
Di rumah Romeo.
Keramaian juga terjadi di rumah kediaman Hadi, para kerabat dan sanak saudara mendatangi rumah tersebut, mereka berkumpul untuk menghadiri upacara sakral.
Rumah yang biasanya terasa sepi dan sunyi tersebut mendadak menjadi ramai, karna kedatangan tamu.
Rumah yang cukup besar dan mewah tersebut menjadi hotel dadakan, karna semua kamar terisi penuh dengan saudara dari pihak Hadi maupun dari pihak Suci.
Sang Kakek yang sudah berusia renta juga menyempatkan diri untuk bertandang kerumah calon mempelai pria.
Suasana begitu riuh oleh canda dan tawa para sesepuh yang memberi nasehat sekaligus guyonan kepada Romeo.
Tak tertinggal sang sahabat kental juga hadir di sana, siapa lagi kalau bukan Doni.
Beberapa nasehat dan hukum pernikahan mereka paparkan kepada Romeo, sebagai bekal baginya untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawardah dan warohma.
Di selala nasehat, mereka juga menyelitkan guyonan dan canda tentang malam pertama yang membuat seisi rumah riuh oleh gelak tawa.
"Rom, Om ada resep nih biar kamu kuat saat malam pertamanya, "canda om Rafi, adik dari Hadi.
"Wah boleh banget tuh Om, aku juga mau dong resepnya," celetuk Doni yang memang sangat dekat dengan keluarga Romeo.
"Kamu juga mau nikah Don?" tanya Om Rafi kepada Doni.
"Iya, insya Allah Om, tiga bulan mendatang," ucap Doni.
Hm, Om Rafi mangut-mangut.
"Resepnya gampang, minum jamu kuat plus telur ayam kampung tapi yang kuningnya saja, nah kata orang kalau mau kuat sampai dua jam mesti minum jamunya sebungkus sama telurnya dua tapi yang mentah," ucap Om Rafi serius.
"Hm, kalau dua jam, dua kuning telur? kalau mau tiga jam bearti kuning telurnya tiga?" tanya Doni antusias, sementara Romeo hanya jadi penyimak.
"Kalau tiga kuning telur loh ngak jadi malam pertama Don," sahut Romeo.
"Kenapa?"tanya Doni sambil menyeritkan dahinya.
"Karna loh keburu mual, abis tuh sakit perut trus mencret dan di bawa ke IGD, nanya yang masuk akal dikit dong, satu telur ayam aja udah amis baget bikin mual, apa lagi sampai tiga," dengus Romeo.
"Iya betul kata Romeo, ***** baget loh, kayak loh aja yang mau kawin," sela Om Rafi lagi mereka pun terkekeh tertawa.
"Iya Rom, malam pertama enaknya itu lampu kamar di matiin, karna pasangan loh pasti masih malu-malu, dan main nya pelan-pelan saja, biar ngak cedera." Om Rafi.
"He he, Gue takutnya, Tari yang nyeruduk loh duluan Rom, hati-hati loh, turutin aja maunya dia, dari pada malam pertama loh bearkhir di kuburan atau rumah sakit," kelakar Doni.
"Ish, apaan sih loh," dengus Romeo.
"Eh Rom, satu lagi yang harus perhatikan, loh jangan sampai salah masuk kamar ya, apalagi sampai salah coblos, bahaya bisa berakibat fatal, " cetus Doni lagi
"Eh lo pikir gue begok apa, sampai salah masuk kamar orang," sungut Romeo.
"Kali aja, pas loh mau menuju kamar, pas mati lampu gitu," he he he.
"Gue hapal kah kamar Aldi yang mana," sahut Romeo.
__ADS_1
"Ih, kepedean bukan kamar Aldi atau Aira yang gue maksud." Doni.
"Trus kamar siapa?"tanya Romeo sedikit penasaran.
"Kamar mbok Jum, maksud gue, he he he," ucapnya sambil terkekeh.
"bisa awet muda mbok Jum dapat perjaka ganteng kayak loh." celetuk Doni lagi.
"Es sialan loh, udah ah jangan ngomongin gituan lagi, nervous gue,"ucap Romeo yang memang merasa nervous.
"Ya elah, tinggal sorong tarik aja loh pakai nervous, "ucap Doni sambil menepuk pundak Romeo.
"Bukan itu pea', gue takut salah ucap saja saat ijab qabulnya," demgus Romeo.
