
"Nisa!" Teriak Arsyad ketika melihat Nisa yang kaki dan tangannya terikat, begitupun dengan mulutnya yang tutup dengan lakban hitam.
"Astafifullah! Benar-benar kelewatan."
Asyad meraih handphone yang berada di saku celana belakan, ia memfoto keadaan.Nisa ketika di temukan.
Nisa menangis melihat kedatangan Arsyad.
Arsyad menghampiri Nisa setelah menggambil beberapa gambar sebagai bukti yang akan memberatkan Mala.
"Siapa yang melakukan ini terhadap mu Nisa?"tanya Arsyad dengan mata yang betembun.
Nisa menangis tanpa suara, hanya tubuhnya saja yang berguncang.
Dengan hati-hati ia melepaskan perekat yang kuat menempel pada mulut Nisa.
Saking kuatnya perekat tersebut, kulit Nisa memerah ketika sedikit demi sedikit Arsyad mengelupaskannya.
Seorang polisi datang menghampiri Arsyad ia membantu melepas ikatan pada pergelangan tangan Nisa yang menggunakan tali berbahan nilon tersebut.
Perekat yang menutupi mulut Nisa pun terlelas begitupun kaki dan tangannya yang di ikat.
Nisa langsung menghambur memeluk Arsyad.
"Hiks hiks hiks, kenapa mereka tega melakukan itu terhadap ku Syad?" tanya Nisa yang menangis meringkuk dalam.pelukan Arsyad.
"Sabar Nisa, setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, "ucap Arsyad sambil mengusap rambut Nisa.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian ikut kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan," ucap polisi tersebut.
"Iya Pak, tapi sepertinya dia masih syok," ucap Arsyad sambil memeluk tubuh Nisa yang gemetar.
Arsyad membantu Nisa berdiri, mereka pun keluar dari kamar tersebut, sementara polisi mengumpulkan bukti dengan memungguti lakban yang menutupi mulut Nisa serta tali yang mereka gunakan ntuk mengikat tangan Nisa.
Pergelangan tangan dan kaki terluka, dengan tubuh yang genetar Nisa pun menyerek langkahnya dengan tubuh yang bertopang pada tubuh Arsyad.
Pada wajah Nisa pun terdapat beberapa luka di kening dan di tepi bibirnya.
Mereka semua yang terlibat dalam kasus ini di giring ke kantor polisi dengan berjalan kaki. Sedangkan Arsyad dan Nisa di bawa menggunakan motor.
Sesampainya di ujung jalan, Arsyad dan Nisa masuk ke mobil, mereka mengikuti sepeda motor yang menuntun mereka menuju kantor polisi terdekat.
"Nisa bagaimana kamu bisa terikat seperti itu?"tanya Arsyad.
Nisa terus berontak."Tante, lepasin aku Tante! Aku ngak mau nikah Tante!" Tok tok tok tok.Nisa terus menggedor pintu tanpa henti.
Mendengar Nisa yang terus berontak dan meresahkan Mala pun mengajak Gladis untuk membekap mulut Nisa.
"Ayo Gladis, kita ikat dan sumpal mulutnya, sampai akad nikahnya selesai.Bawa tali dan lakban yang Mami sudah siapkan? Aku sudah tahu ini pasti terjadi" Mala.
"Ayo Mami." Gladis begitu semangat.
Nisa masih menggedor pintu tersebut.
Tok tok tok "Tante lepaskan! Keluarkan aku Tante! " seru Nisa sambil menggedor pintu kamarnya.
__ADS_1
Karna kesal, Mala pun mendobrak pintu hingga pintu terbuka dan menggenai kening dan bibir Nisa
"Nisa! Bisa tidak sih kamu diam!" teriak Mala.
Suara di luar masih berisik oleh nyanyian.lagu -lagu salawat.
"Tante! Aku ngak mau nikah Tante, tolong bebaskan Nisa tante, "ucap Nisa sambil menakup tangannya serta memohon.
"Alah berisik aja! Sukur-syukur saja Frans itu mau sama anak yatim seperti kamu!.Dengar Nisa, kamu sudah tidak punya orang tua. Tak.ada yang mengurus kamu. Jika kamu menikahkan.suami kamu bisa menjaga kamu!"Mala
"Ngak Tante! Jangan!" Nisa terus memberontak. Tapi rambutnya mala di jambak oleh Gladis, kemudian ia menariknya dari arah belakang hingga kepala Nisa terongkak ke atas.Kemudian Mala menarik tangan Nisa kemudian melipat ke duanya tangannya ke belakang.
"Sudah ! Gladis ikat tangannya biar Mami yang memutup mulutnya."
Gladis pun mengikat kedua pergelangan tangan Nisa. Sementara Mala merekatkan lakban pada mulut Nisa.
Nisa tak bisa bicara dan berontak lagi, tapi itu belum cukup, Gladis menendang betis Nisa agar ia bertutut. setelah itu kakinya pun di ikat dengan posisi yang meringkuk
Flasback off
"Kuran ajar! Lihat saja paman dan tante mu pasti dapat hukuman setimpal Nisa. Aku juga yakin jika kecelakaan tersebut akibat dari sabotase oleh mereka. Akan ku minta bunda ku untuk menangani kasus ini secara langsung. Kamu tenang saja." Arsyad.
"Hiks hiks, Terima kasih Arsyad. Aku sudah begitu banyak merepotkan kau dan keluarga mu, Hiks hiks hiks."
"Tak usah sungkan Nisa. Mulai dari sekarang tak akan ada yang berani menyakiti mu," ucap Arsyad seraya mengusap kepala Nisa.
Nisa pun kembali menangis sedih memeluk Arsyad. Ternyata masih ada orang begitu peduli terhadapnya.
__ADS_1
Bersambung.Reader kok ada lemas sih? dukungannya mana ?😍😍