
"Lalu bagaimana dengan ku?!" tanya Dewi.
Pandangan mata semua orang tertuju padanya.
Dewi berjalan mendekati Edo, Sementara Edo masih tergaman melihat kedatangan gadis tersebut, bola matanya bergerak mengikuti ke mana langkah Dewi.
"Lalu bagaimana dengan ku Mas? aku mengalami nasib hampir serupa dengan Nina, aku juga di paksa dan di tekan oleh Retno, masa depan ku juga hancur, aku menerima pinangan seolang lelaki untuk menghindari perbuatan bejat Retno! namun suami ku mentalaq ku tepat saat malam pertama pernikahan ku, karna dia merasa tertipu, ternyata aku sudah tak perawan lagi."
"Aku memang tak memberitahu suami ku sebelumnya, tentang diriku! ini semua aku lakukan agar aku terhindar dari Retno, aku tinggal bersama suamiku, tapi aku di kucilkan olehnya dan keluarganya, setelah tiga bulan pernikahan, kami pun resmi bercerai!"
"Aku juga ingin menuntut keadilan dari mu, aku juga ingin di nikahi seperti Nina!" ungkap Dewi.
Edo kembali menarik nafas panjang dan menghempaskanya secara kasar, dengan kasar ia mengusap wajahnya yang di penuhi oleh keringat, berkali-kali ia menelan salivanya untuk membasahi kerongkongan nya yang terasa kering.
Edo mengedarkan pandanganya ke semua orang yang hadir. berharap ada seseorang yang memberinya bantuan untuk menentukan pilihan.
Semua hening, tak satupun yang berinisiatif membantu Edo, semua yang berada di sana justru menunggu keputusan darinya.
Edo menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan.
"Iya , aku juga akan menikahi mu, jika Nina menyetujuinya, karna aku terlebih dahulu telah melamarnya, " ucap Edo datar.
Nina kaget mendengar penuturan Edo, kepalanya terdongkak keatas dengan jantung yang berdetak kencang.
Meski merasa berat, tapi menurut Edo inilah jalan yang terbaik, dengan demikian mereka tak akan saling iri dan dengki.
Edo kembali mendekati Nina dengan sedikit merangkak, karna mereka berada dalam posisi duduk.
Edo menarik tangan Nina, ia meminta ijin pada calon istrinya untuk menikahi Dewi.
Nina menundukan pandanganya, ia tahu apa yang akan di katakan pada kepadanya.
Baru saja ia bahagia karna Edo melamarnya, kini hatinya kembali terluka, karna Dewi menuntut hal yang sama, perempuan mana yang sanggup untuk di madu, tapi melihat Dewi, ia juga merasa prihatin apalagi Dewi adalah sahabatnya.
"Nina bolehkah aku menikahi Dewi dan menjadikan nya sebagai istri kedua?" tanya Edo sambil meraih dan menggenggam tangan Nina.
Nina menundukkan kepala, bagaimana ia bisa menjawab yang tak pernah terpikir sebelumnya oleh Nina.
Bulir bening kembali menetes di pipi Nina, ia merasa sedih, kenapa nasib tak pernah membiarkan ia memiliki cinta seorang pria seutuhnya dan sekarang Dewi sang sahabat akan menjadi madunya.
Apakah aku harus bersikaf egois dengan menolak Dewi, tapi Dewi juga korban, ia pun merasakan hal seperti ku.
Nina terlihat binggung menentukan jawabanya, melihat Nina yang terlihat ragu Dewi pun merangkak menghampiri Nina.
"Nina tak mau kah kau berbagi dengan ku kebahagiaan ini, kita selalu berbagi dalam suka dan duka, aku rasa juga tak masalah, jika kita harus berbagi suami," ucap Dewi.
Nina menatap Dewi lekat, Berbagi suami tidaklah semudah yang kau bayangkan Dewi! setelah menikah dengan Edo, apa kita akan tetap menjadi sahabat, batin Nina.
Melihat Nina yang tetap diam Dewi sedikit mendesak, ia pun meraih tangan Nina, "Biarkan lah aku merasa bahagia seperti mu Nina, aku janji tak kan melampaui batas kita masing-masing, aku juga ingin merasakan bagaimana bahagia menjadi seorang istri, rumah tangga ku hancur , di saat malam pertama pernikahanku suami ku langsung menjatuhkan ku talaq, aku tak sempat merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang istri," papar Dewi, ia pun menangis memeluk Nina.
