Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tegang kembali


__ADS_3

Aldi berada di balkon rumahnya menatap lagit dengan hampa.


Sudah delapan bulan Aira pergi meninggalkanya namun sampai sekarang ia belum juga menemui titik terang keberadaan istrinya tersebut.


Menurut perkiraan bulan ini adalah bulan di mana Aira akan melakukan persalinan.


Dan menurut hukum islam, jika Aldi tak mengajukan rujuk pada istrinya, maka setelah melahirkan Aira sudah resmi berpisah darinya, karna masa idah Aira hanya sampai ia melahirkan


Dan setelah itu, Aira bebas menentukan jalan hidupnya sendiri.


Aldi menarik napas panjang dan menghempaskannya dengan kasar, bulir bening perlahan menetes di sudut netra indahnya.


"Aku ngak akan rela jika Aira sampai menikah dengan laki-laki lain, aku ngak iklas, "dengus Aldi seraya menitikan air matanya.


"Aira di mana kamu?.kenapa kamu pergi secepat itu, kenapa kamu tidak menunggu ku, " hiks hiks hiks Aldi menyesali perbuatannya.


Aldi duduk terpuruk, berkali kali ia menjambak rambutnya sambil merutuk perbuatannya sendiri.


Akh akh...!teriak Aldi dengan kesal.


***


Usaha kripik Aira mengalami peningkatan, meski omset bulananya naik secara merangkak, namun setiap bulannya ia berhasil menambah karyawan.


Selain sibuk mengurusi wirausahanya, ia juga sibuk mempersiapkan ujian nasionalnya yang akan berakhir hari ini.


Aira menutup laptopnya pertanda ujian nasionalnya telah selesai, kini hanya tinggal menunggu hasil UASnya.


Setelah lelah berkutat dengan laptopnya Ia mencoba untuk merengkankan otot-ototnya yang terasa kaku karna berjam-jam duduk seraya menatap layar monitor.


Saat melakukan senam ringan pada pinggangnya, ia merasa ada sesustu yang mengalir pada bagian bawah tubuhnya.


Karna merasa curiga, ia buru-buru kekamar dan memeriksa pakaian da*lamnya.


Ada bercak darah bercampur lendir yang menodai segitiga pengamannya.


Setelah memasang segi tiga tersebut dengan rapi, Aira keluar menemui mbok jum.


"Mbok,Mbok!" Seru Aira.


Mbok Jum yang berada di teras rumah sedang menyapu halaman buru-buru menghampirinya.


"Ada apa Non? Tanya si mbok.


"Mbok, Aira sudah keluar tanda, apa yang harus Aira lakukan?" Tanya Aira sedikit panik.


"Tenang Non, kita panggil pak Adi suruh dia jemput kita sekarang," saran Simbok.


Aira mengangguk kemudian menelpon pak Adi.


"Ayo Non kita siap siap sambil menunggu pak Adi,"usul simbok.


"Iya Mbok, Bawa semua perlengkapan bayinya Mbok," usul Aira karna semangat.

__ADS_1


"Ngak usah semua Non, emang Non Aira mau tinggal lama di rumah sakit?"


"He he iya Mbok, habisnya Aira semangat udah ngak sabar nunggu kelahiran anak Aira." Aira.


Aira di bantu oleh mbok Jum mengemasi pakaiannya.


Karna rencananya Aira akan melahirkan di rumah sakit yang ada di kota.


Begitu pun dengan Simbok yang juga menyiapkan pakainya karna dirinya akan menjaga Aira selama di rumah sakit.


Setelah persiapan mereka lengkap, si mbok pamit pada mang ujang, ia juga menunjuk salah satu karyawanya untuk mengatur usaha kripik mereka selama Aira berada di rumah sakit.


Aira menanti kehadiran pak Adi dengan gelisah.


Bagaimana tidak, perasaanya saat itu bercampur baur, mengaduk aduk hatinya, ia merasa takut, bahagia dan sedih, karna saat melahirkan ia sendiri tanpa di dampingi sang suami.


Butuh waktu satu setengah jam, untuk sampai di rumah sakit tersebut.


Dan di dalam mobil saja Aira sudah mengeluhkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang pada bagian perut dan pinggangnya.


