
Setelah menemani suaminya sarapan, Aira kembali ke kamar untuk bersiap mengikuti Aldi kekantor, meski sebenarnya ia lebih menyukai keberadaannya di rumah sejak hadirnya Maya dan Tari di rumah itu.
Aira merasakan sebuah kebahagiaan yang utuh, karna kini keluarnya lengkap sudah, ia memiliki ibu dan ayah serta kakak perempuan yang cerewet dan galak namun sangat mengerti akan dirinya.
Aira merasa nyaman bersama Tari, meski mereka pernah menjadi rival, tetapi Tari tak mempunyai sifat dendam, sesuatu dari dirinya mengalir begitu saja, Tari sebenarnya mempunyai sifat yang tulus, ia juga memiliki kesetian tingkat dewa, dulu meski pun mengetahui Aldi sering selingkuh, tetapi ia tetap mempertahan hubunganya tersebut, bersama Aldi hingga bertahun-tahun.
Meski sering kali cemburu terhadap wanita yang menggoda Aldi, tapi Tari mempunyai sikaf yang tak mudah melepaskan, meski terkadang sakit, namun ia tetap bertahan mempertahan kan sebuah hubungan yang di telah di binanya.
Setelah mengganti pakaianya, Aira pun turun berpamitan kepada Bundanya yang kini berada di dapur.
Aira menghampiri Maya dan Tari yang sedang berbincang.
"Bunda, Aira pamit, ikut mas Aldi ke kantor," ucap Aira sambil mencium punggung tangan Maya.
"Iya, hati-hati ya Aira," sahut Maya.
"Iya Bunda, dadah mbak," ucap Aira sambil melambaikan tangannya ke Tari.
"Dah... Aira, laki loh di jaga ya baik-baik, ntar diambil orang, kalau sudah lepas susah nangkapnya kembali,"sahut Tari dengan nada bercanda.
"Ngak akan lepas kok, udah Aira rantai di hatinya, "hehe, kemudian ia pun berlalu.
Maya meletakan kantong belanjaanya pada sebuah meja bundar yang ada di dapur.
"Ma, mama dari mana sih?" tanya Tari sambil meyerup susu coklat buatanya sendiri, ia pun duduk pada sebuah kursi.
"Ini mama mau masak kesukaan Papa, rendang daging sapi, sama orak arik tempe dan oseng-oseng, jadi pagi-pagi sekali kami sudah berbelanja di pasar traditional." ujar Maya sambil mengeluarkan satu persatu barang belanjaanya.
"Iya non Tari, kalau ada nyonya di rumah, kerjaan si mbok berkurang, malah ngak ada kerjaan sama sekali, si mbok jadi makan gaji buta, apalagi sejak non Aira menikah, ngak ada yang mbok urus, si mbok jadi pengen pulang kampung," oceh si Mbok sambil memotong tempe.
"Alah mau pulang kampung, rumah si mbok tuh di sini, udah di bikin rumah sebesar-besar ini, masih aja ngak betah mbok? kalau simbok pulang, apa si mbok ngak pingin melihat cucu-cucunya nanti? cucu dari Aldi, Heru dan Tari mbok?" tanya Maya.
__ADS_1
"Tapi kalau cucu-cucu si mbok lahir, si mbok mungkin ngak kuat lagi Nya, buat jagain," cetus simbok.
"Ngak perlu di jagain mbok, saya dan mas Satria juga akan pensiun kalau Tari sudah menikah, biar saya dan suami saya yang jagain cucu-cucu kami nanti," sahut Maya.
Mereka sibuk dengan kesibukanya.
"Ma, masak segini banyak, kenapa ngak makan di restoran atau di rumah makan sih Ma? jadi kan ngak perlu ribet." Tari.
"Kata Papa, kalau di restoran sama masakan Mama itu beda Tari, Papa lebih senang kalau mama yang masak, lagi pula jika kita memanjakan suami dengan masakan kita,dia ngak akan mudah untuk berpindah ke lain hati," papar Maya.