Nina membalas pelukan Dewi meski berat, tapi ia harus merelakan Edo untuk menikahi Dewi.
"Iya Dewi, "ucap Nina datar, meski hatinya menolak.
"Terima kasih Nina, kau memang sahabat ku," ucap Dewi yang semakin erat memeluk Nina.
Keadaan kembali hening, ibunda Nina juga tak bisa menolak keputusan Nina, kini tinggal menyerahkan semua keputusan pada Edo.
__ADS_1
Mereka saling melepas pelukan dan menyapu air mata masing-masing.
"Iya Mas, nikahi saja Dewi," ucap Nina datar, sekuat mungkin ia berusaha menahan air matanya.
Meski mendapat persetujuan dari Nina tak lantas membuat suasana mencair, mereka semua merasa ketengangan yang sama.
Begitu pun Aira dan Aldi, mereka seakan larut dan keteganggan yang terjadi,Aira menyandarkan tubuhnya pada Aldi dan dengan segera Aldi memeluknya dari belakang.
Nina sendiri tahu apa maksud Dewi meminta Edo untuk menikahinya, Dewi memang sudah tertarik dan menggagumi Edo sejak lama, dan Dewi sendiri sering menceritakan perasaanya terhadap Edo, Bahkan Dewi selalu cemburu saat Edo memberikan perhatian lebih pada Aira.
Sudah sejak lama Dewi terobsesi untuk memiliki Edo, dan kini impianya sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
Jika Dewi sudah terlebih terobsesi pada Edo, yang menjadi pertanyaanya saat ini, apakah Dewi rela membiarkan Edo membagi cintanya, batin Nina.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera melamar kalian berdua, aku janji akan bersikaf adil pada kalian," ucap Edo.
Hampir bersamaan mereka menghela nafas lega, seolah keluar dari keadaan yang begitu mencekam.
Mendengar ucapan Edo, Dewi merasa begitu bahagia, begitu pun Nina, meski harus di madu, tetapi itu lebih baik baginya, dari pada hidup sendiri terkatung-katung mencari rezeki.
Aira merasa bahagia, menurutnya keputusan yang Edo ambil, sudah benar, meski harus bermadu tapi keadaan mereka akan jauh lebih baik, terutama masalah ekonomi.
Dengan perasaan haru Aira mendekati keduanya dan memeluk Nina dan Dewi.
"Selamat ya untuk kalian, semoga kalian berdua bahagia ya, ingat loh Mas Edonya di bagi dengan adil ya, jangan sampai rebutan," ucap Aira dengan maksud bercanda.
Keduanya hanya tersenyum mendengar candaan Aira, begitu pun Aldi dan Edo, suasana pun mulai mencair.
"Esh mantap juga loh Do, sekalinya mau sampai dua, mantap " canda Aldi, ia pun mengacungkan jempolnya kearah Edo.
"Kenapa Mas mau menikah dan kawin dua juga?!" tanya Aira sensi.
Aldi kaget mendengar pertanyaan Aira.
"Ngak lah sayang, mana berani mas Aldi," ucapnya sambil mencubit pipi Aira.
"Iya ngak berani di depan, di belakang?"
"Ngak lah, suueer depan belakang ngak berani dan ngak mau juga,"sahutnya sambil nyengir.
Aira masih menatap nya tajam, kini perdebatan keduanya justru menjadi sorotan semua yang ada di sana.
Aira sangat sensitif akan hal tersebut, maklum saja ia pernah merasakan hal yang sama, hatinya sakit saat Aldi di jodohkan dengan wanita lain.
Saat ini saja Aira masih ragu akan cinta Aldi, bukan tak mungkin Aldi juga akan mendua kan cintanya , jika Rita terus memaksanya, apalagi sebentar lagi masa penangguhan hukumanya akan berakhir dan Aira akan merasakan kembali dinginya dinding penjara.
Aira sedikit mengendorkan urat sarafnya yang menegang.
Aldi menghampirinya dengan hati-hati, setelah berada di dekat Aira, ia pun memeluknya dari belakang,"Sudah ngak usah di bahas di sini malu, biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka," bisik Aldi sambil melingkarkan tanganya ke perut Aira.
Pandangan mereka tertuju pada pasangan muda tersebut, siapa sangka Aira yang dulunya begitu culun, kini menjadi lebih berani, bahkan membentak suaminya.