"Akh Mbok, perut Aira terasa sakit, " keluhnya dengan lirih.


Mbok Jum melihat kearah Aira yang sudah terlihat pucat dan mengeluarkan keringat dingin karna menahan rasa sakit" Non, tenang Non, sabar ya," ucap si mbok.


"Pak Adi bisa sedikit di percepat jalannya?!" Tanya simbok.


"Baik Mbok, " ucap Pak Adi.


Aira menyadar kan tubuhnya di tubuh si mbok, sakit itu kadang kadang datang secara tiba-tiba.


Melihat Aira yang begitu gelisah, simbok pun menyarankan agar ia menyandarkan tubuhnya dan berselonjor, dengan kepala di topang oleh tubuh si mbok.


"Bagaimana Non? Masih sakit?"tanya nya.


"Iya Mbok, sakitnya hilang datang." sahut Aira.


"Atur napas Non, itu masih lama prosesnya, kemungkinan masih sempat sampai di rumah sakit," tutur simbok menenangkan Aira.


"Pak Adi, berapa lama lagi akan sampai Pak?" Tanya si mbok.


"Sekitar setengah jam lagi mbok, sahut pak Adi gusar, ia juga merasa khawatir, takut-takut jikalau Aira melahirkan di dalam mobil.


"Akh akh, Aira kembali meringis, kali ini perutnya semakin sering terjadi kontraksi.


"Tenang Non, sebentar lagi sampai, " ujar si Mbok menenangkan Aira.


"Akh aw mbok, semakin sakit mbok!" seru Aira seraya mengatur napasnya.


"Aduh aduh,!" Aira. meringis kembali.


Mbok Jum menjadi panik ia khawatir Aira tak bisa bertahan dan melahirkan di jalan.


"Tenang Non," sudah tak ada lagi kata-kata yg mampu di ucapkan simbok, karna sebenarnya ia juga panik.

__ADS_1


Suasana mencengkam terjadi di dalam mobil tersebut.


Di mana setiap lima menit sekali Aira meringis menahan rasa sakitnya.


Simbok dan pak Adi pun semakin panik.


"Aduh," keluh Aira kembali, membuat pak Adi menoleh kearahnya.


"Pak Adi tetap konsentrasi nyetirnya, biar lambat asal selamat!" Titah mbok jum dengan sedikit cemas.


"Iya Mbok," sahut pak adi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Pak Adi apa masih lama sampainya?"tanya Mbok Jum lagi mengulang karna takut tak keburu.


"Sekitar lima belas menit lagi mbok," sahut pak Adi.


Akh akh, Aira kembali meringis.


"Tenang Non, sebentar lagi sampai, "ujar si Mbok menenangkan Aira.


"Aduh gimana ini, " Simbok menjadi gusar.


Suasana mencengkam terjadi di dalam mobil tersebut.


Di mana setiap semenit sekali Aira meringis menahan rasa sakitnya.


waktu terus berlalu, detik demi detik menegangkan terjadi di dalam mobil itu.


Aria terus meringis membuat suasana semakin tegang.


"Mbok sakit mbok Akhh! Keluhnya.


"Atur napas Non, jangan mengejan dulu ya sebelum ketubannya pecah ." simbok.


"Iya Mbok," sahut Aira sembari menggenggam erat tangan Simbok.


Mbok semakin gelisah dan resah, wajah Aira pun memerah karna menahan sakitnya.


" Pak Adi sudah sampai mana?" Tanya sibok.


"Setelah tikungan mbok, sekitar lima menit lagi." pak Adi.


"Aduh di percepat pak!" Titah simbok.


Ketegangan terus terjadi di dalam mobil itu sejenak suasana menjadi sepi senyap.


Suasana terasa semakin mencengkam karna tiba tiba saja Aira berteriak.


Akkk !!!!teriakan panjang Aira di iringi dengan pecahnya air ketuban.


Ah Aira menarik nafas lega, rasa sakit itu perlahan memudar.


"Wah gawat pak,.air ketubannya sudah pecah, sebentar lagi non Aira akan melahirkan!" Teriak mbok Jum karna panik.

__ADS_1


Bersambung dulu ya guys, tetap dukung Autor.


__ADS_2