"Iya Non Tari,simbok sama mang ujang dulu nikah nya di jodohin, dulu hubungan kami dingin banget di awal nikah, malah mang ujang seperti ceo dingin yang ada di novel novel itu, he...he...he...tapi pas ngerasa masakan si mbok, eh mang ujang jadi bucin sama si mbok, hehe hehe," paparnya dengan tertawa terkekeh.
Maya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar penuturan si Mbok.
"Beneran Mbok, apa masakan bisa mengubah hati seseorang yang dingin menjadi hangat?" tanya Tari serius.
"Iya dong Non, kalau hatinya dingin ya tinggal di panasin saja,"seroloh mbok, ia pun tertawa terkekeh.
"Emang nya kenapa sih Tari,?" tanya Maya.
"Ngak kok Ma, hari ini Tari mau memasak untuk Romeo Ma, karna kemaren dia sedang sakit, "papar Tari dengan malu-malu kucing.
"Oh, bagus itu sayang, memang harus begitu jadi wanita, sepintar-pintar apa pun wanita, pasti ia akan menyentuh dapur, kalau kamu pintar masak, kamu ngak cuma akan menyenangkan hati suami kamu, tapi juga mertua kamu," Maya.
"Iya Ma, hari ini biar Tari yang masak ya, Tari mau bikin hidangan spesial untuk Romeo, biar dia makin cinta sama Tari."
"Iya, boleh, kalau gitu mari kita mulai," ucap Maya yang langsung beranjak menuju kompor.
Dengan antusias Tari belajar memasak dari Maya, mulai dari meracik bumbu, hingga goreng menggoreng, bahkan sekujur tubuhnya sampai berkeringat karna terlalu lama di depan kompor yang menyala.
Setengah dua belas, mereka pun selesai memasak, setelah memasukan masakanya kedalam rantang yang cukup besar, ia pun kembali menuju kamar nya untuk mandi dan bersiap menemui Romeo dan Doni di bengkel.
__ADS_1
Lewat tengah hari, Tari tiba di bengkel dengan di antar mang ujang, dari kejauhan ia melihat Romeo dan Doni yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.
Dengan perasaan bahagia Tari melangkahkan kakinya menuju bengkel dengan membawa rantang berisi makan yang di masaknya bersama Maya.
"Hai Don, Rom," sapa Tari ketika ia berada tak jauh dari mereka.
Keduanya yang sedang sibuk pun langsung menoleh kearah Tari yang tengah tersenyum kepada mereka.
"Eh Tar, loh dari mana?" tanya Doni basa- basi, ia pun menghentikan kegiatanya.
Begitu pun Romeo, mereka berdua duduk di bangku tunggu sementara Tari masih berdiri menghadap mereka.
"Dari rumah Don, gue bawa makan siang untuk loh berdua, " ucap Tari sambil menunjukan Rantang yang di tentengnya.
"Wah kebetulan sekali, kita berdua belum makan loh," sahut Doni.
"Ah bukan kebetulan kali, tadi kan gue telpon loh duluan sebelum kesini," sangah Tari, ia pun tersenyum.
"Iya, ya gue lupa Tar, pantesan gue malas keluarin duit dari dompet untuk beli makan siang," ucapnya sambil nyengir.
"Alasan aja loh, pantesan gue di suguhin air putih terus untuk ganjal perut sampai kembung gue, makan siangnya ngak keluar-keluar juga," protes Romeo.
"Iya, ntar kalo kita beli dan Tari bawa makan siang juga kan mubazir, mending duit untuk beli makan siangnya, gue tabung buat beli kado untuk pernikahan kalian berdua, he he" ujar Doni memberi alasan.
"Hm, segitunya loh," sahut Romeo.
Hati Tari berbunga-bunga saat Doni bicara tentang pernikahan mereka berdua.
*Bearti kalau begitu, Romeo sudah cerita sama Doni dong, tentang rencana pernikahan gue dan Romeo, Wah senangnya, akhirnya tinggal selangkah lagi gue akan menikah dengan seseorang yang bener-bener gue cintai.* batin Tari.
Bersambung, jangan lupa like, komen dan votenya ta
__ADS_1