"Nah itu juga yang pengen gue ingatkan ke loh Rom, jangan sampai loh salah ucap ya, mau nyebut nama Tari malah tersebut mama Aira."
"Bukan begitu Don, gue takut salah aja, katanya harus dengan sekali tarikan nafas, nama Tari kan panjang banget, Mentari Senja Adinda Mashesti binti Satri Hari Kusuma Wijaya, kebayang ngak kalau gue menyebutnya dengan satu helaan nafas, bisa kehabisan oksigen gue," ujarnya jengah.
"He he he, Iya ya, lagian bikin nama panjang amat, udah nama anaknya panjang, bintinya juga panjang, ngak mikir apa saat ijab qabulnya," dengus Doni.
"Tapi tenang Rom, ntar gue bawa tabung elpiji eh maksud gue tabung oksigen buat loh, biar ngak loh ngak kehabisan nafas, sebelum ijab qabul loh pasang selang oksigen Rom, kalau ngak gue bawa kompresor gue yang di bengkel buat nafas buatan, mau ngak loh, ujar nya terkekeh.
"Lo gila ya Don, ntar gue jadi spiral di medsos,"sahut Romeo.
"Viral! dodol!"Doni
***
Setelah pertemuan keluarga tersebut mereka pun menggelar acara makan malam bersama, di sana juga hadir para sepupu Romeo yang usianya hampir sama denganya.
Dita menghampiri Romeo," Hai Rom, udah mau nikah aja lu," ucap Dita sambil duduk di samping Romeo.
"Iya udah sampai jodohnya," cetusnya.
"Hm, gue penasaran, seperti apa sih gadis yang bisa menarik loh sampai ke pelaminan? secara kan loh playboy banget,"ujarnya dengan nada sinis.
Romeo hanya menggangkat kedua bahunya, Dita seorang wanita yang agresif hampir sama dengan Tari, tapi entah kenapa ia yang tak menyukai cewek agresif justru menikah dengan cewek yang sangat agresif seperti Tari.
Setelah makan malam bersama dengan keluarganya, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, karna besok adalah hari yang sangat panjang bagi mereka semua.
Di mana pada pukul delapan pagi, mereka harus menghadiri acara akad nikah, dan di lanjut kan dengan acara resepsinya pada sebuah hotel.
Segala perlengkapan untuk hantaran berjejer di dalam kamar Suci, ia begitu antusias mempersiapkan dan memeriksa dan mengatur segala kebutuhan untuk esok hari.
Romeo menghampiri Suci yang sedang menata barang-barang untuk hantaran agar terlihat rapi, tanpa basa basi ia langsung memeluk Suci dari belakang.
"Ma, kenapa ngak istirahat sih, sudah seminggu ini Romeo lihat Mama selalu sibuk, " ucap Romeo sambil mengelayut manja memeluk Suci dari belakang.
Suci tersenyum sambil menyentuh pipi putranya," Kamu tahu ngak Rom, kerjaan seperti ini justru membuat mama sangat bahagia, kamu itu anak bungsu dan ini yang terakhir kalinya mama mempersiapkan pernikahan untuk anak Mama, mama jadi nyesel punya anak cuma dua, andai saja mama punya anak yang banyak, pasti ini bukanlah yang terakhir kalinya mama melakukan ini, "ucap Suci dengan haru.
Romeo semakin erat memeluk sang mama.
"Udah, sekarang mama istirahat saja, malam ini Romeo mau tidur sama Mama dan Papa, karna setelah hari ini, Romeo ngak bisa manja-manjaan sama mama dan papa."
__ADS_1
"Ih kamu Rom, giliran sudah mau nikah, baru mau manja-manjaan sama Mama, dulu mama deketin aja ngak mau, katanya malu anak cowok tapi manja," ucap Suci sambil tertawa kecil.
"Iya itu kan dulu, sekarang Romeo baru sadar, kasih sayang mama tuh tiada taranya, Romeo merasa berat harus berpisah dengan Mama" ucapnya dengan nada manja, masih memeluk Suci dari belakang.
Suci menghela nafas. "Rom, sebagai orang tua kami juga berat melepaskan kamu, meski kamu anak laki-laki, tapi semua itu sudah kodratnya, seorang anak akan meninggalkan orang tuanya untuk membina rumah tangga bersama istrinya, nanti kalau anak kamu sudah besar, kamu juga akan merasakan hal yang sama Rom."