Ada yang merasa iri dan ada yang cemburu melihat kemestraan Aldi dan Aira.
Nina dan Dewi merasa iri terhadap Aira yang mendapatkan laki-laki yang tampan dan kaya, selain itu Aira tak perlu membagi cintanya pada siapapun.
Dan Edo meski sudah iklas jika gadis pujaan hatinya di miliki orang lain, namun rasa cemburu tersebut masih ada.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Aldi melepaskan pelukanya.
"Jadi bagaimana Do? seperti janji mu, kau akan membantu istri ku, untuk mencabut tuntutan mu, dan memberikan saksi yang meringankan tuduhanya."
Edo menatap orang yang berbicara padanya tersebut secara sekilas kemudian pandanganya kembali menggambang.
Meski apa yang di lakukan Aira terhadap ayahnya karna membela dirinya, tetapi tetap saja Edo merasa berat untuk melepaskan Aira dari jerat hukum.
"Kita lihat saja nanti," ucap Edo datar, tatapan matanya lurus ke depan.
"Apa katamu tapi kau bilang_?" Aldi sedikit Emosi, ia hendak memukul Edo tapi di cegah oleh Aira.
"Sudahlah Mas ngak usah di paksa, biarkan saja," ucap Aira sambil menarik tubuh Aldi.
"Tapi sayang, dia sudah berjanji untuk membantu mu setelah dia tahu kebenaran tentang ayahnya_." tunjuk Aldi ke arah Edo.
"Iya biarkan saja," sahut Aira menarik tangan Aldi untuk menjauh.
"Dasar pembohong!" rutuk Aldi.
Mendengar cecaran terhadapnya Edo langsung bangkit dan bersuara.
"Aku tak bisa memastikan apakah istri mu akan terbebas, aku akan membatunya dan bersaksi apa adanya di hadapan, aku juga akan menyetujui proses autopsi ayahku, tapi aku tak bisa menjamin kebebasan istrimu, karna bukan wewenangku untuk menentukan benar atau salah, di hukum atau di bebaskan, itu semua tergantung dari putusan pengadilan, " ucap Edo datar.
"Kau!" Aldi menggeram, ingin sekali menghajar Edo.
"Sudah Mas, apa yang dikatakan Mas Edo ada benarnya, proses hukum akan tetap berjalan apabila BAP telah di limpahkan di kejaksaan, meski keluarga korban sudah menarik tuntutanya."
"Biar saja hukum yang mengadili dan membuktikan," ucap Aira dengan tenang.
"Tapi sayang."
"Aira sudah iklas dan pasrah mas, sekarang kita pulang saja, kita nikmati saja waktu kebersamaan kita yang tersisa," papar Aira dengan tersenyum, tanganya menakup dua pipi Aldi.
Mata Aldi mulai berembun, pikiranya kembali kacau, ia pun memeluk Aira dengan erat.
"Tidak Aira, jangan tinggalkan mas Aldi lagi," ucap Aldi dengan air mata yang berlinang.
Tubuh Aldi kembali berguncang, membayangkan istri berada di penjara saja ia tak sanggup.
Aira mengusap punggung suaminya dengan tenang, keadaanya bahkan lebih tenang dari sebelumnya.
Aira merasa lega karna telah mengungkap fakta sebenarnya pada Edo, hingga Edo bertanggung jawab pada kedua sahabatnya, jika saja kasus ini tak mencuat, maka selamanya Edo tak kan tahu siapa sebernarnya Retno, dan korban dari Retno akan terus berjatuhan.
Seketika air mata haru menetes perlahan di pipi Aira.
Sesungguhnya Edo tak pernah menjanjikan apa-apa terhadapnya, tapi ia iklas melakukan semua ini.
"Mas Aldi yang sabar ya, jika sudah jodoh, kita pasti bertemu lagi," ucap Aira.
"Tidak Aira, tidak, bagaimana bisa kau setenang ini Aira, mas ngak mau kita berpisah lagi," sahutnya sambil terisyak.
Aldi semakin mempererat pelukanya, seakan tak ingin di pisahkan kembali dengan sang istri.
Bersambung guys, nantikan episode selanjutnya ya!!!!, tapi berikan like, komen dan hadiahnya juga hehe seiklasnya saja, ngak maksa kok,.terima kasih sudah mampir. ops bagi kamu yang menyukai karya author nih boleh mampir dua karya author yg lainya, tapi awas baper ya
__ADS_1