja kan?" tanya Alia lirih, kedua telapak tanganya masih menakup pipi Bagas yang tertunduk menahan tangis.


"Bagas! katakan pada ku, kau baik-baik saja kan?"tanya Alia dengan sedikit memaksa,padahal ia tahu jika bagas saat itu tak baik-baik saja.


"Gas, meski aku tak bisa di sisi mu lagi, tetaplah kau seperti ini, seorang Bagas yang ku kenal, tetapkan dirimu pada jalan yang lurus Gas, karna aku pasti akan sedih jika kau kembali terjerumus di lubang hitam, hiks hiks hiks,"


Alia kembali memeluk Bagas, saat itu ia begitu berat untuk meninggalkannya.


Bagas kembali memeluk Alia semakin erat, "Pergilah Alia, pilihan orang tuamu pasti yang terbaik untuk mu, percayalah aku tak apa-apa, hiks hiks," tubuh Bagas berguncang dengan dada yang bergemuruh mengatakan hal tersebut, meski sulit untuk melepas Alia, tapi ia harus rela.


"Gas maaf kan aku," ucap Alia lirih dalam pelukan Bagas.


"Bagas menghapus air matanya, " Tak mengapa Alia setidaknya, hidup ku yang kelam lebih bewarna dengan hadir mu, karna kamulah aku juga aku merasakan anugrah cinta yang terindah, kau menuntunku untuk kembali ke jalan terang setelah kebingungan ku dalam kesesatan," ucap Bagas dengan bibir yang bergetar dan air mata yang mengalir.


Keduanya semakin haru.


"Gas tetap lah jadi bintang yang bersinar, agar aku bisa melihatmu dari kejauhan, kau harus jadi lebih baik tanpa aku, semoga ada jodoh yang lebih baik dari ku yang Tuhan gariskan untuk mu Gas," ucap Alia.


Ehm.


Bagas hanya mampu berguman.


Mereka pun melepaskan pelukkanya, Alia menoleh ke arah Alita, dan di sana dia juga menyadari hadirnya Ghael.


Alia menarik tangan Bagas menuju tempat Alita berdiri, mereka masih menggenggam dengan erat.


Setibanya di hadapan Alita, Alia menarik tangan sahabatnya tersebut dan menyatukannya denga tangan Bagas.


Keduanya menoleh kearah Alia, Ghael pun menghampiri mereka.


"Bagas, dia Alita sahabat ku, bisakah kau menjaganya untuk ku," pinta Alia kepada Bagas.


Bagas tercengang, begitupun Alita.


"Alita, aku yakin kau bisa membahagiakan Bagas, kalian adalah dua orang yang ku cintai, semoga saja takdir menyatukan kalian berdua," ucap Alia yang menyatukan kedua tangan mereka.


Ghael datang menghampiri Alia, ia pun menarik tubuh Alia pelan dan merangkulnya dari belakang.


Alia tertunduk seraya menghapus air matanya.


Ghael dan Alia perlahan meninggalkan keduanya yang mematung.


Bersambung ya guys.


Guys buat kamu yang penasaran dengan kisah cinta Heru, nih di takdir gintani ada mas Heru yang lagi kepicut janda loh, di bikin baper sama authornya, saksikan kisah cinta Heru mulai episode198 di novel berjudul: Takdir Gintani, sedikit cuplikannya di bawah ini

__ADS_1


i



__ADS_2