
"Eh Rom, ngapain loh di sini?" Hardik Doni, ketika menemukan Romeo yang berada di dalam bilik penjara.
"Demi cinta ku rela masuk penjara, asal ngak di masukin dalam neraka aja bro," ucapnya dengan lebay.
"Makan tuh cinta, lo sehari ngak nyusahin gue, ngak sah ya, mak loh tuh nyariin lo, pagi-pagi udah nelpon gue," dengus Doni.
"Biarin aja, bilang aja ngak tahu, Don, bisa berabe, kalau mak gue datang ke sini." Tukas Romeo.
"Ah gue ngak mau bohong sama orang tua, biar saja mak loh tahu kelakuan loh." sahutnya.
Doni pun melirik kearah Aira yang terlihat murung.
"Eh Aira, udah sarapan belum, nih abang bawa roti sama susu, " ucap Doni sambil menyerahkan bungkusan dari plastik.
Aira meraih bungkusan tersebut seraya tersenyum.
"Terima kasih bang," ucap Aira.
Aira membuka bungkusan roti tersebut, ia menyobek rotinya dan mengarahkan tanganya ke mulut Romeo, meski kaget tapi tanpa aba-aba Romeo langsung menyambar roti di tangan Aira dengan mulutnya, ia pun tersenyum sambil menguyah roti tersebut.
Aira kemudian menyobek Roti coklat dan menyuapkan kedalam mulutnya.
"Duduk bang, " titah Aira, ia pun mendaratkan bokongnya di ubin dingin tersebut.
Romeo mengikuti perintah Aira, ia pun ikut duduk, sembari menikmati suapan demi suapan dari tangan Aira.
Doni tergaman, ia pun menelan salivanya.
"Lo bedua kayak ngak ada akhlaknya ya, di dalam penjara aja bisa seromantis itu, padahalkan kalian bukan pasangan," sungut Doni.
"Kenapa bang? Abang juga mau rotinya?" Tanya Aira menyodorkan potongan roti tersebut ke arah Doni.
"Ngak Aira, abang sudah sarapan," sambar Doni.
"Ya udah kalau ngak mau kita habisin aja bang, " sahut Aira, ia pun menyodorkan susu kemasannya kepada Romeo, dan tanpa rasa jijik mereka gantian menyedot minuman tersebut dengan sedotan yang sama.
"Kenapa bro?" Tanya Romeo yang melihat Doni bergidik.
"Ngak ngeri gue lihat kalian berdua, biasanya kan lo ngak mau satu sedotan sama gue, kok dengan Aira lo santai aja," dengus Doni.
"Gue sama Aira udah biasa, iya kan Aira? Anggap aja bertukaran saliva, kalau dengan loh mah ogah, masak bertukar saliva sama lo, membayangkanya aja gue udah jijik, apalagi_"
"Gue juga jijik njirrr, betukar saliva dengan loh, membayangkanya aja gue bisa gantung diri ihh," sambar Doni sambil bergidik merinding.
Mereka pun tertawa kecil, seraya melanjutkan sarapanyan
Selesai memakan Roti yang di bawa Doni, Aira pun membersihkan sampahnya, tak lama kemudian Aldi dan Heru pun datang.
Keduanya kaget karna melihat Romeo yang berada di dalam jeruji besi.
Aldi kembali tersulut emosi, ia pun berjalan cepat untuk menghampiri Romeo.
"Eh Rom, kenapa loh bisa ada di dalam situ?" Sarkas Aldi.
"Mau tau aja, apa mau tau baget?" Seloroh Romeo.
Aldi memicingkan matanya, bibirnya mengkerucut menatap Romeo.
Melihat gelagat Aldi yang terlihat kesal, Romeo pun memaparkan hal yang membuatnya sampai di penjara.
