Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Jika memang tak mungkin


__ADS_3

Hiks hiks Alia semakin gemetar,


"Bukan itu saja Alia, setelah di siksa dan dapat melarikan diri, Bunda mengalami depresi berat, hingga harus menjalani teraphy di rumah sakit jiwa."


"Tak hanya Bunda, beberapa teman sebaya Bunda juga ikut menjadi korban kebiadaban Retno."


"Salah satunya ibunda Bagas, Nina yang harus melahirkan anak hasil perkosaan."


"Bunda pikir setelah menikah, Retno akan berhenti mengganggu Bunda, Alia."


"Tapi ternyata tidak! ketika Bunda kembali ke rumah Kakek mu, ia kembali meneror Bunda, bahkan ia hampir saja memperkosa Bunda yang saat itu telah menjadi istri ayahmu."


"Bunda terus memberontak melepaskan diri tari tubuh pria yang mengukung Bunda, tapi semua sia-sia karna bunda tak berdaya, Tak ingin ternoda Bunda kehabisan cara, Bunda meraih pisau yang ada diatas meja, tanpa sadar Bunda menikam kearah perut pria tua tersebut dengan tangan gemetar."


Hiks hiks Aira kembali menjedah kata-katanya.


Alia terhenyak ia pun kembali menangis tergugu melihat duka di mata sang ibunda.


Setelah menenangkan diri beberapa saat Aira kembali melanjutkan kisahnya.


"Belum hilang sepenuhnya trauma yang Bunda rasakan, saat itu Bunda harus menghadapi perasaan bersalah dan rasa tertekan yang cukup hebat, Bunda membunuh, Alia! Bundalah yang membunuh ayah Bagas untuk kembali melindungi harga diri dan kehormatan Bunda."


Hiks hiks, kali ini giliran Aira yang menangis tergugu,wajahnya tertunduk dengan air mata yang mengalir semkin deras.


Hah, Alia mendongkak kan kepalanya menahan getaran tubuhnya


"Saat itu usia bunda baru saja menginjak tujuh belas tahun, hanya lewat beberapa hari, rasa tertekan yang Bunda hadapi kembali membuat Bunda harus kembali menjalani rehabitasi di rumah sakit jiwa dan harus menghadapi rumitnya kasus hukum yang menjerat Bunda."


Alia menangis tergugu-gugu, ia tak tahu lagi harus bagaimana.


"Alia, Bagas memang tidak bersalah, Bunda juga tak menaruh dendam terhadapnya, meski pun setiap kali Bunda melihat ia dan Edo, Bunda seperti melihat bayangan Retno karna wajah mereka yang hampir mirip dengan Retno."


Alia menyandarkan tubuhnya yang tak berdaya, mendengar penderitaan ibundanya di usia remaja.


Aira mendekat ke arah Alia kemudian mengusap punggungnya.


"Apa yang terjadi seandainya Bagas jadi bagian keluarga kita, jadi menantu Bunda, maka sama saja setiap harinya Bunda seperti menyayat luka lama yang hampir mengering, setiap saat akan selalu teringat dengan penderitaan yang Bunda alami akibat perbuatan Retno."


Hiks hiks Alia menggenggam sprey tubuhnya terasa lemas seketika.


"Asal kamu tahu nak, kadang kala saat Bunda letih, ketika Bunda sakit, bayang tersebut hadir menjadi mimpi buruk Bunda, entah kenapa rasa trauma itu belum juga hilang sampai saat ini,"

__ADS_1


"Karna itulah kenapa Bunda tak merestui kamu bersama Bagas sayang," Aira.


"Apa kamu ingin Bunda kembali tersiksa karna mengingat Retno dengan kehadiran Bagas, kamu bisa pilih sendiri Alia setelah ini, Bunda bebaskan kamu untuk memilih Bagas, " tutur Aira seraya menangis.


Alia gemetar ia menghadap Aira dan memeluk Ibundanya, "Bunda maafkan Alia, hiks hiks mana mungkin Alia tega menyiksa kembali perasaan Bunda hiks hiks hiks." Alia gemetar, keputusan sulit harus ia ambil, sebesar apa pun cintanya terhadap Bagas tentu tak sebesar cintanya pada sang ibunda.


Hiks, hiks keduanya pun saling memeluk.