"Kamu akan merasakan bagaimana bahagianya melihat anak kita menikah dan memiliki keluarga baru yang bahagia, kamu juga akan merasa bagaima bahagianya orang tua yang menanti cucu dari anak dan menantunya, dan saat ini mama tengah merasakan hal yang sama Rom, mama bahagia sekaligus sedih harus melepaskan kamu Nak, harapan mama kamu dan Tari tetap langgeng, bahagia selalu, serta dapat memberi kami cucu yang sehat, pintar dan banyak, rasanya kami sebagai orang tua sudah tak butuh apa-apa lagi selain itu, kerja keras kami terbayar lunas, saat kami melihat kalian bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga, " ucap Suci ia pun menitikan air matanya.
Romeo membalikan tubuh sang bunda agar kembali menghadap kearanya, dengan gemetar Romeo menghapus titik air mata Suci tersebut, titik air mata dari wanita yang berhati paling mulia menurutnya, wanita yang telah mengandung selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan rasa sakit yang luar biasa, wanita yang tak pernah mengeluh dan meminta balasan apa pun atas kasih sayang dan perhatianya, tubuh Romeo bergetar mendengar harapan seorang ibu yang begitu tulus dan hanya memikirkan kebahagiaan untuk anaknya.
"Iya Ma, Romeo janji ngak akan mengecewakan Mama, maaf kan Romeo Ma, karna selama ini Romeo hanya bisa menyusahkan mama dan papa," tuturnya haru sambil memeluk sang bunda.
"Iya Nak, mama yakin kamu pasti bisa jadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk istri dan anak kamu kelak, harapan mama, jangan ulangi kesahalan kamu yang dulu," ucap Suci sambil mengusap punggung Romeo.
Hadi membuka pintu kamarnya dan menemukan kedua anak dan ibu tersebut sedang menangis haru.
Iya pun menghampiri mereka, "Ada apa ini, kok nangis ngak ngajak ngajak." Hadi.
Mereka pun melepaskan pelukanya.
Romeo memeluk Hadi, ia pun menangis haru di pelukan lelaki yang membuatnya terlahir kedunia tersebut, lelaki yang bekerja keras demi masa depan yang cerah untuknya.
"Maafkan Romeo Pa, selama ini Romeo selalu menyusahkan Papa, Romeo juga belum bisa berbakti kepada Papa dan Mama, "ucapnya sambil memeluk Hadi.
"Iya Nak, tapi setelah ini kamu harus jadi lelaki yang bertanggung jawab terhadap keluarga kamu, Papa ngak pernah meminta balasan atas apa yang papa berikan, papa sudah merasa bahagia karna kamu sudah menyadari kesalahan kamu dan sudah berniat memperbaikinya," ucap Hadi sambil menepuk pundak putranya dengan kasih sayang.
Romeo juga meminta restu dari mama dan papa, ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Tentu Nak, kami pasti selalu merestui dan mendoakan yang terbaik untuk kamu."
"Terima kasih, Ma, Pa."Romeo.
"Sekarang kita istirahat ya, karna besok hari yang sakral untuk kamu, malam ini kamu tidur sama mama dan papa," ucap Suci.
Romeo menggangguk dan langsung menghambur ke atas tempat tidur, di ikuti Suci yang duduk sambil mengusap rambut Romeo hingga ia terlelap.
Hadi dan Suci saling melempar senyum.
"Tak terasa Ma, putra kita sekarang sudah dewasa, dan besok dia akan menjadi mempelai pria," ucap Hadi yang ikut mengelus rambut Romeo.
"Iya Pa, kini kita bisa melewati mada senja kita Pa dengan perasaan bahagia, sambil menunggu kelahiran cucuk, cucuk kita Pa," ucap Suci dengan wajah yang berbinar.
"Kita ngak usah kalah Ma, kita bikin anak lagi, Papa kan masih kuat, "ucap.Hadi menggoda Suci.
"Mama-Papa, Romeo dengar loh,: sahut Romeo dengan mata terpejam.
"Ya ngak apa juga kamu dengar, kamu kan sudah dewasa, semoga kamu dan Tari tetap langgeng Rom, sampai kakek-nenek," ucap Hadi.
Amin..
Aminin dong reader, bersambung dulu ya. jangan lupa dukunganya ya,eh Author punya referensi novel keren nih ya, wajib nongrong nih, sambil nunggu author up, tapi jangan tinggalin novel author ya, karna kisahnya akan semakin seru dengan ending yang ngak bisa di tebak.
Save Yalisha, mampir yuk.
__ADS_1