"Gue cuma bayar beberapa orang, untuk melaporkan gue ke polisi, dengan tuduhan mencopet, dan setelah di beri pengarahan oleh polisi, gue akan di penjara selama beberapa hari untuk memberikan efek jera, dengan begitu gue bisa menemani Aira di penjara, lagian gue sama Aira ngak ngapa-ngapain kok, kami cuma ngobrol dan bercanda saja, lagi pula tempat ini di rekam ccctv 24 jam, jadi loh ngak usah berpikir macem macem," tukas Romeo.
__ADS_1
Mendengar pemaparan Romeo, Aldi sangat kesal, karna Romeo selalu berada di depannya, Aldi tak pernah terpikir akan hal ini,padahal semalaman ia berusaha memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menemani Aira, ia sendiri heran kenapa Romeo bisa terpikir seperti itu, hanya untuk menemani Aira di dalam penjara, ia menggadaikan nama baiknya sebagai pencopet, padahal ia tak mencopet siapa pun saat itu.
Aldi mendekati Aira, ia mengulur tanganya agar bisa menjangkau tubuh sang istri.
Aira pun mendekat karna tanganya di tarik lembut oleh Aldi.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Aldi pada Aira, ia pun mengecup kening istrinya.
"Iya Mas," sahut Aira singkat.
"Kamu sarapan dulu ya, Mas bawa roti kukus kesukaan kamu, kamu makan ya mumpung masih hangat sayang," tuturnya sambil memberi bungkusan yang terbuat dari almunium foil.
Aira sebenarnya masih kenyang karna roti yang di bawa oleh Doni, tapi agar Aldi tak kecewa ia pun memakanya dan membagikan pada yang lainya juga.
Saat menemani istrinya sarapan, Aldi mendapat telpon dari pengacaranya, dan dengan segera ia menwkan tombol hijau.
"Hallo pak Hilman, bagaimana mediasinya?" tanya Aldi.
"Mediasinya pertama gagal Pak, jaminan di tolak, " jawab Hilman melalui sambungan telponya.
"Apa? Lalu apa yang mereka inginkan?Aldi kagetm
" Lakukan apa saja Pak, asal penahanan istri saya bisa di tangguhkan," titah Aldi.
"Baik Pak Aldi, kami masih bernegosiasi dan bermediasi dengan pihak keluarga korban." pungkas Hilman di sambungan telponya.
Mendengar penangguhan nya gagal dalam mediasi, Aira pun merasa sedih.
Aldi menutup sambungan telponnya dengan perasaan gelisah, mata semua orang pun mengarah kepada dirinya.
"Ada apa Di?" tanya Heru.
"Permohonan penangguhan Aira di tolak mas," ucap Aldi lirih.
"Entalah, tapi pak Hilman masih mengupayakanya kembali," papar Aldi ia pun kembali mendekati Aira.
Aira tertunduk lesu, begitupun semua orang yang ada disana, mereka kecewa mendengar permohonan penangguhan penahanan Aira yang di tolak.
"Sayang kamu sabar ya, kamu pasti keluar dari sini secepatnya," ucap Aldi dengan kedua telapak tangan menyentuh pipi Aira.
Aira menggangguk dan menggenggam jemari tangan Aldi.
"Kita ngak bisa diam saja Di, kalau Aira ngak bisa di jamin dengan uang, bearti harus ada orang untuk menjaminnya," cetus Heru.
"Kita semua yang akan menjadi penjamin bagi Aira," papar Heru.
Aldi memikirkan usulan dari Heru, "Benar juga mas, ayo kita kesana sekarang," ajak Aldi.
"Ayo, gue juga ikut menjadi penjamin bagi Aira," sahut Doni.
"Iya, Mas Heru juga, semoga dengan banyaknya yang menjadi penjamin Aira, Aira bisa di bebaskan."
"Baiklah secepatnya kita bergerak." Aldi.
"Sayang kamu tunggu di sini sebentar ya," ucap Aldi pada Aira.
"Iya Mas," sahut Aira.
Aldi memberikan kecupan pada kening dan bibir Aira sebelum pergi.
Mereka pun menuju pintu keluar dan menuju ruang administrasi.
__ADS_1
***
Di sebuah ruangan mereka mendengar suara perdebatan antara Ratna, istri almarhum Retno dan pengacara Aldi.