***


Keputusan sudah diambil oleh Alia, kini ia harus menjelaskan semuanya pada Bagas dan Alita.


Keesokan harinya Alia meminta ijin untuk menginap di rumah Alita, agar ia bisa bicara dari hati ke hati.


Sebagai calon suami, Ghael selalu bersedia mengatar Alia kemana saja.


Di dalam mobil,


Alia dan Ghael masih terlihat sungkan.


"Bang, nanti Abang langsung pulang saja ya, aku ngak mau Alita melihat Abang, aku tahu rasanya pasti sulit melupakan orang yang kita cintai apalagi jika orang tersebut lebih memilih sahabatnya."Alia.


Alia melirik ke arah Ghael, seraya menghempas nafas beratnya.


"Tapi Alita memang dari dulu menyukai Abang, dan dia selalu bercerita tentang perasaannya terhadap Abang kepada ku," Alia.


"Sudalah Alia, setiap orang berhak menyukai apa pun dan siapa pun, bukannya cinta tak harus memiliki?"Ghael.


Alia diam beberapa saat, "Aku juga butuh waktu untuk menjelaskan semua kepada Bagas Bang, Aku tak mungkin meninggalkanya begitu saja."


Ghael melirik ke arah Alia sesaat.


"Kau boleh menemui Bagas Alia dan menjelaskan padanya, tapi aku mau kau jaga sikaf mu, kau itu calon istri ku sementara Bagas hanya bagian yang akan menjadi masa lalu mu," ucap Ghael tegas.


Alia terdiam begitupun Ghael, suasana kembali hening.


Keduanya masih harus beradaptasi dengan status mereka yang baru, mereka seperti di kejar waktu, karna lamaran secara resmi akan di adakan beberapa hari lagi.


Mereka sudah sampai, dan seperti yang di minta oleh Alia, Ghael hanya mengantarnya di depan rumah Alia, kemudian ia harus segera pulang.


Alia tiba di depan rumah Alita.

__ADS_1


Kehadirannya sudah di tunggu oleh keluarga Doni, tak ada perubahan yang terjadi dari sikaf keluarga Doni terhadapnya, meski mereka tahu Alia akan di sandingkan dengan Ghael.


Setelah berbincang, kedua sahabat tersebut langsung menuju kamar Alita.


Alia menggandeng mesra tangan Alita begitu pun sebaliknya, seberna keduanya sama-sama merasakan patah hati.


Alita pun tahu jika Alia dan Bagas saling mencintai, ia juga tahu pengorbanan Bagas, jadi menurut Alita sendiri tidak lah bijak jika menyalahkan Alia dalam hal ini.


Lagi pula ia tahu jika Ghael memang tak menyukai dirinya dan menyukai Alia.


Keduanya duduk saling menghadap duduk di atas tempat tidur.


"Alita maaf aku_" bulir bening metes perlahan di pipinya.


Alita langsung memeluk Alia.


"Aku tahu perasaan kamu Lia, tapi ini semua di luar kuasa kita, mungkin jodoh kamu bukan dengan Bagas dan jodoh ku bukanlah Ghael." Alita.


"Hiks hiks, apa yang harus aku katakan pada Bagas?"tanya Alia.


"Aku takut Bagas kembali seperti yang dulu, karna dia kecewa padaku," ucap Alia.


"Beri saja pengertian untuknya Alia,"Alita.


"Aku juga merasa iba padanya, jika orang tua ku menolaknya hanya karna darah yang mengalir pada tubuhnya, pasti dia akan merasa sedih dan kecewa, padahal baru saja dia bangkit dari keterpurukkannya," papar Alia.


Alita masih menyimak kata-kata dari Alia.


"Alita Bagas sebenarnya laki-laki yang baik, tapi dia masih butuh seseorang untuk memberinya semangat, agar ia tetap berada di jalan yang lurus." Alia.


"Dan aku percaya jika kau mampu menujukannya ke jalan yang lurus, hiks hiks hiks," ucap Alia.


Alita melepas pelukkannya.


"Apa maksud mu Alia?"tanya Alita seraya menatap wajah sendu Alia.


" Bisakah kau menjaga Bagas, agar ia tak kembali ke jalan yang salah?"


Alita langsung menelan salivanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2