"Ngak bisa, tersangka harus tetap berada di penjara!" seru Ratna.
"Tenang lah Nyonya, tersangka masih di bawah umur, penjara adalah jalan akhir jika memang tersangka benar-benar terbukti di pengadilan," sanggah Hilman.
"Pokoknya tidak bisa!"
Sejenak kemudian hening, Hilman memikirkan bagaimana caranya agar hukuman Aira di tangguhkan.
***
Aldi, Doni dan Heru tiba di depan pintu masuk ruangan tersebut, Mereka pun masuk keruangan itu, ternyata Edo juga ada disana, Edo hanya diam sambil memperhatikan ibu sambungnya tersebut berdebat dengan pengacara Aira.
Sejak mendengar penuturan Aira tadi pagi, Edo merasa ragu, ia tak berkeraslagi untuk menuntut Aira, seperti sebelumnya.
Mereka masuk kedalam ruangan tersebut, dan mendekati sang pengacara.
Aldi menyampaikan maksudnya kepada Hilman dengan cara berbisik, dengan seksama Hilman pun mendengarkan pemaparan Aldi.
"Baik lah," ucap Hilman, ia pun bergerak mendekati petugas kepolisian dan ketiganya mengikuti Hilman dari belakang.
"Saya mengajukan kembali permohonan penangguhan saudari Rianty Alfaira Pak, dengan beberapa orang penjamin,"ucap Hilman tegas.
"Maaf karna ini kasus pembunuhan, tersangka di jamin oleh siapa pun," sahut petugas tersebut.
"Kami berempat yang akan menjadi penjaminnya, tersangka tak akan kabur apalagi sampai menghilangkan barang bukti," papar Hilman.
Polisi tersebut masih menimbang, "Belum bisa pak,"
"Apa yang menyebabkan Tersangka tak bisa di jamin?" tanya Hilman.
"Maaf Pak, karna tuntutan keluarga korban sudah di setujui oleh jaksa, jadi jika bapak semua ingin mengajukan permohonan penangguhan, harus melalui persetujuan keluarga korban, "papar polisi.
Mereka semua tergaman mendengar penuturan polisi tersebut, sementara Ratna tersenyum puas.
Mendengar penururan petugas tadi, Edo berdiri dan mendekati petugas dan keempat lelaki tersebut.
"Saya juga akan menjadi penjamin terhadap tersangka, "ucap Edo datar.
Ucapan Edo tak hanya membuat keempat pria tersebut kaget, tapi juga mancing emosi bagi Ratna.
"Edo, wanita itu pembunuh ayah kamu, kenapa kamu masih mau membelanya," sarkas Ratna.
Edo menatap Ratna, "Biar saja hukum yang membuktikan kebenarannya, selama belum ada ketukan palu hakim, status tersangka masih bisa berubah,"pungkas Edo, ia pun berlalu meninggalkan mereka.
Bersambung,
tetap menanti dukungan dari kalian, like komentar, vote dan hadiah, tapi ngak di paksain juga guys, terima kasih karna sudah mampir di cerita remahan si author halu.
eh jangan di skip, udah pada mampir blm nih, salah satu novel yg bikin author baper, nih ya, boleh dong di masukin di rak buku.
Cerita ini bukan tentang seseorang yang sedang menantikan jodohnya. Tetapi, tentang bagaimana hati yang belum siap, harus bisa menerima dengan ikhlas kehadiran orang baru di dalam hidupnya.
Sita, perempuan yang tidak bisa menghindari perjodohan yang telah di rencanakan kedua orang tuanya. Hatinya terenyuh saat orang yang akan dijodohkan dengannya, harus digantikan dengan orang lain yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
Banyak sekali potongan-potongan misteri yang harus ia pecahkan di dalam pernikahan itu sendiri. Bukan hanya tentang dia dan suaminya, melainkan sekeliling orang yang ada di kehidupannya.
__ADS_1
Akankah pernikahan itu akan berakhir bahagia?
Ada apa D